The Guard

The Guard
Restu Sahabat



"Nggak papa kok Lin, morning sickness biasa dialami ibu hamil muda" Jelas Jerik.


"Apa? Lo hamil Grace?" Dengan senyum bahagia nya Lina menata Grace kemudian menatap Jerik yang memberikan penjelasan.


"Tapi ngomong-ngomong bibir lo kenapa Lin? kok kaya jontor gitu?" Tanya Jerik yang melihat bibir Lina sedikit membengkak dan merah.


"Hah?" Lina meraba bibir nya dan bingung mau menjawab apa.


"Hayooo lo di gigit sama kak Mikko ya?" Ceplos Ayu yang membuat wajah Lina merah padam.


"Hah? Eng.. enggak kok, lo apa an sih Yuk, mentang-mentang udah ada gebetan, terus se enak nya ngatain sahabat sendiri" Kilah Lina dengan wajah yang masih memerah.


"Hieleh kalau suka udah suka aja nggak papa" Ucap Ayu dengan merangkul pundak Lina.


"Tapi bukan nya semalem lo... "


" Iya sih gue takut kalau sampai lo cuma di jadiin pelampiasan doang, tapi kalau gue ngelarang-ngelarang lo terus, kapan lo dapte jodoh nya" Sela Ayu dengan senyuman nya.


"Jalanin aja dulu ntar kalau kak Mikko nyakitin lo, kita ada di sini buat dukung lo, kalau perlu gue siap ni kasih bogem buat siapa aja yang nyakitin sahabat gue!" Imbuh Ayu dengan menunjukkan kepalan tangan nya.


"Makasih ya Yuk" Ucap Lina dengan memeluk Ayu, Grace hanya ikut tersenyum jujur saja perut nya tidak nyaman jika berdempet-dempetan.


"Wah rame banget ada apa an nih?" Tanya Ferdi yang tiba-tiba nongol di ambang pintu.


"Grace hamil bentar lagi kita-kita bakal jadi om dan tante" Ucap Jerik.


"Loh hamil? Kok bisa?" Tanya Ferdi dengan melongo.


"Ya bisa lah orang hamil laki nya!" Sahut Lina, sedangkan Grace hanya tertawa.


"Loh, pak dosen kan, laki nya?" Tanya Ferdi dengan menunjuk Arthur.


"Maksud lo gimana sih Fer gue jadi bingung" Ucap Jerik dengan menggaruk kepala nya yang bingung.


"Oh iya udah makin siang aja nih, Sarapan yuk udah laper gue" Ajak Lina yang di setujui oleh yang lain nya, mereka pun mulai berjalan menuju dapur namun tidak dengan Grace, ia masih lemas duduk di atas ranjang nya.


" Baby mau di bawakan sarapan ke sini?" Tanya Arthur dengan sangat penuh perhatian.


"Nggak Yank, aku males makan" Lemah suara Grace menjawab.


"Tapi kan kamu butuh tenaga buat mengandung di baby kecil" Ucap Arthur dengan mengelus kepala Grace.


"Tapi Yank, perut aku nggak enak" Keluh nya dengan mata yang memelas.


"La terus baby mau apa?" Tanya Arthur lagi.


"Pengen daging segar" Ucap Grace yang membuat Arthur terbelalak.


"Kenapa? Nggak boleh ya?" Bibir sensual itu melengkung ke bawah dengan sedikit mencebik seolah ingin menangis.


"Em... bukan begitu baby, cuma em... " Arthur terlihat menghela nafas sejenak.


"Ok baby, baby tunggu di sini ya!" Ucap Arthur yang hendak melangkahkan kaki nya keluar dari kamar.


"No! Nggak mau, aku ikut" Ucap Grace dengan tatapan memohon nya.


"Tapi berburu itu bahaya sayang" Lagi-lagi bibir Grace meleyot dan itu membuat Arthur tidak tega.


"Ya udah kita titipkan kandungan ini ke ibunda saja kalau kamu susah di bilangin!" Gertak Arthur.


"Maksud kamu? aku nggak akan mengandung nya?" Tanya Grace dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Iya sayang, pertumbuhan dia sangatlah cepat dan aku takut jika itu akan mengganggu kesehatan mu" Ucap Arthur berusaha tidak meninggikan suara nya.


"Ya udah aku nggak ikut berburu aja, tapi jangan pisahin kita" Grace memohon dengan memeluk perut nya yang masih rata.


Arthur duduk di samping istri manja nya itu, "Baby baik-baik di sini, dan jangan nakal" Arthur mengelus surai panjang milik Grace dan kemudian mengecup nya sekilas.


"Iya sayang, tapi jangan lama-lama" Ucap Grace berusaha ikhlas.


