
FLASHBACK IBUNDA PART
DUARRRR.....
Suara ledakan kedua berbunyi, Amora mengatakan "kita semua pergi dari sini, kita cari tempat yang aman"
Romo menjawab "ayo kita cari tempat yang aman"
Kami bersembunyi di tempat yang aman, Amora mengatakan "aku keluar, aku akan menyelesaikan masalah ini"
Aku menjawab "ibunda tidak setuju, terlalu berbahaya jika kamu keluar"
Amora mengatakan "aku akan baik-baik saja, dan aku akan selesaikan masalah ini" (ucap Amora sambil tersenyum)
Aku menjawab "ibunda tidak mengizinkan kamu pergi menghadapi mereka, ibunda tidak akan membiarkan kamu terluka"
Amora mengatakan "ibunda harus percaya sama aku, aku tidak akan terluka" (ucap Amora sambil tersenyum)
Amora menjawab "baiklah, kamu harus berhati-hati"
Amora tersenyum, Amora melangkah ke depan, Amora mendekati pasukan dari kedua desa yang sedang bertempur. Aku melihat Amora berusaha mendekati orang yang akan di tembak.
DOR....
Aku mendengar suara tembakan, aku melihat Amora tertembak. Aku terdiam, aku merasakan apa yang Amora rasakan.
"AMORAAAAAAAA" teriak aku dengan wajah sedih, aku melihat ke arah Amora, Amora melihat ke arah aku sambil tersenyum. Aku melihat Amora terjatuh, hatiku terasa hancur dan sesak.
Aku, Romo dan tabib Kenan berlari mendekat ke arah Amora. Tabib Kenan berusaha menolong Amora, dia mengambil peluru yang ada di perut Amora. Amora menahan rasa sakit sambil tersenyum, aku menangis melihat Amora kesakitan seperti ini.
Romo berdiri dan mengatakan "tangkap dan bunuh orang yang menembak Amora, jangan biarkan dia hidup" (ucap Romo dengan wajah penuh amarah)
Jenderal menjawab "baik yang mulia raja"
Aku tidak peduli dengan semua orang, yang aku pedulikan hanya keselamatan Amora. Aku tidak ingin kehilangan Amora untuk selamanya, aku ingin selalu bersama dengan Amora. Amora membuat aku teringat akan mas Rama. Wajah Amora, senyum Amora bahkan sikapnya sama persis seperti mas Rama.
Aku melihat Amora tidak sadarkan diri, aku semakin mencemaskan kondisi Amora. Aku tidak ingin kehilangan Amora, cukup aku kehilangan mas Rama.
"Tabib Kenan, bagaimana keadaan Amora, apa dia baik-baik saja?" Tanyaku pada tabib Kenan yang sedang mengobati Amora.
Aku menjawab "ambil darah aku, ambil semua darah aku"
Tabib Kenan mengatakan "baik yang mulia putri Afra".
"Kita bawa Amora pergi dari sini, disini terlalu berbahaya" ucap Romo dengan tegas.
Aku menjawab "tabib Kenan, kamu bawa Amora ke penginapan, yang lain bawa perlengkapan tabib Kenan".
Kenan mengatakan "baik yang mulia tuan putri"
Kami berdiri, tabib kenan mengendong Amora.
"Jenderal, wakil jenderal dan semua prajurit tetap disini. Beritahu semua untuk berhenti berperang, jika mereka tidak mau berhenti maka bunuh semua pembangkang" (ucap Romo dengan tegas).
Jenderal menjawab "baik yang mulia raja"
Kami pergi meninggalkan tempat peperangan dan menuju ke penginapan, saat sampai di penginapan tabib Kenan meletakkan Amora di atas tempat tidur.
Aku mengatakan "tolong selamatkan Amora, dia putri aku satu-satunya. Aku tidak ingin kehilangan dia, aku tidak ingin berpisah dari Amora"
Tabib Kenan menjawab "baik yang mulia tuan putri Afra, sekarang mari kita mengambil darah anda untuk diberikan kepada tuan putri Amora"
Aku menjawab "cepat ambil darah aku"
Tabib Kenan mengambil darah aku, tabib Kenan mengatakan "dayang ikut aku ke dalam mengobati tuan putri, tuan putri Afra dan yang lainnya lebih baik menunggu diluar"
Aku, Romo dan yang lainnya menjawab "baik"
Pintu tertutup, aku mencemaskan kondisi Amora. Jika Amora meninggal karena aku, bagaimana aku menjelaskan ke mas Rama jika aku bertemu dengan mas Rama suatu hari nanti. Aku berdoa untuk keselamatan Amora, semoga Amora cepat sembuh.
Lima belas menit kemudian, pintu terbuka. Tabib Kenan mengatakan "tuan putri Amora berhasil diselamatkan, mungkin sebentar lagi akan sadar"
Aku menjawab "terima kasih tabib"
Aku masuk ke dalam kamar, Romo juga ikut masuk ke dalam kamar. Aku melihat kondisi Amora yang lemah, dia masih tertidur. Aku menunggu Amora tersadar, beberapa menit kemudian Amora akhirnya terbangun.