
Mendengar ucapan Celo yang spontan mengatakan kalau diri nya menakutkan sudah cukup menjadi beban bagi hati gadis yang kini tengah duduk di sebuah kafe.
Duduk dengan menyilang kan kedua kaki nya gadis cantik beraura dingin itu ditemani secangkir kopi hitam pekat yang terlihat masih mengepulkan asap nya.
SRING!!
Tanpa dia sadari muncullah Angel Chrisa yang kini sudah duduk di hadapan nya.
"Nona?" Sapa sang pengasuh dengan nada lembut, namun itu sudah cukup mengejutkan gadis beku yang pikiran nya tengah melanglang buana entah kemana.
Sedikit tersentak Bella menatap datar pengasuh yang menghampiri nya.
"Nona sedang ada masalah?" Tanya Angel Chrisa bertanya, karena tidak biasa nona muda nya itu melamun bahkan terkejut dengan kehadiran nya.
"Bibi, apakah aku menyeramkan?" Tanya Bella dengan raut yang menunjukkan keseriusan nya.
"Ekhem... Jika untuk ukuran keluarga kita, anda memang paling pendiam, cuek, dan tidak berperasaan, tapi hanya sebatas itu kalau untuk manusia yang melihat nya mungkin bisa jadi menyeramkan" Cecar Angel Chrisa dengan jujur.
Mendengar hal itu Bella terdiam seolah diri nya sendiri pun bingung, kenapa bisa gadis kecil yang awal nya periang itu menjadi pendiam dan dingin bak gunung es di kutub utara.
...πΌ*Jreng-JrengπΌ...
......πΌAku punya niat yang baik......
...Coba ku ungkapkan padamu...
...Berharap kamu 'kan menjadi...
...Rencana besar dihidupku...
...Tapi kau bilang...
..."Pergi sana"...
...Kamu tak mau melihat diri ini selamanya...
...Awas nanti jatuh cinta...
...Cinta kepada diriku...
...Jangan-jangan ku jodohmu...
...Kamu terlalu membenci...
...Membenci diriku ini...
...Awas nanti jatuh cinta padaku...
...πΌπΌπΌπΌ*...
Sebuah lagu terlantun ketika Bella terdiam, "Suara ini?" Gumam nya dengan menatap seorang laki-laki yang tengah duduk dengan gitar nya di atas panggung kecil yang ada di sisi pojok depan kafe.
"Roy?" Terbelalak mata nya mendapati sosok laki-laki tengil yang selalu mengikuti nya itu.
Kedua netra yang berjarak cukup jauh itu bertemu dan dengan santai nya Roy melanjutkan lagu yang ia nyanyikan.
...πΌJreng-JrengπΌ...
......Awas nanti jatuh cinta......
...Cinta kepada diriku...
...Jangan-jangan ku jodohmu...
...Kamu terlalu membenci...
...Membenci diriku ini...
...Awas nanti jatuh cinta padaku...
Segera Bella mengalihkan pandangan nya, dengan memejamkan mata, sungguh diri nya merasa ini gila dan sangat mengganggu hati dan pikiran nya.
Angel Chrisa menatap bingung nona muda nya itu, pasal nya sudah terlalu lama gadis dingin itu tidak berekspresi.
"Ada apa nona? Apa penyanyi nya terlalu mengganggu? Saya bisa membuat nya diam" Ucap Angel Chrisa.
"Tidak! Kita saja yang pergi dari sini! Lagi pula sebentar lagi acara kakak," Sahut Bella yang langsung beranjak dari duduk nya, gadis itu segera meninggalkan Kafe itu.
Melihat gadis incaran nya sudah tak ada di tempat nya, Roy terlihat sedikit mendengus, "Pergi lagi," Gumam nya.
"Gimana Roy? Sasaran sudah pergi," Tanya Gunawan yang saat itu mengatur soundtrack nya, "Kita juga pulang saja, lagi pula, papa ada undangan, dan aku harus mengantar nya" Sahut Roy dengan meletakkan gitar di sisi kursi yang tadi di duduki nya.
...ππππ...
Di kediaman Arthur...
Terlihat semua tengah sibuk bersiap-siap, ada yang menata dekorasi, ada juga yang sibuk menyiapkan dan menata makanan, seperti nya akan ada acara besar yang akan di selenggarakan di hunian bak istana ini.
Di dalam sebuah kamar...
"Sayang! Dasi ku yang navy dimana?" Arthur berdiri di depan lemari nya.
"Ada, sebentar!" Sahut Grace dengan memasang anting panjangnya, setelah itu ia berjalan mendekati suami nya dengan membawa dasi warna navy di tangan nya.
"Kau ini ya! Kebiasaan, bagaimana kau bisa selalu menyembunyikan barang yang akan ku pakai?" Tanya Arthur dengan melingkarkan lengan kekar nya di pinggang yang sedikit berisi namun terlihat seksi itu.
"Kau ini suka sekali merepotkan diri mu sendiri, padahal aku bisa melakukan nya sendiri" Bisik Arthur dengan menyatukan kening mereka.
"Ya berhasil membantu mu dengan sedikit kecurangan ku, itu sudah membuat ku terlihat sedikit berguna untuk mu yang terlampau sempurna sayang" Sahut Grace dengan merapikan kerah kemeja suami yang masih terlihat tampan itu.
Mendapatkan perhatian dari istri yang sangat ia cintai membuat Arthur berfokus pada bibir yang selalu mengucap kata manis di hadapan nya itu.
Sama-sama paham dengan kondisi dan situasi kini kedua benda kenyal itu sudah saling bertautan bahkan lipstik merah Grace sudah berpindah di bibir Arthur.
CEKLEK!!
