The Guard

The Guard
Rindu Arthur



SRET!!


Gadis itu dengan kasar membuka tirai jendela dan ketika ia membuka kaca jendela tiba-tiba ada sekelebat bayangan hitam yang masuk dan mendorong nya hingga terpentok di pojokan dinding.


"Siapa kamu?!" Teriak Grace ketika diri nya sudah terhimpit di dinding kamar nya.


"Kau tidak mengenaliku? Apakah terlalu lama aku meninggalkan mu?" terdengar suara deepvoice tepat di samping telinga Grace, karena posisi wajah makhluk itu berada di ceruk leher Gracelina.


Perlahan Grace mendorong tubuh makhluk itu dan begitu juga dengan nya makhluk yang mempunyai suara tak asing di telinga Grace itu perlahan menatap gadis yang ada di pelukan nya itu.


"A... Arthur?" Ucap Grace tergagap, sedangkan Arthur menampilkan senyuman nya dengan sedikit menganggukkan kepala nya.


Dengan cepat Grace langsung menghambur kembali ke dalam pelukan Arthur, ia benamkan kepala nya di tengah dada bidang milik makhluk tampan itu.


Dengan hati yang berdesir hangat Arthur mulai memahami perasaan nya ia belai lembut surai hitam yang terurai itu, sesekali ia kecup pucuk kepala Grace.


"Kau tak lelah berdiri seperti ini?" Setelah sekian menit Grace memeluk tubuh Arthur dan menghirup aroma yang sangat dirindukan nya, Arthur membuka suara.


"Hem... Tapi ini sangat nyaman, aku merindukan mu hantu tampan ku" Ucap Grace dengan perlahan melerai pelukan nya dan menatap wajah Arthur walau pun minim penerangan, karena malam itu Grace sudah mematikan lampu utama nya dan hanya tersisa lampu tidur saja.


"Sudah ku bilang aku bukan hantu" Sahut Arthur dengan membelai pipi Grace dengan kelembutan nya.


"Tapi kau datang dan pergi tak di undang, kan sudah mirip sekali dengan Jailangkung" Gerutu gadis itu dengan mengerucutkan bibir nya.


"Tapi lebih tampan kan?" Sahut Arthur dengan mencubit gemas dagu Grace.


Terkekeh geli dengan memukul pelan dada Arthur, "Iiiihhh.. apa an sih?" Grace kembali mengusakkan kepala nya di dada bidang itu.


"Grace?" Arthur mengangkat dagu gadis yang tengah asik di dada nya itu, "Hem?" Sahut Grace dengan menengadahkan wajah nya, ia pikir Arthur akan mengatakan sesuatu, namun ternyata setelah wajah nya tepat menghadap ke wajah Arthur, sebelah tangan Arthur menarik tengkuk Grace dan menyatukan kedua benda kenyal, lembab nan manis itu.


Tak dapat menolak perlakuan manis untuk melepas rindu, Grace memejamkan mata nya juga menarik kerah jubah hitam yang ada di leher Arthur.


Kedua nya tenggelam dalam romansa rindu yang seakan terobati, Arthur yang sesekali me***at bibir sexy itu mulai gemas dan memanas, ia gigit kecil bibir Grace "Ahh" Sontak gadis itu membuka mulut nya dan di sanalah kedua nya Saling mengabsen isi rongga mulut dengan indra pengecap nya.


Arthur perlahan melepaskan tautan kedua nya, dengan sedikit menggigit bibir bawah nya makhluk tampan itu mengusap bibir basah Grace menggunakan ibu jari nya.


Arthur menatap lekat wajah Grace dengan sangat intens, sampai gadis itu malu dan mengalihkan pandangan nya ke samping tapi dagu Grace tertahan oleh jari Arthur yang dengan cepat meraih nya.


"Kenapa menghindar?" Tanya Arthur dengan menatap gadis nya itu.


Kembali Arthur menautkan kedua bibir itu seraya mengajak kaki jenjang itu untuk melangkah ke arah ranjang.


BRUK! Karena Grace berjalan mundur kaki nya menabrak ranjang dan tubuh keuda nya kini ambruk di atas ranjang dengan posisi Arthur yang menindih tubuh Grace.


Ciuman panas itu kini semakin menjadi dengan tangan yang mulai bergerilya menyusuri setiap lekuk tubuh gadis yang ada du bawah kekauasaan nya.


