
Sebelah tangan Arthur membelai wajah Ayu yang masih terdiam memandangi nya, dengan lembut Arthur mengusap bibir berwarna pink nude itu dengan ibu jari nya kemudian perlahan ia menundukkan wajah nya berniat untuk menyatukan kedua benda manis nan kenyal itu.
"PLAK!!!" Satu tamparan mengenai wajah tampan Arthur hingga makhluk tampan itu terdiam.
"Oh Astaga! maaf, maaf, maaf, bu... bukan maksud ku... bukan itu... anu... aduh" Sedikit panik Grace dengan cara nya yang ingin membuktikan ini nyata atau mimpi.
Arthur dengan cepat kembali menatap Grace dengan sedikit memiringkan wajahnya, sebelah tangan nya meraih tengkuk Grace dan CUP!!
Terjadilah penyatuan benda manis yang membuat candu itu.
"Apa kau berpikir malam itu hanya mimpi?" Tanya Arthur setelah ia melepaskan tautan manis itu.
"He'em" Sahut Grace dengan menganggukkan kepala nya.
Sedikit mencubit dagu Grace, Arthur kembali ia menautkan bibir nya, dan menggigit bibir Grace.
"Ah!" Grace tersentak, Arthur melepas tautan nya.
"Apakah mimpi akan terasa sakit dan begitu terasa nyata?" Grace menggeleng pelan kepala nya, Arthur menyatukan kening nya dengan kening Grace.
"Maaf aku baru memahami rasa suka ku pada mu" Akhir nya dengan deep voice yang terdengar sexy itu, Arthur mengutarakan perasaan nya, Grace berdebar namun gadis itu mendongakkan wajah nya demi melihat tatapan ketulusan dari netra tajam yang ada di hadapan nya.
"Kau serius? kita berbeda" Ada sedikit kekhawatiran di raut wajah Grace karena ras kedua nya yang tak sama.
"Aku sudah mempelajari kehidupan manusia" Ucap Arthur yang kemudian kembali me-lum-at bibir yang masih basah itu, sungguh nafsu yang sangat besar itu susah untuk Arthur kendali kan.
Merasa perasaan nya tak bertepuk sebelah tangan Grace tanpa penolakan menikmati setiap hisapan dan setiap sentuhan dari indra perasa milik Arthur.
Gadis itu mulai mengalungkan tangan di leher Arthur dengan sesekali meremas rambut yang lembut di atas tengkuk.
"Ah!" Lenguhan itu terdengar sexy di telinga Arthur ketika tangan nya meremas pinggang ramping itu.
Sedikit menurunkan kedua tangan nya dari pinggang Grace, Arthur mere-mas bokong yang bulat penuh itu dan mengangkat nya, otomatis kaki Grace melingkar di pinggang Arthur.
Masih dengan bibir yang saling bertaut Arthur melangkahkan kaki nya menuju ranjang yang nyaman, perlahan ia merebahkan tubuh sexy itu di atas ranjang tanpa melepas tautan.
Dengan bertumpu pada kedua siku nya Arthur beralih mengecup leher mulus itu, "Emmmmhhh... " Lenguhan manja itu berhasil keluar dari Grace yang menahan nya dengan menggigit bibir bawah nya.
Masih setia mengecup setiap lekuk leher Grace, Arthur menghirup aroma yang selalu membuat nya candu itu.
"Aaahhh" Teriak Grace dengan menengadahkan kepala nya saat Arthur menyesap dengan kuat leher putih itu.
"No, Arthur! Stop!" Ucap Grace lemah, bahkan tangan nya bergetar ketika meraup pipi kanan dan kiri Arthur, agar makhluk tampan itu menjauhkan bibir nya dari leher Grace.
Arthur menatap Grace dengan tatapan sayu, di mana netra tajam yang selalu menghiasi wajah tampan itu?
Arthur terlihat sangat menginginkan Gracelina, itu dapat di lihat dari tatapan nya yang berbeda dan bibir nya selalu mengincar bibir Grace.
TOK TOK TOK!!
Terdengar suara pintu di ketuk dari luar, kedua pasang mata yang tengah beradu pandang itu sama-sama melihat ke arah pintu.
"Non! Ada telfon!" Terdengar suara Srikantil dari balik pintu yang tertutup.
"Kenapa dia tidak masuk? padahal dia ada kemampuan untuk menembus pintu mu" Gumam Arthur yang masih stay di atas tubuh Grace.
"Itulah kenapa aku masih menampung mereka" Sahut Grace dengan mendorong tubuh Arthur agar menyingkir dari atas tubuh nya.
"Jadi?"
"Ya, mereka tidak berani masuk ke kamar ku kecuali aku mengijinkan mereka" Jelas Grace dengan beranjak dari ranjang dan mulai melangkahkan kaki nya menuju pintu.
CEKLEK!! Pintu kamar di buka oleh Grace gadis itu menampilkan senyum nya mendapati Srikantil yang dengan sopan menunduk pada nya.
"Apa saya mengganggu?" Tanya Srikantil setelah melihat penampilan Grace yang sedikit acak-acakan bahkan kancing kemeja Grace bagian atas tidak terkait dan menampilkan sedikit belahan dada nya.
"Hah? ti... tidak kok" Ucap Grace dengan melangkah melewati ambang pintu dan segera menutup pintu kamar nya agar Arthur tidak di lihat oleh Srikantil.
"Oooo... " Sahut Srikantil dengan bibir yang membulat dan kepala yang manggut-manggut.
