The Guard

The Guard
(TG4) Kang Rusuh



Setelah Bella pergi bersama dengan Roy dan Mirza, yang merasakan sedikit kekhawatiran pasti nya adalah Gracelina.


Ya, dia adalah ibu kandung nya, ibu mana yang tega berjauhan dengan putri yang ia lahir kan juga ia besarkan dengan tangan sendiri.


Ibu dua anak itu kini tengah berada di dalam kamar nya, duduk di ranjang, berdiri, berjalan, ke balkon, kembali masuk ke kamar, kemudian duduk dan kembali berdiri lagi, mondar mandir sudah mirip sekali dengan setrikaan.


"Mom? Apa kau masih memikirkan Bella?" tanya Arthur yang saat itu baru saja masuk ke dalam kamar dan mendapati kegelisahan di dalam raut wajah istrinya.


"Kenapa Daddy bertanya seperti itu? Tidak kah kau mengkhawatirkan putri mu? Dia gadis kemarin sore yang tidak tau apa-apa, Yank!" gertak Grace dengan menatap tajam suami nya.


"Kalau begitu kenapa kau tadi tidak menahan nya? ketika dia baru saja akan meninggalkan rumah ini?" tanya Arthur dengan mendekati Grace dan memeluk tubuh seksi itu dari belakang.


"Aku tidak mau kalau putra putri kita semena-mena sayang, mentang-mentang kuat bukan berarti tidak bertanggung jawab!" jawab Grace dengan memandang purnama yang kini bersinar di luas nya langit malam.


"Ya sudah, biarkan dia menjalankan tugas nya." Arthur mencium tengkuk mulus Grace serta menghirup aroma tubuh istri cantik nya itu.


Di kamar lain...


Pangeran tampan itu terlihat membaringkan tubuh nya di atas ranjang, masih seputar adik kesayangan nya yang terbesit di dalam rongga-rongga otak nya.


"Sedang apa kau sekarang?" bergumam Gresta memikirkan adik nya.


Tidak tau nya yang sedang dipikirkan saat ini tengah...


Di kediaman Mirza...


Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari tapi suara gaduh masih saja terdengar dari dalam hunian mewah bak istana itu.


"Hentikan Bel! Apa maksud mu dengan menantang satu persatu perewangan ayah?" tanya Roy dengan menangkap setiap barang yang beterbangan di dalam ruang tenghnya.


"Tidak, hanya saja, aku ingin mereka semua tau siapa aku dan bagaimana mereka harus bersikap di hadapan ku!" Sungguh sifat Arogan yang berlebihan kini tengah mendominasi tampilan Bella yang berdiri di atas meja ruang tengah itu.


"Cukup! Hentikan kegilaan mu ini, mereka akan mati satu persatu karena perbuatan mu!" Geram Roy menghampiri gadis yang saat ini tengah berdiri di atas meja.


WHUT!!


BRAK!!


Bella menghempas tangan Roy yang hendak menyentuh nya, hingga laki-laki itu melayang dan tubuh nya membentur dinding.


"Uhuk... Sialan, kekuatan nya begitu besar," gumam Roy dengan memegangi dada nya yang terasa nyeri.


Sedangkan Bella masih asik mempermainkan setiap makhluk peliharaan Mirza.


"Dengar kan aku! Kalian ingat wajah cantik ini!" bentak gadis Arogan itu dengan menunjuk ke arah wajah nya.


"Awas saja jika sampai ada yang tidak menghormati ku." Lirikan tajam mengarah pada Roy yang masih terduduk lemas.


"Akan berakhir lebih buruk dari dia!" Jemari lentik itu menunjuk Roy yang tak bisa berkutik.


...🍒🍒🍒🍒...


Siang hari di Kantor...


Di dalam ruangan nya Gresta terdiam di atas kursi kerja nya, sesekali nafas berat ia hembuskan.


Hingga dari luar pintu ruangan pribadi itu terbuka, CEKLEK!!


"Sayang!" teriak seorang gadis kuliahan dengan melangkahkan kaki jenjang nya ke arah Gresta.


Respon Gresta tidak seperti biasa nya, ia masih terdiam di dalam lamunan nya, "Hey Sayang," gadis itu melambaikan tangan nya di depan wajah Gresta.


Sedikit tersentak Gresta memandang gadis cantik di hadapan nya, "Astaga, Sya?" Nafas kasar sedikit ia hembuskan dengan memejamkan mata nya.


"Kau kenapa? Masih memikirkan Bella?" tanya Syaqila dengan memeluk Gresta dari belakang.


Perlahan dan dengan gerakan lembut Gresta menarik lengan Syaqila, agar gadis cantik itu duduk di pangkuan nya.


"Bagaimana aku tidak memikirkan dia? Bagaimana kalau sampai dia lepas kendali? Bukan nya menebus kesalahan dia malah akan membuat kerusuhan." Syaqila terdiam sejenak, gadis itu seolah mengingat sesuatu.


"Iya, aku tadi melihat kak Roy, dan tidak biasa nya dia mempunyai mata panda..." Sejenak Syaqila terdiam.


Gresta yang merasa digantung di ambang penjelasan pun meraih dagu gadis cantik itu agar menatap wajah nya.


"Apa maksud mu? Membicarakan laki-laki lain di depan tunangan mu? Apakah kau memprihatinkan laki-laki lain di luar pengawasan ku?" Terdengar posesif Gresta ketika mengatakan nya.


"Adudududuh... Sakit Yank!" Syaqila mengerucutkan bibir nya dengan melepaskan cubitan nya dari pipi Gresta.


"Makanya dengerin dulu!" Bersedekap gadis itu masih mengerucutkan bibir nya.


