The Guard

The Guard
Membuka lembaran baru



Setelah selesai dengan sesi latihan teleportasi, Gresta duduk di bawah pohon maple.


"Pangeran lelah?" Tanya Chrisa yang melihat bulir keringat menghiasi pelipis bocah tampan itu.


Gresta menggelengkan kepala, "Bibi boleh kucoba pelajaran hari ini?"


Chrisa menganggukkan kepala nya dengan senyum hangat, "Tentu saja Pangeran".


Tanpa pikir panjang juga dengan semangat yang menggebu Gresta berdiri dengan mulai membaca mantra dan mempersiapkan diri nya, bocah itu terlihat menatap bangunan yang berdiri kokok tak jauh dari taman gelembung, ya Menara sang Ayahanda nya lah yang di lihat nya.


SSSHHHLLLAAAPPP!!


Dengan sedikit mengibaskan jubah nya Pangeran kecil itu kini sudah hilang dari hadapan Angel Chrisa.


Berniat menjaga, Chrisa mengikuti kemana Tuan nya pergi, dan BRUGH!!!


"Pangeran anda tak apa?" Chrisa membantu bocah kecil yang duduk terjengkang itu, ternyata ruangan sang ayah tertutup oleh mantra, hingga bocah itu tak bisa masuk saat berteleportasi.


"Aku gagal bibi" Ucap bocah tampan itu dengan menatap bibi Chrisa nya dengan sorot mata yang penuh penyesalan, ia pikir kalau dia tak sehebat yang Chrisa ucapkan selalu.


"Ya gagal lah orang Mantra pelindung Daddy mu sangat kuat" Batin Chrisa dengan membantu Gresta untuk berdiri.


"Bukan gagal Pangeran... "


"Buktinya aku tidak bisa langsung menembus kedalam kamar Daddy dan Momy, padahal aku mau memberikan nya kejutan ini" Kecewa bocah tampan itu mengerucutkan bibir nya serta melipat kedua tangan nya di depan dada.


"Itu... eee... Pangeran harus belajar sopan santun, karena ini kamar orang tua, pangeran tidak boleh asal masuk, harus melalui prosedur ketuk pintu dulu" Mencari alasan di depan anak se genius Gresta sangatlah susah jika tidak dikaitkan dengan norma-norma yang tertera dan masuk di akal.


"Oh begitu? Baiklah" Ucap nya dengan mengangkat salah satu tangan nya, Gresta bersiap untuk mengetuk pintu besar itu, namun kemudian...


"Haaaahhh... Uuuhhh..." Samar-samar terdengar lenguh des-ah manja dari dalam kamar yang tertutup itu.


"Bibi itu suara Momy, Apakah Momy sakit?" Khawatir bocah itu setelah mendengar nya.


"Aaahhh... Arthur stoph... uuuuuhhh... emmmhhh"


"Sebentar lagi baby, ini nanggung"


Kembali suara-suara meresahkan kaum jomblowan dan jomblowati itu terdengar, segera Chrisa menarik Gresta agar menjauh dari kamar Momy and Daddy nya.


"Aaaa... Itu Pangeran, Daddy sedang melakukan olahraga terapy dengan Momy, mungkin untuk kebaikan kaki nya" Lagi-lagi Chrisa mencarikan alasan yang cukup masuk akal.


"Pasti sakit sekali Momy, apakah Daddy menekan kaki Momy yang sakit? Dengarlah teriakan nya sampai terdengar begitu! Daddy pasti tidak hati-hati!" Gerutu Gresta dengan melangkahkan kaki nya hendak mengetuk pintu kamar Arthur demi mengatakan kalau memberikan terapy untuk Momy nya harus hati-hati, namun dengan cepat Chrisa menarik nya kembali.


"Pangeran belum menemui opa dan oma Pangeran kan?" Ucap Chrisa yang untung nya berhasil mengalihkan fokus bocah genius itu.


Gresta hanya mengangguk, kemudian mengikuti kemana Angel Chrisa membawa langkah kecil nya.


Muncul keraguan ketika hendak sampai di aula kerajaan, "Apakah opa dan oma galak?" Tanya bocah kecil dari balik pilar aula itu.


"Tidak Pangeran mereka sangat menyayangi pangeran" Jelas Angel Chrisa dengan suara lembut nya.


"Kau mendengar nya rajaku? Dia cucu kita" Ucap Irina dengan menajamkan indra pendengaran nya.


"Lihat dia sudah besar" Ucap Akles yang melihat ke arah bocah tampan yang saat ini berjalan mendekat ke arah nya.


"Beri salam kepada opa dan oma Pangeran" Titah Chrisa mengajarkan kesopanan.


"Salam" Lirih Gresta dengan menundukkan wajah nya.


"Ooo ya ampun imut nya" Irina meraih tubuh kecil itu dan di gendong nya.


"Momy dan Daddy mu dimana sayang?" Tanya Iria berbasa basi.


"Bibi bilang mereka sedang berolahraga jadi tidak boleh di ganggu" Sahut Bocah tampan itu apa ada nya.


