The Guard

The Guard
Nendra



Ketika kedua keluarga tengah makan malam di dalam ruang makan, Nendra yang baru saja memasukkan mobil ke dalam garasi melihat sekelebat bayangan yang tak asing bagi nya, dan setelah bayangan hitam itu menghilang, terdengar suara teriakan dari seorang wanita di depan rumah majikan nya itu.


Bukan nya berlari menuju sumber suara Nendra malah mengejar bayangan yang lari menyelinap masuk ke dalam dapur, dengan kemampuan hantu nya Nendra melesat tanpa ada yang melihat nya.


Saat itu Nendra melihat nona muda nya tengah duduk sendiri ketika semua orang berlari menuju sumber suara, dan tak lama kemudian muncul sosok laki-laki yang tak asing di mata Nendra, belum sempat Nendra mendekat, sosok laki-laki itu sudah membawa Grace melesat keluar melalui jendela yang terbuka lebar.


Tanpa pikir panjang Nendra segera melesat mengikuti kemana laki-laki itu membawa nona muda nya.


Setelah cukup lama perjalanan akhir nya mereka berhenti di sebuah pulau terpencil, dengan sangat hati-hati Nendra memantau terus laki-laki yang masih menggendong nona muda nya, namun ketika sampai di sebuah rumah minimalis Nendra tak lagi berani melangkah maju karena banyak sekali pengawal yang berjaga di sana.


Segera sopir jadi-jadian itu memutar otak nya untuk menolong nona nya.


"Bagaimana ini?" Gumam nya dengan duduk di salah satu dahan pohon, mata masih tertuju ke arah hunian bermodel minimalis itu.


Tak lama kemudian seolah alam bekerja sama dengan Nendra, salah satu pengawal itu berjalan masuk ke dalam hutan, dan itu berhasil menyita perhatian Nendra, di ikuti nya pengawal itu, ternyata laki-laki itu tengah buang air kecil.


Tanpa merubah rupa wajah dan penampilan nya, Nendra turun dari pohon, dan tepat berdiri di belakang si pengawal yang diam-diam masuk ke hutan sendiri.


Di sana si pengawal merasa ada sesuatu yang tidak beres, laki-laki itu terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri kemudian baru ia sadari ternyata di belakang nya tengah berdiri dengan tegak makhluk tinggi besar dengan mata merah juga taring-taring yang sangat tajam tengah mengintai nya.


"Haaaa... haaaaa... han... tuuuuu... " Tak mampu berteriak karena sudah keburu tak sadarkan diri, Nendra tak mau membuang kesempatan lagi dia pun segera menyerupai laki-laki itu lengkap dengan seragam yang di kenakan nya.


Dengan santai nya Nendra yang menyamar secara perfect itu segera melangkahkan kaki nya mendekati hunian bergaya minimalis itu.


Dari luar Nendra mendengar sedikit percek-cokan antara nona muda nya bersama seorang laki-laki.


Berpikir bagaimana cara nya agar ia bisa masuk, namun ketika mendengar suara Grace yang mengumpat, Nendra tak banyak berpikir ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Dan benar saja, ternyata Nendra melihat laki-laki itu tengah memaksa nona nya untuk di ajak nya berciuman.


"Misi bos! maaf mengganggu, di luar ada tuan besar ingin bertemu dengan bos" Ucap nya setelah membuka pintu kamar itu.


"Aaarrrghhhh!!! Ganggu saja!", BRAK!! Dean membanting meja kecil yang ada di samping ranjang Grace berbaring.


" Sampai benda itu melayang mengenai nona muda ku, bisa habis kau ku cabik-cabik!" Batin Nendra dengan masih menahan emosi nya.


"Maaf jika tidak pantas, tapi aku ucapkan terimakasih karena sudah menyelamat kan aku dari psychopath gila itu" Ucap Grace kepada Nendra yang di anggap nya telah berhasil menolong nya itu.


"Tidak apa-apa nona, sudah tugas saya" Ucap Nendra dengan mengedipkan salah satu mata nya berusaha memberikan code kepada Grace, kalau ada diri nya di sini untuk menolong nya.


"Tunggu! Apa kau Nendra?" Tanya Grace curiga, namun belum sempat Nendra menjawab, Dean sudah kembali masuk ke dalam ruangan itu.


"Kau membohongi ku?!" Dengan mata yang memerah Dean berteriak sembari tangan nya mencengkeram kerah baju Nendra.


"Ampun bos, mana berani saya membohongi anda?" Terlihat santai saat Dean menghunuskan tatapan tajam nya dengan penuh kemurkaan, itu lah yang membuat Grace curiga akan keberadaan Nendra.


"Lalu di mana ayah ku? kau bilang dia menunggu di luar" Ucap Dean dengan sedikit mendorong kerah Nendra yang di cengkeram nya barusan.