Di bawah masakan yang di masak Mikko dan teman-teman sudah mendekati matang, bahkan bau masakan yang menggugah selera itu menyeruak menembus kamar Gracelina Janitra.


"Hemmmm... " Grace menghirup aroma yang sangat lezat itu dengan indra penciuman nya.


"Seperti nya ini sangat enak" Gumam Grace, ia berjalan keluar dari kamar dan perlahan menuruni anak tangga. Setelah sampai di pertengahan "AAAAAAAAA... " Grace tergelincir.


Karena terlalu fokus untuk mencari sumber bau sedap itu Grace tak sengaja tergelincir, mendengar suara Grace yang berteriak Mikko segera berlari mendekati Grace.


Tubuh Grace lemah tak sadarkan diri Mikko merengkuh nya dan segera ia membawa nya ke sofa.


Semua berlari mendekat kecuali Lina, ada sesuatu yang mengganjal di salah satu sisi hati nya.


Tapi sebisa mungkin Lina segera menepis rasa itu, ia mulai melangkahkan kaki nya untuk ikut bergabung dengan yang lain.


Jerik yang ahli kandungan itu segera memeriksa perut Grace.


"Masih aman untung janin nya kuat, tapi kemana kakak?!" Geram diri nya celingukan mencari keberadaan Arthur.


"Apa? Janin? Grace hamil?" Mikko dengan tatapan terkejut nya bertanya.


Melihat respon Mikko seperti itu Ayu segera menarik lengan Lina untuk di ajak nya sedikit menjauh.


"Lo yakin mau deket sama dia? Lo nggak sakit hati gitu kalau liat dia masih perduli sama Grace?" Ayu sedikit berbisik saat bertanya, dan itu sudah mendapat lirikan dari ekor mata Jerik.


Terlihat Lina menghela nafas nya panjang dengan beberapa kali ia mengedipkan matanya sambil menatap ke langit-langit rumah itu.


"Gue nggak papa kok, kan dia orang baik, dia peduli dengan teman-teman nya, bukan nya semalem dia juga mengambilkan minum untuk Sarah?" Lina masih berpikir positif tentang Mikko.


"Oh ok lah, yang penting lo nggak sakit hati aja gue udah seneng banget kok, tapi kalau sampai dia nyakitin lo, jangan harap dia bisa meminta kesempatan kedua, gue nggak akan ngijinin!" Geram Ayu dengan emosi yang hampir meluap.


"Iya bestie, kamu tenang aja kok!" Ucap Lina dengan memeluk pundak Ayu.


"Sssshhh aduuuhhh... " Terdengar rintihan lirih dari Gracelina yang mulai menemui kesadaran nya.


"Grace!" Lirih Lina dan Ayu secara bersamaan, kedua nya segera melangkahkan kaki nya mendekati Grace yang terbaring di sofa.


"Bestie kamu nggak papa?" Tanya Ayu yang menyerobot dan duduk di antara Mikko dan Grace.


"Arthur mana?" Tanya Grace.


"Kakak belum muncul sedari tadi" Sahut Jerik, Grace berusaha bangun dari tidur nya, dan reflek Mikko meraih tangan Grace dan hendak membantunya, namun dengan kasar Ayu menepis nya, "Urus no gebetan baru lo, jangan sama bini orang!" Ketus Ayu.


Mikko tersadar ketika ia melihat ke arah Lina dan gadis itu terlihat mengalihkan pandangan nya.


Mikko segera beranjak dari duduk nya dan melangkahkan kaki nya untuk mendekati Lina.


"Kau marah?" Tanya Mikko dengan meraih lengan Lina.


Lina tersenyum dengan menggelengkan kepala nya, "Tidak , aku baik-baik saja" Sahut Lina tanpa menatap Mikko.


Mikko mencubit dagu Lina dan di arahkan pada nya, "Lihat aku!" Ucap Mikko, dan kedekatan mereka saat ini begitu dekat.


"Aku nyaman dengan mu, tidak bolehkah kita menjalin hubungan yang lebih serius?" Ucap Mikko.


"Ikuti alur nya dulu saja, aku tidak mau berkata Ya aku siap dan pada akhir nya aku yang menyerah, kan nggak lucu" Jelas Lina dengan penuh perumpamaan.


"Baiklah, aku akan menunggu mu sampai kau siap" Ucap Mikko dengan mengecup sekilas kening Lina, hanya sedikit perlakuan manis saja sudah membuat Lina seolah terbang melayang.


Arthur terlihat baru saja datang di dalam kamar Grace, ia membawa burung dara yang di inginkan Grace, namun tak ia dapati istri cantik nya di setiap sudut kamar nya.


"Grace! Sayang! Kau dimana?...


Jangan lupa dukungan nya...


see you...