"Ahh" ******* manja terdengar ketika Arthur mengecup serta menyesap leher putih mulus di bawah nya itu.


Suasana semakin memanas dengan tangan Grace yang semakin lihai menggerayangi tubuh kekar yang masih tertutup jubah itu.


"Grace" Suara dengan deep voice yang membuat Grace semakin memanas dan menginginkan lebih.


"Ough sshhh... uuhhh" Tak sengaja Grace meraba sesuatu yang menonjol di bawah sana, dengan menikmati belaian juga kecupan Arthur kembali Grace meraba tonjolan itu dan sedikit menekan benda keras itu.


"Ough... Stop Grace!" Dengan menahan tangan Grace, Arthur berguling dan membaringkan tubuhnya di samping tubuh Grace.


"Why?" Tanya Grace dengan tatapan sayu nya, gadis itu mengalungkan tangan nya di leher Arthur berniat untuk kembali menautkan kedua benda kenyal yang terasa manis itu.


"Jangan sekarang? Nanti aku bisa kelepasan" Ucap Arthur yang masih mengingat diri nya harus segera kembali ke dunia nya.


"Kau mau meninggalkan ku lagi?" Tanya Grace, ada nada kecewa yang terdengar di sana.


"Tidak akan lama" Ucap Arthur dengan mengecup kening Grace, tak lama kamudian gadis itu memejamkan mata nya ternyata Grace tertidur karena ciuman Arthur.


Setelah Grace damai di alam mimpi nya, Arthur membelai pelan surai hitam itu kemudian mengecup nya sebelum akhir nya Arthur menghilang dan kembali ke dunia nya.


Di dunia yang jauh di atas awan...


Terlihat Irina tengah mondar mandir sudah seperti setrikaan saja.


"Duduk lah! Dia sudah dewasa, pasti tau apa yang harus di lakukan" Jelas Akles yang tak lain adalah suami Irina, ayah biologis dari Arthur.


"Yang bikin saya khawatir adalah penjelasan yang anda berikan kepada nya, dia masih terlalu dini untuk mengetahui semua ini" Jelas Irina yang sesekali menghentikan langkah nya kemudian balik berjalan kembali.


"Memang nya apa? kan memang benar benda pusaka itu kegunaan nya begitu, apa kau lupa bagaimana saya memasukkan nya? perlukah dicoba malam ini?" Dengan menaik turunkan kedua alis nya Akles sengaja menggoda ratu hatinya itu.


"Haish..." Dengan menghela nafas Irina melangkahkan kaki nya akan meninggalkan Akles, namun Raja yang begitu kuat itu dengan cepat menarik lengan sang ratu dengan kuat hingga tubuh Irina langsung masuk ke dalam dekapan Akles.


Perlahan Akles mengangkat dagu Irina dan menundukkan wajah nya...


"Kalian sedang apa?" Tanya Arthur yang muncul dari balik pintu yang terbuka itu.


"Ah tidak, tadi bunda kelilipan" Ucap Iriana dengan kikuk.


"Ayolah sayang dia sudah cukup dewasa untuk mengetahui semua ini" Ucap Akles dengan menarik kembali pinggang Irina, Irina mengerutkan kening nya.


"Aki masih ada urusan!" Ketus Irina dengan melepaskan lengan Akles dari pinggang nya.


"Ayahanda, Arthur siap melakukan ritual nya sekarang" Ucap Arthur ketika Akles hendak mengejar Irina.


"Kau yakin ingin tampak seperti manusia?" Tanya Akles yang berubah menjadi mode serius.


"Yakin ayahanda, Arthur siap menerima resiko nya, karena dengan wujud yang terlihat, Arthur lebih mudah untuk melindungi Grace" Jelas Arthur.


"Bisa kau pikirkan lagi? manusia itu harus makan, harus minum, dan mempunyai hawa nafsu yang sulit untuk di bendung" Akles sekali lagi menanyakan ke seriusan putra nya itu.


"Iya ayah, Arthur siap menanggung semua nya" Sahut Arthur mantap, akhir nya Akles menuruti keinginan putra nya itu dan memulai ritual nya malam itu juga.


Mentari pagi beri salam lagi, suara burung menyambut hari berganti, sinar mentari berhasil menembus tirai jendela kamar seorang gadis yang mana ia masih bersembunyi di balik selimut tebal nya.


