The Guard

The Guard
Hampir Ketahuan



Setelah Irina, Akles dan juga Nendra sampai di kediaman Akles, mereka segera menuju kamar Arthur dimana Grace di tidurkan di sana.


"Bagaimana keadaan nya?" Itulah yang terucap dari mulut Irina yang terlewat khawatir dengan keadaan Gracelina atau calon menantu nya itu.


"Masih belum sadar Ibunda" Sahut Arthur yang duduk di sisi ranjang Grace.


"Bantu Grace untuk duduk biar bunda yang mengeluarkan racun nya" Ucap Irina dengan berjalan mendekat, Arthur yang menginginkan kesembuhan sang pujaan hati pun perlahan membangunkan Grace dan menahan nya.


"Awas bunda mau dari belakang" Ucap Irina dengan duduk di belakang Grace, Arthur pindah duduk di depan Grace masih dengan menahan kedua pundak Grace menggunakan tangan nya.


"Tahan!" Ucap Irina dengan menempelkan kedua telapak tangan nya di punggung Grace.


Arthur menganggukkan kepala nya dengan yakin, kemudian Nendra yang siaga segera memberikan ember kecil kepada Arthur.


"Untuk apa?" Tanya Arthur tak mengerti tapi sebelah tangan nya meraih benda yang di ulurkan kepada nya.


"Untuk jaga-jaga saja" Sahut Nendra.


Terlihat Irina membaca mantra nya dan seolah nafas berat nya seperti mentransfer sesuatu yang tidak terlihat oleh mata manusia.


Beberapa totok an ia berikan di punggung Grace, dan itu bereaksi dengan cepat, terlihat dari Grace yang membusungkan dada nya seolah gadis itu merespon kekuatan yang merasuk ke dalam tubuh nya.


Gadis itu kembali menunduk dan terbatuk "Uhuk!!" Akhir nya Grace menunjukkan kesadaran nya.


"Emmmhhh... " Seperti menahan sakit tangan-tangan lemah Grace mencengkeram lengan Arthur yang ada di hadapan nya.


"Uegh... " Keluarlah darah dengan warna merah kehitaman dari mulut Gracelina.


"Kau kuat Grace, ayo keluarkan lagi" Ucap Irina dengan kembali menotok beberapa titik di punggung Gracelina.


"Huegh... " Sekali lagi Grace memuntahkan darah yang begitu banyak.


"Ibunda" Seru Arthur dengan mengerutkan alis nya.


"Tenang lah itu adalah racun dari kabut asap yang dia serap dari tubuh mu" Ucap Akles yang berusaha membuat Arthur tenang.


"Tenang lah pangeran semua akan baik-baik saja" Nendra pun ikut menenangkan sosok tampan yang kini memperlihatkan raut kekhawatiran.


"Ar... thur... " Lirih Grace, namun masih dengan memejamkan mata nya.


"Iya Grace aku di sini" Ucap Arthur dengan meraup pipi kanan dan kiri Grace.


Setelah menyebut nama Arthur Grace pun ambruk ke dalam pelukan makhluk taman itu.


"Apakah sudah selesai ibunda?" Tanya Arthur yang melihat Irina turun dari ranjang.


"Sudah, baringkan tubuh nya, dan biarkan dia istirahat" Ucap Irina yang kemudian keluar dari kamar Arthur, Nendra dan Akles pun memberi ruang untuk Arthur menjaga Grace, mereka meninggalkan Arthur dan Gracelina.


Setelah membaringkan tubuh Grace dengan pelan, Arthur meraih beberapa tisyu yang ada di atas nakas.


Ia perlahan membersihkan noda darah yang masih ada di dagu juga bibir Gracelina.


"Cepatlah sadar, aku merindukan mu" Ucap Arthur yang kemudian mengecup kening gadis yang masih memejamkan kedua mata nya.


Di ruang tengah Akles, Irina dan Nendra terlihat duduk dengan menikmati secangkir kopi hitam.


"Kau yang membuat ini Nendra?" Tanya Irina ketika ia menyeruput kopi hitam itu.


"Iya ratu" Sahut Nendra dengan menggunakan kepala nya.


