Amora'S True Love Part 1

Amora'S True Love Part 1
Mencoba berdamai dengan Romo



Aku membasahi tubuh aku dengan air dan pergi ke dunia duyung karena aku tidak bisa berada di toilet ini untuk waktu yang lama. Sejak kemarin aku baru tahu bahwa kaki aku bisa kembali jika aku sudah berada di air selama sepuluh menit, aku langsung pergi ke dunia duyung untuk berendam dalam air agar bisa cepat kembali ke wujud manusia. Aku pergi ke istana dan bertemu ibunda, sebenarnya aku takut pada Romo karena dia tidak menyukai aku dan ayah. Sejujurnya aku penasaran siapa ayah kandung aku dan dimana dia berada, aku berfikir “lebih baik aku tanyakan pada ibunda saja, mungkin ibunda tahu sesuatu tentang ayah”.


Setelah sampai di istana, aku langsung masuk dan mencari ibunda, tiba-tiba aku bertemu dengan Romo. Aku melihat kebencian yang sama seperti kemarin dalam matanya, aku mecoba tersenyum dan menyapa “pagi Romo”.


Romo tidak menjawab dan langsung pergi begitu saja, aku berfikir “ya sudah lah biarkan saja, tidak perlu dipikirkan”.


Aku berjalan dan akhirnya aku bertemu ibunda di taman, aku melihat ibunda sedang berbincang dengan seseorang perempuan yang seusia dengan ibunda. Aku menghampiri ibunda dan mengatakan “pagi ibunda” (dengan senyuman di wajah ku).


Ibunda tersenyum padaku dan mengatakan “pagi sayang”.


Ibunda memperkenalkan aku pada perempuan di sampingnya “laras kenalkan dia putri ku namanya AMORA YOVIENE, putri ku dengan suami ku RAMA YOVIENE”.


Perempuan yang bernama laras mengatakan “salam putri AMORA, saya laras, dayang pribadi ibu anda”.


Aku menjawab “tidak perlu memanggil saya putri, panggil saja saya AMORA. Anda lebih tua dari saya seharusnya saya yang lebih menghormati anda, apa saya boleh memanggil anda bibi?”.


Dayang itu pun tersenyum sambil mengatakan “anda bisa memanggil saya apapun sesuai keinginan anda, anda sangat mirip seperti kedua orang tua anda”.


Seketika aku bertanya “apa bibi mengenal ayah?”.


Tiba-tiba ibunda berbicara “AMORA kamu ikut ibunda sekarang”.


Aku menjawab “baik ibunda”.


Aku dan ibunda berjalan menuju ke kamar ibunda, ibunda menutup pintu itu dan mengatakan “jangan sembarangan membicarakan tentang ayah kamu di istana ini”.


Aku binggung dan bertanya pada ibunda “tapi kenapa?, dia ayah ku dan bukan orang asing”.


Ibunda menjawab “Romo tidak suka jika seseorang membicarakan tentang masa lalu ratu YULIA ataupun tentang ayah kamu. Romo tidak suka dengan dua hal itu karena menurutnya dia sudah gagal sebagai seorang suami dan ayah yang menjaga serta memberikan kebahagian untuk istri maupun anaknya”.


Aku mengatakan “kematian nenek memang kesalahan Romo, dia yang menyakiti nenek hingga nenek memilih bunuh diri. Dia yang gagal menjadi suami lalu kenapa dia memisahkan ibunda dengan ayah, dia tidak berhak memisahkan ayah dan ibunda. Aku benci Romo, dia tidak pantas dicintai nenek hingga akhir nafas nenek”.


Ibunda membelai rambutku sambil mengatakan “jangan membenci Romo, bagaimanapun dia adalah kakekmu. Dia sudah tua, sejak dulu dia kehilangan istrinya. Hanya kita yang dimiliki Romo saat ini, hanya kita keluarganya. Bagaimana nasib Romo jika dia dibenci oleh cucunya sendiri, maafkan Romo. Suatu hari nanti pasti romo akan sadar bahwa selama ini dia salah dengan semua hal yang dia lakukan”.


Dengan malas aku menjawab “baiklah ibunda, aku akan mencoba memaafkan Romo”.


Seketika aku ingat bahwa aku harus kembali ke sekolah, aku pamit pada ibunda “ibunda, aku harus pergi sekarang”.