The Guard

The Guard
Rumor Gila



"Tapi Za! gue tadi lihat sendiri dengan mata kepala gue kalau Grace menunjuk sebuah tanaman dan tanaman itu melayang Za" Jelas Calista dengan menggebu. Mendengar ucapan Calista yang seperti nya serius membuat Mirza menjadi kepikiran tentang mantan pacar nya itu.


"Coba, nanti aku selidiki dulu saja" Ucap Mirza yang mulai menyusun berbagai rencana untuk membuktikan omongan Calista barusan.


Pagi hari di kamar Grace...


Cuaca pagi ini tak secerah hari biasa hujan deras masih menghiasi pagi sampai-sampai sang mentari tak mampu menembus gumpalan awan hitam yang menghiasi langit pagi.


Gracelina Janitra masih asik bersembunyi di bali selimut tebal nya, ia sedang bermalas-malasan karena hari ini hari libur, di tengah ke asikan nya di dalam selimut tebal tiba-tiba ia merasa ada yang mengetuk kaca jendela nya, dengan mata yang masih enggan untuk ia buka lebar-lebar, gadis itu berjalan dengan mengucek-ngucek mata nya.


SRET!!


Tirai jendela di buka nya lebar-lebar dan ternyata hanya ranting kering yang tersangkut dan terkena angin makanya ranting itu mengetuk kaca jendela kamar Grace.


"Duh harus di buka ini, kalau nggak pasti bakal berisik" Gumam gadis itu dengan membuka kaca jendela dan menarik ranting yang seukuran gagang sapu itu.


"Duh kok susaaaaaahhh" Ucap nya dengan berusaha menarik ranting yang ternyata masih belum lepas sepenuh nya dari batang utama pohon nya.


Karena mulai merasa jengkel Grace pun naik ke jendela dan menarik kuat ranting pohon itu.


KRRRAAAKKK!!


SRET!!


"Aaaaaaaaa... Arthur!!!" Teriak Grace ketika ranting yang di tarik nya berhasil lepas namun kaki gadis itu terpeleset dan jatuh dari jendela.


Namun seperti biasa Arthur selalu datang, makhluk tampan itu melesat cepat dari dalam kamar Grace keluar melalui jendela dan meraih tubuh sexy itu kemudian membawa ke dalam pelukan nya, tangan Grace masih stay menggenggam ranting kayu.


Di samping rumah Grace mendarat dengan aman dan selamat tentu nya dengan bantuan Arthur.


Gadis itu segera berdiri dengan benar dan sedikit menjaga jarak dari Arthur karena baju nya yang basah dan lekuk tubuh nya yang terlihat jelas, Grace menyilang kan kedua tangan nya di depan dada, ia pikir dengan begitu tubuh nya sudah aman.


Terlepas dari Arthur, kini yang tak selamat dari pandangan mata keranjang orang-orang yang berlalu lalang di jalan melakukan aktivitas pagi adalah lekuk tubuh Grace yang semakin terlihat karena piyama berbahan tipis itu terguyur air hujan yang membasahi tubuh Grace.


Saat itu pun Calista tengah berjalan menggunakan payung di jalanan samping rumah Grace.


"Gila itu Grace, masih pakai piyama, sudah hujan-hujanan aja" Ucap Calista yang saat itu bersama ibu nya.


"Apa sih Ca? kamu kok jalan nya meleng?" Tanya Ibu Calista yang saat itu melihat anak nya jalan tapi tidak melihat ke depan.


"Itu mah, teman aku, kayak nya dia mulai gila atau gimana ya? masa pagi-pagi begini sudah main hujan pakai piyama lagi" Calista menunjuk Grace yang sedang berdiri di balik pagar rumah nya dan memegangi ranting pohon.


"Eh ya ampun, nggak tau malu itu anak" Ucap Ibu nya Calista yang dengan segera mengajak Calista pergi dari sana.


Arthur mendengar semua yang di ucapkan Calista dan ibu nya.


"Untuk apa kau masih menggenggam ranting itu?" Tanya Arthur dengan menarik pinggang Grace agar kembali mendekat pada nya, dan dengan segera Arthur menutup tubuh sexy itu dengan jubah nya.


"Oh... iya sudah ku buang!" Ucap Grace dengan segera melemparkan ranting kayu itu ke tanah.