TOK TOK TOK...


Suara ketukan pintu itu membuat Grace yang masih asik dengan mimpi pagi nya, terpaksa harus menyudahi nya.


"Hemm.. hoooaaammm" Menguap dengan meregangkan tubuh nya gadis itu mulai menyapukan pandangan dengan mata yang masih di usap-usap nya.


"Arthur?" Panggil nya.


"Srikantil non, bukan pangeran Arthur" Terdengar suara cempreng itu dari balik pintu, rupa nya makhluk jadi-jadian itu mendengar suara Grace yang memanggil makhluk tampan yang di rindukan nya.


"Masuk Sri!" Teriak Grace dengan suara malas nya, tanpa membuka pintu Srikantil dengan mudah menembus benda yang terbuat dari kayu itu. Sikap sopan hantu itu yang membuat Grace tidak mengusir nya, bahkan wanita jelmaan hantu itu rela menyamar menjadi manusia untuk menjadi ART di dalam rumah seluas istana itu.


"Sarapan nya nona" Ucap Srikantil dengan membawa satu nampan sarapan lengkap dengan susu putih ke sukaan Grace.


"Makasih ya Sri, kalian sudah makan?" Tanya Grace yang juga perduli kepada para makhluk tak se-ras dengan diri nya itu.


"Sudah non, aman" Sahut Srikantil dengan mengacungkan jempol nya.


"Oh iya Sri, apa semalam Arthur datang?" Tanya Grace, kepada ART bukan manusia nya itu.


"Maaf non, Sri kurang tau, karena setelah nona masuk ke dalam kamar, kita semua juga tidur" Jelas nya dengan mengingat kejadian semalam.


Grace hanya menghela nafas dan menganggap semalam itu sebagai mimpi, tak mungkin Arthur kembali dan mencumbu nya seolah mereka itu sepasang kekasih.


Siang Hari dengan terik matahari yang sangat menyengat itu Gracelina Janitra keluar dari dalam kelas nya dan berjalan menuju atap gedung dimana di sana terasa sepi dan menenangkan.


"Kau mau kemana Grace?" Tanya Ayu yang saat itu berpapasan di tangga dengan Grace.


"Aku mau ke atas dulu" Sahut Grace dengan melangkahkan kaki nya.


"Kaya yang lagi patah hati aja, ya udah hati-hati ya!" Ayu mengingatkan sahabat nya itu, namun tanpa sepengetahuan mereka ada sepasang mata yang melihat juga mendengarkan percakapan mereka.


Grace duduk di tepi dengan pandangan kosong namun isi otak nya masih seputar Arthur yang tak kunjung kembali kepada nya.


"Kenapa kau hanya hadir di dalam mimpi ku?" Gumam nya dengan mata yang mulai mengembun.


"Makhluk seperti mu, memang nya sibuk apa? kata nya pelindung ku, kok lama banget ninggalin nya?" Sambung nya, tanpa ia sadari Calista yang penuh dendam pada nya sudah berdiri di belakang nya.


"Mirza tidak mau menerimaku bahkan setelah menanamkan benih di dalam rahim ku, dan semua gara-gara kamu" Ucap Calista yang berdiri di belakang Grace.


Mendengar suara gadis itu Grace segera berdiri dan mendekati nya.


"Apa maksud mu?" Tanya Grace.


"Mirza mendatangi ku beberapa hari yang lalu, dan itu karena kau yang menyuruh nya, iya kan? Bahkan dalam berhubungan dengan ku, nama mu yang keluar dari dalam mulut nya" Jelas Calista dengan berapi-api.


"Apa?" Grace masih tidak mengerti dengan ocehan Calista yang berapi-api.


"Udah deh Grace, jangan sok berlaga bodoh, kayak nya semua akan berakhir jika dalang nya hilang aja dari muka bumi ini" Cetus Calista yang melangkah mendekati Gracelina.


"Kau mau apa Ca?" Ucap Grace yang mengira kalau Calista ingin mengakhiri hidup nya dengan melompat ke bawah.


"Jangan bodoh Ca!" Teriak Grace, namun ternyata Calista dengan kuat mendorong tubuh Grace hingga Grace terjun bebas dari atas gedung yang tinggi nya tujuh lantai itu.


"Aaaaaaaaaaaaa...


Jangan lupa nantikan episode berikut nya, see you...