The Guard

The Guard
(TG2) Berkecamuk Rasa



"Bukan nya cewek lo banyak ya?" Pertanyaan yang tiba-tiba meluncur dari bibir gadis dingin di hadapan Roy itu membuat pemuda itu sedikit kikuk.


"Eee... itu kan dulu, sekarang udah nggak kok." Kilah nya dengan beralasan.


Namun ternyata keadaan sedang tidak berpihak pada Roy.


Ya... saat ini seorang gadis dengan pakaian seksi nya tengah berjalan mendekati meja Bella dan Roy.


"Oh jadi ada gundik baru, pantesan aja gue di cuekin." ucap seorang gadis cantik dengan pakaian seksi berdiri di depan Roy, di samping Bella.


Senyum miring Bella tampilkan, "Semoga om Mirza lekas sembuh ya Roy, perbincangan untuk hari ini cukup sampai di sini dulu, gue pamit, dan selamat berkencan dengan gundik lama lo yang kurang belaian ini." Bella segera beranjak dari duduk nya.


"Bel... Bella tunggu!" Teriak Roy dengan berdiri dari duduk nya, namun ketika ia melangkahkan kaki nya gadis lain tadi menghadang jalan nya.


"Apaan sih Mel!" Sentak Roy dengan tatapan tajam nya.


"Gue di sini di depan lo, dan lo berani buat ngejar wanita dingin itu?!" Ngotot gadis yang bernama Melda itu berkacak pinggang di depan Roy.


"Lo di sini? Ya lo di sini, dan kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sejak hari dimana lo kencan dengan cowok syaland itu!" tegas Roy dengan menyingkirkan tubuh Melda dari hadapan nya.


"Roy!" Teriak Melda, namun percuma, pemuda yang dulunya adalah kekasih nya itu kini sudah berlari mengejar gadis dingin yang bahkan tak berperasaan itu.


Di depan pintu kafe...


Roy meraih lengan Bella hingga gadis itu berhenti, "Bel, dengerin gue dulu! Dia cuma masa lalu gue Bel!"


Bella memang berhenti namun masih dengan ekspresi datar nya, "Terus?"


"Ya... Lo kenapa terus mau pergi gitu aja?" tanya Roy masih menggenggam lengan Bella.


"Ya gue pengen pulang aja, males gue debat!" ucap Bella acuh.


"Ya udah kita cari tempat lain ya?" Roy masih berusaha agar gadis di genggaman nya tidak pergi.


"Nggak gue udah nggak mood buat nongki bareng lo!" sahut Bella dengan mengerahkan kekuatan nya hingga telapak tangan Roy bagai tersengat listrik.


"Aw!" Pemuda itu melepaskan genggaman nya, Bella tak mau berlama-lama di sana, gadis itu segera berteleportasi.


SSSSHHHLLLAAAPPP!!


Dalam sekejap saja Bella menghilang dari pandangan Roy, pasrah tak bisa berbuat apa-apa kini Roy berjalan mendekati kuda besi kesayangan nya, menyalakan mesin motor yang bersuara bising, Roy segera melaju dengan kecepatan diluar batas, pemuda itu bukan menuju rumah tetapi ia membelokkan motor nya ke sebuah bangunan dengan suara musik juga lampu kerlap-kerlip yang menghiasi nya.


Ya, kelab malam adalah tujuan nya, pemuda yang baru saja di wisuda itu, kini tengah menerobos kerumunan orang-orang yang tengah asik berjoget dan di salah satu sudut ruangan itu ada juga Tomy yang sedang asik dengan beberapa wanita dengan pakaian seksinya.


"Woi! Roi! Sini!" Dengan berteriak karena suara musik yang begitu keras, Tomy melambaikan tangan nya untuk memanggil Roy.


Langkah gontai Roy menuju sofa kosong yang ada di sebelah Tomy.


"Muka udah kucel macam baju belum di setrika gitu, kenapa lo?" Tanya Tomy yang paham betul dengan ekspresi wajah Roy.


Bukan nya menjawab, Roy hanya menyambar satu botol minuman keras dan menenggak langsung dari botol nya.


"Jangan bilang lo ditolak sama tu cewek kulkas!" tebakan Tomy membuat Roy menghentikan aktivitas nya, dan mata tajam itu menatap Tomy.


