The Guard

The Guard
Kesal



Grace yang selesai memakan seporsi gado-gado segera meneguk minuman yang juga di pesankan oleh Ayu.


"Mending lo ijin dulu deh ke suami lo, siapa tau di kasih ijin, trus kita bisa liburan bareng" Ucap Lina yang masih berharap untuk Grace bisa ikutan ke puncak bersama mereka.


"Kalian mau nemenin gue nggak?" Setelah terdiam sejenak akhir nya Grace memberanikan diri mengambil keputusan.


"Kemana?" Dengan polos nya Ayu bertanya.


"Iiiiihhh... minta ijin ke suami gue! Gimana sih?!" Geram Grace mencubit gemas pipi Ayu.


"Aduh duh duh duh!! Sakit bestieh!!" Gerutu Ayu dengan mengelus pipi nya yang terasa berdenyut.


Ketiga mahasiswi itu segera beranjak dari tempat duduk mereka, dan mulai melangkahkan kaki nya menuju ruangan Arthur.


Setiba nya di depan pintu ruangan Arthur yang tertutup Grace, Lina dan Ayu mendengar suara wanita di dalam sana.


Mereka bertiga saling menatap satu sama lain, "Gue boleh mikir yang nggak-nggak nggak sih? kok gue kaya denger suara cewek nge-de-sah ya?" Ucap Lina lirih dan sangat hati-hati.


Tak mau menunggu lama Grace pun menendang pintu yang tertutup itu, BRAK!!


"Apa-apa an ini?! Kalian sedang apa?! Dan kau Mona! Jauhkan tangan mu dari suami ku!" Dengan tatapan tajam tak bersahabat Grace melangkah kan kaki nya maju kemudian tanpa basa basi ia menarik kasar rambut Mona dan di bawa nya keluar dari ruangan Arthur.


BRUGH!! Grace menghempas kan rambut Mona yang tadi di tarik nya hingga gadis itu tersungkur di lantai.


"Sekali lagi kau merayu suami ku! Ku lempar kau sampai ke jalan sana!" Gertak Grace yang segera kembali masuk ke dalam ruangan suami nya.


"Kau juga! Kenapa diam saja?!" Teriak Grace di depan Arthur, sungguh emosi Grace memuncak saat itu.


"Kau suka iya? Hah? Dia lebih sexy dari istri mu ini? Hah?! Dapet pemandangan bagus iya?!" Cerocos Grace, sedangan Ayu dan Lina hanya berdiri di depan pintu masuk ruangan Arthur mereka berdua menyaksikan Gracelina yang sempat kehilangan semangat nya itu, kini malah marah-marah seakan ada yang merebut barang kesayangan nya.


"Kenapa diam saja?!" Dengan hati yang masih memanas Grace bertanya.


"Kita pulang sekarang!" Dingin Arthur, ia segera menarik lengan Grace untuk di ajak nya pulang karena memang sudah selesai jam kuliah.


"Apa an sih main tarik-tarik! Lepas!" Ucap Grace dengan berontak namun cengkeraman Arthur sangat lah kuat, Lina dan Ayu hanya mampu memandang sahabat nya yang di tarik paksa oleh suami nya.


"Kita gimana Lin?" Tanya Ayu dengan bibir yang melengkung ke bawah melihat sahabat nya seperti nya merasakan kesal yang begitu dalam.


"Ya kita berdo'a saja, semoga Grace menemuka titik terang nya" Sahut Lina dengan santai nya.


"Lagi pula pak dosen tidak akan menyakiti nya kok" Imbuh nya yang kemudian berjalan menuju parkiran di ikuti oleh langkah Ayu yang dengan menganggukkan kepala nya berusaha mengerti dengan apa yang di ucapkan Lina.


Di gang parkiran, karena Grace terus saja berontak dan tidak mau diam, terpaksa Arthur menggunakan kekuatan nya, pertama ia mengarahkan tangan nya ke arah mobil nya dan SSSHHHLLLAAAPP!!! Mobil Grace menghilang dari parkiran.


Kemudian Arthur dengan sekali mengibaskan tangan nya ia berubah ke wujud asli nya, dan tanpa berbasa-basi lagi Arthur segera menutupkan jubah kebesaran nya ke tubuh Grace dan segera melakukan teleportasi SSSSHHHHLLLLLLAAAPPPP!!!


BRUK!! Arthur melempar Grace ke atas ranjang, "Awh!! Apa-apaan ini Arthur?! Harus nya yang marah itu aku, bukan kamu!" Grace beringsut pindah ke tepi ranjang ketika Arthur dengan perlahan mendekati diri nya.


"Arthur kau dengar aku?!" Sedikit rasa takut perlahan menyelimuti hati Grace.


"Kau tau, di sini rasa nya begitu sakit ketika orang yang kita sayangi salah paham kepada kita dan menuduh kita secara sepihak" Ucap Arthur dengan penuh penekanan, dia mengarahkan tangan Grace untuk memegang dada nya.


