
Setelah kepala pusing memikirkan tugas kuliah beserta skripsi yang hampir menumbuhkan uban yang akan membuat gatal kulit kepala, akhir nya pendidikan yang di tempuh Syaqila akhir nya hari ini kelar juga ya gadis cantik itu telah diwisuda hari ini.
Tapi bukan raut bahagia yang terpancar di sana, ia sudah bersama dengan teman-teman nya bahkan kedua orang tua nya tak terlambat untuk menghadiri acara penting hari itu.
"Kenapa sayang? Ada apa?" Kinanthi yang sudah lama mengurus perusahaan di dalam dan luar negeri pun menyempatkan waktu untuk datang di acara putri Aldy itu.
"Em..." Menggeleng pelan Syaqila menyahuti ucapan mama sambung nya itu.
"Kemarilah mama ada hadiah untuk mu." Ucap Kinanthi dengan menarik pelan lengan Syaqila, wanita jadi-jadian itu membawa Syaqila ke taman belakang kampus, dimana tempat itu sepi, tak ada siapa pun di sana, barulah Kinanthi memulai aksi nya.
Terlihat antusias Syaqila memperhatikan kedua lengan Syaqila yang terlihat seperti menari di depan dada dan perut itu.
WHUUUUSSSS...
Kepulan asap hitam keluar dari udara yang ada di tengah-tengah antara tangan kanan dan tangan kiri Syaqila.
Terbelalak gadis itu melihat kehebatan mama sambung nya, SCRING!!!
Sedikit percikan api membuat gadis itu terkejut hingga mengangkat kedua bahunya.
"Kunci? Mama membelikan Kila mobil?" Tanya gadis cantik itu dengan mata bulat sempurna nya.
"Ups... Sorry sayang, bukan mobil tapi rumah, Mama melihat ada rumah yang cocok sekali untuk mu, dan mama membeli nya untuk hadiah wisuda mu hari ini, bahkan di acara tunangan mu mama tidak bisa hadir." Sorot penyesalan dan sendu penuh rindu itu Kinanthi suguhkan untuk putri cantiknya itu.
"Emmm... Thank you Mama Kinan." Ucap Syaqila dengan menghambur ke dalam pelukan Kinanthi. Saat kedua nya saling berpelukan tiba-tiba ribuan Kelopak mawar merah menghujani kedua nya.
Terkejut pasti nya, namun segera sadar Syaqila dengan kejutan berbau romantis ini pasti ulah kekasih nya.
Benar saja ketika Syaqila menoleh ke arah belakang, ia melihat sosok yang sedari tadi di tunggu nya tengah berjalan mendekati nya dengan senyum tampan yang tersuguh di sana.
Merentangkan tangan Gresta menyambut kedatangan Syaqila yang berlari ke arah nya, BRUGH!! Gadis itu menghambur kedalam pelukan sang kekasih yang selalu membuat nya nyaman itu.
"Kok lama?!" Gerutu Syaqila dengan masih menyembunyikan kepala nya di belahan dada bidang itu.
"Maaf sayang, tunangan mu ini bukan pengangguran sukses yang sekali jentik bisa mendapatkan puluhan gepok kertas berharga itu." ucap Gresta dengan mengelus pucuk kepala kekasih manja nya itu.
"Gimana?" Mendongakkan kepala nya, Syaqila menatap wajah tampan Gresta, sang kekasih yang entah mengapa selalu terlihat tampan terus.
"Hem? Apa nya?" Tak mengerti Gresta menaikkan salah satu alisnya.
"Iiiiihhh kapan mau nikahin aku nya? Kata nya kamu nunggu aku selesai kuliah?" tanya Syaqila dengan mengerucut kan bibir nya.
"Sayang, jangan di tanya kapan aku bakal nikahin kamu, kalau pun boleh, sekarang juga kamu bakal aku nikahin, kalau perlu di sini sekalian!" Ucap Gresta yang membuat Syaqila mencubit gemas kekasih nya itu.
Kedua nya saling bercanda, sedangkan Bella yang saat itu ikut dengan Gresta, di sana gadis itu berdiri dengan tubuh yang bersandar di mobil nya.