"Olahraga?" Akles dan Irina sama-sama mengerutkan kening nya.


"Siang-siang begini?" Kali ini Irina yang memicingkan mata nya.


Angel Chrisa hanya menganggukkan kepala nya, kemudian mereka mengajak cucu pertama nya itu untuk bermain di taman khusus yang sudah dibangun untuk nya.


...🍒🍒🍒🍒...


Di dunia manusia...


Aldy yang sudah berhasil menenangkan Kinanthi merasa iba dengan curahan hati yang Kinanthi ucapkan ketika di rumah sakit.


Cerita dimana diri nya yang seorang Angel terusir dari istana karena suatu kesalahan, dan akhir nya menemukan kembali semangat nya dengan seorang laki-laki, namun lagi-lagi diri nya harus menelan pil pahit kehidupan dengan dua jenis.


Yang pertama diri nya di tinggalkan pas lagi sayang-sayang nya dan itu sangatlah sakit.


Yang ke dua mengetahui ternyata diri nya memang hanya dimanfaatkan oleh manusia yang telah ia anggap sebagai kekasih itu.


Kini Kinanthi tengah terduduk lesu dengan mata sembab sayu, ia sudah keluar dari rumah sakit, kini ia duduk di ruang tengah rumah nya.


Semakin sedih hati nya kala ia tak mendapati celoteh ramai dari bocah tampan yang selama ini bersama nya.


Bayang-bayang Gresta yang berlarian di setiap sudut ruangan itu terlihat samar di pelupuk mata Kinanthi.


"Aku mengikhlaskan mu, tapi cukup sudah jangan kau merasuk lagi ke dalam otak ku!" Gumam nya dengan mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela, ya di sana terlihat gedung dengan banyak anak kecil melakukan aktivitas.


GREB!!


Gelap Kinanthi tak dapat melihat, sesuatu menutupi pandangan nya, oh tidak dua telapak tangan menutupi indra penglihatannya.


Aroma maskulin yang Akhir-akhir ini menenangkan jiwa dan juga pikiran nya membuat makhluk itu menyebutkan nama nya.


"Aldy?" Gumam nya dengan menyentuh jemari kekar yang menutup indra penglihatan nya itu.


"Halo mama Kinan?" Teriak seorang gadis kecil ketika Kinanthi menoleh ke arah belakang, ya di sana ada Aldy dan Syaqila yang berdiri di belakang nya dengan membawa buket bunga.


"Kalian mampir?" Tanya Kinanthi dengan mengusap bulir bening yang tanpa sengaja menetes di pipi nya.


"Kenapa tidak masuk kantor?" Aldy bertanya balik, bukan nya menjawab pertanyaan dari Kinanthi.


"Entahlah, bahkan mungkin aku juga akan meninggalkan hunian ini" Sahutnya dengan mengalihkan pandangan.


"Kenapa? Lalu jika kau tinggalkan, siapa yang akan bertanggung jawab dengan saham-saham itu? Lalu pebisnis-pebisnis ternama itu? Bagaimana nasib mereka? Banyak dari mereka yang sudah berharap banyak pada mu, usaha mereka melejit setelah kerja sama kontrak yang berhasil mendapatkan tanda tangan mu, kau yakin akan meninggalkan semua dan memberikan kebangkrutan kepada para kolega mu?" Panjang lebar Aldy menjelaskan.


"Lalu untuk siapa aku bertahan?" Tanya Kinanthi dengan mata yang berkaca-kaca.


"Untuk kita semua, untuk bisnis yang kau sendiri yang dari awal membangun nya, ingatlah, tanpa campur tangan mu Dean tidak akan berhasil" Ucap Aldy memotivasi Kinanthi.


"Tapi terlalu banyak kenangan" Lirih nya dengan menundukkan wajah nya.


"Kita bisa menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru, aku siap menorehkan tinta menulis, menggambar, serta mewarnai setiap lembar kehidupan baru kita" Kinanthi menoleh tak percaya dengan apa yang di ucapkan Aldy, namun netra biru nya menatap bocah cantik yang sedari tadi memegangi buket bunga itu.


"Lalu apakah dia bisa... "


"Semua sudah ku bahas dengan nya, sudah ku bicarakan, memang awal nya dia takut... "


"Yah memang aku monster yang patut di takuti" Sela Kinanthi dengan suara lirih nya.


"No! Aku belum selesai bicara! Setelah semakin kesini dia yang mengajak ku bertemu denganmu" Ujar Aldy.


Kini Kinanthi menatap haru kepada gadis cantik yang membawa buket bunga itu, ia melangkah maju dan memberikan rangkaian bunga indah itu untuk Kinanthi.


"Mama Kinan, apakah mama Kinan mau menjadi mama nya Syaqila?" Ucapan bocah cantik itu mampu meluruhkan air mata Kinanthi, ia pun merengkuh tubuh gadis cantik itu ke dalam pelukan nya.


Pada dasar nya Kinanthi adalah makhluk yang penyayang namun semua di gelapkan ketika rasa cemburu menguasai nya, juga merasa terkhianati yang membuat diri nya menjadi makhluk jahat dan kejam.