The Guard

The Guard
Pilihan Bunda



Malam hari di dalam sebuah mobil, Digo tengah mengendarai mobil nya, baru saja ia menjemput istri tercinta nya dari bandara.


"Kamu lelah sayang?" Tanya Digo dengan masih fokus menyetir mobil nya.


"Nggak lah yah, orang cuma berapa menit doang, ayah nih pasti yang capek" Sedikit mencubit lengan Digo, Sani menggoda suami nya.


"Oh iya, tumben ayah bawa mobil sendiri?" Tanya Sani.


"Pak Tejo pulang kampung, dan ayah nggak begitu suka dengan sopir baru yang di rekrut sama putri kita"


"Apa? Sopir baru? Grace mempekerjakan sopir baru? tanpa ijin dari kita?" Sela Sani dengan duduk yang menghadap ke arah Digo yang masih fokus dengan jalanan di depan nya.


"Iya sayang, sopan sih orang nya, cuma kayak serem gitu aja pembawaan nya jadi kaya film-film horor gitu deh" Sahut Digo menggambarkan Nendra.


"Ah masa?" Tanya Sani.


"Iya, dan lagi, bu Siti udah nggak ke rumah lagi karena ada si Sri yang menggantikan nya" Digo mulai menceritakan ART cantik nan bohay itu.


"Hah? Sri? Grace juga yang mempekerjakan nya?" Tanya Sani yang semakin pusing dengan berita-berita baru.


"Iya sayang, aneh deh anak kita tuh akhir-akhir ini, dan oh iya ayah kan rencana mau jodohin dia, sama anak nya pak Hendra itu loh, bunda ingetkan?" Dengan sesekali Menatap Sani, Digo berbicara.


"Yang pembisnis muda itu?" Tanya Sani dengan mengingat-ingat sosok Dean yang di bicarakan suami nya.


"Iya, keren kan? udah mapan, ganteng lagi, tapi anak kita itu nggak mau, kayak ada penolakan aja terus gitu, setiap kali ayah membicarakan Dean, Grace tu muka nya kaya nggak suka gitu" Cecar Digo.


"Hah? Dean siapa?" Tanya Sani.


"Iiiihh bunda gimana sih? Dean itu anak nya pak Hendra, si pebisnis muda, yang mau ayah jodohin sama Grace" Sedikit gemas Digo saat berbicara dengan istri cantik nya yang lumayan LOLA(LOading LAma) ini.


"Oooohhh... ngomong dong, kan bunda belum tau nama nya" Tanpa merasa bersalah Sani menyahuti dengan membenarkan posisi duduk nya menghadap ke depan.


"Oh Astaga perasaan dari tadi yang di bahas siapa? yang telat paham siapa? yang salah siapa? hadeh... resiko emang, ngomong sama orang cantik" Gumam Digo dengan ekor mata yang sesekali melirik ke arah istri cantik nya.


"Apa yah?" Dengan ekspresi polos bin LOLA Sani menoleh ke arah Digo.


"Hah? Nggak! Nggak papa kok" Ucap Digo dengan sedikit menggeleng kepala nya.


"Ayah tu jangan main jodoh-jodohin putri kita, bunda juga ada pemuda tampan yang cocok sama Grace kita loh" Jelas Sani, yang mana berita itu membuat kaget Digo.


"Apa? pemuda macam apa yang akan kau berikan kepada putri kita?" Tanya Digo yang seperti tidak terima jika Grace tidak bersama Dean.


"Ada deh, ganteng banget pokoknya" Sahut Sani. Digo mengerutkan kening nya mendapati ucapan istri nya.


"Ingat bun, ganteng itu bukan segala nya, ganteng kalau nggak ada duit gak bisa kerja, mau di kasih makan apa putri kita nanti?!" Cecar Digo dengan raut wajah yang kurang mengenakkan.


"Ya ayah tadi kan memprioritaskan ketampanan anak nya pak Hendra, ini bunda juga dong" Sahut Sani tak mau kalah.


"Tapi kan masa depan Dean udah pasti cerah, secara dia sudah mapan, bisnis nya berkembang pesat" Ujar Digo yang masih berpihak pada Dean.


"Kita lihat saja nanti anak kita akan pilih yang mana, pilihan ayah nya atau pilihan bunda nya?" Pada akhir nya perdebatan kecil itu berakhir ketika mobil mereka ber parkir di garasi rumah nya.


Di dalam rumah...


Grace dan Arthur tengah berkumpul dengan Srikantil dan juga Nendra di ruang tamu.


