Amora'S True Love Part 1

Amora'S True Love Part 1
Bercerita tentang kak Riko



Aku mengatakan "iya dia seorang laki-laki yang aku cinta, dia ingin berkenalan dengan ayah" (ucapku sambil tersenyum)


Ayah menjawab "apa laki-laki ini tahu tentang identitas asli kamu?" (ucap ayah dengan wajah serius)


Aku mengatakan "dia sudah tahu tentang identitas asli aku, dia mencintai aku apa adanya, dia tidak peduli bagaimanapun wujud asli aku, dia akan tetap mencintai aku"


Ayah menjawab "jika kamu mengatakan seperti itu, berarti dia laki-laki yang baik, ayah jadi penasaran, laki-laki seperti apa yang bisa membuat putri kesayangan ayah ini jatuh cinta" (ucap ayah sambil tersenyum)


Aku mengatakan "dia laki-laki yang sangat baik, dari kecil dia selalu menjaga aku. Dia tidak pernah membiarkan aku terluka atau sendiri" (ucapku sambil tersenyum)


Ayah menjawab "boleh ayah ikut kamu ke dunia manusia?"


Aku mengatakan "ayah yakin ingin bertemu dengan kak Riko?"


Ayah menjawab "jadi nama calon menantu ayah itu Riko?"


Aku mengatakan "iya namanya Riko" (ucapku sambil tersenyum)


Ayah mengatakan "ya sudah, cepat makan, kemudian kita pergi ke dunia manusia"


Aku menjawab "iya ayah"


Aku dan ayah makan makanan yang disajikan oleh dayang, kami berdua menghabiskan makanan tersebut. Setelah habis, ayah mengatakan "ayo sayang, kita pergi ke dunia manusia" (ucap ayah sambil tersenyum)


Aku menjawab "iya ayah, ayo kita pamit sama kakek, supaya kakek tidak khawatir"


Ayah mengatakan "tapi, jika kita pamit ke kakek kamu, kakek pasti tidak mengizinkan ayah pergi ke dunia manusia"


Aku menjawab "aku akan membantu ayah, kakek pasti mengizinkan" (ucapku sambil tersenyum)


Ayah tersenyum dan mengatakan "ayo sayang, kita pergi menemui kakek kamu"


Kami berjalan keluar dari kamar, kami berjalan menuju aula depan. Saat kami masuk ke dalam aula depan, aku melihat kakek sedang berbicara dengan paman dan beberapa orang.


Ayah menjawab "mereka adalah menteri di negara ini, kamu harus berhati-hati dengan beberapa menteri itu"


Aku mengatakan "kenapa aku harus berhati-hati dengan mereka ayah?"


Ayah menjawab "nanti ayah jelaskan, sekarang kita harus pergi dari sini dahulu, ayo kita ke kakek kamu"


Aku mengatakan "baik ayah, ayo kita temui kakek"


Kami berjalan menuju ke arah kakek, ayah memberi hormat dan mengatakan "ayah, saya dan Amora ingin berjalan-jalan ke luar istana, kami permisi dahulu"


Kakek menjawab "baiklah, kalian berdua hati-hati"


Aku menghampiri kakek dan mengatakan "kakek yang terbaik, aku sangat sayang sama kakek" (ucapku sambil memeluk kakek)


Kakek menjawab "kakek juga sangat sayang sama kamu, maaf ya kakek tidak bisa menemani kamu"


Aku mengatakan "tidak apa-apa kakek, aku paham kakek sibuk"


Kakek menjawab "cepat pergi jalan-jalan sama ayah kamu, nanti ayah kamu marah sama kakek" (ucap kakek sambil tersenyum)


Aku mengatakan "dah kakek"


Kakek menjawab "dah Amora"


Aku dan ayah pergi keluar dari aula depan, kami berjalan menuju keluar istana. Saat keluar istana, aku bertanya "ayah kenapa menyuruh aku berhati-hati dengan para menteri itu?"


Ayah menjawab "beberapa menteri itu masih ada hubungan darah dengan mendiang nenek kamu Erina Yoviene, nenek kamu Erina sebenarnya adalah ibu yang baik. Nenek Erina tidak pernah membedakan ayah ataupun paman Rafa, nenek Erina jauh lebih perhatian kepada ayah dibandingkan dengan putranya sendiri yaitu paman Rafa"


Aku bertanya "lalu?"