The Guard

The Guard
Bentrok



Setelah Akles menerima balasan dari batu permata blue black, mereka bertiga segera mengudara mengepakkan sayap-sayap nya, mengikuti jalur yang ditunjukkan oleh sinar lembut berwarna biru yang terhubung antara mahkota Arthur dengan permata yang ada di jari manis Grace.


Kini ketiga nya sampai di bibir pantai dan sinar biru penghubung itu melintas di atas pantai sampai ke pulau seberang.


"Bagaimana ini? apa kah kita harus ke seberang sana?" Irina bertanya.


"Iya, kita ikuti saja sinar nya sebelum menghilang" Ucap Akles.


"Tunggu apa lagi, ayo!" Arthur yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan sang kekasih.


Ketiga nya kembali mengepakkan sayap-sayap nya dan terbang di atas lautan luas.


Menyusuri kegelapan kini sinar biru itu semakin lama semakin jelas, "Ayahanda?" Ucap nya dengan menunjuk ke arah sinar yang keluar dari mahkota nya.


"Iya, semakin dekat" Sahut Akles yang sudah paham dengan apa yang di maksud Arthur.


"Kita turun di sini, berbahaya jika sampai ada yang melihat nya" Ucap Arthur, ketiga nya mendarat di batang pohon dan melesat dari pohon satu ke pohon yang lain.


Begitu melihat ada sebuah rumah dengan penjagaan ketat Arthur berhenti dan mengamati.


"Apakah di dalam sana?" Gumam nya dengan menoleh ke arah Irina dan Akles.


Irina memejamkan mata nya dan menerawang ke dalam rumah berukuran mininalis itu, "Iya di sana" Sahut nya kemudian.


KRAK!!! Batang pohon yang di injak Arthur patah, Brugh!! Gusrak!!


Masih untung makhluk tampan itu mendarat dengan aman tapi tidak dengan posisi nya sekarang yang telah diketahui oleh para penjaga rumah itu.


Setelah mendengar suara batang jatuh beberapa pengawal berlarian menuju sumber suara.


Karena sudah terlanjur ketahuan, mau tak mau Arthur menghadapi mereka semua, bukan hal sulit mengalahkan manusia biasa bagi Arthur yang mempunyai kekuatan super.


Ia mengayunkan tangan nya dan seperti terhempas angin, para pengawal itu berjatuhan.


"Jangan sakiti mereka nak, mereka hanya bekerja demi kelangsungan hidup mereka" Ucap Irina mengingatkan.


Irina pun turun dan menjentikkan jari nya "Pick" Mendadak semua berhenti.


"Jangan emosi, kuasai emosi mu, kau hanya mempelajari kehidupan manusia jangan sampai di kuasai oleh emosi manusia" Akles yang baru saja menyusul mengingatkan putra nya.


"Baik Ayah" Ucap Arthur, mereka segera berjalan menuju pintu masuk rumah itu dengan Arthur yang berjalan di depan.


Makhluk tampan itu terpental ketika memegang gagang pintu, BRUK!! Tersungkur di tanah Arthur kembali bangkit.


"Ada apa Arthur?" Tanta Irina yang terkejut karena putra tampan nya tiba-tiba terpental.


"Ada sihir pelindung di sana" Arthur melihat kedua telapak tangan nya.


"Mungkinkah sihir khusus? Karena ayah merasakan ada energi lain selain manusia di dalam sana" Sahut Akles dengan mencoba memegang handel pintu yang sama yang membuat Arthur terpental.


Ceklek!! Pintu terbuka dengan aman.


"Tidak ada yang aneh, benarkah itu mantra khusus hanya untuk Arthur?" Gumam Akles, setelah ia berhasil membuka pintu utama itu.


"Tunggu apa lagi ayo masuk" Ucap Irina yang segera masuk ke dalam hunian itu.


Akles dan Irina berhasil masuk namun tidak dengan Arthur, walaupun pintu sudah terbuka lebar ia kembali terpental.


"Kurang ajar ternyata dia mau melawan ku terang-terangan!" Cetus nya dengan melangkahkan kaki nya beberapa langkah ke luar, mengetahui apa isi pikiran putra tampan nya itu Akles dan Irina ikut keluar dan menjauh.


"Ingat nak ada Grace di dalam" Irina mengingatkan Arthur agar tidak meratakan rumah itu dengan tanah.


Tak menyahuti ibunda nya kini Arthur merentangkan kedua tangan nya dan menghirup oksigen yang ada di sekitar nya dengan mulut yang membaca mantara, perlahan muncul bulatan yang terbentuk dari angin di masing-masing telapak tangan Arthur, semakin lama bulatan-bulatan itu berwarna biru di lapisan luar nya dan seperti ada api di dalam nya.


"Alomohora!" Ucap Arthur dengan mengarahkan kedua tangan nya ke arah pintu yang di lindungi mantra.


Ssssswiiiiinnnggg!!!


Whhhuuuuusssshhh...


DHUAR!!


Karena berbenturan kedua mantra itu menimbulkan suara ledakkan.


Di dalam ruangan...


Dean dan Hendra menoleh ke arah pintu, sedangkan Nendra dan Grace saling pandang mungkin mereka berdua satu pemikiran.


"Suara gaduh apa itu?" Ucap Hendra dengan menoleh ke arah luar.


"Kita lihat dulu ke luar" Mereka berdua keluar dari ruangan penyekapan.


Dean berjalan di belakang ayah nya dan di sana Hendra terkejut melihat sosok wanita yang tak asing di indra penglihatan nya.


