
Malam hari Grace membantu Sani dan Srikantil untuk menyiapkan makan malam, karena keluarga Arthur akan datang malam ini, Sani ingin menyambut calon besan nya dengan sangat baik.
"Grace sayang, siapkan gelas nya!" Ucap Sani yang dengan cekatan mengurus ini dan itu.
"Bunda?" Sambil menyiapkan gelas di atas nampan.
"Iya sayang ada apa?" Sani masih fokus memotong beberapa buah-buahan segar.
"Apa bunda sudah pernah bertemu dengan keluarga Arthur?" Tanya Grace penasaran.
"Sudah sayang itu dulu sekali waktu kau masih bayi" Sahut Sani.
"Apa mereka baik bunda?" Tanya Grace dengan tangan yang masih sibuk menata gelas.
"Tenang saja sayang, keluarga mereka baik kok, bunda yakin, apa kau merasa gugup?" Tanya Sani dengan menepuk pelan punggung Grace yang berdiri di samping nya.
"He'em" Sahut Grace.
Setelah selesai dengan gelas-gelas kaca nya gadis itu melangkahkan kaki nya keluar dari dapur.
"Mau kemana sayang?" Teriak Sani yang melihat putri nya meninggalkan dapur.
"Grace mau ganti baju dulu bun" Sahut Grace dengan terus melangkahkan kaki nya menuju lantai dua dimana kamar nya terletak.
Gadis cantik nan sexy itu memasuki kamar dan berjalan menuju lemari pakaian, seperti yang di katakan barusan kalau ia akan mengganti baju nya.
Namun ketika menatap ke arah jendela, Grace melihat bangunan mewah nampak indah di samping rumah nya, dan di sana terlihat sebuah jendela dengan ukuran besar menyuguhkan pemandangan yang sangat indah.
Ya, itu adalah kamar Arthur, makhluk tampan yang menyamar sebagai pemuda bertubuh atletis, terlihat ia hanya menggunakan celana panjang tanpa atasan alis bertelanjang dada.
Tanpa Grace sadari, gadis itu mengagumi si tampan yang selalu mengusik hari nya itu.
"Kok bisa sempurna gitu sih?" Gumam Grace tanpa sengaja dan itu membuat Arthur yang jauh di seberang sana menoleh ke arah Grace, sontak gadis itu membalikkan tubuh nya dan segera berjalan ke arah lemari pakaian nya.
"Gila, gila, gila Astaga! kok bisa mikir yang begituan sih ampun deh otak kotor-otak kotor" Gumam Grace dengan membuka T-shirt yang di kenakan nya dan hanya menyisakan bra berwarna hitam di dada nya kemudian gadis itu membuka lemari pakaian nya dan ketika ia meraih bra di tumpukkan paling atas tiba-tiba di pinggang ramping nya yang terekspos tanpa tertutup sehelai benang itu melingkar tangan kekar yang barusan di kagumi nya.
Gelanyar aneh juga ia rasakan ketika Arthur menghirup aroma damai di tengkuk Grace.
"Ahh Arthur" Refleks kata itu yang keluar dari mulut Grace, dengan tangan yang meraba kepala Arthur yang ada di belakang nya.
Mengirup aroma tubuh Grace, membuat Arthur semakin menggila, kini makhluk tampan itu menyesap leher gadis yang ada di dalam pelukan nya.
"Arthur ahh" Satu demi satu de-sah an manja itu lolos dari bibir sexy itu.
Sebelah tangan Arthur meraih pipi Grace dan membawa nya agar gadis itu menoleh ke arah nya dan dengan begitu lebih mudah Arthur untuk mengecup bibir Gracelina.
"Emmm... " Grace yang sadar akan lum-atan yang di berikan Arthur sangat lah menggoda dan menggugah gairah.
Namun gadis itu memukul dada Arthur dengan sedikit mendorong nya. Namun Arthur yang di dorong ambruk ke atas ranjang Grace dengan sebelah tangan yang masih stay di pinggang Gracelina, alhasil malah Grace yang menindih tubuh atletis itu.
Terasa begitu keras dan terlihat macho, tubuh yang kini ada di bawah Grace tanpa sadar gadis itu meraba dada Arthur yang keras berotot.
Perlahan tapi pasti Arthur menarik tengkuk Grace dan kembali menautkan kedua benda kenyal, lembab nan manis itu, dengan cepat Arthur membalikkan posisi menjadi Grace di bawah kungkungan nya.
"Emmmhh... " Lenguhan manja membuat Arthur semakin menjadi tangan nya mulai meraba dua gundukan yang hampir menyembul dari sangkar nya.
TOK TOK TOK...
Tiba-tiba pintu kamar Grace di ketuk seseorang dari luar, kedua nya menatap ke arah pintu kemudian memejamkan mata dengan tawa tak bersuara masing-masing.
"Aku buka pintu dulu ya? Takut nya bunda" Bisik Grace yang masih di bawah kungkungan Arthur.
Senyum manis Arthur suguhkan untuk gadis yang berhasil menempati rating tertinggi di hati nya, tentu saja setelah posisi Irina atau ibunda Arthur.