"Kau yakin sudah tak apa Sri?" Tanya Grace khawatir.


"Sudah non, aman" Dengan mengembangkan senyuman juga mengacungkan jempol nya Srikantil meyakinkan nona nya kalau diri nya sudah baik-baik saja.


"Tidak perlu terlalu khawatir, kalau hanya terluka seperti itu, dia akan baik-baik saja, dia kan hantu, kau lupa itu?" Ucap Arthur.


Sekilas memandang Arthur kemudian mengalihkan pandangan nya ke kedua asisten di rumah nya itu, Grace sangat jelas kalau saat ini gadis itu tengah merajuk.


"Ada yang datang" Ucap Arthur yang merasa kalau ada manusia lain selain Grace.


"Siapa pangeran?" Tanya Nendra yang duduk di samping Srikantil.


"Ini, orang penting" Ucap Arthur, ketiga nya pun langsung merubah diri nya menjadi sosok manusia.


Grace tak heran jika Srikantil dan Nendra berubah menjadi sosok manusia yang cantik dan tampan, namun gadis itu dibuat bingung dengan Arthur yang juga merubah diri nya, bahkan makhluk tampan itu mengenakkan pakaian santai, kaos oblong dengan celana selutut.


"Kau? Buat apa kau juga ikut-ikutan berubah?" Tanya Grace yang tak mengerti.


"Untuk bertemu dengan camer" Sengaja Arthur menggoda Grace.


"Iiiihhh nggak, nggak, nggak! pergi-pergi-pergi... " Dengan mendorong tubuh Arthur yang duduk di samping Grace, lengan gadis itu malah di tarik Arthur dan di peluk nya.


"Sudah marah nya, kata nya rindu" Bisik Arthur dengan memeluk erat tubuh Gracelina.


"Kalian?!" Suara mengejutkan itu terdengar di belakang Grace dan Arthur. Sontak kedua nya saling melepaskan pelukan nya dan menoleh ke arah sumber suara yang mana di sana sudah berdiri Digo dan Sani.


"Eh ayah, bunda, sudah lama?" Tanya Grace dengan nyengir kikuk nya.


"Malam om, tante" Grace membelalakkan mata nya ketika Arthur menyapa kedua orang tua nya.


"Malam Arthur, wah ternyata duluan kamu ya sampai disini nya" Berbasa-basi ternyata Sani sudah mengenal Arthur, itulah yang membuat Grace tertegun dan melongo.


"Ayah sama bunda kamu masih di Prancis?" Tanya Sani, yang lagi-lagi membuat Grace tak habis pikir.


"Bunda kok kenal sama Arthur? Prancis? Apa selama ini orang tua Arthur ada di sana? ini... aduh nggak-nggak-nggak, asli bikin mumet!" Batin Grace dengan menggelengkan kepala nya pelan.


Di kamar Digo...


"Ayah?" Panggil Grace dengan melihat ke kanan dan kiri.


"Bunda mengenal Arthur?" Imbuh nya dengan berbisik.


"Lah kamu ini gimana? Artur itu dulu pernah tinggal di rumah sebelah, nah beberapa tahun yang lalu dia pindah tu bareng sama keluarga bunda nya di Prancis" Jelas Digo dengan merapikan barang-barang.


"Tapi ayah... "


"Sudah-sudah, baby ke dapur sana, si Sri sudah bikin minum belum? kalau ada tamu itu di bikinin minum" Sela Digo.


"Oh ok ayah" Grace segera melangkahkan kaki nya menuju dapur.


Di depan mini bar, Grace masih menekuk wajah nya.


"Nona Grace kenapa?" Tanya Srikantil dengan mengaduk teh hangat buatan nya.


"Aku nggak habis pikir deh Sri, masa ayah sama bunda kenal sama Arthur" Grace mengungkapkan kegundahan nya.


"Entah itu sebagian dari rekayasa pangeran atau memang benar ada nya, mungkin keluarga bangsawan itu dulu pernah tinggal di daerah sini" Ujar Srikantil.


"Hah? makin jauh dari nalar kamu Sri!" Gerutu Grace yang memang otak nya tidak sampai jika harus berpikir yang di luar nalar manusia.


"Eh Nona cantik, keberadaan kita ini tidak bisa di kaitkan dengan nalar manusia, hanya orang-orang tertentu juga yang bisa melihat wujud asli kita" Jelas Srikantil.


