
Akhir nya Grace menurut, dan kini mereka telah selesai memindahkan janin mungil yang baru sebesar telur ayam itu di dalam gelembung.
"Baby, baik-baik ya sayang, Momy janji akan sering-sering jengukin baby" Ucap Grace dengan mengelus gelembung yang bertengger di atas mahkota bunga.
"Saya akan menjaga nya, nona Grace tenang saja" Ucap Chrisa yang berdiri di samping Grace. Arthur segera membawa Grace kembali ke menara untuk istirahat sejenak sebelum mereka kembali ke dunia manusia.
...🍒🍒🍒🍒...
Di sisi lain, tepat nya di dalam mobil, rombongan Mikko dan teman-teman kini dalam perjalanan pulang dari vila.
Pengalaman dari yang horor, kocak, sweet mereka lalui dengan banyak mengambil pelajaran di dalam nya.
Kini mobil itu berhenti di depan rumah Ayu, untuk mengantarkan nya pulang.
"Makasih ya guys, kapan-kapan kita liburan bareng lagi" Ucap Ayu dengan menggendong tas ransel nya.
"Iya sayang, gue nggak mampir ya kapan-kapan aja gue ngapel" Dengan senyum tengil nya Jerik menyahuti ucapan Ayu dengan tangan nya yang mencubit gemas pipi Ayu.
"Iiiihhh sakit!!" Ayu mengerucut kan bibir nya, Lina yang duduk di depan di samping Mikko juga akan segera turun dari mobil, baru saja gadis itu memegang handel pintu tangan Mikko mencegah nya.
"Mau kemana? bukan nya rumah lo masih jauh ya?" Tanya Mikko.
"a... em... itu baju gue masih jadi satu sama baju nya Ayu" Ucap Grace terbata.
"Pisahin gih, gue tunggu di sini" Ucap Mikko.
"Ta... tapi..."
"Sshhhtttt... tidak menerima penolakan!" Mikko mengedipkan salah satu mata nya, dan Lina mau tak mau segera menuruti nya.
Kedua gadis itu terlihat memilah baju dan juga barang-barang mereka setelah itu Lina kembali masuk ke dalam mobil Mikko.
"Lina balik lagi?" Tanya Jerik dengan melongo.
"Wa wa waaahhhh... alamat jadi obat nyamuk nih" Ucap Jerik dengan menyandarkan tubuh nya di sandaran kursi penumpang bagian belakang.
"Nggak kok Je! Biasa aja" Ucap Lina dengan tersenyum.
Mikko segera melajukan mobil nya untuk menuju rumah Jerik ya karena jalan ke rumah Mikko melewati depan rumah Jerik.
Setelah sampai di depan rumah Jerik, Mikko bukan nya lurus menuju jalan ke rumah nya malah puter balik.
Ternyata ia mau mengantar Lina, "Kak rumah gue kosong, barusan ada chat dari bapak ngaabarin kalau ibu dan bapak ke rumah nenek" Ucap Lina dengan membaca chat di ponsel nya.
"Terus gimana?" Tanya Mikko yang sesekali melirik ke arag Lina.
"Ya biasa nya sih gue ke rumah Ayu kalau rumah nggak ada orang" Jelas Lina.
"Ya udah gue temenin nggak papa kok" Sahut Mikko dengan sekilas memandang Lina yang ada di samping nya.
...🍒🍒🍒🍒...
Beberapa hari kemudian...
Jerik yang kini tengah duduk di dalam rumah tubuh nya terlihat santai namun otak nya berputar keras, karena hati nya kini sudah mantap dengan Ayu, akhir nya ia memutuskan untuk pulang ke kerajaan di atas awan.
Dengan ber teleportasi Jerik kini sudah sampai di depan pintu utama mansion yang sudah lama sekali ia tinggal kan.
Baru saja Jerik hendak membuka pintu, pintu itu sudah lebih dulu dibuka dari dalam oleh Irina yang saat itu akan melepas kepergian Grace dan Arthur.
