
Pertemuan orang-orang ternama di hotel GRACINDO membuat luka lama seakan terkelupas kembali ketika Arthur yang berdiri di atas podium memberikan salam sambutan sebagai pemilik hotel itu dan Kinanthi yang saat itu tengah duduk di salah satu kursi para tamu undangan.
"Tunggu! Apa mereka orang yang sama? Tapi... seperti benar-benar manusia biasa" Gumam Kinanthi dengan melihat wajah Arthur dari kejauhan.
Selang beberapa waktu, Kinanthi melihat Arthur yang di kira nya adalah manusia biasa tengah duduk sendiri, wanita dengan busana sexy itu berjalan mendekati si pemilik hotel itu tapi belum sampai ia di tempat tujuan seorang wanita dengan gaun elegan nya berjalan mendekat dan memeluk laki-laki yang akan di dekati Kinanthi.
Mereka terlihat begitu dekat, terkejut saat wanita itu menoleh ke arah Kinanthi, "GRACE?!" Gumam nya.
Kemudian dengan langkah yang penuh dengan amarah Kinanthi berjalan keluar dari hotel besar itu.
Di dalam mobil nya, terlihat wanita jadi-jadian itu duduk dengan raut wajah kesal nya.
"Sial! Ternyata selama ini aku bekerjasama dengan orang yang sudah membunuh Dean" Umpat nya dengan penuh kekesalan.
Di dalam hotel di tengah perjamuan terlihat Grace duduk di samping Arthur yang tengah membahas permasalahan seputar bisnis dengan para koleganya.
Drrrrrttzzzz... Drrrtttzzz... Drrrrrttzzzz...
Gawai pipih bergetar meminta perhatian sang pemilik nya, Grace melirik ke arah layar ponsel nya yang bergetar dan ada nama Ayu di sana.
"Sayang aku angkat telfon sebentar ya?" Ucap Grace sebelum melangkahkan kaki nya keluar dari kerumunan orang-orang penting.
"Iya, hati-hati" Ucap Arthur yang membiarkan istri nya melenggang sendiri keluar dari hotel itu.
"Apa tidak takut istri nya di culik pak Arthur?" Goda salah satu pebisnis yang bekerjasama dengan Hotel Gracindo.
"Ahahaha orang yang berani menculik istri saya hanya orang yang sudah tidak lagi sayang terhadap nyawa nya" Ucap Arthur dengan senyum nya.
"Tapi istri pak Arthur ini sangat cantik, pasti nya banyak mata-mata di luar sana yang akan tertarik dengan kecantikan nya" Ucap Aldi yang mana ia adalah salah satu pebisnis yang sudah lama selalu bekerja sama dengan Arthur, bahkan Aldi ini sering menyumbang di yayasan milik Grace itu.
"Ah begitu ya?" Sahut Arthur dengan masih mengulas senyum, namun detik berikutnya dada Arthur terasa nyeri, "Grace!" Lirih nya dengan beranjak dari duduk nya dan berlari menuju pintu dimana Grace tadi menghilang.
"Tu kan saking bucin nya langsung dikejar dong" Canda Aldi yang langsung di sahuti tawa oleh para kolega.
"Iya mereka memang sangat serasi" Sahut kolega yang lain.
BRAK!! Suara keras itu terdengar dari arah luar, semua mata tertuju ke arah sumber suara.
"Ada kecelakaan! Tabrak lari! Tabrak lari!" Teriak para tamu undangan yang di dengar oleh Aldi dan yang lain nya.
Mereka semua lari berbondong-bondong menuju sumber suara.
Suasana di luar sangatlah ramai orang-orang yang melihat korban tabrak lari yang kini tengah tak sadarkan diri.
Di sana Arthur berlari menerobos kepadatan orang-orang yang berkerumun.
"GRACE!!" Teriak nya ketika melihat tubuh yang berlumur darah di pinggir jalan itu.
"Grace sayang!! Bangun sayang buka mata mu!" Ucap Arthur, ingin sekali ia berteleportasi dan membawa istri nya itu ke kerajaan di atas awan, tapi keadaan tidak memungkinkan.
Saat itu Aldi yang baru sampai di belakang Arthur dengan segera menawarkan bantuan nya.
"Mari saya antar kan ke rumah sakit" Ucap Aldi.
"Baik, terimakasih pak Aldi" Sahut Arthur kemudian Aldi membawa mobil nya ke tempat kejadian mereka pun ke rumah sakit dengan mobil Aldi sedangkan Arthur menelfon Nendra untuk mengurus mobilnya yang masih tertinggal di parkiran hotel.
...🍒🍒🍒🍒...
Siang hari menjelang sore Kinanthi sudah kembali ke mansion nya, ia dengan sejuta ganjalan di hati nya memasang raut wajah yang sangat menyeramkan.
"Kurang ajar!" PRANK!!! Teriak nya dengan membanting guci besar yang ada di ruang tengah. Chrisa dan Gresta yang ada di dalam kamar sampai terkejut dan mengintip di samping pintu.