"Au ah Sri! mumet!" Ucap Grace dengan membawa nampan berisi tiga gelas teh hangat, kaki jenjang itu mulai berjalan menuju ruang tengah dimana Sani dan Arthur duduk bersama.


Dari kejauhan Grace melihat ke akrab an Sani dan Arthur, kedekatan mereka berdua seolah sudah kenal sejak lama.


"Diminum bun" Ucap Grace meletakkan minuman di atas meja.


"Aaa sweet nya cantik nya bunda ini" Sani memeluk putri sematawayangnya itu.


"Lah Arthur nggak di tawarin?" Goda sani dengan mengedip-kedip kan mata nya.


"Ih bunda apaan sih?! kan aku masih marahan sama Arthur" Batin Grace dengan melirik Arthur, sedangkan makhluk tampan itu mengulas sedikit senyum dengan menaikkan salah satu alis nya.


Dengan segera Grace mengalihkan tatapan nya ke arah bunda nya.


"Bunda sudah lama kenal sama Arthur?" Tanya Grace yang sungguh penasaran.


"Sudah sayang, dulu kalian itu sering main bareng loh, malahan dulu kamu sering bunda titip in ke keluarga nya Arthur, tapi kamu masih kecil sih" Jelas Sani, mulai dari sana Grace menjadi paham, ini mungkin permainan yang Arthur rancang.


"Hah? terus maksud bunda tadi apa? kok bilang duluan Arthur?" Tanya Grace.


"Jadi kemarin Arthur tu mampir ke butik bunda, nah dari sana kata nya dia mau balik ke rumah sebelah yang kosong itu" Jelas Sani, Grace masih belum bisa mengerti, namun berbeda dengan Arthur, ia lebih memahami suasana ini dan dengan santainya si tampan itu menyeruput teh yang ada di dalam gelas kaca.


"Oh iya Arthur sekarang sudah kerja kan?" Tanya Sani dengan antusias nya.


"Bunda nggak boleh gitu dong, masa nanya in kerjaan segala, malu" Bisik Grace dengan menarik lengan Sani.


"Sudah tane baru saja kemarin saya di terima jadi Dosen di kampus Grace" Sahut Arthur masih dengan nada santai nya.


"APA?!" Teriak Grace seolah tak percaya, kalau makhluk tampan di hadapan nya itu seorang dosen.


"Kok kamu kaget gitu sih Grace?" Sani menepuk pelan lutut Grace yang ada di samping nya.


"Hah nggak, itu tadi dia bilang, anu dia ngajar di kampus Grace" Gelagapan Grace mencari alasan.


"Waaaahhh iya,, bagus dong kalau begitu kalian bisa berangkat bareng, dan mobil Grace bisa bunda pakai keliling ke butik-butik bunda, nggak papa kan Arthur kalau tante nitip Grace?" Sungguh kepala Grace serasa berat memikiran semua ini.


"Tidak apa-apa kok tante" Sahut Arthur dengan senyum nya.


"Oh iya tante berhubung ini sudah malam, saya pamit dulu" Ucap Arthur dengan menjabat tangan Sani.


"Oh iya iya iya, besok nitip Grace ya?"


"Ih bunda apa an sih!" Sewot Grace memcubit kecil lengan bunda nya.


"Selamat malam Grace" Senyuman manis itu Arthur layangkan ke arah Grace sebelum ia melangkahkan kaki nya keluar dari rumah besar itu.


"Oh ya Tuhan menantu idaman emang, manis sekali, sopan sekali, jabatan Dosen, oooohh kurang apa coba?" Gumam Sani dengan masih memandangi punggung Arthur yang mulai menjauh.


"Oh jadi dia pilihan bunda?" Terdengar suara berat itu dari belakang kedua perempuan yang tengah menghadap ke arah pintu keluar.


"Iya dong yah, jadi gimana? tampan kan? keturunan Prancis, Dosen lo dia, sopan juga" Ucap Sani yang semangat mempromosikan Arthur si tampan dari tetangga sebelah.


"Keren juga Dean, dia itu pebisnis, sukses di usia muda" Tak mau kalah Digo menimpali, dan perdebatan kecil itu terjadi.


"Hieleh keren juga Arthur" Masih kekeuh dengan pilihan nya, Sani tak mau kalah.


"Kalian ini ngomongin apa sih?" Grace yang tidak mengerti, menghentikan perdebatan kecil.


"Nah mumpung ni anak nya di sini, Baby kamu pilih Dean apa Arthur?...


Duh pilih siapa ya?


Jangan lupa like dan komentar ya, juga beri dukungan juga vote kalian, see you...