The Guard

The Guard
Percobaan Penculikan



"Keren juga Dean, dia itu pebisnis, sukses di usia muda" Tak mau kalah Digo menimpali, dan perdebatan kecil itu terjadi.


"Hieleh keren juga Arthur" Masih kekeuh dengan pilihan nya, Sani tak mau kalah.


"Kalian ini ngomongin apa sih?" Grace yang tidak mengerti, menghentikan perdebatan kecil.


"Nah mumpung ni anak nya di sini, Baby kamu pilih Dean apa Arthur?" Digo melayangkan pertanyaan yang membuat Gracelina mengerutkan kening nya.


"Ih kalian apaan sih?! Nggak jelas banget deh jadi orang tua, nggak-nggak-nggak! Grace masih kuliah, Grace nggak mau mikir kaya begituan dulu!" Sahut gadis cantik itu yang kemudian langsung melangkahkan kaki nya menaiki anak tangga.


Di luar pintu utama, Arthur mendengar sebagian perdebatan kedua orang tua Grace, juga penolakan yang Grace ucapkan secara tidak langsung.


Tak mau menggores luka hanya karena mendengar dari kejauhan makhluk tampan itu segera melangkahkan kaki nya menuju samping rumah Gracelina.


Dari sana terlihat jendela kamar gadis cantik itu masih terbuka, terlihat Arthur mundur beberapa langkah kemudian ia melompat dan HAP!! Tanpa suara pendaratan yang sempurna bagi makhluk tampan itu, kini Arthur sudah duduk di ambang jendela kamar Grace.


...🍒🍒🍒🍒...


Di sisi lain...


Dean yang pulang dari kencan gagal nya masih menekuk wajah nya, masih teringat kata-kata gadis cantik yang dengan mudah nya mengusir diri nya yang menyandang nama pebisnis muda itu.


"AAAAARRRRGGGHHHH!!!" Dean teriak dengan mengacak rambut nya frustasi, pemuda sukses materi itu merasa gagal dalam urusan asmara.


"Kau ini kenapa?!" Dengan menunjukkan raut wajah curiga Kinanthi keluar dari dalam cincin Dean, wanita jadi-jadian itu mendekati pemuda yang terlihat sangat frustasi itu.


"Jangan ganggu aku, aku ingin sendiri" Ketus Dean dengan menepis tangan yang membelai dada nya.


Sakit ketika mendapat penolakan dari laki-laki yang di sayangi nya.


"Apa karena gadis itu kau jadi seperti ini?" Dengan tatapan tajam Kinanthi berucap.


Namun Dean tidak lah menjawab pertanyaan itu, ia hanya memalingkan pandangan dengan mengusap wajah nya.


"Kau bilang hanya akan memanfaatkan dia, tapi saat kau mendapat penolakan, kenapa kau seperti ABG yang baru saja putus cinta?" Tanya Kinanthi dengan nada tinggi nya.


"Dan lagi, kenapa kau menghalangi ku saat aku akan menyerang nya?!" Sambung nya kini dengan mengerutkan kedua alis nya.


"Tunggu! Kau mencintai nya Dean?!" Tanya Kinanthi lagi dengan memicingkan sebelah mata nya.


"Apa maksud mu!?!" Dean balik bertanya dengan mengerutkan alis nya.


"Ya! sudah jelas kau mencintai nya! Jangan lupa Dean Aciel, aku yang membuat mu sampai sekaya ini, aku yang selalu ada menemani mu sampai di puncak kesuksesan mu ini!" Kinanti mengingatkan Dean.


"Jaga bicara mu Kinanthi!" Dean dengan nada tinggi nya membentak Kinanthi yang selama ini selalu setia melayani juga menemani nya, sakit hati itu pasti, akhir nya Kinanti pergi dari hadapan Dean dengan membawa luka.


"Jangan harap kau bisa bersatu dengan nya!" Ucap Kinanthi sebelum ia meninggalkan ruangan Dean.


...🍒🍒🍒🍒...


Di rumah Gracelina...


Terlihat gadis cantik dengan langkah malas nya melangkahkan kaki nya menuju kamar.


CEKLEK!! Pintu kamar terbuka dengan bergumam gadis itu melangkahkan kaki nya masuk ke dalam kamar.


"Ayah sama bunda apa an coba! main jodoh-jodohin aja!" Gumam Grace dengan menekuk wajah nya.


"Kau tidak suka di jodohkan dengan ku?" Ucap Arthur yang sudah stay di ambang jendela kamar Grace.


"ASTAGA!!" Kaget sudah jelas, gadis itu terlonjak dengan mengelus dada nya.


"Sedang apa kau di sini?!" Tanya Grace dengan sedikit berbisik gadis itu sempat menoleh ke arah pintu yang belum tertutup takut jika sampai kedua orang tua nya melihat kedatangan makhluk tampan yang kini bersantai di jendela nya.