"Kenapa? Gue bener kan? Lo sih, kenapa juga harus ngejar yang susah dan sok jual mahal, kalau yang mau gini aja banyak." Cerocos Tomy.


"Dia beda Tom, dia itu istimewa." jelas Roy dengan membayangkan wajah Bella.


"Terserah lo aja deh! Gue tinggal maen bentar ya, apa lo mau ikutan? Kalau lo mau, gue cariin yang istimewa juga deh." Tawaran itu sedikit pun tak menggugah gairah si Casanova itu.


"Bacot lo! Gue udah nggak maen begituan! Gue mau serius!" Kekeuh Roy.


"Ok terserah lo aja deh." sahut Tomy sebelum tubuh nya menghilang di balik pintu sebuah ruangan.


Sungguh kali ini Roy merasa di tolak, bahkan sebelum Bella mengatakan TIDAK.


...❄❄❄❄...


SRING!!!


Bella tiba di dalam kamar nya, sedikit pun gadis itu tidak berminat untuk keluar dari dalam kamar nyaman nya itu.


"Gue kenapa coba?" bertanya-tanya dengan keadaan hati nya, Bella merasa aneh dengan perasaan yang mungkin baru saja ia rasakan.


Mondar-mandir dengan rasa dongkol yang menguasai hati nya, Bella mengerutkan kening nya.


"Duh kok nggak nyaman banget sih!" Gerutu nya.


Bella memilih untuk merebahkan tubuh nya, gadis itu berusaha untuk memejamkan kedua netra tajam nya itu.


Namun baru saja mata itu terpejam, bayangan Roy yang menyatakan perasaannya tiba-tiba saja melintas dalam benak nya.


"Duuuuhhh ganggu banget sih!" Mendadak bangun dari tidurnya, gadis itu terlihat bingung.


"Cewek tadi beneran mantan nya ya?" Guamam Bella dengan memeluk bantal guling yang ada di samping nya.


"Tunggu! Tunggu! Memangnya mau mantan atau simpanan, apa masalah gue? Hih... Bikin pusing aja!" Gerutu nya dengan wajah yang kembali ia benamkan ke dalam bantal.


"Tapi nyebelin juga sih liat mereka berdua." Sekali lagi gumaman itu keluar dari mulut gadis pendiam itu.


"Emmm... Apa gue samperin aja ya?" berpikir dengan tidur terlentang.


"Tapi kan gue lagi nggak mau ketemuan sama dia." kembali suasana hati Bella sedang tidak stabil kali ini.


Terdiam sejenak seolah mencari sebuah akal dan ide yang tidak sampai-sampai.


" Dahlah masa bodo! Gue samperin aja!" Menggunakan kemampuan nya Bella segera berteleportasi ke tempat dimana terakhir mereka bertemu.


SRING!!!


Tepat di depan Kafe, namun gadis itu tak mendapati sosok tampan yang di cari nya.


SRING!!


Bella kini sudah sampai di kediaman Mirza, sedikit berbasa-basi Bella tak menemukan Roy di sana.


"Kira-kira Roy sering nongkrong dimana ya om?" tanya gadis itu akhir nya.


"Coba om telfon kan Tomy dulu ya?" Ucap Mirza dengan menekan tombol telepon rumah nya.


Terlihat laki-laki itu tengah berbicara dengan seseorang di seberang sambungan telfon itu.


"Ada di kelab malam... "


"Ok makasih om!" ucap Bella yang segera berteleportasi kembali.


Menggelengkan kepala Mirza melihat kelakuan gadis muda itu.


Sesampai nya di depan sebuah bangunan dengan warna-warni lampu kelap-kelip, Bella terdiam sejenak, di gunakan nya mata tembus pandang nya, dan ya ia mendepati Roy tengah duduk dengan kesadaran yang mulai menghilang sepenuh nya.


"Dasar laki-laki!" Gumam Bella dengan melangkah santai memasuki ruangan yang penuh dengan hiruk pikuk Manusia-manusia itu.


Namun ketika ia melihat langsung, di sana di sofa pojok ruangan itu, Roy tengah di belai-belai oleh beberapa wanita dengan pakaian yang kurang bahan.


Dengan langkah cepat nya Bella mendekati Roy, dan BRUGH!!...