"Mom, ada... ASTAGA!! Kalian! Bisakah kalian mengunci pintu!!" Ucap Gresta yang tiba-tiba masuk, dan sekarang pangeran tampan itu menutup mata nya menggunakan tangan kiri nya, ya karena tangan kanan memegang handel pintu.
Melepas tautan, kedua nya merapikan diri masing-masing, "Ekhem... Ada apa sayang?" Tanya Grace dengan berjalan mendekati putra sulungnya.
"Bella, ada yang melihat Bella?" Tanya Gresta namun tak lama kemudian gadis cantik yang di cari nya itu sudah berdiri di belakang nya.
"Ada apa?" Tanya Bella dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana nya.
Menoleh Gresta mendengar suara adik kesayangan nya itu.
"Dek? Astaga? kenapa kau memakai pakaian kantor... Astaga bisakah kau memakai gaun ini?" Gresta menunjukkan gaun yang ia tenteng di tangannya.
"Aku pasti akan ditertawakan dengan baju bodoh itu," Sahut Bella memandang tak suka dengan dress berwarna navy di tangan kakak tampan nya itu.
"Ayolah sayang, ini permintaan kakak mu" Melihat sang ibu yang memohon Bella akhirnya menyerah, ia meraih gaun itu dan berjalan menuju kamar pribadi nya.
...ππππ...
Syaqila bersama keluarga kini sudah sampai di kediaman Arthur, Syaqila cantik dengan gaun berwarna pink dengan paduan renda hitam di beberapa bagian sedangkan Gresta juga tampan dengan tuxedo hitam dengan mawar pink di dada kiri nya.
Terpana melihat kecantikan Syaqila yang sangat menawan, Gresta hampir lupa mengedipkan mata nya, seolah tak mau membiarkan kegelapan menggantikan pesona indah yang tersuguh di hadapan nya itu, walau hanya sejenak.
Tersipu malu Syaqila mendapati Gresta menatap diri nya.
Di pertengahan acara, kedua nya terlihat saling bertukar cincin dan saling memasangkan, tepuk tangan meriah dan ucapan selamat membuat kedua mempelai itu sudah resmi bertunangan.
Tidak mau langsung menikah karena Gresta menuruti keinginan sang kekasih yang masih ingin bebas dan menyelesaikan study nya.
Acara inti sudah selesai, malam itu Gresta tengah duduk bersama dengan gadis cantik yang kini telah resmi menjadi tunangan nya.
"Kau cantik malam ini" Ucap Gresta dengan menyelipkan anak rambut Syaqila kebelakang telinga gadis itu.
Pasti tersipu Syaqila mendengar pujian dari kekasih hati nya itu, "Apa di hari-hari sebelum nya aku tidak cantik?" Sedikit mengulas senyum dengan pipi memerah, Syaqila bertanya.
"Cantik, kau selalu cantik, dan akan selalu menjadi yang tercantik setelah dua wanita cantik yang ada di hati ku" Ucap Gresta.
"Dua wanita cantik? Ada dua wanita lain di hati mu?" Tanya Syaqila dengan menghela nafas.
"Ya, tentu saja, Momy Grace dan Bella, kemudian ada kamu Syaqila Aldina," Ucap Gresta dengan mencolek hidung bangir Syaqila.
Tersenyum dengan mengalihkan pandangan nya, Syaqila merasa kebun bunga di dalam hati nya bermekaran semua.
...ππππ...
Grace dan Bella bersama dengan Arthur tengah berbincang dengan para kolega nya, ada sebagian mereka dari negara luar ada pula yang dulu adalah teman masa kuliah nya.
Seperti saat ini ada seorang laki-laki yang terlihat seumuran dengan Grace tengah duduk di atas kursi roda nya, dan di dorong oleh seorang pemuda yang tak kalah tampan.
"Selamat Grace! Kau hebat!" Ucap laki-laki itu dengan mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan.
"Terimakasih pak Mirza," Sahut Arthur yang mewakili Grace berjabat tangan.
"Yang hebat bukan saya, melainkan kerja sama kita semua" Sahut Grace dengan elegan.
"Oh iya dimana Calista? Dia tidak datang?" Tanya Grace mencari pasangan dari laki-laki yang duduk di atas kursi roda.
"Dia sibuk dengan pemotretan nya" Sahut Mirza, yang di anggukki oleh Grace dan juga Arthur.
"Dia putra mu Za?" Tanya Grace dengan menunjuk pemuda yang mendorong kursi roda Mirza.
"Ya dia putra ku, Roy Mirzana" Sahut Mirza dengan bangga memperkenalkan putra semata wayang nya.
"Tidak usah kau kenalkan putra mu, aku sudah melihat nya di atas pelaminan tadi" Sahut Mirza ketika Grace hendak angkat bicara.
"Iya dia putra kami, dan ini putri kami, Linabella Rajendra," Ucap Arthur dan menepuk pundak Bella hingga gadis cantik itu menoleh.
"Iya Daddy?" Tanya gadis itu karena merasa di panggil.
"Ini om Mirza sayang, teman Momy waktu kuliah dulu, ayo salim dulu" Ucap Grace, Bella menurut, juga tersenyum sewajarnya.
"Dan ini putra om Mirza... "
"Lo?!" Belum selesai Grace mengenalkan, Bella sudah lebih dulu mengumpat.
"Kenapa nona Bella? Apakah ada yang salah?" Tanya Roy yang saat itu sungguh merasa beruntung bisa bertemu sang pujaan yang sudah berhari-hari ini mengusik otak mesum nya.
"Apa kalian sudah saling mengenal?" Tanya Grace.
"Iya," Roy
"Tidak!," Bella
Kedua nya berucap bersamaan hingga menciptakan tanda tanya besar di atas kepala para orang tua itu...