"Kenapa Mama sampai semarah itu? seingat ku dia sudah lama tidak marah besar, apa mama tau kalau hari ini aku tidak bersemangat di sekolah?" Bisik Gresta dengan berdiri di depan Chrisa.
"Tidak tuan muda, kita cari tahu terlebih dahulu" Sahut Chrisa dengan memegang pundak tuan muda nya.
Terlihat frustasi Kinanthi sore itu...
"Ternyata aku kurang jeli, bisa-bisa nya aku bekerjasama dengan orang yang sudah membunuh Dean!" Gumam nya dengan amarah yang sangat memuncak.
Gresta menganga, bocah kecil itu menangkap dengan jelas maksud dari Kinanthi, dia pandai dan juga masih mengingat setiap cerita yang di sampaikan oleh pengasuh nya.
"Bibi? Apa yang di maksud mama, Arthur itu Daddy Arthur?" Tanya Gresta dengan suara pelan nya.
"Bisa jadi, karena musuh mama mu hanya keluarga Daddy mu" Ucap Chrisa, Gresta terdiam sejenak, ia merenung memikirkan apa yang di maksud Kinanthi berhasil melukai istri Arthur.
"Bibi dada ku terasa sakit, dan juga kenapa liontin ini bersinar?" Ucap Gresta dengan memegangi dada nya yang tiba-tiba rasa nyeri menjalari nya.
"Bersinar?" Tanya Chrisa dengan memiringkan kepala nya.
"Apa mungkin itu sudah bisa menangkap signal dari permata indukan nya?" Batin Chrisa.
"Mari kita coba!" Ucap Crisa dengan perlahan menutup pintu kamar Gresta.
"Coba apa?" Tanya bocah polos itu.
"Coba melacak kemana sinar ini tersambung" Ucap Chrisa dengan memegang kedua tangan Gresta.
"Siap?" Tanya Chrisa.
"Siap!" Sahut Gresta dengan memejamkan mata nya, kemudian Chrisa mengajak bocah tampan itu berteleportasi mengikuti kemana sinar biru itu berlabuh.
SRING!!!
Kini kedua nya sudah sampai di depan gedung rumah sakit, di sana Chrisa merasakan sesuatu yang tak asing bagi nya, aroma yang sangatlah dirindukan nya.
"Permisi apa kau mau masuk ke dalam?" Suara tak asing itu terdengar di telinga Chrisa. Sepontan ia menolehkan wajahnya ke arah sumber suara.
"Angel Chrisa? Itukah kau?" Tanya si pengasuh Gresta.
"Apa? Kau? Kau mengenali ku?" Tanya seseorang yang berambut putih dan bertampang rupawan itu dengan suara yang sedikit berbisij.
"Aku masih hafal dengan separuh jiwa ku, kau melupakan ku hanya karena aku buta?" Ucap Chrisa.
Tanpa aba-aba Angel Chrisa menarik si pengasuh Gresta ke suatu tempat, sedangkan Gresta hanya mampu terseret karena tangan nya masih di genggam oleh Chrisa.
"Hey! Setidak nya kalian tau tempat! Ada anak kecil di sini!" Ucap Gresta ketika kedua Angel Chrisa hendak menyatu kembali.
"Siapa bocah ini? apa kau mempunyai hubungan dengan manusia?" Tanya nya dengan memicingkan mata sipit nya.
"Dia pangeran Gresta" Sahut Chrisa dengan sedikit mengangkat tangan Gresta.
"Pangeran?" Mengernyit Angel Chrisa melirik bocah tampan itu dan berlian yang bersinar kini memberikan jawaban nya.
"Baiklah itu kita urus nanti sekarang kita menyatu saja!" Tanpa menunggu nanti Angel Chrisa menyatu dengan separuh jiwa nya.
SLAP!! SRING!!!
Gresta terperangah melihat kejadian ajaib yang ada di hadapan nya.
"Mari pengeran" Menunduk Angen Chrisa dihadapan Gresta.
Masih bingung tapi anak kecil itu hanya mengagumi pengasuh yang di anggap nya hebat itu.
Di dalam rumah sakit besar terlihat seorang dokter muda tampan dan dapat di andalkan baru saja keluar dari salah satu ruang operasi.
"Bagaimana keadaan kakak Ipar mu?!" Tanya Arthur dengan raut kehawatiran.
"Pasti nya akan sangat mengkhawatirkan jika saja sampai batu permata nya hilang, untung saja batu itu baik-baik saja, hanya kaki nya tidak bisa berjalan untuk beberapa minggu ke depan" Ucap Jerik.
"Apa kau tidak menggunakan kemampuan mu?! Dia kakak ipar mu!" Ngotot Arthur pun menerobos masuk ke dalam ruang operasi.
Jerik mengejar Arthur, setiba nya mereka berdua di dalam ruang operasi ada banyak perawat dan suster yang sedang mengemasi barang-barang nya.
"Maaf bisakah kalian semua keluar, tuan ini ingin menemui istri nya...
Jangan lupa bahagia jangan lupa juga kasih dukungan 🥰🥰🥰