
Setelah pertemuan nya dengan gadis pujaan hati nya, Gresta kini tengah berada di toko bunga, pemuda tampan itu tengah melihat-lihat bunga.
"Pangeran mau membeli bunga untuk nona Syaqila?" Chrisa hang selalu benar dalam menebak membuat pemuda tampan itu mengembangkan senyuman nya.
"Bagaimana jika dia menolak?" Tanya Gresta.
"Aku malu bibi, sudah lama aku tidak memberi nya kabar" Imbuh nya lagi.
"Bilang saja anda sibuk.
" Lagi pula kalian sekarang terlihat seumuran, sudah saat nya anda mengingatkan kembali masa-masa kecil kalian" Jelas Chrisa.
Terdiam Gresta, seolah ia memikirkan cara bagaimana ia akan menemui nya, akan kah mengajak nya makan malam? Atau mengajak nya terbang seperti waktu kecil, atau ada hal lain yang tersembunyi di dalam otak genius nya?
...🍒🍒🍒🍒...
Sengaja Gersta menunggu gadis cantik itu di balkon kamar nya di samping pintu kaca kamar Syaqila, dengan setelan jas hitam yang menawan, menambah kesan kharismatik yang begitu menonjol.
Tak lupa tangan nya menggenggam satu buket bunga yang sangat cantik
Visual Gresta Rajendra
Lumayan lama Pangeran tampan itu menunggu pujaan hati nya hingga mentari mulai bergulir menyinari belahan bumi lain nya dan perlahan purnama indah menggantikan tugas nya, sinar terang dengan udara dingin yang menggantikan hangat panas nya sinar mentari.
KRRRIIIEEEETTT...
Terdengar derit pintu yang terbuka, merasa kan kedatangan sang gadis pujaan malah membuat jantung Gresta berdegub dengan kencang, kristal-kristal keringat mulai bermunculan.
Beberapa kali Gresta menghela nafas berusaha menghilangkan rasa nervous nya.
Benar saja gadis yang dinanti nya kini muncul dari balik pintu kamar dan tengah memandang curiga ke arah pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan balkon nya.
"Siapa kau?!" Teriak Syaqila dengan mata yang membulat sempurna.
"Mau apa kau di kamar ku?!" Histeris gadis itu berteriak.
Terlihat Gresta memberikan kode untuk gadis itu terdiam, namun bukan nya diam Syaqila malah semakin takut, ia melihat ke sekeliling nya dan ia menemukan sapu lantai yang teronggok di sudut kamar nya.
Tak mau berpikir lama gadis cantik itu berlari dan meraih sapu lantai itu, dan perlahan mendekat ke arah pintu.
Di buka nya pintu kaca itu kemudian menodongkan gagang sapu itu ke arah Gresta.
"Pergi dari sini atau aku akan berteriak!" Ancam gadis cantik itu.
Bukan nya pergi Gresta malah menarik gagang sapu hingga tubuh Syaqila terhuyung ke depan dan menabrak dada berotot Gresta.
BRUGH!!
Aroma yang familiar, seperti pernah mengenal nya, Syaqila terdiam sejenak di dalam pelukan Gresta.
"Kau!, " Kau yang menabrak ku di Mall tadi kan?" Syaqila pun mendorong tubuh Gresta agar menjauh dari nya.
"Memang dunia ini sempit ya tuan, di Mall ketemu, di sini ketemu, haish, bisa ter... " Terdiam sejenak Syaqila saat hendak menyebut nama pemuda di hadapan nya itu.
"Ngomong-ngomong siapa nama mu?" Tanya Syaqila.
"Gresta" Sahut Gresta pelan.
"Nah iya, bisa terGresta-Gresta ini aku ntar" Celoteh Syaqila namun di detik berikut nya ia menatap lekat wajah Gresta kemudian beralih pada buket bunga yang ada di tangan Gresta.
"Kau Gresta?" Menganga tak percaya, sudah berapa tahun berpisah mereka akhir mya dipertemukan kembali.
"Kau benar benar Gresta? Anak nya Miss Gracelina? Gresta si genius yang ninggalin aku waktu masih sekolah? Kau... "
"Sssttt... Apa tidak lelah kau sejak tadi berbicara?" Ucap Gresta dengan menempelkan jari telunjuk nya di bibir Syaqila.