"Alfajerik? Kau pulang nak?" Bulir bening menetes begitu saja dari pelupuk mata Irina.
Haru melihat putra bungsu nya yang telah lama pergi dari kerajaan kini akhir nya kembali pulang.
"Iya ibunda" Datar dingin tak sehangat Arthur jika di depan ibunda nya, begitulah perbedaan kedua kakak beradik ini.
"Kalian mau kembali ke dunia manusia? Heh... capek-capek gue nyusul, sampai di sini di tinggal pula" Dengan senyum miring nya Jerik berucap.
"Jaga bicara mu!" Tegas Arthur, niatan mau akting ngambek eh mendapati kegarangan Arthur jika di depan adik nya mendadak Jerik terdiam dan menunduk.
Terlihat Grace menahan tawa nya, Jerik yang merasa ditertawakan oleh kakak ipar nya melemparkan lirikan tajam.
"Ups... Sorry? hihihi... " Ucap Grace dengan terkikik geli melihat Jerik yang mati kutu setiap di hadapan Arthur.
"Sudah-sudah ayo masuk dulu semua nya!" Dengan suara elegan nya Irina mengajak kedua putra dan satu menantu nya untuk kembali masuk.
Di dalam ruang baca kerajaan, kebahagiaan Irina kini berubah menjadi ke seriusan yang membuat semua nya terdiam.
"Kau tau Alfajerik! Jodoh bangsa kita ini sudah di tetapkan, jadi jika kau menikah dengan gadis pilihan mu, kau bukan hanya menghancurkan diri mu sendiri tapi kau juga menghancurkan jodoh mu!" Jelas Irina.
"Tapi ibunda, aku mencintai gadis itu!" Ngotot Jerik mengutarakan perasaan nya.
"Tidak bisakah kau menuruti kata ibunda dulu nak? Temui calon mu dulu, siapa tau kau akan jatuh cinta pada nya setelah bertemu" Akles menengahi perdebatan di antra kedua nya.
"Iya Je, nggak ada salahnya nurut sama orang tua" Grace sebagai kakak ipar berusaha membantu membujuk Jerik yang keras kepala.
"ALFAJERIK RAJENDRA!!" Teriak Arthur dengan melempar tatapan elang ke arah adik kandungnya itu.
"Haish... iya iya" Sahut Jerik yang mau tak mau nurut.
"Kau ini!! tidak sopan sekali" Geram Arthur, tapi dia harus mengontrol emosi nya.
"Kakak tidak tau bagaimana rasa nya jika kita di jauhkan dengan orang yang kita sayangi!" Kali ini Jerik berani menentang abang nya.
"Kakak paham bagaimana rasa mu, tapi cobalah dulu kau menuruti kedua orang tua kita, mereka yang mengurus mu, mereka pasti tidak akan mengecewakan mu juga!" Jelas Arthur yang masih memihak kedua orang tua nya.
"Iya Je, lo takut Ayu marah, dia gadis yang pengertian kok, gue yakin Ayu bisa mengerti kalau kalian belum bisa bersatu" Ucap Grace yang membuat Jerik menatap tak suka.
"Sahabat macam apa lo?!" Umpat Jerik.
"Jerik! Jaga bicara mu! Dia ini kakak ipar mu!" Kali ini Irina yang menggertak putra bungsu nya itu.
"Pokok nya bunda nggak mau kamu hilang-hilangan lagi, kamu pakai mahkota mu sekarang atau kau keluar dari keluarga ini dan juga kehilangan semua kekuatan mu" Sudah habis kesabaran Irina kali ini, dan itu membuat semua nya terdiam tak mampu berkata-kata, karena jika sampai Jerik kehilangan kekuatan nya dia tak lagi dapat menyebrang ke dunia fana.
"Ibunda?" Lirih Jerik.
"Kumpulkan semua anggota kerajaan! Umumkan kepada seluruh rakyat jika hari ini penobatan pangeran kedua mereka akan segera di laksanakan!" Titah itu keluar dari mulut sang Ratu, bahkan Akles terdiam, mungkin ia berpikir ada apa dengan istri ku? Mungkinkah ia sudah melampaui batas kesabaran nya?
