
Setelah jawaban yang tak sama itu keluar bersamaan, Bella melotot ke arah Roy, dan itu dapat di lihat jelas oleh kedua orang tua nya.
"Bella? Sayang tidak boleh seperti itu dengan tamu sayang, Itu tidak sopan, Momy tidak pernah mengajarkan kamu seperti itu ya!" Gertak Grace dengan suara sedikit pelan.
Gemetar menahan emosi Bella kena tegur oleh Momy nya hanya karena laki-laki yang baru di temui nya beberapa hari yang lalu itu.
"Balla permisi!" Ketus gadis itu dengan segera berjalan meninggalkan keramaian itu.
Bahkan saat melewati Gresta dan Syaqila Bella sama sekali tak memandang kedua sejoli itu.
"Bella kenapa Gres?" Tanya Syaqila yang memang perduli dengan gadis yang terkenal dingin itu.
"Tidak tau, sebentar, biar aku yang bertanya, kau tunggu di sini dulu ya!" Ucap Gresta berpesan, Syaqila hanya menganggukkan kepala nya.
"Aku ikut!" Rengek Syaqila.
"Sebentar saja sayang," Ucap Gresta dengan membelai pipi tunangan nya. Dengan mencebikkan bibir nya Syaqila menurut dengan menganggukkan kepala nya.
"Jangan menggoda ku seperti itu," Ucap Gresta dengan tersenyum kemudian CEO tampan itu segera berteleportasi meninggalkan Syaqila di sana.
SSSHHHLLLAAAPP!!
Dalam sekejap saja Gresta sudah tiba di depan kamar Bella, ia mendapati adik kesayangan nya itu tengah duduk ditepi ranjang nya dengan wajahnya yang di tekuk sedemikian rupa.
"Dek? Boleh kakak masuk?" Tanya Gresta dengan menongolkan kepala nya.
"Hem, masuk aja!" Masih seperti biasa nada dingin yang di gunakan gadis itu untuk menyahuti ucapan kakaknya.
Gresta pun membawa langkah besar nya untuk mendekati adik nya, dan betapa terkejut nya ia ketika Bella untuk pertama kali nya mengeluarkan cairan berwarna biru dari pelupuk mata nya.
"Kau menangis?" Tanya Gresta dengan menadahkan telapak tangannya di bawah dagu si adik.
Bulir-bulir berwarna biru itu menetes ke telapak tangan Gresta kemudian dengan sendiri nya berubah menjadi permata blue black.
"Stop Bella, kau akan sakit jika kau terus menerus menangis! Lihat apa yang kau lakukan ini? Batu permata blue black sebanyak ini kau keluarkan dari dalam tubuh mu! Lihat ini!" Ucap Gresta.
"Tapi kak, Mommy jahat! Momy bentak Bella di depan banyak orang!" Sesenggukan gadis itu menangis.
"Tidak mungkin sayang, Mommy sangat menyayangi kita" Tak percaya Gresta dengan ucapan adik nya.
"Ya memang Mommy sayang sama kita, tapi semenjak si penguntit itu muncul, Mommy tidak lagi menyayangi ku," Tatapan penuh kebencian terpancar dari sorot mata legam Bella.
"Penguntit?" Mengerutkan kening nya Gresta tak percaya. Akhirnya ia menarik lengan Bella, "Ayo tunjukkan pada ku siapa yang sudah membuat adik kesayangan ku menangis?" Ucap Gresta dengan langkah besar nya keluar dari kamar pribadi milik Bella.
Gresta membawa paksa adik nya itu kembali ke tempat dimana Mommy dan Daddy nya berkumpul dengan para kolega.
"Ada apa ini?" Tanya Grace dengan memandang putra-putri nya yang saat ini baru tiba dengan tangan yang masih bergandengan.
"Bella bilang Mommy marah sama dia, apa itu benar?" Tanya Gresta.
"Mommy bukan marah sayang, Mommy hanya tidak mau kalau adik mu tidak sopan terhadap tamu" Jelas Grace.
"Tapi penguntit itu tidak pantas untuk diperlakukan sopan, Mommy!" Ceplos Bella dengan menuding ke arah Roy berdiri.
"Kamu?!" Terkejut juga di rasakan oleh Gresta, pasal nya dia sangat mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat Roy menyandera gadis yang kini sudah menjadi tunangannya.
