
"Aku tidak suka jika kau dekat dengan nya" Sahut Arthur.
"Mungkin ini terdengar konyol dan tidak masuk akal bagi mu, tapi entahlah aku merasa tidak nyaman di sini" Sambung Arthur dengan menyentuh dada nya.
"Apa kau cemburu?" Tanya Grace dengan mendongakkan kepala nya untuk melihat wajah Arthur.
"Hah? Apa?" Tanya Arthur dengan mengerutkan kening nya.
"Kau cemburu?" Grace mengulangi pertanyaan nya, dan Arthur seperti nya tidak paham dengan apa arti cemburu, dia hanya terdiam dan memalingkan pandangan nya, kemudian Grace menangkup ke dua pipi Arthur.
"Arthur, lihat aku" Ucap Grace dengan tangan yang masih stay di pipi Arthur. Setelah Arthur memandang nya Grace sedikit menjinjitkan kaki nya berusaha mencium bibi Arthur, namun belum sampai kedua bibir itu bertemu Arthur memegang kedua tangan Grace yang ada di pipi nya dan memindahkan nya.
"Tidak Grace, jangan lakukan itu" Ucap Arthur dengan memalingkan wajah nya.
"Kenapa? bukankah beberapa hari yang lalu kau yang lebih dulu melakukan nya" Ucap Grace.
"Itu karena aku menuruti apa yang yang kau pikirkan, dan kau ingat selanjut nya? Kau memarahi ku bahkan kau menyebut ku mesum, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama Grace!" Jelas Arthur.
Grace pun mengingat waktu itu dan mulai menyadari kalau iya waktu itu diri nya marah-marah setelah Arthur mengecup bibir nya.
"Arthur? Apa yang kau rasakan sekarang?" Tanya Grace.
"Entahlah" Sahut Arthur yang memang bingung dengan isi hati nya sendiri.
"Ya sudah nanti kita bicara di rumah saja, aku mau masuk kelas dulu, ingat! kau hanya cukup menjaga ku tapi tidak dengan menjahili teman-teman ku!" Ucap Grace yang langsung pergi meninggalkan toilet.
Sedangkan Arthur, ia mengikuti kemana pun kaki Grace melangkah.
Ketika mereka melewati sebuah gang ada seorang pemuda yang berniat merangkul pundak Grace namun dengan cepat Arthur memelintir tangan pemuda itu dan tangan pemuda itu terkilir.
"Aww..." Keluh nya dengan memegangi tangan nya, sedangkan Grace yang mendengar pun menoleh dan bertanya.
"Hey ada apa dengan mu? tangan mu kenapa?" Tanya Grace yang melihat tangan pemuda itu terpelintir ke belakang.
"Stop Arthur! Lepaskan!" Batin Grace yang melihat Arthur lah yang menahan tangan pemuda itu. Setelah di Arthur melepaskan lengan pemuda itu Grace kembali berjalan menuju kelas nya.
Selesai kelas Grace mampir di pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa buah, di sana ada seorang preman yang menggoda Grace.
"Hay cantik, banyak ni barang bawaan nya, mau abang bantu in bawa nggak? " Ucap preman itu dengan berjalan mengikuti Grace.
"Makasih bang tidak usah, saya bisa sendiri kok" Sahut Grace dengan sopan, seraya gadis itu berjalan menuju mobil nya, dan saat ia menghadap ke mobil preman itu memelintir tangan Grace kebelakang dan dengan cepat menodongkan belati kecil ke arah leher Grace. Karena badan Grace terhimpit oleh tubuh besar si preman gadis itu tak bisa berbuat apa-apa.
"Jangan berteriak! atau belati ini akan menusuk leher mu!" Bisik preman itu dengan menahan tangan Grace di punggung.
Setelah diam beberapa saat, ujung belati kecil itu menempel pada leher Grace dan di turunkan mengikuti setiap lekuk tubuh gadis itu. Arthur masih stay kalem dia masih memantau bagaimana Grace akan menangani nya
"Bagus juga tubuh mu, bagaimana kalau kita main satu ronde saja? di dalam mobil mu juga tak apa" Bisik preman itu yang membuat Grace bergidik ngeri. Sedikit merasa tidak nyaman Arthur mengetahui pikiran jorok di preman.
"Kau tidak mau kan kalau sampai aku menggoreskan luka di setiap lekukan indah ini" Bisik preman itu dengan masih memainkan belati nya di pinggang Grace.
