The Guard

The Guard
(TG2) Jebakan



Hari-hari berlalu gadis cantik dengan sifat dingin yang menurun dari sifat ayah nya pun telah tumbuh dewasa dengan kemampuan yang tak kalah hebat dari ayah maupun abang nya. Untuk penampilan tetap kecantikan dari ibu nya yang melekat pada nya.


Ya Linabella Rajendra.



Gadis itu kini di tugaskan untuk menjadi wakil presdir, dan ya saat ini ia sudah memahami bagaimana siklus kehidupan orang dewasa bahkan ia sering kali memergoki adegan yang sama sekali diri nya belum mencoba nya, bagaimana mau mencoba pasangan saja tidak punya.


Gadis itu saat ini tengah duduk di sofa di dalam ruangan sang kakak, bagaikan seonggok balok es yang diam dingin tak bersuara jika tidak di ketuk, begitulah Bella dewasa.


"Lo nggak makan dek?" Tanya Gresta dengan masih fokus dengan berkas-berkas nya.


"Nggak," Datar dan singkat jawaban dari gadis cantik itu, berbeda dengan Gresta yang penyayang dan perhatian, Bella ini bisa di bilang lebih kejam dan tak berperasaan.


Drrrtttzzz...


Drrrtttzzz...


Drrrtttzzz...


Dering ponsel berhasil mencuri perhatian balok es cantik itu, di raih nya gawai tipis yang menurutnya sangat mengganggu itu.


Tertera nama *My Love* di dalam layar ponsel itu.


Sedikit menaikkan salah satu alis nya Bella memandang kakak nya yang masih sangat sibuk, "Kak Kila telfon!" Teriak Bella tanpa mengangkat panggilan itu.


"Angkat dek, tolong!" Sahut Gresta tanpa sedikit pun melihat Bella.


Tanpa pikir panjang gadis cantik itu menggeser tombol hijau yang ada pada layar ponsel nya.


📞"Aaaaaaaaaaaa... Toloooooooooonnnnngggg!!" Suara melengking dari sambungan telfon itu membuat Bella menjauhkan benda canggih itu dari telinga nya.


Sontak jari Bella menekan tombol merah, karena di rasa suara itu sangat mengganggu.


"Ada apa? Kenapa seperti nya Syaqila berteriak?" Kini Gresta berdiri dan melesat sampai ke di hadapan Bella.


"Iya, kemungkinan dia dalam bahaya!" Datar ucapan gadis itu tapi besar kemungkinan itu benar.


Tak mau berbasa-basi lagi kedua nya kini melesat menuju dimana Syaqila berada.


...🍒🍒🍒🍒...


Di tengah hutan di pinggir jurang, seorang gadis yang sangat cantik tengah di ikat tangan dan kaki nya, ia seolah akan di jatuhkan ke tebing yang sangat curam.


"Kak ku mohon kak, jangan lakukan ini" Memohon dengan berderai air mata Syaqila sungguh takut jika diri nya benar-benar akan berakhir hari ini juga.


"Gue bilang panggil dia! Lo bisa panggil dia kan!" Gertak laki-laki yang tak lain adalah Roy, si kakak kelas mesum yang sangat mengagumi lekuk tubuh Syaqila.


"Mau apa kakak dengan nya?!" Masih teringat dengan jelas hari itu Roy menusukkan belati yang membuat luka yang cukup dalam di lengan Gresta, membuat Syaqila bertambah takut dengan psychopath di hadapan nya ini.


"Lo cantik-cantik banyak bacot lo ya!" Geram Roy menggeledah tote bag yang jelas itu milik Syaqila, di keluarkan nya semua isi tas itu hingga berserakan.


Netra tajam Roy berbinar ketika ia mendapati benda canggih itu, di ambil nya kemudian di cari nya satu persatu kontak di sana, dan netra tajam itu mendapati kontak yang bernama *My Love*


Semirik terlihat di raut wajah Roy, seolah rencana nya berhasil.


"Ayah sudah menyiapkan semua nya?" Tanya Roy.


"Sudah cepat lah kapan dia akan datang?" Tanya laki-laki yang di panggil nya ayah.


Akhir nya Roy melayangkan sebuah panggilan ke nomor yang bernama *My Love*


Menunggu sedikit lama karena tak kunjung di angkat Roy hampir membanting gawai pipih itu.


"Angkat bodoh!" Teriak nya hingga ada tanda jika panggilan itu telah tersambung dan di respon oleh sasaran.


"Panggil dia!" Bisik Roy di samping telinga Syaqila.


Gadis itu hanya menggeleng, tak mau bersuara sedikit pun, namun dengan kelicikan otak nya, Roy menjambak rambut panjang Syaqila hingga akhir nya gadis itu berteriak.


"Aaaaaaaaaaaa... Toloooooooooonnnnngggg!!"


Teriak Syaqila yang merasakan kepala nya sakit dan sedikt perih.


Namun sambungan telepon itu tiba-tiba sudah terputus.


"Tidak berguna!" PRAK!!


Roy membanting gawai tipis itu hingga hancur tak berbentuk.


Syaqila tak berani protes, ia hanya berpikir bagaimana agar dirinya bisa lepas dari sarang buaya ini.


WHHHUUUUSSSSS!!!


Angin berhembus sangat kencang hingga menerbangkan dedaunan yang berguguran di sana.


"Lepaskan dia!" Gertak Gresta yang kini sudah tiba di tempat tujuan.


"Ayah sekarang!" Teriak Roy yang memberikan aba-aba kepada Ayah nya untuk menyerang kedua makhluk yang baru saja tiba itu.


Namun dengan ketangkasan Bella, gadis itu menyerang kaki laki-laki dewasa yang di panggil ayah oleh Roy hingga sekali tebas laki-laki itu ambruk di tanah.


