Amora'S True Love Part 1

Amora'S True Love Part 1
Tersadar



aku bertanya pada tabib "separah itu kah luka yang aku alami? dan kemungkinan besar aku juga bisa meninggal karena luka tersebut?".


tabit itu menjawab "iya, yang mulia tuan putri Amora, tapi sekarang anda sudah selamat dari kematian, anda tidak perlu mencemaskan tentang apa yang sudah terjadi" (ucap tabib dengan tersenyum).


Ibunda dan Romo tiba-tiba datang dengan wajah khawatir, ibunda memeluk aku dan meneteskan air mata. Romo mengatakan "syukurlah kamu baik-baik saja" (sambil tersenyum).


Aku menjawab "aku baik-baik saja, Romo dan ibunda tidak perlu khawatir".


Romo mengatakan "untuk menebus rasa bersalah Romo pada kamu, apapun yang kamu inginkan akan Romo lakukan, dan Romo akan selalu menjaga kamu".


Aku menjawab "terima kasih Romo".


Aku melihat ekspresi bahagia di wajah ibunda, tapi aku juga melihat ada sedikit kesedihan di mata ibunda, aku berfikir "apa ibunda sedang memikirkan ayah? Apa ibunda merindukan ayah dan ingin bertemu dengan ayah?".


Aku ingin mengatakan yang sebenarnya pada ibunda dan Romo, tapi sepertinya aku tidak bisa menceritakan yang sebenarnya sekarang. Aku harus mencari tahu terlebih dahulu tentang ayah. apa laki-laki yang ada dalam mimpi aku tadi adalah ayah atau bukan, setelah aku tahu kebenarannya, maka aku akan memberi tahu ibunda dan Romo tentang ayah.


Aku tersadar, aku mengalami koma lebih dari sehari setelah tiba di istana, berarti aku sudah pergi selama beberapa hari. Aku tidak memberi tahu apapun pada papa, mama dan kak Riko. Mereka semua pasti khawatir padaku dan mencari aku, terakhir aku hanya mengatakan kalau aku pergi ke taman sebentar dan kemudian akan pulang. Aku bertanya pada tabib "berapa lama lagi luka aku akan sembuh?".


Tabib itu mengatakan "seminggu, baru luka anda akan lebih baik".


Aku menjawab "apa? Seminggu?".


Aku mengatakan pada semua orang "aku harus kembali. Papa, mama dan kak Riko pasti akan khawatir padaku karena aku belum kembali, dan tidak ada kabar selama beberapa hari ini".


Tabib menjawab "luka anda sangat parah, anda harus tetap beristirahat dan meminum obat agar cepat sembuh".


Aku mengatakan "besok aku harus pulang, aku tidak ingin membuat papa, mama dan kak Riko khawatir".


Ibunda menjawab "kamu tidak boleh pulang, luka kamu terlalu parah".


Aku mengatakan "aku janji akan datang setiap malam untuk pengobatan, tapi besok aku harus pulang".


Ibunda menjawab "baiklah jika itu keinginan kamu, ibunda tidak akan melarang kamu lagi untuk pulang " (aku melihat ekspresi kesedihan dan khawatir di wajah ibunda).


Tiba-tiba ibunda pergi dari kamar ku tanpa mengatakan apapun, aku merasa bersalah setelah kepergian ibunda. Aku tahu ibunda khawatir padaku, tapi aku juga tidak mungkin kembali setelah sembuh, itu terlalu lama dan aku tidak ingin membuat papa, mama dan kak Riko khawatir. Tabib mengatakan "sudah waktunya anda untuk minum obat dan istirahat".


Romo mengatakan "baiklah kamu istirahat dulu, nanti baru kita bicara lagi".


Romo kemudian pergi meninggalkan kamar ku. Setelah meminum obat, aku merasa sangat mengantuk. Aku tertidur, saat terbangun ternyata sudah sore hari. Aku tak melihat ibunda, aku berfikir "apa ibunda masih marah padaku? Aku harus mencari ibunda dan berbicara dengannya".