"Loh? Gresta juga kenal dengan Nak Roy?" Tanya Grace.
"Ya! dia pernah dan bisa melakukan pelecehan" Imbuh Gresta menguatkan tuduhan yang Bella layangkan.
"Apa maksud kalian? Kenapa anak-anak Mommy jadi seperti ini?" Tanya Grace yang tidak mengerti apa-apa.
"Mommy dengarkan Gresta, dia bukan manusia baik-baik!" Tatapan tajam kini mengarah kepada Roy, apa lagi ketika Gresta mengingat Syaqila yang di ikat di dalam gudang dengan kemeja yang terkoyak di bagian dada nya.
"Maaf Tuan Muda Gresta, apa aku pernah melukai mu atau merebut sesuatu dari mu?" Tanya Roy dengan santai nya, dan itu membuat Gresta terdiam, pasal nya memang Syaqila tidak di rebut nya dan luka yang dia berikan sudah hilang karena kemampuan Gresta yang dapat menyembuhkan luka nya sendiri.
"Nyonya Gracelina, saya hanya ingin berkenalan dengan putri cantik anda ini, tapi sayang ternyata sifat nya tidak mencerminkan kecantikan nya," Cibir Roy dengan melirik ke arah Bella yang saat ini berekspresi.
"Diam kau penguntit! Mommy, Mommy jangan termakan omongan dia Mommy!" Ucap Bella.
"Bella sejak kapan kamu banyak bicara saat menghadapi orang yang tidak kamu sukai?" Tanya Grace yang membuat gadis bungsu nya itu terdiam.
"Jangan-jangan kamu sudah... "
"Mommy stop! Bella serius Mom, bahkan beberapa hari yang lalu kak Kila diculik mereka berdua!" Ceplos Bella yang mana itu membuat Roy menarik ujung bibir nya.
"Tapi Bukan kah Kila baik-baik saja, malah ayah ku yang tidak baik-baik saja, lihat karena ulah mu kau mematahkan kaki nya," Masih bernada santai Roy melayangkan tudingan nya.
Bella maupun Gresta bukan tipe makhluk yang suka berbohong, kedua nya tidak suka urusan yang berbelit-belit, maka saat posisi mereka tidak memungkinkan untuk mengatakan kejujuran, diam adalah solusi terbaik.
"Kenapa diam?" Tanya Roy.
"Lihat! Dia gadis yang waktu itu ku culik!" Bahkan Roy mengatakan nya tanpa malu sedikit pun.
Syaqila mengerutkan kening nya, "Kak Roy?" Lirih gadis bergaun Pink itu.
"Iya Kila aku di sini, kau juga menjadi saksi di sana kalau kau sama sekali tidak ku apa-apa kan bukan? Bahkan hari ini kau bisa melangsungkan acara pertunangan mu tanpa gangguan dari ku bukan?" Cecar Roy panjang lebar.
Sedangkan Syaqila hanya menganggukkan kepala nya secara reflek saja, karena memang benar ada nya yang di katakan Roy.
"Tapi apa yang di lakukan Bella?" Tatapan Roy tusukkan ke arah gadis dingin yang kini balik menatap tajam ke arah nya.
"Dia merenggut kaki ayah ku dengan begitu kejam dan tanpa ampun, di depan mata ku yang hanya manusia biasa ini" Ucap Roy dengan bumbu-bumbu kemalangan nasib.
Sungguh mudah diterima karena semua keluarga mengenal Bella yang dingin dan tak berperasaan.
"Bella? Sayang nya Daddy? Benar kau yang melakukan nya?" Tanya Arthur dengan mengelus pucuk kepala anak gadis nya.
"Bukan begitu Daddy, Bella hanya melindungi kakak" Sahut Bella dengan penuh ekspresi.
"Apakah kakak mu butuh perlindungan dari mu? Dia hidup sudah lebih lama dari mu sayang" Sahut Arthur masih dengan nada lembut nya dan itu lah yang membuat Bella semakin takut dan menundukkan kepala nya.
"Minta maaf pada Roy dan Om Mirza sayang, Daddy tidak menurunkan sifat bengis pada mu" Ucap Arthur.
