Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 2 : Episode 45




Valerin sadar, ia sudah tumbuh dewasa. Dia tak bisa mengabaikan masalah dengan melarikan diri. Biarpun ada perasaan kesal, Valerin mencoba mengerti. Apalagi dengan perubahan pada dirinya. Nyaris tak masuk akal namun Valerin diam-diam mengulum senyuman "Dunia, benar sudah berantakan." Ucap Valerin dalam hati sambil terus menyimak perkataan Leon Sirius.


Dua jam sudah, ia mendengar penuturan pelayan muda yang mengabdi pada pangeran kedua Dust Bones itu. Pernyataan dan kebenaran, dia berkata dengan jujur akan misi khususnya untuk kerap melaporkan kejadian didalam tim ini kepada sang raja.


Valerin tak marah, dia tak lagi semudah itu untuk murka. Valerin yang tomboy, menjelma menjadi gadis manis bersurai perak yang anggun. Dia duduk seberang Leon Sirius dengan secangkir teh panasnya.


“...Terakhir, misi di panti asuhan. Itu adalah ulah Yang Mulia, Earl Grayii. Sulit untuk memihak diantara kalian berdua, maafkan pelayan ini.”


"Selama ini aku benar,"


Ditatapnya Leon Sirius yang membungkuk, Valerin menggeleng “Cukup tuan Sirius, bagaimana mungkin aku marah? Lagipula aku sudah menduganya, tidak apa. Akulah yang membiarkanmu bersama kami.” Valerin Grayii tersenyum simpul.


“Pilihanmu bagaimana? Kau akan bersama kami atau kembali ke Dust Bones?” Ucap Valerin Grayii lagi, dia tak segan memengang pundak pelayan muda itu “Terimakasih, selama ini membantu banyak.” Valerin Grayii berucap dalam.


“Earl...” Leon Sirius menggeleng, Earl of Hortensiaburg ini memanglah sehalus kelopak bunganya. Wujud asli perlambangan kelopak bening yang indah, tampak rapuh namun baik luar biasa “Terimakasih atas semuanya.” Balas Leon Sirius.


“Baiklah, kami akan ke Dust Bones menghantarkan kau sekaligus melakukan misi terakhir kita.” Valerin Grayii merubah raut wajah seriusnya, dia berdiri dari bangku tersebut dengan langkah kaki ringannya. Selain kedua kakinya sudah lengkap dengan ajaib, Valerin seperti ini nyaris mendekati wanita teranggun sejagat raya, berlebihan memang tapi Valerin Grayii memang secantik itu.


“Kita?” Ulang William Rovana.


Valerin Grayii mengangguk, memang William Rovana belum mengetahui apapun soal gerbang Boerhavia bahkan dengan semua ancaman yang ada didalam sana, Valerin berencana merahasiakan semua itu untuk sementara ini. “Sebelum itu apa yang sudah kalian dapatkan pada misi sebelumnya? Apakah soal upacara pembangkit leluhur di Crave Rose dan wilayah Obscure yang semakin menyebar di Dust Bones?” Valerin bertanya sambil menyimak setiap raut wajah mereka, yang paling terkejut adalah Leon Sirius dan William Rovana. Jika Panacea mungkin saja sudah tahu, dan Frederitch, ia seorang pangeran di wilayahnya sendiri.


Valerin mengangguk puas “Buku Clandestine memang berisi prediksi dari mendiang kakakku, semua perkataannya benar, dia memperhitungkan semuanya. Buku itu adalah kunci aku diburu oleh Crave Rose dan Dust Bones, tentang sebuah tempat yang tak perlu mereka ketahui.” Valerin menatap Panacea dan Frederitch bergantian, Boerhavia adalah yang Valerin maksud. Ajaibnya mereka sudah berada disini, untuk menyamarkan semuanya Valerin harus menghapus jejak. Dia beranjak berdiri dari tempat duduk menuju perampian dan melempar buku Cladestine peninggalan sang kakak. Membiarkan buku itu terbakar tanpa sisa.


“Misi terakhir ini, misi resmi dari Earl of Hortensiaburg. Pemimpin yang setia pada Ratu Alexandria, Paladin of Dust Bones. Misi untuk memilih netral dari kedua pihak kerajaan terbesar.”


Selain Panacea yang tersenyum lebar, William Rovana dan Leon Sirius menganga tak percaya, dan Frederitch sang pangeran ketiga CraveRose hanya bisa menghela nafas.


“Kau yakin sayangku?” Tanya Frederitch merangkul pinggang ramping Valerin si surai perak itu “Tak pernah lolos dari tebakanku.” Bisik Frederitch dalam “Ayo, apalagi kejutanmu.”