SSSSSHHHLLLAAAPPP!!


Arthur membawa Grace langsung ke kamar mandi.


"Arthur?! kenapa ke kamar mandi?" Tanya Grace dengan mengerutkan kedua alis nya.


"Lalu kemana? lihatlah! kau itu butuh mandi, kau basah kuyup, bisa saja kau terkena flu" Cecar Arthur dengan mengisi bathtub dengan air hangat.


"Iya tapi aku bisa sendiri!" Oceh gadis cerewet itu masih tidak terima jika Arthur membawa nya masuk ke dalam kamar mandi.


"Diam lah, buka baju dan segera lah masuk ke dalam sini!" Tegas Arthur dengan menujuk ke arah bathtub yang sudah terisi air hangat dengan penuh.


"Tidak! Kau pikir kau akan melihat aku buka baju di sini?" Teriak Garce.


"Bukan kah selama ini kau biasa saja membuka baju mu di hadapan ku?" Tanya Arthur yang mengingat hari-hari sebelum Grace dapat melihat nya. Gadis itu melongo dengan mata yang membulat lebar.


"Kau!... " Tunjuk Grace.


"Manusia memang lama! cepat lah sebelum kau terkena flu!" Ucap Arthur dengan menarik tangan Grace.


"Tidak Arthur!" Ucap Grace yang berusaha menarik kembali tangan nya, kedua makhluk berbeda ras dan gender itu pun saling tarik menarik sampai pada akhir nya Grace terpeleset dan menabrak Arthur yang kebetulan menarik nya, alhasil kedua nya tercebur ke dalam bathtub dengan posisi Grace menindih Arthur dengan hidung yang saling bersentuhan, kedua nya terdiam dengan netra yang saling memandang dengan sesekali mengedip pelan, keadaan kembali sunyi, dheg-dheg, dheg-dheg...


Bahkan detak jantung Grace begitu terdengar jelas di telinga Arthur.


"Ah maaf" Ucap Grace yang segera tersadar, ia segera menyingkir dari atas tubuh Arthur.


"Kau keluarlah, aku akan segera mandi" Ucap Grace dengan mengalihkan pandangan nya.


Arthur segera menghilang dari hadapan Grace.


"Oh perasaan apa ini?! Gila aku bisa gila kalau begini cara nya!" Gumam Grace yang memulai ritual mandi nya.


Sedangkan Arthur yang sudah mengeringkan tubuh nya juga pakaian nya terlihat makhluk tampan itu terdiam di samping jendela dengan memandang ke arah luar.


Di kediaman Mirza, pemuda itu tengah menata sesaji lengkap di depan nya, tak lama kemudian di iringi dengan mulut nya yang berkomat-kamit muncul lah asap tebal berwarna hitam.


"Ada apa kau memanggil ku?" Terdengar suara yang begitu melengking dari balik asap tebal itu.


"Aku butuh bantuan mu" Ucap Mirza dengan menatap sosok wanita berpakaian putih juga rambut panjang nya yang terurai.


"Untuk menakuti gadis itu lagi?" Tanya makhluk wanita itu yang sudah bisa menebak isi pikiran Mirza.


"Ya, namun kali ini cari tau siapa yang ada di belakang nya" Ucap Mirza.


"Hem... baiklah" Ucap sosok wanita itu yang kemudian dengan cepat melesat cepat keluar dari kediaman Mirza bagai angin yang lewat.


Melihat makhluk peliharaan nya mau menuruti kemauan nya Mirza menampakkan senyum licik nya.


Sore hari di pusat perbelanjaan...


Gracelina Janitra terlihat tengah berbelanja kebutuhan dapur nya bersama bi Siti, sengaja gadis itu memanggil bi Siti supaya ART panggilan itu tidak curiga.


"Nona Grace sekarang rajin ya?" Ucap bi Situ yang memecah keheningan.


"Ah biasa aja bi" Sahut Grace dengan memilih paprika yang ada di depan nya.


"Sudah beberapa hari kan bibi tidak beres-beres rumah nona, dan tadi saat bibi baru datang rumah nya sudah rapi bahkan lantai nya kinclong semua" Puji wanita paruh baya itu dengan memegang keranjang sayur yang di bawa nya.