Setelah menutup pintu rapat-rapat Grace berjalan mendekati Arthur.


"Mau apa? bukan kah kau bilang rumah mu di depan sana?" Dengan menunjuk rumah mewah yang masih terlihat gelap karena belum ada penerangan yang menyala di dalam nya, hanya lampu-lampu yang ada di jalan yang menerangi depan rumah mewah tapi terkesan seram itu.


"Ya memang dulu aku tinggal di sana" Sahut Arthur dengan santai nya makhluk tampan itu turun dari jendela dan melangkah menuju ranjang halus milik Gracelina.


"No! No! No!" Teriak Grace dengan menarik lengan Arthur agar si tampan itu tidak tidur di ranjang nya.


"Kenapa? Bukan kah kemarin-kemarin kau selalu nyaman tidur dengan ku?" Tanya Arthur dengan menaikkan salah satu alis nya.


"Iya tapi sekarang beda!" Ucap Grace masih dengan menarik lengan Arthur agar menjauh dari tempat tidur nya, namun tak ada hasil karena Arthur tak 1cm pun pindah dari tempat nya berdiri.


"Beda? Apa aku lebih tampan setelah merubah diri ku menjadi manusia?" Arthur memiringkan wajah nya agar ia dapat melihat netra indah yang selalu menghindari tatapan nya itu.


Kedua netra itu bertemu sejenak, "Tampan" Gumam Grace namun detik berikut nya gadis itu segera memalingkan wajah nya lagi.


"Tidak! Tidak! Tidak! Kau harus keluar dari kamar ku sekarang juga!" Usir nya dengan berkacak pinggang.


"Kenapa memang nya? Bukan kah lebih menarik jika memandang ku yang nyata seperti ini? Lagi pula, bunda Sani mau menjodohkan kita kan?" Dengan mencondongkan wajah nya ke wajah Grace, Arthur berniat menyatukan kening kedua nya.


Namun Grace menahan nya dengan jari telunjuk nya, "STOP! JANGAN MAJU LAGI!" Titah nya.


Arthur menepis pelan jari telunjuk yang stay di kening nya itu kemudian makhluk tampan itu memiringkan wajah nya dan, "No! Arthur!!!" CUP!!


Grace memalingkan wajah nya dan Arthur mengecup pipi gadis cantik itu.


"Arthur! kau... " Kehabisan kata-kata Grace menghela nafas ketika Arthur kembali menatap nya, tatapan yang masih sama, teduh dan menimbulkan rasa nyaman, tapi dengan Arthur yang berwujud manusia Grace takut jika sampai nafsu menguasai diri nya.


"Kau pulang lah besok aku ada kelas, kita berangkat bareng" Ucap Grace dengan berjalan melewati Arthur.


Arthur merasa ada yang beda dengan gadis nya itu, "Apa kau tidak nyaman dengan keberadaan ku?" Tanya Arthur dengan menahan lengan Grace yang melewati nya.


"Bukan" Sahut Grace dengan menepis pelan tangan Arthur.


...🍒🍒🍒🍒...


Ke esokan hari nya Grace melangkahkan kaki nya keluar dari rumah setelah berpamitan dengan kedua orang tua nya.


TIN TIN TIN...


Suara klakson mobil terdengar begitu gadis itu melewati ambang pintu rumah nya.


"Udah stay aja, duh mana ganteng banget lagi, kalau nanti banyak cewek-cewek yang naksir gimana coba?" Gerutu Grace dengan melangkahkan kaki nya menuju mobil Arthur yang menjemput nya.


"Selamat pagi Grace" Dengan senyum manis nya Arthur menyapa Gracelina.


Sedikit tersipu Grace mendapat senyum semanis itu, "Pagi Arthur" Sahut nya dengan menundukkan pandangan serta menggigit bibir bawah nya.


"Ayo naik, ntar keburu terlambat loh" Ajak nya sembari menyalakan mesin mobil nya.


Sungguh canggung menguasai diri Gracelina, yang mana diri nya kini duduk berdampingan dengan makhluk yang berwujud manusia dengan wajah yang tampan.


"Kenapa diam saja?" Tanya Arthur berbasa-basi, namun tatapan masih fokus ke jalanan.


"Ekhem... itu apa kau masih bisa membaca pikiran ku?" Tanya Grace dengan terbata-bata.


"Hahahaha... Itu memang sudah menjadi kemampuan makhluk seperti ku, kenapa kau menanyakan nya?" Tanya Arthur kini dengan menatap Grace yang ada di samping nya.


"Lihat ke jalan! kalau nabrak orang gimana coba?!" Ucap Grace dengan mendorong pipi Arthur agar mata nya fokus dengan jalanan yang lumayan ramai kendaraan itu.


"Kau lupa siapa aku?! hem?" Ucap nya dengan senyum miring yang menambah damage nya si tampan itu.


"Ekhem, kembali ke pertanyaan dan jawab nya nggak udah liat ke aku!" Ketus Grace.