"Aku yakin, aku memiliki pertimbangan sendiri. Sekarang tinggal bagaimana Dust Bones dan Crave Rose bertindak. Jelas saat ini aku tak berada dikeduanya... semua itu karena." Ucapan Valerin tertahan, dia tersenyum dengan lebar.


Valerin Grayii mengangguk “Karena ada harapan di masa depan.” Ucapnya.


“Aku akan mencegah semua yang terinfeksi Obscure di wilayah utara Dust Bones. Jika Crave Rose memang keras kepala menyerang, aku sudah memiliki rajanya.” Valerin Grayii melingkarkan tangannya pada leher Frederitch “Kakakmu penakut, dia membawa serta jantungmu ke medan perang.” Bisik Valerin disertai kekehan “Mau menyapa?” Sebelah alis Valerin menaik, dia menggoda si pangeran ketiga itu.


Frederitch mengangguk sambil menciumi kening Valerin, hal yang paling disukai Frederitch untuk Valerin “Saudaraku memang keras kepala. Tapi, ini lebih baik...”


“Uh? Kau selalu mencium keningku,” Valerin itu terkekeh kecil.


Frederitch menatap langsung iris violet Valerin dengan dalam “Kau mengingkari janji mereka, jahil sekali.” Pria bersurai pirang itu menggeleng kecil. Dia cukup cemas dengan keputusan Valerin yang menurutnya beresiko.


"Tidak, percayalah..." Valerin membalas Frederitch dengan perkataan lembutnya saat itu.


“Pana, kau tak perlu menjaga tempat ini lagi, ataupun kembali.” Valerin merangkul Panacea “Kau memiliki keluarga, aku keluargamu. Jadi, hapus semua kediaman ini. Kita kembali ke Dust Bones, masa depan kita disana. Okay?”


“Okay, nona Valerin...” Panacea mengangguk sambil tersenyum lebar “Terimakasih.” Katanya lagi.


“Okay, kita kembali ke Dust Bones, aku yakin tuan Sirius sudah sangat ingin berjumpa dengan anak asuhnya.” Valerin tertawa kencang, dia bisa membayangkan betapa konyol Alexander Caleum bertemu dengan pelayan kesayangannya itu.


"Ah, Pangeran pasti senang dengan hal ini,"


Valerin menggoyangkan telunjuknya “Tidak, tidak, tidak. Kupertegas. Panacea itu Big Sister yang aku punya, dan Viscount Rovana, kau Big Brother yang kupunya. Kurasa pria manisku tidak keberatan iya kan Frederitch?”


“Ralat, suami menggemaskan.” Goda William Rovana kepada Frederitch. Sang Viscount jahil itu menahan tawanya, tak disangka pangeran asal Crave Rose itu gampang digoda. dia pun tersenyum puas.


“A-iya...” Frederitch memerah sempurna, telinganya tampak merona. Si pangeran Vampir itu mengangguk malu-malu.


“Setibanya di Dust Bones rumah ini akan hancur.” Bisik Panacea kepada Valerin “Tapi itu tetap ada, kita akan menyamarkan keberadaannya.” Panacea menatap Valerin dengan serius.


Valerin mengangguk “Entah, masalah apa lagi yang akan datang kedepannya.” Ucap Valerin dalam hati.


“Hey, kau siap?” Frederitch mengambil tangan Valerin dan merematnya “Kita bersama Val, jangan takut” Ucap Frederitch dalam telepatinya.


Valerin tersenyum kikuk “Ah, astaga aku lupa.” Helanya dengan pelan.


“Okay, Kita berangkat.” Panacea segera merapalkan mantera, mantera yang terucap untuk kembali berpindah ke dimensi lain.


mereka bergerak seperti awal, melalui sebuah gerbang lain yang Panacea ciptakan. Panacea sempat menatap kembali kediaman itu, kenangannya ada disana, setidaknya Valerin Darly Kinaru pernah berbincang-bincang didepan rumah itu. bersamanya tentang ancaman Obscure dan lainnya, hanya ucapan yang mampu membuat degupan jantung Panacea Eerie bergumam "Selamat tinggal." Panacea berucap dengan lirih.


Valerin Grayii tahu, ia pernah memili raut wajah seperti Panacea saat sang kakak benar-benar meninggalkannya. Siapa sangka, sang kakak yang pernah hilang justru sempat berbagi waktu bersama gadis bersurai merah itu. Valerin pun tahu, mereka berdua juga cukup dekat "Pana, ayo," Ucap Valerin Grayii.


Panacea mengangguk. dia berlari kecil menghampiri yang lain "Saat masuk kedalam portal itu, kita semua akan berada di Pusat kota." Jelas Panacea.


Valerin pun mengangguk, diikuti yang lainnya.


.


.


.


.


~Special Season 2~



.


.


.