
Kak Riko menjawab "maksud kamu?".
Aku mengatakan "tadi Jesika bilang kalau dia dan teman-teman yang lain melihat kak Riko pergi dari taman belakang dengan wajah yang aneh".
Kak Riko terdiam dan kemudian menjawab "tadi setelah sampai di taman belakang tiba-tiba kakak di telpon sama Bimo kalau acara untuk bulan depan itu ada masalah, jadi kakak langsung pergi ke kampus untuk menyelesaikan masalah itu".
Aku menjawab "oh begitu".
Beberapa menit kemudian kami sampai di rumah, aku dan kak Riko pergi memasuki rumah. Rumah sepi karena papa dan mama pergi ke luar negeri, kami berjalan menaiki tangga, saat sampai di depan kamar, tiba-tiba kak Riko mengatakan "kamu mandi dan istirahat saja dahulu, nanti jam setengah tujuh, kakak tunggu kamu dibawah".
Aku menjawab "iya kak".
Aku dan kak Riko memasuki kamar masing-masing, aku melemparkan tas aku ke lantai dan aku merebahkan diriku ke tempat tidur. Aku berpikir "lebih baik aku mandi sekarang, setelah mandi baru aku pergi ke dunia duyung untuk cerita ke Ibunda soal ayah".
Aku masuk ke kamar mandi dan kemudian mandi, setelah mandi aku pergi ke dunia duyung. Saat sampai di istana, semua prajurit dan dayang memberi hormat dan salam padaku, aku bertanya pada dayang "kalian tahu dimana ibunda?".
Dayang menjawab "kalau tidak salah, yang mulia tuan putri Afra sedang berada di taman belakang bersama tabib Kenan".
Aku kaget dan mengatakan "Kenan ada di istana?".
Dayang yang kebingungan menjawab "iya yang mulia tuan putri Amora, tabib Kenan ada di istana".
Aku berlari menuju taman belakang, aku melihat ibunda dan Kenan sedang serius membicarakan tentang sesuatu. Mereka menyadari kehadiran aku dan mereka tersenyum padaku, aku menghampiri mereka dan mengatakan "apa yang ibunda dan Kenan bicarakan?".
Ibunda tersenyum palsu dan mengatakan "kami sedang membicarakan tentang luka kamu".
Aku menjawab "luka aku? Bukannya luka aku sudah hampir sembuh, jadi kenapa tadi kalian terlihat serius?".
Ibunda mengatakan "kamu itu sangat penting bagi ibunda, ibunda tidak ingin terjadi sesuatu pada kamu".
Ibunda mengatakan "ibunda akan selalu menyayangi kamu, kamu putri ibunda satu-satunya, dan ibunda tidak ingin kehilangan kamu untuk kedua kalinya".
Aku tersenyum dan menjawab "ucapan yang ibunda katakan sangat mirip dengan yang diucapkan ayah".
Ibunda bertanya "ayah?".
Aku menjawab "iya ibunda, tadi siang aku bertemu dengan ayah Rama Yoviene".
Ibunda memegang pundak aku dan mengatakan "kamu bertemu dengan ayah kamu? Bagaimana mungkin?".
Aku tersenyum dan menjawab "ceritanya panjang, aku cerita di kamar aku ya sambil makan, aku lapar".
Ibunda mencubit pipi aku dan mengatakan "dasar tukang makan, ya sudah kita cerita di kamar kamu saja".
Ibunda menoleh ke arah dayang dan mengatakan "kalian semua siapkan makanan dan bawa makanan itu ke kamar Amora, dan jangan lama-lama".
Dayang menjawab "baik tuan putri, kami pamit".
Beberapa dayang pergi ke dapur dan tiba-tiba Kenan mengatakan "maaf tuan putri Afra dan tuan putri Amora, saya pamit pulang daripada saya disini menganggu kalian berbicara".
Aku mengatakan "tunggu Kenan, kamu disini saja, ikut sama aku dan ibunda mengobrol".
Kenan menjawab "tidak tuan putri Amora, saya tidak ingin menganggu kalian”.
Aku mengatakan "kalau kamu pergi, kamu bukan teman aku dan kita tidak akan pernah bertemu lagi".