"Ya Grace kan juga pengen bi, bisa apa-apa sendiri, itung-itung latihan kalau sudah jadi istri dan tinggal jauh dari bi Siti hehehe... " Jawab Grace dengan tangan yang memasukkan beberapa paprika ke dalam keranjang yang di bawa bi Siti.


"Memang nya nona sudah mau menikah?" Tanya bi Siti.


"Hehe... belum sih bi tapi kan nggak salah kalau Grace belajar jauh-jauh hari, biar terbiasa" Jelas Grace dengan memandang wanita yang ada di samping nya itu, dan saat itu juga Grace melihat sosok wanita berbaju putih mirip sekali dengan yang ia lihat tempo hari di kampus.


"ASTAGA! Hah... hah...!!!" Terkejut Grace sampai gadis itu ter engah-engah.


"Non? Nona Grace kenapa?" Tanya bi Asih dengan memegang pundak Grace.


Saat Grace melihat bi Asih, wajah bi Asih menjadi sangat menyeramkan dengan goresan luka ada di mana-mana juga luka bakar yang bernanah menyebrang di kelopak mata nya.


"Hah!! jauh-jauh! jangan mendekat!" Ucap Grace dengan melempari bi Siti menggunakan sayuran yang di tata di atas meja, semua mata tertuju pada Grace.


Bi Siti yang bingung dengan kelakuan Grace pun berusaha mengejar nona muda nya yang ketakutan itu.


"Kenapa dia?" Bisik-bisik itu mulai terdengar di sana-sini.


"Entahlah, tadi baik-baik saja, mungkin dia gila" Ucap salah satu pengunjung yang ada di sana.


"Nona Grace, ini bi Siti non, nyebut non jangan lari terus bahaya!" Teriak bi Siti yang terus mengejar Grace yang juga terus menghindari nya, namun di telinga Grace hanya terdengar tawa yang melengking.


"Arthur, Arthur kamu dimana Arthur??!!" Gumam Grace dengan terus berlari menghindari bi Siti.


Akhir nya kaki Grace yang sudah terasa lemas berjongkok dengan menutup wajah nya dengan menggunakan kedua tangan nya, gadis itu meringkuk.


"Arthur, Grace takut" Gumam nya masih dengan menutup wajah nya dan saat itu suara bi Siti mulai terdengar normal.


"Non, non baik-baik saja?" Suara bi Siti yang terdengar dekat membuat Grace sedikit takut untuk membuka mata.


"Non?" Panggil bi Siti lagi dengan menepuk bahu Grace.


Grace yang menyentak tangan bi Siti pun menggunakan tangan nya pun secara otomatis ia melihat wajah bi Siti yang sudah kembali normal, gadis itu segera menghambur ke pelukan bi Siti.


"Bi? ini bi Siti kan?" Tanya Grace dengan memeluk erat wanita paruh baya itu.


"Iya non ini bibik" Ucap bi Siti, Grace melepaskan pelukan nya dan gadis itu menyapukan pandangan nya saat ini gadis itu sudah berada di basement.


"Jadi aku tadi lari dari lantai empat sampai ke sini?" Batin Grace dengan memandang ke seluruh sudut basement, dan dilihat nya bi Siti yang ter engah-engah seperti habis lari maraton.


"Dimana Arthur?" Terlihat Grace celingukan, dan saat itu Arthur menampakkan wujud nya, ia berdiri di belakang bi Siti dengan memandang Grace dan mengedip kan satu mata nya.


Melihat nya saja sudah membuat jantung Grace berdebar, ia pun segera mengajak bi Siti untuk meninggalkan pusat perbelanjaan itu.


Di sisi lain...


"Kenapa kau sudah kembali?" Tanya Mirza yang melihat makhluk peliharaan nya sudah kembali.


"Sosok yang melindungi nya sangat kuat, baru saja di muncul aura nya sudah mampu membakar ku" Ucap makhluk wanita itu.


"Jadi kau kabur?" Tanya Mirza dengan menyesap rokok yang ada di tangan nya.


"Iya, jangan lagi kau suruh aku untuk mengganggu nya, jujur aku menyerah!" Ucap makhluk itu kemudian menghilang.


Terlihat Mirza menghela nafas dengan mengelus dagu nya.


"Memang nya sehebat apa dia?...