
Aku membuka laptop milik Rindu dan mencari tahu hal yang dia sembunyikan, aku membuka pencarian di histori internet, Rindu mencari tahu tentang dunia duyung sejak hari ulang tahunnya, dan dua hari ini dia mencari tahu tentang dunia peri. Aku berfikir "apa maksud semua ini? Apa Rindu seekor duyung dan peri? Atau apa?".
Aku melihat dokumen ternyata ada folder tentang dunia duyung dan dunia peri, aku berfikir "apa Rindu benar-benar makhluk immortal? Jika aku bertanya, dia pasti tidak akan menjawab dengan jujur. Nanti malam aku harus ke kamar Rindu dan mencari tahu kebenarannya".
Aku pergi ke kamar aku dan mencari tahu tentang dunia duyung dan dunia peri melalui laptop milik aku, aku membaca secara teliti. Aku berfikir "putri duyung jika terkena air maka dia akan berubah jadi seekor duyung, kaki mereka akan berubah menjadi ekor ikan. Aku harus mencoba pada Rindu".
Aku membaca semua artikel tentang dunia duyung dan dunia peri, tiba-tiba Rindu menelepon dan menyuruh aku untuk menjemputnya.
.
.
.
AMORA PART
Aku pergi memasuki dunia peri, aku takjub dengan dunia peri. Dunia ini sangat indah, aku memperhatikan semua orang disekitar aku. Mereka menatap aku dengan tatapan aneh, aku melihat mereka semua dan berfikir "mereka memiliki sayap sama seperti aku, tapi kenapa diatas kepala mereka tidak ada mahkota?".
Aku berjalan terus menerus, hingga akhirnya aku sadar "ya ampun, dimana rumah ayah?".
Aku mencoba memberanikan diri dan bertanya pada ibu-ibu yang sedang duduk bersama teman-temannya "permisi apa anda kenal dengan seseorang bernama RAMA YOVIENE?".
Ibu-ibu langsung berdiri dan mengatakan "berani sekali kamu memanggil yang mulia pangeran dengan namanya saja".
Ibu-ibu itu terlihat marah, dan mengatakan "panggil dengan sebutan yang mulia pangeran, jangan sembarang panggil nama yang mulia pangeran, atau kamu akan dihukum mati".
Aku menjawab "aku tidak mungkin dihukum mati, RAMA YOVIENE adalah ayah kandung aku".
Mereka semua tertawa dan mengatakan "kamu jangan berhalusinasi, yang mulia pangeran belum menikah, bagaimana bisa yang mulia pangeran memiliki anak".
Aku marah mendengar ucapan ibu-ibu itu, aku menjawab "apa kalian tidak melihat mahkota yang aku pakai sementara yang lain tidak memakainya, dan lihat ini kalung aku, aku anak kandung ayah RAMA YOVIENE, nama aku AMORA YOVIENE".
Mereka semakin tertawa, aku marah dan mengatakan "cepat katakan dimana tempat tinggal RAMA YOVIENE".
Mereka menunjukkan arahnya dan mengatakan "kamu lurus saja kesana, nanti ada taman kota kamu belok kanan, kamu akan melihat pengawal di depan pintu istana. Silahkan katakan pada pengawal istana kalau kamu adalah putri pangeran RAMA YOVIENE, tapi kamu jangan menyalahkan kami karena tidak memberi kamu peringatan" (ucap mereka sambil tertawa).
Aku pergi meninggalkan mereka dan menuju ke istana, saat sampai istana aku berkata "permisi, saya mau bertemu dengan RAMA YOVIENE".
Mereka menodongkan senjata mereka padaku dan mengatakan "beraninya kamu memanggil nama pangeran tanpa menggunakan kata pangeran".
Aku menjawab "RAMA YOVIENE adalah ayah kandung aku, jika aku mengatakan ayah, kalian pasti tidak mengerti apa maksud aku, karena itu aku menggunakan nama ayah aku".
Mereka mengusir aku, tapi aku tidak ingin pergi, aku ingin bertemu ayah. Aku meronta sambil mengatakan "ayah, ini aku Amora. aku ingin bertemu ayah, ayah keluar" ( ucapku dengan suara keras)
Tiba-tiba ayah datang dan mengatakan "lepaskan dia, dia putri ku"