"Ok, ok, baiklah, aku dengerin," ucap Gresta dengan memeluk pinggang Syaqila serta menancapkan dagu berjambang tipis itu di pundak mulus Syaqila yang sedikit terekspos itu.


"Aku melihat kak Roy lesu dan lengkap dengan mata panda nya, aku curiga juga sih kalau apa yang kau takutkan terjadi, jangan-jangan Bella membuat kerusuhan di sana," Bella membenarkan kecurigaan Gresta.


"Nanti malam biar aku lihat dia, em... Kau sudah makan?" tanya Gresta dengan mengelus perut rata sanga kekasih.


"Em... Belum," Menggelengkan kepala nya Syaqila menjawab, "Makan yuk!" Ajak Gresta yang di angguki oleh Syaqila, kedua nya pun keluar dari ruangan itu untuk makan siang bersama.


...🍒🍒🍒🍒...


Roy dengan motor besar nya melaju dengan kecepatan standar dan memasuki sebuah hunian mewah yang tak lain adalah kediaman sang ayah, dengan hati-hati ia memberhentikan kuda besi kesayangan nya itu di halaman depan, suara motor itu sungguh memekakkan telinga, baru saja pemuda ber hoodie hitam itu menurunkan kaki nya dari motor, tiba-tiba kuda besi bersuara bising itu mati tak bersuara, padahal belum sampai Roy memutar kunci nya.


Terlihat bingung Roy memutari motor nya, duduk diri nya melihat mesin atau ada kabel mana yang terputus.


"Perasaan baru aja kemarin servis," gumam nya dengan menggaruk tengkuk nya.


Dilihat nya lampu motor masih menyala, ia pun mencoba untuk mematikkan dengan memutar kunci motor nya.


"Ada apa ini?" Mendongakkan kepala nya, Roy berpikir dengan memegangi dagu nya, namun seakan jawaban tersedia di sana.


Ya... Pemuda itu melihat Bella tengah berdiri di samping jendela.


"Oh dasar kang rusuh emang!" Menggebu Roy segera masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Bella.


"Roy? Kau sudah pulang nak?" tanya Mirza yang tengah menikmati hidangan makan siangnya.


"Sudah Ayah," sahut nya dengan terus melangkahkan kaki nya menunju lantai atas.


Mirza hanya melihat putra nya yang seperti terburu-buru menuju lantai dua dengan menggelengkan kepala nya.


Dilantai dua...


"Bella! Bella! Keluar lo!" teriak Roy dengan nafas yang memburu.


"Lo nyariin gue?" tanya Bella dengan bersedekap tubuh nya ia sandarkan di kusen pintu.


"Dasar gadis nakal! Lo kan yang udah ngilangin suara mesin motor gue?" tanya Roy dengan emosi yang memuncak.


"Hem?" Bella menaikkan salah satu alis nya.


"Udah deh ngaku aja!" Roy berjalan mendekati gadis itu.


"Iya, lagi pula suara nya jelek sangat tidak berkualitas, menganggu kenyamanan telinga bagi yang mendengarkan nya," ucap Bella dengan nada datar nya.


"Lo?! Sini lo!" Roy berjalan mendekati nya saking geram nya ia, namun Bella dengan cepat menghilang dari pandangan Roy.


Gadis itu kini tengah duduk di atas lemari "Bella, gue nggak main-main ya!" Memperingatkan gadis yang setiap kali di dekati nya pasti menghilang.


"BELLLAAAAAAAAAA!!!" Teriak Roy dengan emosi hang memuncak.


"Bella di sini Roy, kamu juga kenapa malah teriak-teriak, sini turun makan dulu!" Teriak Mirza dari meja makan nya.


Tak mau membantah ucapan ayah nya, Roy pun berjalan gontai dan duduk di hadapan ayah nya, seketika terperanjat ia ketika sebuah piring di depan nya di isi nasi oleh seseorang, Roy menatap gadis yang tengah melayani diri nya dan ayah nya di meja makan.


"Bella?" Lirih Roy dengan menatap tak percaya. Namun Bella hanya melemparkan lirikan dingin seperti biasa, tidak bermain-main seperti di lantai dua barusan.


"Iya Roy itu Bella, sejak tadi Bella bersama Ayah di sini, bahkan kau melewati nya kan tadi?" Ucap Mirza yang mendengar kata lirih yang di ucapkan putra semata wayang nya itu.


Berpikir keras, Roy berusaha menemukan teka-teki ini, saat ini ia melihat ke atas dimana diri nya kejar-kejaran dengan gadis nakal tadi dan benar saja di sana Roy melihat sosok Bella tengah tersenyum miring dengan menatap nya.


Bergidik ngeri Roy menggeser tubuh nya menjauh dari gadis yang ada di samping nya. Dengan cepat ia menyelesaikan makan siang itu.


Presetan soal motor, ia sudah lelah dengan semua nya, pemuda itu masuk ke dalam kamar dan mengunci nya, ia melepas hoodie dan juga T-shirt nya kemudian melempar nya ke atas sofa yang teronggok di kamar nya.


BRUK!!


Kembali kedua pakaian itu terlempar ke arah nya, seketika Roy melihat ke arah sofa dan di sana ada Bella yang duduk menyilangkan kaki nya.


Namun detik berikut nya Roy tak mendapati gadis itu, seperti orang linglung Roy mulai merebahkan tubuh nya, ia sudah lelah dengan Bella yang semalam, Bella yang pagi tadi, Bella yang siang ini, entahlah diri nya mulai lelah dengan gangguan Bella namun otak nya masih terBella-Bella...