"Waaahh selera mu tinggi juga, kenapa harus memakai aroma melati? Atau jangan-jangan kau menyukai itu, Sri... Sri... Sri siapa Yank yang kerja di rumah sebelah itu lo?" Akles bertanya kepada Irina.


"Oh Srikantil? Oh iya ya aroma nya seperti Srikantil, waaaahh apakah kalian satu keluarga bahagia?" Sengaja Irina menggoda Nendra.


"Ah raja dan ratu ini bisa saja, saya hanya rekan kerja, mana mau dia sama saya?" Ucap Nendra terlihat insecure.


"Jangan pesimis dulu dong, kamu kan hebat" Ucap Irina dengan mengacungkan jempol nya.


"Tapi sehebat-hebat nya pria, jika wanita sudah dalam mode bad mood kamu harus tetap siaga satu ya Ndra!" Timpal Akles yang lanjut menyeruput kopi nya.


"Maksud raja?" Tanya Nendra tak mengerti.


"Mereka sulit di mengerti tapi minta di mengerti" Bisik Akles ketika Irina mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Walai aku tak melihat nya, aku bisa mendengar nya!" Ucap Irina dengan lirikan tajam nya.


Merasa kikuk Akles kembali menyeruput kopi nya. Sedangkan Nendra masih tidak paham dengan yang di maksud raja yang ada di hadapan nya itu.


Pagi hari...


Di dalam kamar Arthur...


Gracelina mulai membuka mata nya sipit, silau cahaya lampu membuat nya menggerakkan tangan nya, berniat untuk menutup cahaya lampu namun tangan Grace malah menyentuh sesuatu.


"Arthur?" Lirih Grace dengan melihat Arthur yang meletakkan kepala di samping tangan nya.


Arthur memang menunggu gadis kesayangan nya itu dengan duduk di samping ranjang dan menelungkupkan kepala nya di samping tangan Grace.


"Arthur?" Kembali Grace memanggil nama makhluk tampan nya itu dengan mengelus rambut hitam yang ada di atas tengkuk Arthur.


"Hem?" Arthur menggenggam tangan dengan jari jemari lentik yang bertengger di kepala nya, dan menarik nya kemudian sekilas ia mengecup punggung tangan itu.


"Bagaimana? apakah ada yang sakit?" Tanya Arthur dengan deep voice, yang membuat Grace tersipu malu dan mengalihkan pandangan nya.


"Aku sudah membaik" Sahut Grace, dengan senyum malu-malu nya, "Syukurlah", Arthur mengecup kening gadis itu.


"Ini dimana?" Tanya Grace dengan menyapukan pandangan nya ke sekeliling ruangan.


"Ini rumah tetangga mu" Sahut Arthur dengan mentoel hidung bangir Grace.


"Maksud mu, aku ada di rumah mu?" Tanya Grace dengan berusaha bangun dari posisi berbaring nya.


Arthur membantu Grace, "Iya, kau lihat di sana ada kamar mu" Dengan menunjuk ke arah bangunan yang terlihat dari jendela kamar Arthur.


Hanya senyum yang Grace tampilkan, sedangkan Arthur beralih duduk di sisi ranjang, di hadapan Grace, ia menatap gadis yang ada di hadapan nya itu dengan intens.


"Jangan memandang ku seperti itu!" Grace menutup wajah nya menggunakan kedua telapak tangan nya.


Arthur meraih kedua tangan Grace yang menutupi wajah ayu nya itu, makhluk tampan itu sedikit memiringkan kepala nya saat memandang kecantikan Gracelina Janitra.


Dibelai nya pipi Grace, "Lain kali jangan melakukan hal bodoh lagi ya!"


CTAK!!


"Aduh!!" Arthur menyentil kening Grace, sedangkan Grace mengusap-usap kening nya yang berdenyut sakit.


"Sini!" Arthur menurunkan tangan Grace yang masih mengusap-usap kening nya dan di tarik nya kepala Grace kemudian Arthur mengecup kening yang sedikit memerah itu.


Grace merasakan debaran aneh ketika bibir Arthur terdiam di kening nya cukup lama.