"Hai... Lo nggak mau ngucapin selamat gitu ke gue?" tanya seorang laki-laki yang saat itu menghampiri gadis bertampang dingin dan judes itu.
"Selamat." Ya... Hanya itu yang di ucapkan Bella, bahkan gadis itu hanya sekilas saja menatap pemuda tampan di hadapan nya yang tak lain adalah Roy.
"Dasar, Kulkas." umpat Roy dengan berbalik meninggalkan Bella.
"Mau lo apa?" Akhir nya pertanyaan itu membuat Roy berhenti dan menatap gadis yang terlihat acuh itu.
"Lo mau kek Syaqila gitu?" tanya Bella yang kemudian menjentikkan jari nya, bersamaan dengan itu turunlah hujan kelopak mawar.
Roy menggelengkan kepala nya, "Nggak, makan malam bersama, mungkin cukup buat gue." sahut Roy mengutarakan keinginan nya.
"Ok, ntar malam gue jemput ya?" ajak Roy dengan senyum yang mengembang.
"Gue bisa berangkat sendiri." ucap Bella datar.
"Ya elah Bell, bilang aja iya gitu kek." sahut Roy.
"Terserah lo aja deh, dasar manusia suka nya ribet!" Gumam Bella.
"Ok, ntar gue jemput jam delapan malam ya?!" ucapan itu hanya di angguki oleh Bella.
...🍒🍒🍒🍒...
Malam hari di kediaman Arthur...
Terlihat Gresta tengah berkumpul bersama kedua orang tua nya, ya merek sedang memilih dekorasi untuk acara pernikahan Gresta dan Syaqila yang akan mereka adakan beberapa hari lagi.
Langkah ringan Bella melewati ruangan dimana keluarga nya tengah berkumpul di sana.
"Loh Bella mau kemana sayang?" tanya Grace dengan membenarkan kacamata yang tersemat cantik di atas hidung bangir nya.
"Keluar sebentar Mom." singkat Bella menjawabnya.
"Sama siapa sayang?" tanya Grace yang tetap mengkhawatirkan anak gadis nya itu.
"Sama Roy." sahut Bella, dan itu berhasil membuat kerutan di dahi ketiga makhluk yang tengah duduk di sofa itu.
"Roy? Anak nya om Mirza?" seru ketiga nya.
"Ih kalian kompak banget sih? Iya anak nya om Mirza." sahut Bella.
"Ya sudah, tapi tetap hati-hati ya, jangan pulang terlalu malam." Pesan Grace kepada anak gadis nya.
"Iya Mom." Sahut Bella dengan melanjutkan langkah kaki nya.
Di kafe...
Roy memarkir kan kuda besi kesayangan nya itu, sedangkan Bella masih dengan setia menunggu nya.
"Ayo." ajak Roy dengan menggandeng lengan Bella dan di ajak nya masuk ke dalam kafe bernuansa romantis itu.
Kedua nya berjalan beriringan, menuju sebuah meja yang ada di sana, duduk dengan tenang Bella memilih pesanan.
Setelah beberapa saat akhir nya pesanan datang, kedua nya lebih memilih untuk makan dengan berbagai macam pikiran yang ada di dalam otak masing-masing.
Barulah setelah selesai makan, Roy mulai meraih tangan Bella yang ada di atas meja.
"Bella..." Panggil nya dengan nada yang tak biasa. Tatapan datar seperti biasa Bella lemparkan.
"Lo bisa nggak jangan pasang tampang dingin itu?" ucap Roy seolah frustasi denga ekspresi gadis yang ada di hadapan nya itu.
"Lo mau gue yang gimana?" berusaha Bella menampakkan senyum manis nya dan itu berhasil membuat Roy terpana akan kecantikan yang selama ini tertutup gunung es yang seolah menjulang tinggi.
"Bella, lo mau nggak menjalin hubungan yang lebih serius dari ini? Jujur gue nggak bisa lupain lo, dan dari pada itu kenapa nggak kita coba aja hubungan ini?" Tanya Roy.
"Bukan nya cewek lo banyak ya...