
Ibunda berdiri dan membantu aku untuk duduk di kursi, dan aku menjawab "aku mencari ibunda dan ingin berbicara dengan ibunda".
Ibunda mengatakan "kamu bisa menyuruh prajurit memanggil ibunda untuk pergi menemui kamu di kamar, tidak perlu kamu jalan seperti ini untuk mencari ibunda".
Ibunda menoleh ke dayang Laras dan mengatakan "kalian boleh pergi".
Semua dayang menjawab "baik yang mulia tuan putri, kami permisi dahulu".
Semua dayang pergi, kemudian tabib mengatakan "saya akan menunggu di kursi sebelah sana" (sambil menunjuk ke tempat duduk di sebrang).
Ibunda menjawab "baiklah, kamu boleh menunggu disana".
Tabib mulai menjauh dan aku mengatakan "ibunda salah paham, aku sangat menyayangi ibunda dan Romo, tapi aku juga sangat menyayangi papa, mama dan kak Riko. Bagaimana pun juga papa, mama dan kak Riko adalah keluarga ku. Papa, mama dan kak Riko yang menjaga dan merawat aku dari kecil. Mereka rela melakukan apapun untuk aku, yang penting mereka melihat aku bahagia. Aku adalah segalanya bagi mereka, kebahagiaan aku lebih utama dan lebih penting daripada kebahagiaan mereka sendiri. Aku tidak mungkin meninggalkan mereka begitu saja, dan kemudian tinggal di dunia duyung. Aku harap ibunda bisa mengerti apa yang aku pikirkan ini" (ucapku sambil tersenyum).
Ibunda menjawab "baiklah, sekarang ibunda mengerti. Kamu boleh kembali ke dunia manusia tapi kamu jangan sampai membuat luka yang kamu alami ini menjadi lebih parah lagi, kamu harus banyak istirahat ketika sampai di dunia manusia" (ucap ibunda sambil tersenyum).
Aku mengatakan "baiklah ibunda ku tersayang. Aku ingin tanya sesuatu sama ibunda, boleh?".
Ibunda menjawab "tanya tentang apa?".
Ibunda tersenyum pahit dan menjawab "ibunda sangat menyayangi ayah kamu, jadi ibunda sangat merindukan ayah kamu sejak dahulu, sudah tujuh belas tahun lebih kami tidak bertemu. Ibunda berfikir apakah dia masih mengingat ibunda dan masih menyayangi ibunda?. apa mungkin ayah kamu sudah menikah dengan perempuan lain, sehingga ayah kamu tidak pernah mencari Ibunda dan kamu?" (Ibunda terlihat sangat sedih).
Aku mencoba menghibur ibunda dan mengatakan "ayah pasti sangat sayang sama ibunda dan aku, ayah pasti juga sangat merindukan ibunda dan aku. Bagaimana pun juga ibunda dan aku adalah keluarganya, ibunda dan aku adalah bagian dari hidup ayah yang terpenting"(ucapku sambil tersenyum).
Ibunda memeluk aku dan mengatakan "kamu benar, bagaimana mungkin ayah kamu melupakan dan tidak menyayangi ibunda dan kamu" (ucap ibunda sambil tersenyum).
Aku menjawab "jika ayah berani melupakan dan tidak menyayangi ibunda dan aku, maka aku akan memukul dan mencubit ayah dengan tangan aku sendiri" (ucapku sambil tersenyum).
Kami tertawa bersama, tapi ketika aku tertawa aku merasa sakit di perut aku. Aku memegang perut ku dan mengatakan "aduh, perut ku".
apa yang aku katakan itu membuat ibunda khawatir dan memanggil tabib "tabib cepat kemari, bantu AMORA pergi ke kamarnya".
Tabib langsung berdiri dan membantu aku kembali ke kamar, dalam perjalanan menuju kamar, aku merasa sangat sakit dan tubuh ku semakin lemas. Aku berusaha untuk tetap tersadar karena aku tidak ingin membuat semua orang semakin khawatir, saat sampai di kamar ku, tabib memberi aku obat. Obat itu membuat aku semakin mengantuk. Aku berfikir "apa tabib memberi aku obat dengan dosis tambahan atau memang tubuh aku yang terlalu lemah?".
Perlahan aku mulai kehilangan kesadaran ku, aku mulai tertidur dengan pulas.