Grace beranjak dari ranjang nya, namun Arthur menahan tangan nya.
"Apa?" Tanya gadis itu dengan menoleh ke arah Arthur.
"Pakai baju mu!" Arthur meraih T-shirt yang Grace lempar tadi.
Tersenyum malu dengan mengigit bibir bawah nya Grace segera meraih T-shirt nya dan mengenakan dengan cepat.
Grace membuka pintu kamar nya hanya sedikit dan ia menongolkan kepala nya saja, di sana di depan kamar nya ada Digo yang berdiri dengan melipat kedua tangan nya di dada.
"Eh ayah, ada apa?" Tanya Grace dengan senyum pepsodent yang menampilkan barisan gigi rapi nya.
"Ada apa dengan mu? Ada siapa di dalam? Kau menyembunyikan sesuatu?" Feeling Digo mengatakan Grace bersama seseorang fi dalam sana.
"Hah? Ng... Nggak kok yah, Grace tidak menyembunyikan sesuatu" Ucap Grace sedikit tergagap.
"Tapi tadi ayah mendengar sesuatu" Ucap Digo, Grace sedikit merutuki kebodohan nya karena ia lupa kalau kamar nya dan kamar orang tua nya bersebelahan.
"Em... tikus kali yah" Alasan itu tak berhasil membuat Digo percaya, hingga pada akhir nya Digo memaksa masuk ke dalam kamar Grace.
BRAK!! Pintu terbuka paksa sampai daun pintu membentur dinding kamar Grace.
Digo melangkahkan kaki nya masuk dan melihat semua isi kamar Grace.
"Ayah nggak percaya sama Grace?" Digo tidak menjawab pertanyaan itu, laki-laki berstatus ayah itu melihat jendela Grace yang masih terbuka dan di sana Digo melihat rumah tetangga nya yang bersebelahan dengan nya.
Setelah melihat Arthur ada di dalam rumah seberang itu Digo merasa lega.
"Ayah!" Ucap Grace ketika ayah nya menutup jendela nya.
"Sudah malam angin nya dingin" Ucap Digo dengan melangkah kan kaki nya meninggalkan kamar Gracelina.
Setelah Digo pergi Grace kembali melihat rumah Arthur namun gadis itu tak menemukan sosok tampan itu, tapi ternyata Arthur sudah ada di ranjang nya.
Dengan duduk bersandar pada dinding Arthur mengulas sedikit senyum nya melihat Grace yang masih melongo di depan jendela.
Grace membalikkan tubuh nya melihat ke arah ranjang, "ASTAGA!" Ucap nya dengan memegangi dada nya.
"Kau! Kapan kau kemari?" Tanya Grace.
"Sejak tadi aku di sini" Ucap Arthur dengan santai nya.
"Pulang sana, ntar kan ketemu di bawah" Ucap Grace yang kini berdiri di samping ranjang nya.
Menurut, si tampan itu segera beranjak dari ranjang empuk nan halus itu.
Bukan nya segera pulang Arthur malah kembali meraup kedua pipi Grace dan kembali mel-umat bibir merah ranum itu.
"Emmmm!!!" Grace yang takut jika Digo kembali ke kamar nya berontak dengan memukul-mukul dada Arthur.
Hanya sekejap pertautan itu namun Arthur menyesap bibir Grace lebih kuat dari biasa nya sampai bibir itu terlihat memerah.
"Kenapa ini selalu membuat candu" Bisik Arthur dengan mengusap bibir Grace dengan ibu jari nya.
"Iiiiihh sudah sudah, sana pulang" Ucap Grace dengan mendorong dada makhluk tampan itu ke arah jendela.
Akhir nya Arthur melesat menembus jendela dan tak perlu waktu lama makhluk tampan itu sudah berada di bangunan seberang rumah Grace.
Terlihat Arthur melambaikan tangan nya sedangkan Grace hanya tersenyum dengan pipi yang memerah, gadis itu melanjutkan niat nya yang ingin mengganti pakaian nya tadi.
Selang setengah jam...
Tok-tok-tok...
Pintu utama di ketuk oleh seseorang, Srikantil yang tengah menata sajian di atas meja pun menoleh ke arah pintu dan hendak berjalan ke sana.
"Biar saya saja Sri, siapa tau itu calon besan saya, kamu lanjutkan ya?!" Ucap Sani dengan meletakkan mangkuk buah di atas meja.
"Iya Nyoya" Sahut Srikantil, setelah nyonya nya pergi meninggalkan meja makan, Srikantil lebih leluasa menggunakan kekuatan nya untuk menata isi meja makan itu.
Wussss Wussss Wussss Beberapa piring terbang dan mendarat di tempat nya masing-masing dengan rapi dan tentu nya tidak menguras tenaga.
"Ok perfect" Gumam ART jadi-jadian itu tanpa menyadari kalau ada sepasang mata yang melihat nya.
"Sri? kau?" Suara itu membuat Srikantil terlonjak kaget dan menoleh ke arah sumber suara...
Hayo yang sudah mampir jangan lupa like dan komen nya ya, semoga kalian sehat selalu see you di bab selanjut nya...