Arthur yang melihat Grace tak kunjung melawan pun, merasa geram, akhir nya makhluk tampan itu menepuk pundak si preman dan saat si preman menoleh dengan sangat keras Arthur melayangkan bogem nya di pipi kiri sampai preman itu terpental.
Tak cukup hanya dengan memukul, Arthur segera menghampiri tubuh yang terpental itu dan mengangkat nya hingga melayang.
"Arthur stop! hentikan! dia bisa mati!" Teriak Grace yang melihat Arthur mencekik leher si preman dan melayangkan nya lumayan tinggi.
"Stop Arthur, aku tidak apa-apa! bukan kan prioritas utama mu itu keselamatan ku?" Ucap Grace mengingatkan Arthur.
Mendengar ucapan Grace, Arthur segera menurunkan preman itu, dan segera menghampiri Grace.
"Pulang!" Ketus Arthur yang membuat Grace segera masuk ke dalam mobil dan mengemudikan nya untuk menyusuri jalan raya dan tujuan utama nya adalah rumah.
Malam hari setelah makan malam...
Grace kini duduk di ranjang nya dengan Arthur yang duduk di sofa.
"Ok Arthur, tugas utama kamu apa?" Tanya Grace.
"Menjaga mu" Sahut nya dengan cepat.
"Lalu? kenapa kau menjahili mereka?" Tanya Grace dengan tangan yang ia lipat di depan dada nya.
"Apa?" Tanya Arthur yang tidak sedikit pun merasa bersalah.
"Pertama kau menjatuhkan buku di atas kepala Calista, lalu ada lagi kau menarik kursi yang akan di duduki kak Mikko lalu sore tadi kau, apa yang kau lakukan pada preman tadi sangat berbahaya, bagaimana kalau dia sampai mati?!" Geram Grace dengan sifat Arthur yang jahil menurut nya itu.
"Apa sebelum aku dapat melihat mu kau juga begitu?" Tanya Grace. Arthur hanya menggelengkan kepala nya.
"Sungguh Arthur! Jangan kau menyakiti siapa pun lagi!" Ucap Grace.
"Bahkan jika orang itu menyentuh mu?" Tanya Arthur yang masih sangat terganggu saat ia mengingat belati kecil tadi menari indah di setiap lekuk tubuh Grace.
"Hah? Apa maksud mu?" Tanya Grace, Arthur pun melesat dengan cepat langsung mendorong dan menghimpit tubuh Grace sampai gadis itu terpentok di dinding.
"Aku sudah pernah berkata jika aku tidak suka laki-laki lain menyentuh mu!" Ucap Arthur dengan deep voice nya. Grace yang merasa sesak pun menarik nafas hingga dada nya terlihat naik turun di hadapan dada bidang Arthur.
"Stopeh... hah... hah... hah... " Bisik Grace dengan wajah yang menempel di leher Arthur.
Arthur mengusap pelan surai hitam yang tergerai indah itu, tentu nya setelah ia kembali menyimpan kuku nya.
Kemudian Arthur menangkup kedua pipi gadis itu agar melihat ke arah wajah nya, perlahan Arthur memiringkan wajah nya dan menyatukan kedua benda kenyal dan manis itu CUP!!
Bersamaan dengan Grace yang memejamkan mata nya, kedua bibir mereka saling bertaut.
Tak bertahan lama Grace segera melerai tautan nya dan menatap netra tajam milik Arthur.
"Apa yang kau rasakan?" Tanya Grace.
"Entahlah" Sahut Arthur, sedangkan Grace tersenyum kecut dan memalingkan wajah nya.
"Heh... mungkin aku sudah benar-benar gila, sampai-sampai mengharapkan perasaan yang lebih dari makhluk tak berperasaan seperti mu" Gumam Grace tanpa menatap wajah Arthur.
"Grace, bukan tak berperasaan, aku sendiri pun bingung, rasa apa ini? yang akhir-akhir ini menghantui ku, aku pun bingung dengan diri ku sendiri" Ucap Arthur dengan memegang kedua pundak Grace.
"Maksud mu?" Tanya Grace dengan memandang Arthur.
"Dulu memang aku hanya menjalankan tugas ku sebagai penjaga mu namun semua berubah 180° setelah kita dapat berkomunikasi" Jelas Arthur.
"Ada rasa nyaman ketika aku memeluk mu dan bersama mu seperti ini" Sambung Arthur, Grace menitikkan air mata dan segera gadis itu menghambur ke pelukan Arthur yang siap menangkap nya.