Tak mau menunggu terlalu lama Bella berpindah dengan sangat cepat, kini gadis itu sudah berdiri di belakang Roy.


"Aku di sini tampan!" Bisik Bella, dan tatapan dingin itu menusuk indera penglihatan Roy ketika kedua netra itu bertemu.


Dengan cepat pula Roy berbalik dan menyerang Bella dengan belati andalan nya.


Berusaha terus menghindar gadis itu hampir kewalahan karena terlalu meremehkan lawan nya.


Sedangkan Gresta dengan cepat melepaskan Syaqila yang menjadi sandra, tak mau menempatkan kekasih nya di dalam masalah, Gresta segera membawa pergi kekasih hati nya.


Sedangkan Bella yang melihat kakak nya meninggalkan diri nya sedikit ia mengumpat, "Sialan, mentang-mentang sudah ketemu pacar!"


SRAT!!


"Kau lengah nona!" Ucap Roy yang berhasil mengoyak kemeja yang di kenakan Bella.


Tersenyum miring, gadis itu sedikit tertarik dengan kemampuan Roy yang tidak main-main.


Gadis setengah manusia itu menyingsingkan lengan kemeja panjang nya hingga ke siku dan di lihat nya kemeja yang sobek di bagian perut itu mengekspos kulit mulus nya yang seputih salju.


Roy kembali menyerang, namun kali ini Bella menangkis bahkan menyerang balik, hingga keduanya terlihat sangat serius dalam bertarung.


"Boleh juga skil mu hey tampan" Terdengar seperti pujian, namun karena raut wajah Bella yang datar dan dingin malah terdengar seperti ejekan.


"Cih... Kau mengejek ku?" Cibir Roy dengan maju dan berusaha menangkap tangan-tangan lincah Bella yang selalu berhasil menyerang juga menangkis serangan nya.


PLUK!!


Belati kecil itu terjatuh dan dengan gesit Bella menendang nya agar terbuang jauh, namun sial nya lengan kanan Bella malah tertangkap oleh tangan kekar Roy.


Di pelintir lah tangan mulus tapi lincah itu ke belakang punggung, hingga Bella membusungkan dada ya.


Terdiam sejenak bukan berarti Bella menyerah, saat dirasa Roy terkelabuhi oleh Bella yang mulai melemah gadis itu tiba-tiba membungkuk dan melakukan salto ke depan dan, BUGH!! Roy terjatuh, hingga merubah posisi kali ini Roy terlentang di tanah dengan lutut Bella yang menahan dada nya.


"Uhuk!! Hebat juga kau!" Senyum semirik terlukis di wajah Roy membuat Bella bergidik ngeri.


"Dah tawanan lo udah pergi, Gue pamit!" Datar dan dingin ucapan itu keluar dari mulut Bella dengan beranjak dari dada Roy.


Roy masih tak mau menyerah ia bangkit dan menarik lengan Bella yang tak ada persiapan, hingga tubuh gadis itu tertarik dan menabrak Roy dan CUP!!


Bibir kedua nya menyatu, terbelalak Bella syok mendapati first kiss nya ia berikan kepada laki-laki asing yang bahkan diri nya tidak tau siapa dia.


Roy yang memang sudah handal dalam bermain cinta dan backgroundnya memang ia laki-laki otak mesum yang sering bergonta ganti wanita, tak mau membuang kesempatan, di lum-at nya bibir manis beraroma mint segar itu dengan tangan yang menahan tengkuk Bella.


Bella memang gesit tapi tetap tenaga nya adalah tenaga gadis yang kalah jauh dari laki-laki.


Kedua lengan nya di tahan oleh tangan kekar Roy, dah sebelah tangan Roy meraba kulit perut Bella yang terekspos.


Ciuman yang awal nya lembut itu semakin kesini semakin menuntut, tak dapat di pungkiri Bella hampir terhanyut dengan permainan lidah Roy, namun ia segera ingat ketika tangan nakal Roy meremas benda bulat kenyal yang pas di telapak tangan besar nya.


DUGH!!!


"Aaarrrgghhh..." Teriak Roy dengan meringkuk di tanah karena Bella berhasil menendang aset berharga nya.


Tak mau membuang-buang waktu Bella segera pergi dari tempat itu.


...🍒🍒🍒🍒...


Malam hari di kediaman Arthur...


Keluarga bahagia itu tengah makan malam, namun tidak seperti biasa nya, Bella kini terlihat murung.


"Ada apa sayang?" Tanya Grace yang memperhatikan putri bungsu nya yang seperti terlihat sangat tidak baik-baik saja itu.


"Nggak nggak papa kok Mom" Ucap Bella pada hal dalam hati gadis balok es itu merasa jengkel dengan kejadian siang tadi.


...🍒🍒🍒🍒...


Di sisi lain...


Terlihat sang Casanova tengah duduk bersantai di ranjang kamar nya.


Malam ini tak seperti malam-malam biasa nya yang biasanya diri nya akan keluar dan club malam lah yang akan menjadi tujuan nya.


Tidak dengan malam ini, sungguh diri nya sedang tak bergairah untuk bermain dengan wanita-wanita malam nya.


Otak mesum itu kini tengah berfantasi liar dengan penemuan baru nya, ya gadis dingin yang baru saja siang tadi beradu mekanik dengan nya.


"Sungguh luar biasa, kemampuan nya sangat hebat, emosi nya juga tertata rapi dan tidak meledak-ledak, bahkan terlihat santai dan tak dapat di tebak" Roy bermonolog dengan mengingat pergulatan nya siang tadi yang berakhir dengan ciuman manis.


"Bahkan bibir nya sangat berbeda dengan gadis-gadis lain, hah... aku bisa gila...