"Tapi kenapa kau terlihat menikmati nya, bahkan dia membuka baju nya, dia langsung menonjol!" Tuding Grace dengan melirik ke arah bawah.


"Itu karena sebelum dia masuk aku teringat adegan panas dengan mu tadi, dan tiba-tiba celana ku menjadi sesak" Arthur mencoba untuk menjelaskan namun Grace tetap saja memasang tampang kesal nya.


"Kau... Kau melihat nya" Ucap Grace dengan memalingkan wajah nya untuk menyeka bulir bening yang baru saja lolos dari pelupuk mata nya.


"Aku ingin sendiri" Ucap Grace pada akhir nya, kecewa Arthur mendengar ucapan itu yang keluar dari mulut istri tercintanya.


Arthur menghela nafas, "Baiklah" Lirih nya kemudian melangkahkan kaki nya dan Ssshhhlllaaapp!! Arthur menghilang dari pandangan Gracelina.


Grace menangis tersedu setelah Arthur pergi meninggalkan nya, "Kok malah beneran pergi sih?!"


TOK TOK TOK...


"Non? nona Grace baik-baik saja?" Terdengar suara Srikantil yang khawatir dengan nona muda nya yang terdengar isakan tangis nya dari luar.


Tak mendapat jawaban dari Grace, Srikantil dengan segala kekhawatiran nya menerobos dinding keras itu dan SLAP!!


Kini Sri sudah berada di hadapan Grace ia mencium aroma Arthur yang baru saja menghilang.


"Non?" Lirih Srikantil dengan memegang kedua pundak Grace, ART jadi-jadian itu duduk di depan Grace.


Grace mengangkat pandangan nya ia lihat Sri yang tengah mengkhawatirkan dirinya, "Sri, haaaaa... Aku sakit banget Sri... Haaaa!!" Tangis itu menggelegar.


Srikantil tanpa ragu memeluk Grace dan menenangkan majikan muda nya itu.


"Menangislah non, menangis tidak akan merubah mu menjadi lemah, tapi setelah nya bangkit dan pikirkan cara untuk membahagiakan diri" Sri berucap dengan sesekali ia membelai surai hitam yang halus.


"Aku kesel banget Sri hiks... hiks... Di kampus Arthur di goda in cewek Huwaaaa... haaaaaa... aku sebel!!" Kembali Grace meluapkan tangisan nya.


"Ya itu sih hal wajar, soal nya pangeran kan emang tampan dari sana nya" Ucap Sri yang membuat Grace melepaskan pelukan nya.


"Apa aku kurang cantik Sri? Apa aku kurang sexy?" Srikantil sedikit menahan tawa, karena pertanyaan yang Grace berikan.


"Sri!! Kau menertawakan ku?!" Dengan bibir yang mengerucut Grace bertanya.


"Hehe... Maaf non, Cantik, Sexy itu nggak ada guna nya buat makhluk selevel pangeran, jika garis perjodohan nya sudah di tetapkan maka ya sudah, mereka nggak akan ke lain hati, karena mereka tau kalau berkhianat maka kekuatan nya akan menghilang juga jodoh nya akan hancur bersama dengan menghilang nya kekuatan itu" Jelas Srikantil panjang lebar.


"Terus? Gimana? Arthur kira-kira kemana ya Sri?" Tanya Grace yang terlihat menyesal karena telah membuat Arthur pergi.


"Ya mana Sri tau, pangeran keluar nya nggak lewat pintu depan" Grace semakin murung mendengar nya.


"Sudah, jangan sedih lagi, asli nya pangeran itu sabar kok, hanya saja terkadang ia terpengaruh dengan hal-hal baru yang di pelajari nya" Srikantil menepuk tangan Grace pelan.


Kedua nya terdiam sejenak, Grace mulai menata pikiran nya dan berpikir kalau sampai malam Arthur tidak pulang apakah dia harus ikut ke puncak teman-teman nya saja? Ide gila itu muncul.


"Sri kalau aku... "


"Sebentar non maaf, seperti nya akan ada tamu" Ucap Sri yang merasakan ada mobil yang terparkir di halaman depan rumah Grace itu.


"Siapa Sri?" Tanya Grace penasaran, "Sebentar Sri Lihat dulu ya?" Tanpa menunggu jawban dari Grace Srikantil melesat menuju Halaman depan, dan kembali ke kamar Grace lagi.


"Teman-teman nona pada datang" Ucap Srikantil.


"Siapa? Ayu dan Lina?" Grace segera menuju wastafel untuk mencuci muka nya agar terlihat fresh lagi.


"Bukan, mereka ada sih tapi ini banyak, ada tiga mobil" Grace melongo, dan penasaran siapa saja yang datang sore-sore begini?...


Jangan lupa klik Favorit 💞, siapkan jempol untuk klik like👍, siapkan kata-kata terbaik kalian untuk komentar, yuk bantu bangun semangat author buat up lagi, see you di bab selanjut nya ya...