Amora'S True Love Part 1

Amora'S True Love Part 1
Kekhawatiran kak Riko



FLASHBACK RIKO PART


Sejak pagi hari Rindu sudah bersikap sangat aneh dan sikapnya membuat aku merasa bahwa ada rahasia yang Rindu sembunyi kan, tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang Rindu rahasiakan. Selama ini Rindu tidak pernah ada rahasia apapun, aku ingin bertanya padanya, tapi aku takut jika dia marah atau sedih. Selama perkuliahan aku tidak fokus karena memikirkan Rindu, aku pulang ke rumah pada sore hari jam lima sore karena ada kelas tambahan. Rindu tidak menelepon aku jadi aku mengikuti kelas tambahan ini, biasanya jika Rindu tidak menelepon aku, berarti dia dijemput supir papa. Saat sampai rumah, aku menyapa "hai pa, ma".


Mereka menoleh dan aku melihat kekhawatiran di wajah papa dan mama, aku bertanya "ada apa pa, ma? Kenapa wajah papa dan mama terlihat khawatir?".


Mama menjawab "Rindu tadi bilang mau pergi ke taman, tapi sampai sekarang belum pulang, handphone dia juga tidak aktif".


Seketika aku merasa sakit dalam hati ku, aku menjadi khawatir, aku berfikir untuk mencari Rindu dan mengatakan "pa, ma, aku pergi dulu. Aku akan mencari Rindu, jika ada kabar tentang rindu, papa dan mama jangan lupa telpon Riko".


Papa menjawab "baiklah, cari adik kamu, dan hati-hati di jalan".


Aku pergi mencari Rindu ke taman, aku berfikir "semoga aku bisa menemukan kamu di taman".


Tapi kenyataan mengatakan hal lain, aku tidak menemukan kamu. Aku kembali ke mobil dan aku tidak menyerah, aku mencoba menelpon semua teman-teman kamu. Tapi kata mereka, mereka tidak tahu kamu dimana. Aku sangat sedih, hatiku rasanya hancur karena aku tidak bisa menemukan kamu dimana pun. Aku sudah menyusuri jalan tapi tetap tidak menemukan kamu dan aku berfikir "kamu dimana Rindu?".


Aku memutuskan kembali ke rumah, saat sampai di rumah, aku melihat mama menangis dan wajah papa sangat khawatir. Aku menyapa mereka "pa, ma, aku pulang".


Mama berdiri kemudian memegang bahu aku dan bertanya "kamu sudah menemukan Rindu kan? Dimana dia sekarang?".


Aku menundukan wajah dan menjawab "aku tidak berhasil menemukan Rindu, aku sudah mencarinya kemana saja. Aku juga sudah menelepon teman-teman Rindu, tapi mereka tidak ada yang tahu Rindu kemana".


Mama terlihat shock mendengar perkataan aku, papa mengatakan "sudah ma, lebih baik Mama dan Riko pergi ke kamar dan istirahat. papa akan suruh orang untuk mencari Rindu, papa juga akan melapor ke kantor polisi".


Aku menjawab "baik pa, kalau begitu aku ke kamar dan kalau ada kabar tentang Rindu jangan lupa beritahu aku".


Aku pergi ke kamar, aku mandi. Di dalam kamar mandi aku berteriak "dasar bodoh, aku tidak bisa menemukan Rindu. Aku kakak macam apa, seharusnya aku menjaga rindu, seharusnya aku menemani dia dari pagi, mungkin Rindu tidak akan pergi menghilang seperti ini"(sambil memukul diriku sendiri).


Aku menangisi kebodohan ku karena tidak bisa jadi kakak yang baik, bahkan aku mencintai Rindu lebih dari seperti adik kandung aku sendiri. Aku ingin memiliki dia seutuhnya, aku ingin bersama dengan Rindu selamanya. Aku memukul tembok, tangan ku terluka tapi aku tidak merasa sakit, karena hati ku jauh lebih sakit karena Rindu menghilang. Aku berfikir "seandainya ada Rindu disini, dia pasti mengobati luka ku. Dia pasti mengomel karena aku tidak berhati-hati, dia selalu khawatir melihat aku terluka. Tapi sekarang tidak ada dia, tidak ada yang mengobati luka ku dan tidak ada yang mengomel".