"Jadi, telfon dari siapa?" Tanya Grace dengan melangkahkan kaki nya menuju lantai satu.
"Halo?" Ucap Grace setelah menempelkan gagang telfon itu di telinga nya.
📞"Halo Grace, bisa jemput ayah sekarang sayang?" Terdengar suara berat dari ujung telfon.
"Ayah pulang?" Ucap Grace, dengan raut wajah yang menampilkan kebahagiaan juga rasa cemas.
📞"Iya sayang ini sudah di bandara, pak Tejo nggak bisa jemput kata nya istri nya melahirkan" Jelas Digo yang tak lain adalah ayah biologis Grace.
Gadis itu berjalan menuju Garasi mobil, namun lagi-lagi Arthur menahan nya.
"Mau kemana?" Tanya Arthur yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Grace dengan menggenggam lengan gadis itu.
"Ayah pulang aku harus menjemput nya" Jelas Grace.
"Dengan pakaian begini?" Ucapan itu terdengar sangat familiar di telinga Grace, gadis itu sudah akan meledak emosi nya.
"Memang nya kenapa? ada yang salah?!" Ucap Grace mulai ketus, bukan menyahuti Grace, Arthur malah mengarahkan tangan nya ke salah satu cermin yang tertempel di dinding, dengan perlahan cermin itu mendekati Grace dan berhenti tepat di depan nya.
"Lihat lah penampilan mu yang kacau ini!" Ucap Arthur dengan datar, Grace terkejut melihat diri nya yang sangat acak-acakan.
"Oh Astaga! terimakasih my Guard" Ucap Grace dengan memeluk tubuh Arthur dengan erat.
"Bawa aku ke kamar" Ucap Grace masih dengan memeluk Arthur.
"Pejamkan mata mu" Bisik Arthur, setelag Grace menganggukkan kepala nya dan memejamkan mata nya.
SSSSHHHHHLLLLLAAAPPP!!!
Mereka berdua kini sudah ada di dalam kamar Grace. Dengan cepat Grace mengganti pakaian nya, tanpa menghiraukan keberadaan Arthur.
Makhluk tampan itu mengalihkan pandangan nya, entah perasaan aneh selalu menyelimuti hati nya ketika melihat tubuh polos Gracelina.
Grace dengan mobil yang di sopiri oleh Nendra dengan cepat menuju bandara yang sudah ayah nya sebutkan.
Setiba nya di bandara Grace celingukan mencari dimana ayah nya.
"Grace! Baby!" Teriak seorang laki-laki yang sudah berumur itu dengan melambaikan tangan nya ke Gracelina.
"Ayah?" Ucap Grace setelah memastikan kalau itu memang ayah nya. Gadis itu segera berlari dan memeluk erat laki-laki yang sudah berjuang demi kehidupan mereka dan keluarga nya.
Arthur yang melihat nya merasa sedikit sakit di dada nya, entah kenapa hati nya sangat tidak suka jika gadis kesayangan nya di peluk oleh lawan jenis.
Setiba nya di rumah, Digo membicarakan sesuatu yang tak terduga.
"Grace, kamu sudah besar nak, sudah waktu nya untuk menikah" Ucap Digo dengan duduk di samping Grace.
"Iya ayah, tapi Grace masih belum lulus kuliah" Sahut Grace dengan jujur.
"Kuliah kan bisa sambil jalan nak, ayah ada kenalan dia pembisnis sukses, dan tampan sekali, masih muda pula" Jelas Digo mempromosikan seorang pemuda pilihan nya.
"Tapi ayah, Grace nggak kenal" Sahut Grace yang terdengar seperti penolakan secara halus.
"Kan bisa kenalan dulu, kalian ketemu dulu nanti baru cocok-cocokan deh, biasa nya dengan seiring berjalan nya waktu akan tumbuh rasa cinta loh" Jelas Digo yang terkesan seperti memaksa.
"Hah, terserah ayah sajalah, Grace capek, Grace ngantuk" Dengan langkah kaki gontai nya Grace meninggalkan Digo dengan segala rencana perjodohan nya.
Di dalam kamar Grace merebahkan tubuh nya di atas kasur empuk nya.
Arthur duduk di samping nya dengan membelai surai panjang yang terurai itu.
"Kenapa?" Suara lembut itu keluar dari mulut makhluk tampan itu.
"Ayah main jodoh-jodohin, padahal Grace kan suka nya sama Arthur" Jelas Grace.
"Kamu tidak menolak nya?" Tanya Arthur.
"Tidak mungkin, ayah sekali nya menyuruh pasti, susah ditolak" Ucap Grace mengingat ayah nya yang keras kepala itu.
"Lalu? kau mau menemui nya?" Tanya Arthur dengan menatap wajah ayu yang kini balas menatap nya.
"Entahlah" Ucap Grace yang kemudian meraih tengkuk Arthur dan mengecup bibir nya.
"Tidurlah ini sudah malam" Ucap Arthur yang seperti nya sedikit kecewa dengan jawaban Grace.
Hari pertemuan...
Grace duduk di sebuah kafe dengan tampilan sexy elegan nya, gadis itu sudah ditemani segelas jus strawberry penghilang dahaga.
"Gracelina Janitra?" Terdengar suara berat dari pemuda yang kini tengah berdiri di hadapan Grace. Sontak gadis itu mendongakkan wajah nya dan...
"Loh? kamu?!..
Duh kira-kira siapa ya guys yang di temui Grace? Jangan lupa baca bab selanjut nya ya, see you...