"Ya mana saya tau kan saya di sini menjaga nona" Sahut Nendra yang semakin membuat Grace yakin kalau itu adalah Nendra si sopir gratisan nya.


"Aaaaagggrrhhh kau merusak mood ku!" Dean melayangkan tinju nya namun dengan gesit Nendra mengelak.


"Maaf bos, kalau kena kan sakit" Dengan sedikit menunduk Nendra berucap.


"Berani nya kau... "


Drrrttttzz...drrrrttttzzzz... drrrrtttzzz... Dering bunyi ponsel mengalihkan pandangan Dean, laki-laki itu merogoh saku celana nya dan mengeluarkan gawai tipis itu dan dilihat nya ada nama "My Daddy" tertera di layar ponsel nya.


"Kau jaga dia baik-baik!" Titah nya dengan ketus, Nendra hanya menganggukkan kepala nya, sedangkan Dean keluar dari ruangan itu dan menerima panggilan dari ayah nya.


"Aku baik-baik saja tapi aku tidak bisa bergerak, hanya tangan kanan ku bisa mengepal selebihnya sangat sulit" Ucap Grace.


"Apakah aku haru memanggil pangeran? soal nya ini jangkauan nya sangat jauh jika melalui telepati apakah akan sampai?" Tergurat ketidak yakinan di raut wajah Nendra.


"Entahlah tapi coba kau lihat batu permata ku di tangan kanan ini sesekali berkilau, atau hanya aku saja yang melihat nya?" Grace mencoba mengepalkan tangan kanan nya lagi.


"Maaf nona tidak ada apa-apa di sana" Dengan sangat menyesal Nendra mengatakan kalau diri nya tak dapat melihat kilau cahaya yang di maksud Grace.


Kecewa sudah pasti, Grace yakin diri nya hanya berhalusinasi.


"Tenanglah nona, saya bantu nona untuk pergi dari sini, sebelum nya maaf ya non?" Ucap Nendra sebelum ia menyentuh tubuh Grace.


"He'em", sahut Grace dengan menganggukkan kepala nya.


Dengan sekuat tenaga Nendra mulai menggendong nona muda nya itu, CEKLEK!! baru saja terangkat pintu kamar itu sudah di buka, dengan terpaksa Nendra meletakkan kembali Grace di tempat nya semula.


" Maaf nona" Bisik Nendra yang kemudian kembali berdiri dengan tenang.


"Dia di sana ayah" Ucap Dean dengan menunjukkan kepada ayah nya bahwa gadis yang di sekap nya tengah terbaring di atas ranjang nya.


"Kau memang gila Dean! Lepaskan dia, sudahlah cari wanita lain saja" Ucap Hendra kepada putranya.


"Aku tidak gila jika ayah dan om Digo tidak merencanakan perjodohan ini, dan kenapa setelah aku menerima nya, perjodohan ini di batalkan begitu saja bahkan ayah menerima pembatalan itu hanya via chating, aku tidak terima ayah, ayah harus nikahkan kita sekarang juga"


PLAK!!


Baru saja Dean berhenti bicara, satu tamparan langsung melayang mengenai pipi kanan nya.


"Anak kurang ajar! tidak tau diri kamu, itu baru saja rencana yang gagal dan masih untung kerjasama perusahaan kita masih utuh, jangan lupa kau kalau sebagian besar bisnis mu itu adalah bantuan dari perusahaan pak Digo" Ucap Hendra dengan geram.


"Lepaskan sekarang dia!" Imbuh nya.


Namun baru saja Dean melangkah mendekati Grace tiba-tiba di luar terdengar kegaduhan.


DHUAR!!


BRAK!!


"Suara gaduh apa itu?" Ucap Hendra dengan menoleh ke arah luar.


"Entahlah, tapi Dean yakin, tidak ada yang mengetahui tempat ini," Sahut nya yang tak jadi mendekati Grace.


"Kita lihat dulu ke luar" Mereka berdua keluar dari ruangan penyekapan.


Sedangkan Nendra berusaha kembali membawa Grace pergi menyelinap keluar melalui jendela kamar itu.


PRANG!!! Sengaja Nendra memecahkan kaca jendela itu.


"Apa tidak ketahuan?" Tanya Grace.


" Semoga tidak" Ucap Nendra yang dengan menggunakan kekuatan nya membuat Grace melayang dan dengan mulus keluar dari jendela tanpa tergores sedikit pun.


Giliran Nendra keluar tiba-tiba ada yang masuk ke dalam ruangan itu.


"Hey kamu! Berhenti....


Jangan lupa Like, komentar dan juga klik favorit, beri dukungan author dong biar author semangat up nya, ok see you di bab selanjut nya...