
Kami berjalan menuju ke kamar ayah, aku penasaran apa yang akan ayah bicarakan. Setelah sampai di kamar ayah, kami masuk dan ayah mengunci pintu kamar.
"Minggu depan, kamu tidak perlu datang ke istana" ucap ayah
"Tapi kenapa ayah?, Kenapa aku tidak boleh datang ke istana Minggu depan?" Tanyaku pada ayah
"Mata-mata ayah mengatakan bahwa paman kamu dan para menteri merencanakan untuk membunuh kakek kamu, ayah dan kamu mulai Minggu depan" ucap ayah khawatir
"Membunuh?, Tapi kita ini keluarga paman Rafa, kenapa paman Rafa tega membunuh kita semua?" Tanyaku kepada ayah
"Karena paman Rafa tidak ingin ada penghalang untuk dia menjadi seorang raja, ayah tidak ingin kamu terluka, kamu tidak perlu datang kesini minggu depan" ucap ayah khawatir
"Aku akan tetap datang, aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada ayah ataupun kakek" ucapku kepada ayah
"Itu sangat berbahaya, ayah tidak ingin kamu terluka. Ayah tidak tahu apa yang direncanakan paman kamu dan para menteri untuk membunuh kita, kamu tidak boleh datang kemari" ucap ayah dengan khawatir
"Kenapa kita tidak melaporkan pada kakek tentang rencana paman Rafa dan para menteri?" Tanyaku pada ayah
"Jangan mengatakan apapun pada kakek kamu, kakek kamu pasti akan bersedih mendengar hal ini. Kita keluarga satu-satunya paman Rafa, ayah mohon sama kamu supaya kamu tidak membenci paman Rafa" ucap ayah sambil tersenyum
"Tapi ini berbahaya untuk kakek, ayah dan aku. Bagaimana mungkin kita membiarkan paman Rafa begitu saja" ucapku dengan tegas
"Ayah tahu kamu khawatir, kita tidak bisa memberi tahu kakek kamu dan jangan membenci paman Rafa, kamu harus berjanji sama ayah" ucap ayah sambil tersenyum
"Iya ayah, aku janji tidak akan memberi tahu kakek dan aku tidak akan membenci paman Rafa. Paman Rafa sekarang ada dimana, kenapa tidak kelihatan?" Tanyaku pada ayah
"Paman Rafa sedang pergi ke desa, ke tempat pemakaman ibunya, hari ini adalah hari kematian ibunya" jawab ayah
"Ayah tidak mengunjungi makam nenek?" Tanyaku pada ayah
"Ayah benar-benar baik, semoga paman Rafa sadar bahwa ayah sangat menyayanginya" ucapku sambil tersenyum
"Terima kasih sayang untuk doanya" ucap ayah sambil tersenyum
"Kita jadi bikin buku silsilah keluarga?" Tanyaku pada ayah
"Ayo kita pergi ke taman belakang, orangnya sudah menunggu dari tadi" ucap ayah sambil tersenyum
"Ayo ayah" ucapku penuh semangat
Kami keluar dari kamar, kami berjalan menuju taman belakang. Sampai di taman belakang, aku melihat ada tiga orang prajurit dan satu orang laki-laki memakai baju biru yang terlihat seumuran sama ayah.
"Hai Jon" ucap ayah pada laki-laki yang memakai baju biru
"Hai Ram" ucap laki-laki berbaju biru
"Ayo Amora" ucap ayah padaku
"Iya ayah" ucapku pada ayah
Kami berjalan menuju orang yang terlihat seumuran dengan ayah, ayah menjabat tangan orang itu dan mereka berpelukan.
"Maaf ya Jon, kamu harus kemari untuk buat buku silsilah keluarga" ucap ayah merasa bersalah
"Santai Ram, lagian aku senang bisa ke istana. Kita jadi bisa bertemu dan mengobrol" ucap teman ayah sambil tersenyum