
"Bagaimana?"
"Belum sadar yang mulia"
"Ya sudah selesaikan pekerjaan kalian"
"Baik yang mulia"
Samar-samar Ayu mendengar suara perbincangan yang menggunakan bahasa yang sangat asing di indra pendengaran nya.
Mata nya sangat berat untuk di ajak melihat kondisi sekitar namun sekuat tenaga Ayu berusaha melihat dimana kini diri nya berada.
Netra indah itu mengerjap-ngerjap dan melihat ke sekeliling nya, kamar yang sangat indah dan juga gaun yang mewah kini melekat pada tubuh indah nya.
"Dimana ini? siapa kalian?" Bingung dengan banyak nya orang yang merias nya, Ayu bertanya namun tak satu pun dari mereka yang menjawab nya.
Akhir nya Ayu berdiri dan hendak melangkahkan kaki nya ke arah pintu.
"Tunggu nona, ini akan selesai sebentar lagi, jangan bikin yang mulia ratu kecewa dan marah" Akhir nya salah satu perias itu berucap.
"Yang mulia ratu?" Ayu mengerutkan kening nya.
"Iya, nona, anda adalah tamu istimewa kerajaan ini, dan malam ini adalah malam penobatan pangeran kedua" Begitulah mereka menjelaskan.
Sementara semua perias dan beberapa pelayan saling bekerja sama untuk merias Ayu hingga ia berubah menjadi princess yang sangat cantik dan anggun dengan gaun putih nya.
GONNNNGGGGG!!!
Gong kerajaan telah di tabuh itu tanda nya upacara penobatan pangeran kedua sudah akan segera di mulai.
"Gong nya sudah berbunyi kalian tuntun nona Ayu untuk ke aula kerajaan, biar aku yang membereskan tempat ini!" Titah salah satu perias.
Hanya dengan menganggukkan kepala nya dua pelayan kerajaan itu segera mengapit Ayu di sisi kanan satu dan satu lagi di sisi kiri nya.
"Mari nona ikuti saya" Ucap salah satu pelayan yang mendampingi Ayu.
Tak berani menolak, dengan polos dan bodoh nya gadis itu menurut dan terus melangkahkan kaki nya mengikuti arahan yang diberikan kedua pelayan itu.
Setiba nya di sebuah kursi mewah, "Nona duduk lah di sini, jangan berbuat yang aneh-aneh dan kami permisi undur diri dulu" Ucap pelayan yang mendampingi Ayu, sedangkan gadis itu hanya menurut dengan menganggukkan kepala nya.
Visual Ayu Wulandari.
Gadis itu duduk dengan tenang dan mengikuti semua acara yang di umumkan, gadis itu mulai merasa bingung ketika semua tamu undangan berdiri dan menghadap ke arah pintu.
"Ada apa sih?" Batin Ayu dengan sedikit berjinjit dan melihat siapa sebenar nya yang berhasil menyita perhatian begitu banyak orang.
Ayu melihat seorang pemuda dengan wajah yang tak bersemangat itu berjalan menuju atas podium yang sudah di tata sedemikian rapi nan mewah.
"Madep sini dong, biar gue lihat siapa lo" Batin Ayu yang masih berusaha melihat ke arah pemuda itu.
Seperti do'a yang langsung sampai kepada sang pencipta, keinginan yang baru saja Ayu ucap di dalam hati itu terkabul.
Pemuda yang sudah berada di atas podium itu kini berbalik dan menampakkan wajah nya.
Terbelalak Ayu melihat wajah tampan yang tak lagi asing di indra penglihatan nya itu.
"Jerik?" Lirih nya bergumam dengan menutup mulut nya, sungguh sulit di percaya, apakah ini mimpi indah atau kah mimpi buruk bagi Ayu.
Ia melihat sang kekasih duduk di kursi yang ada di atas podium dan diri nya bal rakyat jelata yang melihat nya dari bawah.
Ayu tak dapat lagi berpikir dengan jernih, bagaimana jika ini hanya mimpi dan bagaimana jika ini sebuah kenyataan.
Masih setia Ayu memandang wajah kekasih nya yang terlihat murung dan dingin, terlihat sebuah keterpaksaan tersirat di raut wajah tampan itu.
Visual Alfajerik Rajendra.
Sesak sekali rasa nya dada Ayu ketika ia mendapati wajah tampan kekasih nya di banjiri air mata.
