Amora'S True Love Part 1

Amora'S True Love Part 1
Menunggu



RIKO PART


Aku merasa gelisah membiarkan Rindu pergi sendiri ke toilet, tapi dia tidak ingin aku antar ke toilet. Aku tahu Rindu sudah dewasa dan tidak seharusnya aku khawatir berlebihan seperti ini. Tapi disini ada Rose, perempuan gila dan kejam, aku takut jika Rindu disakiti Rose. Tiba-tiba ada yang menepuk bahu aku ternyata itu Dimas dan dia mengatakan “sudahlah bro, santai saja, Rindu cuma ke toilet, dia tidak akan kenapa-kenapa”.


Aku membantah “tapi Rindu sendirian”.


Bimo mengatakan “Rindu sudah tujuh belas tahun, dia tidak akan kenapa-kenapa”.


Aku diam dan Andi mengatakan “ini minum dulu biar tidak panik”.


Aku menjawab “aku akan berhenti panik jika Rindu sudah kembali” (ucapku dengan emosi).


Farel mengatakan “kamu bener tidak ingin melupakan Rindu, sampai kapan kamu cinta sama adik kandung kamu sendiri. Ingat dia adik kandung kamu, kalian tidak mungkin bisa bersama, kalian sedarah”.


Mereka semua terdiam dan tidak mengatakan apapun, mereka tahu kalau aku mencintai Rindu. Aku juga tidak tahu sejak kapan aku mulai mencintai Rindu, tapi sejak aku sadar bahwa cinta ini sudah ada aku sempat mencoba menghilangkannya. Tapi cinta ini tidak bisa hilang, semakin lama, cinta ini semakin tumbuh hingga terkadang aku sendiri tidak mampu menahannya. Terkadang aku berfikir “seandainya Rindu bukan adik kandung aku, aku pasti sangat bahagia karena bisa menyatakan cinta ku dan bersama dengannya”.


Aku melihat jam tangan, dan Rindu sudah pergi dua puluh menit yang lalu tapi sampai sekarang belum juga kembali. Aku berfikir “apa terjadi sesuatu pada Rindu, hingga dia lama di toilet?”.


Kekhawatiran ku hilang saat Rindu kembali dalam keadaan baik-baik saja, aku melihat senyum di wajahnya seketika membuat aku merasa bahagia. Aku tidak peduli jika semua orang mengatakan aku terkena sister complex, dalam hati ku yang terpenting adalah Rindu bahagia. Aku akan melakukan apapun untuk membuatnya bahagia, bahkan aku akan mengorbankan nyawa ku untuknya.


Jujur aku ingin suatu hari nanti bisa menikah dengannya tapi aku tak ingin menikahi saudara kandung aku sendiri karena aku tak ingin membuat mama dan papa bersedih. Biarlah cinta ini ada, walaupun aku tidak bisa bersama dengan perempuan yang aku cintai.


Takdir memang kejam membuat aku jatuh cinta pada Rindu, dimana dia adalah adik kandung aku. Aku jatuh cinta pada orang yang tidak akan pernah bisa aku miliki, aku mencintai seseorang yang tidak seharusnya aku cintai. Tapi apa yang bisa aku lakukan, rasa cinta ini tidak bisa hilang tapi akan semakin dalam. Aku selalu berdoa agar ada keajaiban, entah kenyataan bahwa rindu bukan adik kandung aku atau sebuah keajaiban bahwa rasa cinta ini bisa hilang untuk selamanya.


Sekeras apapun aku mencoba melupakannya atau menjauh darinya, semua itu hanya akan sia-sia karena cinta ini sudah sangat dalam dan sulit untuk dihancurkan atau dihilangkan. Aku ingin melawan takdir ku yang mengatakan bahwa Rindu adalah adik kandung aku tapi aku tak sanggup mengatakan pada Rindu dihadapan semua orang bahwa “Rindu, aku sangat mencintai kamu”.