Irina memandang suami nya, "Temui kurir yang mengantar pesan, tulis pesan untuk calon menantu kedua kita, dia akan datang malam ini dengan di jemput kereta kencana"
Akles pun tak berani membantah, ia sudah tau bagaimana akhir nya jika ia menolak di saat mood istri nya tidak baik.
"Baiklah, Arthur bawa istri mu ke dalam menara mu, biarkan dia istirahat dulu" Akles berusaha mengamankan putra sulung beserta mantu nya.
"Baik ayahanda" Arthur segera mengajak Grace untuk kembali ke kamar.
Setelah Irina dan Akles keluar, air mata Jerik menetes membanjiri pipi nya, bahkan bayangan Ayu kini menghantui nya, kesalahan menurut nya kembali ke kerajaan ini.
"Bodoh! Seharus nya kau tidak usah kembali pulang! Sudah terlanjur begini susah untuk ku keluar dari sini!" Ucap nya dengan menjambak rambut nya, ia merasa frustasi dengan keadaan nya.
"Maaf in gue Yuk!" Gumam nya di sela-sela banjir nya air mata.
SRING!!
"Pangeran?" Seorang Angel menemui Jerik, namun pemuda itu hanya sekilas memandang nya.
"Mari saya antar kan pangeran ke kamar pangeran" Ucap nya lagi.
"Bahkan Angel saja menunjukkan sisi laki-laki nya di hadapan ku! Apa ibunda pikir aku ini mata keranjang yang suka melihat rupa!" Gumam nya yang membuat Angel di samping nya menahan tawa.
Mau tak mau Jerik menurut karena jika melawan Angel, makhluk putih bersayap itu bisa saja berubah menjadi iblis yang sangat kejam.
...🍒🍒🍒🍒...
Di dunia manusia, tepat nya di rumah Ayu, gadis itu terlihat tengah duduk di meja belajar nya, ia tipe gadis urakan tapi teladan dalam masalah kuliah nya.
"Ayu tidur nak! Sudah malam!" Terdengar suara dari balik pintu kamar Ayu.
"Iya buk!" Sahut gadis itu sebelum akhir nya membereskan buku-buku nya dan kemudian beranjak menuju pulau ternyaman untuk rebahan alias ranjang kesayangan.
Entah kenapa malam ini Ayu cepat sekali terlelap namun kembali ia terjaga, saat indra pendengaran nya mulai mendengar gemerincing seperti gelang kaki penari yang semakin lama semakin mendekat dan karena rasa penasaran yang cukup besar, Ayu beranjak dari ranjang empuknya, ia berjalan mendekati jendela kamar nya dan membuka tirai nya.
"Apa itu?" Gumam nya saat melihat dua pasang kuda putih dengan sayap-sayap indah nya.
Seolah terhipnotis Ayu melangkahkan kaki nya keluar dari kamar melalui jendela kamar nya.
Entah bagaimana cerita nya saat ini Ayu tengah menikmati pemandangan langit malam di atas kursi kereta kuda yang terbang dengan angin semilir yang membuat nya nyaman tanpa sedikit pun rasa takut.
Kemudian Ayu melihat cahaya yang sangat menyilaukan dan akhir nya ia tak sadarkan diri.
"Bagaimana?"
"Belum sadar yang mulia"
"Ya sudah selesaikan pekerjaan kalian"
"Baik yang mulia"
Samar-samar Ayu mendengar suara perbincangan yang menggunakan bahasa yang sangat asing di indra pendengaran nya.
Mata nya sangat berat untuk di ajak melihat kondisi sekitar namun sekuat tenaga Ayu berusaha melihat dimana kini diri nya berada.
Netra indah itu mengerjap-ngerjap dan melihat ke sekeliling nya, kamar yang sangat indah dan juga gaun yang mewah kini melekat pada tubuh indah nya.
"Dimana ini? siapa kalian?...
Jangan lupa like dan komentar kalian...