"Hem baiklah" Sahut Arthur dengan menganggukkan kepala nya.


"Kalau kau masih bisa membaca pikiran ku, kenapa kau bertanya?" Tanya Grace.


"Karena ternyata akan lebih menyenangkan jika kau mengungkapkan nya sendiri, itu akan membuatku merasa lebih senang" Sahut Arthur, mendengar itu Grace menoleh ke arah Arthur dengan tatapan kagum ternyata begitu penting pernyataan dari nya walau pun Arthur sudah bisa membaca pikiran nya.


"Kenapa kau sangat menghargai ku?" Tanya Grace dengan memiringkan wajah nya agar dapat melihat wajah fokus Arthur.


"Karena aku menyayangi mu," Sahut Arthur membalas tatapan Grace.


"AAAAAAAAAAAAA!!!" Terdengar jeritan dan Arthur segera melihat ke arah depan di sana berdiri seorang wanita dengan menutup telinga nya, dengan segera Arthur menginjak rem nya.


Ckiiiiiiitttt.... Terdengar bunyi decitan, setelag mobil benar-benar berhenti Grace segera turun dan mendekati wanita di depan mobil itu.


"Kakak tidak papa?" Tanya Grace dengan memegang lengan yang terasa dingin itu.


"Aku merasa pusing" Ucap si wanita itu, Grace pun membantu nya berjalan dengan memapah nya namun setelah tangan si wanita itu merangkul pundak Grace, ia membawa Grace menghilang dari tempat kejadian.


"GRACE TUNGGU!!!" Teriak Arthur yang melihat Grace lenyap dari hadapan nya, dengan cepat Arthur berpikir siapa wanita barusan? Dengan bau melati yang ditinggalkan nya Arthur baru yakin kalau dia adalah Kinanthi, setelah yakin dengan dugaan nya ia segera menancap gas mobil nya dan menuju rumah Dean, sebelum nya Arthur menjemput Digo karena Digo yang tau dimana kediaman Dean berada.


"Apa?! Grace di culik?" Tanya Digo dengan mengeraskan rahang nya.


"Iya Om, dan saya yakin kalau si penculik itu pasti ada kaitan nya dengan Dean" Jelas Arthur.


"Jangan ngaco kamu! mentang-mentang istri saya suka sama kamu jangan terus menjelekkan Dean didepan saya!" Tukas nya


Mereka pun menyusuri jalan menuju rumah Dean.


...🍒🍒🍒🍒...


Kedua laki-laki itu sampai di rumah Dean karena tak mendapatkan apa yang mereka berdua cari rasa kecewa pun menyelimuti.


"Dean! Apa kau bersekongkol dengan wanita canik?" Tanya Arthur.


"Wanita? cantik?" Terdiam sejenak Dean berpikir.


"Oh iya, pasti ini ulah Kinanthi karena semalam dia pergi dari ku" Jelas Dean.


"Sekarang tunjukkan dimana dia?! " Ucap Arthur dengan mencengkeram kerah baju Dean


"Iya iya mari saya antarkan" Ucap Dean dengan mengajak semua nya menuju Danau.


"Walaupun hanya menginginkan berlian itu, aku juga tidak mau jika sampai Kinanthi membahayakan nyawa gadis itu" Batin Dean dengan terus melangkah kan kaki nya.


Mereka menuju danau dan benar saja dari kejauhan mereka melihat dua wanita yang berdiri di pinggiran danau.


"Ini terlalu berbahaya jika kalian melihat nya, tetaplah berada di sini biar saya yang mengatasinya" Ucap Dean, Arthur masih tetap waspada sedangkan Dio ia hanya menganggukkan kepala nya karena Digo sudah percaya kepada pemuda itu.


"Kinanthi" Dengan suara pelan Dean memanggil wanita jadi-jadian itu.


"Kau kemari?" Tanya Kinanthi dengan masih mencengkeram lengan Grace dengan kuat.


"Tidak seperti yang kau kira aku ke sini hanya merindukan mu dan ternyata benar kau di sini" Ucap Dean, benar saja mendengar kata manis itu cengkeraman Kinanthi mulai melonggar dan lepas dari lengan Grace.


"Kau merindukan ku?" Tanya Kinanthi dengan memicingkan mata nya.


"Tentu saja sayang ku" Ucap Dean, tanpa curiga kalau Arthur dan Digo perlahan mendekat dan kini Grace sudah aman dengan mereka.


"Tidak! kau tidak pernah mencintai ku kau hanya mau harta dan tahta yang kau punya sekarang, kau mencintai nya!" Dengan mata yang memerah Kinanthi berteriak.


"Ssshhttt tidak tidak jangan berteriak! Dengar aku, gadis itu mempunyai permata yang sangat sakti, aku mendekati nya hanya untuk itu...


Jangan lupa dukung like dan komentar nya see you...