The Guard

The Guard
Pergunjingan



Grace yang dengan tenang berdiri dibalik rak buku berharap Mona atau mahasiswi yang mengumpulkan tugas di meja Arthur tidak melihat keberadaan nya.


Namun semua ketenangan itu lenyap seketika saat Mona tiba-tiba melirik ke arah nya, seolah gadis itu memeriksa ruangan si dosen tampan itu.


"Iya, tinggalkan saja di sana" Ucapan Arthu yang begitu dingin membuat Mona beralih menatap ke arah dosen tampan itu namun ekor mata nya melihat bayangan seorang gadis yang berdiri di balik rak buku.


"Loh ada Grace disini?" Cetus Mona dengan menarik ujung bibir nya.


"Mampus gue" Batin Grace nyengir kikuk dengan melihat Mona dari celah tumpukan buku.


"Hai Mona" Sungguh sapaan yang terkesan canggung keluar dari mulut Gracelina.


"Eh iya hai, kamu ngapain di sana?" Tanya Mona dengan tatapan tidak suka.


"Nanti di kelas Grace ada mata kuliah saya, jadi saya minta tolong dia untuk membawakan beberapa buku yang saya butuhkan" Grace merasakan desiran aneh lagi di dalam hati nya ketika ia mendengar Arthur yang secara tidak langsung membela nya.


"Oh ya sudah saya permisi pak" Ucap Mona yang kemudian keluar dari ruangan Arthur.


"Hem" Hanya itu yang Mona dapat ketika berpamitan dengan dosen tampan itu.


Setelah beberapa menit Grace masih belum juga keluar dari balik rak buku.


Arthur merapikan beberapa kertas yang ada di meja nya, "Mau sampai kapan berdiri di sana?"


Lamunan Grace buyar seketika, setelah ia mendengar ucapan Arthur yang begitu pedas.


Perlahan gadis itu keluar dari tempat persembunyian gagal nya.


"Semua orang tau kalau setelah jam ini sudah tidak ada kelas dan kampus akan tutup setengah jam setelah nya" Ucap Grace dengan berdiri di samping Arthur.


"Lalu?" Tanya Arthur yang menoleh dengan sedikit mendongak.


"Lalu? barusan kau beralasan karena setelah ini mau ke kelas ku" Gemas sekali gadis itu ketika mode loading Arthur lama seperti ini.


"Oh, aku lupa" Dengan raut wajah datar Arthur kembali menumpuk kertas-tugas itu.


Grace tak habis pikir dengan isi otak Arthur, dengan mudah nya makhluk tampan yang menyamar jadi dosen itu bilang lupa.


"Ya sudah, kita pulang!" Ucap Arthur dengan beranjak dari duduk nya.


"Tunggu aku ambil tas dulu di kelas" Grace segera berlari menuju kelas nya.


Sepanjang ia berjalan menuju kelas berbagai macam model lirikan tertuju pada nya, ada yang melirik dengan berbisik, ada yang melirik dengan senyum-senyum tidak jelas, ada yang melirik dengan senyum miring, ada yang melirik dengan mengerutkan alis nya, yang jelas nggak ada lirikan yang semanis malika.


"Apaan sih mereka? kok pada aneh gitu" Batin Grace dengan menyapa setiap gadis yang melihat nya dengan tatapan nggak jelas itu.


Di dalam kelas Grace Ayu dan Lina ternyata sudah ada di sana, "Kemana tu anak? di saat genting begini malah ngilang, tadi pamit duluan kan gue kira bener-bener ke kelas" Gerutu Ayu dengan melipat tangan nya di dada.


"Sabar yuk, ya kali aja dia masih ke wc" Sahut Lina dengan menepuk pundak Ayu.


"Eh kalian nggak tau ya kalau Grace masih ngapel di ruang dosen baru itu?" Suara yang sangat tidak mengenakkan hati dan telinga itu terdengar dari mulut Mona yang sengaja mampir di jelas Grace.


"Heh jaga tu mulut ye!" Langsung ngeGas adalah kebiasaan Ayu ketika sahabat nya di tuduh yang tidak-tidak.


"Emang bener kok orang gue lihat sendiri" Ceplos Mona, yang membuat Ayu dan Lina melongo.


"Oh jadi elo yang bikin cewek-cewek di kampus ini jadi tukang gosip?" DHEG!! serasa detak jantung Mona berhenti ketika ia mendengar suara gadis yang baru saja ia gunjingkan terdengar dekat di belakang nya


"Grace?" Ucap Lina dan Ayu bersamaan.


"Grace, bener apa yang di bilang sama Mona? Lo ninggalin kita di kantin dan ngapel ke ruangan nya pak Arthur?" Tanya Ayu dengan berjalan mendekati Grace.


"Nggak! Dia yang narik aku kok, aku nggak ada niatan buat ninggalin kalian terus malah jalan sama pak dosen" Jelas Grace.