Gadis cantik itu terdiam dengan membelalakkan netra bulat nya, terlihat mengedip indah kelopak mata yang di hiasi dengan bulu mata lentik itu.
Kedua netra itu saling menunjukkan betapa besar rasa rindu yang di rasa, namun seiring berjalan nya waktu semua terasa berbeda.
Dulu menggandeng tangan, memeluk, mencium terasa biasa dan dekat karena masih sama-sama anak-anak, lain sekarang.
Jika mereka saling mencium dan memeluk maka pasti akan membangkitkan sesuatu yang akan fatal jika dituruti.
SRING!!
Masih seperti dulu Gresta membuka telapak tangan nya dan menunjukkan sulapnya.
Dengan bermodalkan kelopak bunga dari bunga yang sudah tersusun rapi di dalam buket.
Gresta menerbangkan kelopak bunga itu dan membentuk tulisan *I MISS YOUSYAQILA ALDINA*
Lagi-lagi mata Syaqila membulat serta mengembangkan senyuman nya.
Visual Syaqila Aldina
"I miss you too" Ucap Syaqila, GREB!!kemudian menghambur ke pelukan Gresta, pemuda tampan itu terkejut dengan peluakan mendadak dari gadis yang ada di hadapan nya, hingga ia lupa jika sebelah tangan nya tengah mengendalikan bunga yang berterbangan alhasil kelopak bunga itu berjatuhan layak nya hujan bunga yang menghujani kedua insan berbeda ras dan gender itu.
Peluk erat Syaqila berikan, bahkan air mata nya luruh membasahi pundak Gresta, gadis itu menangis sejadi nya.
Perlahan Gresta melepaskan pelukan nya, "Kau menangis?"
Syaqila menggeleng, "Bukan tangis kesedihan", Jemari kekar itu mengusap wajah yang basah.
" No baby, jangan menangis!" Ucap Gresta yang kemudian mengecup sekilas kening Syaqila.
Kedua nya kini tengah berbagi cerita setelah sekian lama tak bertemu.
"Kau yakin kau tak pernah berpacaran dengan pria lain?" Tanya Gresta dengan tatapan penuh selidik.
"Tidak, aku selalu percaya pada mu dan berusaha terus untuk menunggu kedatangan mu" Sahut Syaqila yang membuat Gresta menebar senyum manis lagi dan lagi.
"Bagaimana kalau aku tidak percaya?" Tanya Gresta dengan memicingkan sebelah mata nya seolah ia tak percaya dengan gadis yang ada di hadapan nya itu.
"Dahlah terserah!" Ketus Syaqila dengan raut wajah ya g ditekuk nya.
Tawa renyah terdengar dari mulut Gresta, ia tertawa gemas melihat ekspresi kesayangan nya itu.
"Kok ketawa sih?" Gerutu Syaqila.
"Karena kamu menggemaskan" Gresta sedikit mencubit pipi Syaqila yang lumayan cubby.
Pertemuan malam itu mereka lalui dengan saling bertukar cerita.
Karena hari mulai larut, Gresta berpamitan kepada Syaqila, gadis itu terlihat tidak rela namun mau bagaimana lagi, mereka belum sah untuk tidur bersama.
...🍒🍒🍒🍒...
Gresta dengan senyum lebar nya memasuki kediaman nya, ia terbang langsung menuju kamar pribadi nya.
Bayangan barusan ketika ia bersama dengan sang pujaan hati terus saja teringat dengan jelas.
"Semakin cantik saja dia, bagaimana jika aku tidak bisa menahan nya?" Gumam Gresta dengan menyilangkan kedua kaki nya.
"Ekhem... Ada yang lagi dimabuk cinta nih" Ucap Chrisa yang baru saja sampai di depan pintu kamar Gresta.
Bocah yang kini telah tumbuh menjadi dewasa kini merebahkan tubuh nya sendiri di atas ranjang yang sangat lah nyaman.
Bayangan senyum manis Syaqila terus saja mengitari otak genius Pemuda itu. Hingga tak terasa hawa dingin yang membawa kantuk kini telah mengiringi pemuda tampan itu untuk merasuk ke dalam dunia mimpi.