Tak terasa pipi Ayu kini ikut basah dengan bulir bening yang tak tau kapan mereka berselancar ria di pipi mulus nya.
Setelah selesai acara penobatan itu Ayu beranjak dari duduk nya berniat untuk menemui sang kekasih ingin ia mengusap bulir bening yang tak tau malu menghiasi wajah tampan nya.
Tapi baru saja ia berdiri kini sudah datang dua pelayan yang mencekal lengan nya kanan dan kiri, "Mari nona ikut saya"
Lagi-lagi Ayu tidak bisa menolak nya, ia hanya kembali mengikuti langkah kaki para pelayan itu.
Di dalam kamar setelah acara penobatan Jerik masih meneteskan air mata, entah mengapa wajah Ayu selalu nampak di kala ia menutup mata nya apalagi ia seperti melihat sekelebat bayangan Ayu hadir di antara para tamu undangan.
"Apakah mungkin? Tapi siapa dia memang nya sampai hadir di acara seperti ini dan dunia ini, tidak mungkin ia bisa mencapainya" Gumam Jerik yang masih bergelut dengan bayangan sang kekasih hati.
SRING!!
Seorang Angel tiba-tiba muncul di hadapan Jerik, "Maaf pangeran, yang mulia ratu meminta agar anda menemui calon istri anda di taman"
Mau tak mau Jerik menuruti nya, ia hanya menganggukkan kepala nya dan segera beranjak dari tempat duduk nya.
Dengan perasaan yang bercampur aduk Jerik melangkahkan kaki nya menuju taman yang di maksud Angel.
"Apa nanti kita saling bekerjasama saja? atau mungkin dia akan tetap ku nikahi dan di dunia manusia aku juga akan menikahi Ayu" Berbagai rencana Jerik pikirkan.
"Apakah aku jujur saja kalau aku sudah punya kekasih, atau mungkin aku harus menjelek-jelekan diri ku di hadapan nya?" Sejenak Jerik menghela nafas nya, seolah frustasi bagaimana ia harus menghadapi dua wanita yang mana satu wanita saja dia kelabakan saat wanita itu merajuk, apa lagi ini dengan dua wanita.
Langkah kaki Jerik semakin melambat ketika ia sudah hampir sampai di taman.
Di lihat nya di sana seorang gadis dengan gaun putih nya tengah duduk sendiri setelah dua pelayan meninggalkan nya.
Terlihat Jerik menghela nafas dan saat itulah angin berhembus dan menerbangkan rambut gadis bergaun putih itu yang terurai indah dengan menebarkan wangi damai yang menuntun langkah kaki Jerik semakin mendekati nya.
Hampir saja Jerik terpikat dengan kemolekan tubuh nya juga wangi damai yang di keluarkan oleh gadis di hadapan nya itu.
"Sudah lama menunggu?" Tanya Jerik dengan nada dingin nya.
Gadis itu terdiam, terlihat dari bahu nya yang naik turun seperti nya ia menghela nafas, mungkin saja dia gugup dengan kencan buta yang di rencanakan kedua orang tua nya.
"Hey! Aku bertanya pada mu!" Ucap Jerik yang membuat gadis itu menolehkan kepala nya.
Kedua nya terbelalak dan bersama menyebut nama partner kencan buta nya.
"Ayu!"
"Jerik!"
Teriak kedua nya, bahagia tergambar jelas di raut wajah Ayu namun berbeda dengan Jerik, ia terlihat cemas dan melihat ke arah kanan dan kiri.
"Ssshhhhtttt!!! Jangan keras-keras" Ucap Jerik dengan menempelkan jari telunjuk nya pada bibir Ayu. Mengerutkan kening nya gadis cantik dengan gaun putih itu tak mengerti maksud Jerik.
"Ayo ikut aku!" Ucap Jerik dengan menarik paksa lengan Ayu, dengan polos nya Ayu mengikuti tanpa protes sedikit pun.
"Sedang apa kau di sini? Bagaimana kau bisa sampai di sini?" Tanya Jerik dengan menggebu dan itu membuat Ayu tak bisa berpikir dengan jernih.
"Jawab aku Ayu!" Penuh dengan penekanan kata-kata yang di ucapkan Jerik.
Bukan nya menjawab Ayu hanya mampu menitikan air mata nya, ia menangis di hadapan Jerik...
Jangan lupa dukung dan berikan like juga komentar🥰🥰🥰
Semoga kalian sehat selalu see you...