Tangan kekar itu beralih meraup kedua pipi Grace kemudian Arthur beralih menuju bibir yang sangat menggoda nya itu.


Grace memejamkan mata nya ketika Arthur mendaratkan ciuman di bibir nya.


"Emmmhhh... " Lenguhan itu terdengar begitu manja dengan tangan Grace yang menarik kerah baju Arthur.


CEKLEK!! Suara pintu terbuka membuat kedua insan yang tengah melepas rindu itu mendadak saling menjauh dan menundukkan kepala nya.


"Ups... seperti nya bunda masuk di waktu yang kurang tepat ya?" Ucap Irina yang muncul dari balik pintu.


"Hehehe... tidak bunda" Terkekeh kedua nya menjawab dengan jawaban yang sama.


"Oh iya bunda, boleh Grace pulang?" Tanya Grace yang takut jika sampai Kedua orang tuanya mengkhawatirkan diri nya.


"Boleh sayang, tentu saja boleh, tapi sekarang kita sarapan dulu ya!" Ucap Irina, dengan mengajak sepasang kekasih itu untuk sarapan.


Setelah selesai sarapan Arthur mengantarkan Grace kembali ke kamar nya, "Nanti diam-diam kau temui Srikantil, agar dia juga bersiap merubah diri nya, karena dia yang menggantikan diri mu selama kau tidak ada" Jelas Arthur sebelum makhluk tampan itu pergi.


Grace menuruni keluar dari kamar tentu saja setelah mandi dan merapikan diri nya.


"Pagi ayah, pagi bunda!" Sapa gadis itu dengan ceria seolah rindu sudah lama tak bertemu, Grace memeluk kedua nya bersamaan.


"Pagi sayang" Sahut kedua nya, dengan tatapan bingung.


Grace segera berjalan menuju dapur untuk menemui ART jadi-jadian nya.


"Yah, bukan kah beberapa jam yang lalu Grace berangkat ke kampus ya?" Gumam Sani dengan menatap punggung Grace yang kian menjuah.


"Iya bun, ayah juga merasa ada yang aneh dengan putri kita" Sahut Digo.


"Hai Sri?" Gracelina menyapa Srikantil yang terlihat sibuk mencuci piring kotor.


Terlihat Srikantil menolehkan kepala nya ke kanan dan ke kiri.


"Loh? Sri, bukan nya tadi kamu sudah berangkat ke kampus nya nona?" Tanya ART yang menyerupai rupa Srikantil.


"Hey Sri, ini aku Grace loh" Ucap Grace, yang membuat makhluk itu terlonjak kaget.


"Benar ini nona Grace? Lalu Srikantil dimana?" Tanya nya dengan menghentikan pekerjaan nya dan memegang kedua lengan Gracelina.


"Mana ku tau, aku baru saja kembali" Sahut Grace.


"Berati tugas ku sudah selesai" Ucap makhluk itu dan segera menghilang dari pandangan Gracelina.


"Aneh, lalu, kemana pergi nya Srikntil ini?" Gumam Gracelina dengan berjalan menuju ruang tengah.


Hari mulai menjelang sore, semua duduk di ruang tengah, mereka sore ini kedatangan tamu ya itu keluarga Arthur.


Untuk melanjutkan pencarian hari dan tanggal pernikahan kedua keluarga ini kembali bertemu.


"Maaf ya pak Digo, kemarin itu tiba-tiba ada panggilan mendesak, dan banyak sekali yang harus saya urus di prancis, jadi baru sempat kemari hari ini" Jelas Akles.


"Oh iya pak tidak apa-apa" Sahut Digo santai.


CEKLEK!!


Digo mendengar suara pintu rumah nya di buka ia pun melihat siapa yang akan muncul dari balik pintu utama nya itu.


"Loh siapa itu?" Teriak Digo yang membuat semua mata tertuju pada pintu utama, mau tak mau wanita yang berdiri di depan pintu utama menoleh ke arah kerumunan dua keluarga itu.


"Sri?!...


Jangan lupa klik favorit 💞 biar kalian gak ketinggalan up nya juga jangan lupa like seliap episode nya owkay!!! see you...