"Saya yang membawa nya!" Suara dengan aura dingin itu tiba-tiba hadir di antara mereka.


"Permisi" Arthur berjalan menuju kursi yang ada di samping Mona kemudian ia meraih tas yang tergeletak di sana.


"Ayo pulang!" Dengan merangkul pundak Grace, Arthur mengajak nya untuk segera melangkahkan kaki nya meninggalkan kelas itu.


"Kita duluan ya!" Arthur sedikit menolehkan wajah nya ke arah ketiga gadis yang tercengang dengan apa yang mereka lihat.


"Beneran di jodohin dong" Ceplos Lina.


"Hah? siapa?" Mona bertanya dengan ke antusiasan yang tinggi.


"Siapa lagi? ya mereka berdua lah" Ucap Ayu dengan menunjuk punggung Grace dan Arthur yang semakin menjauh.


"Gila, beruntung banget sih Grace" Gumam Mona dengan mengerutkan alis nya.


Di tengah perjalanan di dalam mobil, Grace masih diam saja sedangkan Arthur fokus mengemudikan mobil nya.


"Emang orang tua kamu beneran mau datang?" Tanya Grace memecah kesunyian.


"Sudah datang kok, kenapa? mau cepet-cepet di lamar?" Sengaja Arthur menggoda Grace dengan sejenak melirik Grace dan kembali fokus pada jalanan.


"Hah! Apaan sih!" Pipi yang bersemu merah itu terlihat lucu dan menggemaskan bagi Arthur, dicubit nya pipi Grace dengan sebelah tangan nya.


"Aww!! Sakit Arthur!" Geram Grace karena Arthur mencubit dengan sedikit tenaga.


"Salah sendiri gemesin" Sahut Arthur dengan gelak tawa nya.


Grace melihat Arthur yang tertawa lepas seperti manusia biasa.


"Seolah kau bisa di gapai" Gumam Grace dengan masih memandang kagum wajah tampan itu.


"Aku memang akan selalu menjadi milik mu Grace" Ucap Arthur yang mengetahui apa yang ada didalam pikiran gadis di samping nya, kemudian Arthur meraih tangan Grace dan di kecup nya sekilas tangan dengan jemari lentik itu.


Hati Grace merasa ada yang menggelitik, gadis itu lagi-lagi mengalihkan pandangan nya ke luar jendela.


Arthur terlihat mengulas senyum manis di bibir nya.


Sesampai nya di rumah Arthur berhenti tepat di depan rumah Grace, gadis itu turun dari mobil nya.


"Makasih ya?" Masih dengan nyengir-nyengir malu-malu kucing, Grace mengucapkan terimakasih kepada Arthur setelah ia menutup pintu mobil nya.


Bukan nya menjawab Arthur malah membuka kaca mobil dan mencondongkan kepala nya ke arah kaca mobil yang terbuka dan menepuk pipi nya dua kali menggunakan jari telunjuk nya.


"Hah? apa?" Grace tidak mengerti, dan Arthur melambaikan tangan nya agar Grace mendekat, dengan polos nya gadis itu pun mendekat dan dengan cepat Arthur mengecup bibir Grace, hanya sebentar namun membuat Grace seolah mengalami spot jantung.


Setelah kedua nya berpisah dan pulang ke rumah masing-masing, ternyata ada beberapa ibu-ibu tetangga sebelah yang sedang duduk-duduk di balkon.


"Eh ya ampun jeng, kau lihat itu anak nya jeng Sani, begitu murah nya mau di cium-cium sama tetangga baru kita" Ucap Jamila tetangga Grace dan Arthur.


"Ya gitu jeng anak muda jaman sekarang" Sahut Reni si bu ibu gaul dan lumrah dengan pergaulan bebas.


"Ih kalau aku mah ya jangan sampai lah jeng, masa, orang tua capek-capek cari duit anak malah gak ada harga diri nya begitu" Sahut Jamila dengan masih menatap Grace yang mulai melangkahkan kaki nya memasuki rumah nya.


Arthur yang baru saja keluar dari dalam mobil mendengar pergunjingan para ibu-ibu itu segera menjentikkan jari nya dan tiba-tiba langit yang cerah pun mendadak menjadi mendung dan sedikit demi sedikit tetesan air hujan mulai berjatuhan menyatu dengan permukaan bumi.


"Eh mau hujan ya, aku pulang dulu deh jeng, cucian banyak di rumah" Ucap Reni dengan segera beranjak dari balkon rumah Jamila.


"Eh iya deh, aku juga tadi njemur bantal" Kedua nya segera menyudahi pergibahan yang sangat mengasikkan tadi.


Arthur yang melihat dari jauh hanya tersenyum miring kemudian ia melangkahkan kaki nya memasuki rumah besar nya...


Jangan lupa like dan komentar nya ya, buar author semangat up nya, see you...