"Baik Daddy," Lunglai tak berdaya Bella bertekuk lutut di depan Mirza, ia meminta maaf, juga pada Roy.
"Tapi nyonya Grace, pekerjaan di rumah saya jadi terbengkalai karena saya mengurus ayah saya, bolehkah Nona Bella yang baik hati ini, membayar kesalahan nya dengan membantu mengurus rumah saya, tidak selama nya hanya setelah Ayah saya dapat berjalan la... "
"Lancang Kau!" Gertak Gresta dengan mata yang mulai memerah.
"GRESTA JAGA EMOSI MU!!" Teriak Grace dan Syaqila spontan memegangi lengan kekar tunangan nya.
"Maaf menyela, nak Roy apakah tidak bisa menyewa Maid saja untuk keperluan rumah tangga" Sela Aldy yang ingin menengahi masalah itu.
"Jika keluarga kalian tidak mengijinkan dia menebus kesalahan nya, ya sudah tidak apa-apa! Kemi permisi" Ucap Roy dengan menarik Kursi roda Mirza dan berbalik hendak meninggalkan kerumunan itu.
"Tunggu!" Teriak Bella pada akhir nya.
Berhenti dengan menarik salah satu ujung bibir nya Roy berbalik.
"Ada apa? Bukan kah kau sudah minta maaf? dan dengan lapang dada pula kita memaafkan mu" Ucap Roy dengan senyuman nya.
"Tidak bukan begitu, Mommy, ijinkan Bella ikut dengan om Mirza, lagi pula karena Bella dia tidak bisa berjalan" Ucap Bella.
"APA!!" Teriak hampir semua keluarga, tak menyangka gadis dingin tak berperasaan itu kini berbelas kasihan kepada seorang manusia.
"Tapi nak?"
"Tak apa Mom, Bukan kan Bella bisa kesana-kemari dengan bebas?" Ucap Bella meyakinkan Grace bahwa diri nya akan baik-baik saja.
Kepergian Bella di iringi dengan air mata yang mewakili perasaan setiap keluarga Arthur, Bella dingin kini pergi ke rumah Roy demi menebus kesalahan nya.
Tiba di kediaman Mirza...
Aura hitam tercium sampai ke indera penciuman Bella, gadis itu mengedipkan mata nya dan bola mata nya membiru menatap setiap makhluk peliharaan Mirza.
"Mereka tak akan melukai mu tanpa perintah dari ku, kau jangan menatap mereka dengan mata mu itu" Ucap Mirza kepada Bella yang berjalan di belakang nya.
"Memang nya ada apa dengan mata ku?" Cetus gadis itu, masih terdengar dingin.
"Tidak sadarkah mata biru mu memancarkan kekuatan besar mu?" Ucap Mirza.
"Jika sudah tau begitu ya harus nya mereka paham dengan siapa mereka berhadapan!" Ketus Bella.
Terlihat Mirza melambaikan tangan nya untuk menyuruh para makhluk tak kasat mata itu pergi dari ruangan itu.
Setelah semua nya pergi Bella melanjutkan langkah kaki nya, "Apa kau takut dengan mereka maka nya kau berhenti di sini?" Tanya Roy ketika melihat gadis di samping nya itu kembali melangkah kan kaki nya memasuki hunian mewah yang terlihat suram itu.
"Tidak," Kembali dingin jawaban Bella.
"Lalu kenapa kau tidak berani masuk ketika ayah sudah memastikan bahwa mereka tidak akan menyakiti mu?" Pertanyaan demi pertanyaan Roy lontarkan demi berkomunikasi dengan bongkahan es batu di samping nya itu.
Bella kembali berhenti dan menatap Roy, "Mereka tidak pantas untuk tinggal satu ruangan dengan ku!"
"Bukankah ART di rumah mu juga selevel dengan mereka?" Tanya Roy menyudutkan.
"Mereka terlatih, terdidik dan tau diri, bahkan tak ada satu pun dari mereka yang berani menatap ku!" Tegas ketus juga dingin, Bella menatap kearah Roy.
"Dan juga mata mu! Jaga kedua nya agar tidak terlalu lama menatap ku!" Gadis itu dengan sifat arogan nya berjalan memasuki hunian itu.
Roy mengembangkan senyuman nya, "Sungguh semakin menarik...