
Aku mengatakan "ayolah Kenan, ini permintaan aku, kamu tidak ingin jadi teman aku?".
Kenan menjawab "sebenarnya saya ingin jadi teman tuan putri, tapi itu melanggar peraturan".
Aku mengatakan "sudahlah, mulai sekarang kita teman. Kamu panggil aku Amora, tidak pakai tuan putri".
Kenan menjawab "tapi tuan putri".
Aku meletakkan tangan kanan aku ke bibir Kenan dan mengatakan "kalau kamu panggil aku tuan putri lagi, aku tidak mau berteman dengan kamu, aku akan membenci kamu".
Aku melepaskan tangan aku dari bibir Kenan, Kenan menjawab "iya Amora, tapi di depan orang lain saya akan memanggil anda tuan putri".
Aku mengatakan "terserah kamu, yang penting di depan aku jangan panggil aku tuan putri".
Kenan menjawab "sudah malam Amora, saatnya kamu istirahat".
Aku mengatakan "baiklah, ayo ke kamar aku".
Kenan menjawab "iya Amora".
Kami berdiri, dia berjalan di samping aku, aku mengatakan "apa kamu pernah punya kekasih?".
Kenan menjawab "saya tidak pernah memiliki kekasih selama ini".
Aku mengatakan "kenapa?".
Kenan menjawab "saya harus fokus menjadi tabib dan menolong semua orang, karena tugas saya sebagai tabib istana jadi saya sangat sibuk".
Aku mengatakan "jadi karena kamu kerja di istana terus kamu sibuk hingga tidak punya waktu, aku akan berbicara dengan Romo untuk memberikan waktu libur, agar kamu bisa mencari kekasih".
Kenan menjawab "tidak perlu Amora, saya senang menjadi tabib, saya masih belum ingin memiliki kekasih".
Aku mengatakan "apa ada seorang perempuan yang mengejar kamu karena dia suka sama kamu?".
Kenan menjawab ,"iya, ada beberapa perempuan yang bilang mereka menyukai saya, tapi saya tidak tertarik pada mereka".
Aku mengatakan "kenapa tidak tertarik?".
Aku mengatakan "apa kamu sekarang sedang menyukai seseorang?".
Kenan menjawab "iya, saya sedang menyukai seseorang".
Aku mengatakan "siapa dia? Dia pasti perempuan yang sangat beruntung karena dicintai sama laki-laki seperti kamu".
Kenan menjawab "dia perempuan yang istimewa, dia perempuan yang sangat cantik yang pernah saya lihat, dia perempuan yang sangat baik".
Aku mengatakan "apa kamu sudah sampaikan perasaan kamu padanya?".
Kenan menjawab "saya tidak berani mengungkapkan perasaan saya padanya, dia terlalu istimewa, sedangkan saya tidak ada apa-apanya".
Aku mengatakan "Kenan, kamu jangan pesimis begitu. Tidak semua perempuan mencintai seorang laki-laki karena materi, coba kamu cari perempuan yang benar-benar mencintai kamu dengan tulus".
Kenan menjawab "baik Amora".
Kami sampai di kamar aku, tabib mengatakan "silahkan masuk Amora, selamat malam".
Aku menjawab "selamat malam Kenan" (ucapku sambil tersenyum).
Kenan membalas dengan senyuman, Kenan menutup pintu dan mengatakan "semoga mimpi indah".
Aku menganggukan kepala aku dan pintu tertutup, aku tidur di kasur. Saat aku bangun, aku melihat Kenan dan dayang sedang membuat obat, aku mengatakan "selamat pagi Kenan, kamu sedang apa?".
Kenan menjawab "saya sedang membuat obat untuk anda, tuan putri".
Aku mengatakan "kenapa kamu memanggil aku dengan tuan putri lagi?".
Kenan menjawab "anda lupa dengan yang saya katakan kepada anda kemarin tuan putri?".
Aku mengingat kembali peraturan yang dibuat sama Kenan, dan kemudian aku tersenyum. Aku mengatakan pada Kenan "apa obatnya sudah siap?".
Kenan menjawab "iya, obatnya sudah siap tuan putri, tinggal dimasukkan ke dalam botol saja" (ucapnya sambil tersenyum).
Aku mengatakan "baiklah, aku akan menunggu".