"Irina? itukah kau?" Gumam Hendra dengan terus berjalan maju.


"Berhenti di sana tuan Hendra!" Dengan Tegas Akles berseru.


"Tu... Tuan Akles, kau juga ada di sini?" Hendra terkejut dengan kedatangan kedua orang yang pernah berurusan dengan nya di masa lalu.


"Iya karena yang kau sembunyikan di dalam adalah calon menantu ku" Sahut Akles to the point.


"Apa?" Terkejut Hendra menatap ke arah Dean kemudian kembali menatap Akles.


"Iya, dan pasti nya kau sudah paham apa yang harus kau lakukan, dari pada aku menghancurkan dirimu dan putra bodoh mu itu, bukan kah kau sudah sangat beruntung aku tidak mempermasalahkan kejadian yang dulu itu?" Ancam Akles.


"Dean, lepaskan gadis itu, mereka bukan tandingan kita" Ucap Hendra kepada Dean.


"Tidak ayah, aku mencintai nya, aku... "


"Omong kosong! Kau hanya mengincar permata yang ada pada nya bukan?" Selar Arthur dengan gemuruh emosi yang masih tertahan. Tanpa menunggu lama Arthur sudah lebih dulu melesat dan mencengkeram leher Dean hingga tubuh Dean membentur dinding rumah itu.


"Tolong pangeran, hentikan ini, ampuni anak saya" Ucap Hendra memohon dengan berlutut di tempat nya.


"A... Ayah, ti... tidak perlu ber... lu... tut pa... da nya" Ucap Dean yang masih menyimpan kebencian pada Arthur.


Pemuda itu membaca mantra dan mendorong dada Arthur dengan keras, karena kurang fokus dan terlalu menyepelekan lawan nya kini Arthur terhempas sampai beberapa langkah kebelakang.


Terasa sedikit panas dada Arthur, tak mau mengalah demi menemukan gadis nya, makhluk tampan itu kembali maju dan lagi Dean hendak menyerang dada Arthur namun dengan gesit Arthur selalu menghindar.


Karena tidak dapat lagi menyentuh lawan nya kini Dean membaca mantra dan hendak menyerang kaki Arthur dan saat hembusan api dari tangan Dean mengarah pada kaki Arthur, makhluk tampan itu segera melompat ke atas dan terbang, dari bawah Dean masih melemparkan bola-bola api sedangkan Arthur yang di atas ia menghindar dengan sesekali membalas serangan Dean menggunakan bola-bola api yang di lapisi cahaya biru.


Sementara Arthur dan Dean saling melawan, Akles dan Irina berjalan menuju ruang penyekapan Grace dengan dituntun oleh Hendra yang tak mau lagi membuat kesalahan kepada kedua makhluk abadi itu.


Namun ketika mereka memasuki ruangan itu, mereka tak menemukan Grace yang tadi berbaring di ruangan itu, saat Hendra melihat ke arah jendela yang kaca nya sudah raib pecah parah itu ia melihat seseorang tengah berlari dengan menggendong gadis yang tadi di sekap putra nya.


"Hey kamu! Berhenti!" Teriak Hendra dengan menunjuk ke arah laki-laki yang berlari memasuki hutan itu.


"Biar kami yang mengejar nya!" Ucap Akles dengan di angguki oleh Irina.


Irina dan Akles melesat dan berhasil mengejar laki-laki yang membawa calon menantu nya itu lari.


"Berhenti di sana atau ku hancurkan klan mu!" Ucap Akles sedangkan Irina dengan bidikan yang pas ia segera menjentikkan jari nya, "PICK!!!"


Laki-laki itu berhenti ditempat, "Bodoh!!kenapa aku tidak menyadari keberadaan merek, mampus" Batin Nendra dengan melirik kan mata nya ke arah kanan dan kiri.


"Ampun Raja, ampun Ratu, saya Nendra teman nya Srikantil, kita bekerja di rumah nona Grace, dan saya hanya ingin membawa nona pulang ke rumah" Ucap Nendra dengan nafas yang tercekat oleh kekuatan Irina.


"Lepaskan dia ratu ku!" Titah Akles dan itu segera di laksanakan oleh Irina.


"PICK!!" Kembali Irina menjentikkan jari nya dan Nendra terlepas dari kekuatan itu.


"Jadi kau menolong nya?" Tanya Irina.


"Tapi kenapa, rupa mu sama seperti mereka?" Tanya Irina.


Perlahan Nendra meletakkan Grace di tanah dan dengan segera Nendra merubah diri nya ke wujud sopir pribadi Gracelina.


"Ini saya Ratu" Ucap Nendra setelag merubah diri nya.


Akles dan Irina mengangguk-anggukkan kepala nya mengerti.


Kemudian Akles dengan kekuatan nya menghancurkan mantra penyegel yang membuat Grace tak dapat bergerak.


"Terimakasih om" Ucap Grace setelah terbebas dari mantra.


DHUAR!!


BLARRRRR!!


Terdengar suara ledakan dari arah rumah yang di gunakan Dean untuk menyekap Grace, Semua mata tertuju ke arah ledakan, kemudian semua saling memandang dengan satu sebutan nama, "Arthur!!!...


Jangan lupa dukung terus klik favorit 💞 like nya dari episode 1 sampai epidsode tamat nanti ya, pokok nya ikutin terus novel The Guard. Komentar jika ingin mengusulkan sesuatu, atau komen jika ada typo di bab-bab tertentu.


See you di bab selanjut nya...