"Aku pun sama, saat bersama mu aku merasa nyaman" Ucap Grace setelah melepaskan pelukan nya dan memandang lekat wajah Arthur.
"Bolehkah satu kali lagi?" Tanya Arthur dengan membelai bibir ranum Grace. Gadis itu hanya mengangguk pelan, tanda ia mengijinkan nya.
Arthur tersenyum dan mendekatkan kembali bibir ke dua nya namun tiba-tiba Mahkota yang ada di atas kepala Arthur menyala.
"Arthur!" Ucap Grace dengan menutup mulut makhluk tampan itu.
"Hem?" Sahut Arthur, dan Grace hanya menunjuk ke arah mahkota yang menyala terang itu.
Arthur sedikit mendongakkan kepala nya dan memejamkan mata nya sejenak.
"Oh ya Tuhan, kenapa ada makhluk setampan ini" Batin Grace dengan memandangi wajah Arthur.
"Aku memang tampan Grace" Sahut Arthur dengan membuka mata nya. Dan itu membuat Grace merasa terciduk.
"Kenapa dengan mahkota mu?" Tanya Grace.
"Ada panggilan dari alam sana" Sahut Arthur dengan menundukkan kepala nya.
"Lalu?" Tanya Grace yang masih tak mengerti.
"Aku harus pergi Grace" Ucap Arthur.
"Hah? lama kah? lalu? kau akan meninggalkan ku sendiri? lalu? kau... kau... bagaimana dengan tugas mu yang melindungi ku?" Cecar Grace yang saat itu berasa tersambar petir di siang bolong, baru saja ia mengakui perasaan nyaman dan tidak bertepuk sebelah tangan dan sekarang perasaan itu seperti di ambil paksa dari diri nya.
"Jika Ayahanda masih mempercayai ku untuk menjaga mu maka secepat nya aku akan segera kembali, tapi jika tidak, maka akan ada makhluk yang akan menggantikan ku" Jelas Arthur.
"Tenang saja, bangsa kami tampan-tampan kok dan juga hebat" Ucap Arthur berusaha menghibur Grace yang nampak murung.
"Tapi aku nyaman bersama mu, jika aku merindukan mu, apakah kau akan datang?" Tanya Grace. Mendengar itu Arthur pun melepaskan mahkota nya dan ia melepas satu permata blue black dan ia berikan kepada Grace.
"Kemarikan tangan mu" Ucap Arthur, gadis itu pun mengulurkan tangan nya dan Arthur meraih nya kemudian permata blue black itu ia tanamkan di jari manis Gracelina Janitra.
"Jika kau merindukan ku, ini sebagian dari diri ku aku tinggalkan pada mu, dan itu juga akan membantu mu jika kau di ganggu makhluk-makhluk rendahan itu" Jelas Arthur setelah permata blue black itu tertanam dengan rapi di jari manis Grace.
"Bisakah kau kabulkan satu permintaan ku?" Tanya Grace.
"Apa?" Tanya Arthur dengan menundukkan wajah nya dan menyatukan kening kedua nya.
"Temani aku tidur malam ini, dan pergilah saat aku terlelap, biar aku anggap hari-hari kemarin adalah mimpi indah yang menghiasi tidur ku" Ucap Grace lirih, Arthur merasakan kesedihan yang mendalam di hati Grace, ia pun merengkuh tubuh gadis itu dan menidurkan nya di pelukan Arthur.
"Tidurlah" Ucap Arthur dengan memeluk gadis cantik itu. Tak butuh waktu lama untuk Grace memasuki alam mimpi nya.
"Tidurlah Grace" Ucap Arthur kemudian ia mengecup kening gadis itu dan kemudian menghilang.
Pagi hari Gracelina Janitra terganggu tidur nya karena mentari pagi dengan sinar lembut nya berhasil menembus celah tirai jendela kamar gadis itu dan menyinari wajah ayu yang masih memejamkan mata itu.
"Emmmhhh... hooooaaaammmm" Gadis itu meregangkan tubuh nya dengan menguap.
"Good morning" Ucap nya dengan mengucek mata yang masih enggan di ajak melihat ke indahan pagi hari.
Seperti biasa Grace langsung ke kamar mandi untuk mencuci muka dan ketika ia mencuci tangan ia melihat berlian yang tertanam di jari manis nya berkilau.
"Arthur...
Jangan bosen buat nunggu bab selanjut nya ya, para reader ku tersayang, semoga kalian sehat selalu, see you...