The Guard

The Guard
Selalu Ada



Arthur telah selesai melakukan ritual nya yang ternyata berisi tentang kehidupan manusia.


"Kau siap kembali?" Tanya Akles.


"Siap ayahanda" Sahut pangeran tampan itu dengan mantap.


"Ingat jaga dia baik-baik, jika sampai dia jatuh ke pelukan orang lain, bukan hanya kau yang akan hancur, tapi batu permata yang bersemayam di dalam jari nya pun akan hancur juga menghancurkan hati nya" Pesan Irina kepada putra nya.


"Iya Ibunda" Sahut Arthur dengan menganggukkan kepala nya.


"Ingat juga pesan ayah, gunakan pesona mu untuk memikat nya" Itu lah ucapan Akles sebelum Arthur memberikan pelukan perpisahan kepada kedua orang tua nya.


"Ah!" Dengan memegangi dada nya Arthur merasa ada sesuatu yang terjadi pada Gracelina Janitra, gadis yang sangat ia sayangi.


"Kenapa sayang?" Tanya Irina khawatir.


"Grace dalam bahaya bunda, maaf Arthur harus segera pergi" Ucap Arthur dengan segera membentangkan sayap hitam nya dan menembus pagar pembatas.


Di dunia manusia...


"Kau mau apa Ca?" Ucap Grace yang mengira kalau Calista ingin mengakhiri hidup nya dengan melompat ke bawah.


"Jangan bodoh Ca!" Teriak Grace, namun ternyata Calista dengan kuat mendorong tubuh Grace hingga Grace terjun bebas dari atas gedung yang tinggi nya tujuh lantai itu.


"Aaaaaaaaaaaaa..." Suara Grace terdengar begitu menggema ketika gadis itu terjatuh dari ketinggian kurang lebih 30 meter.


"Ndra! Tolongin nona Grace, gue terbang ke pangeran!" Teriak Srikantil yang melihat tubuh Grace melayang menuju tanah.


Baru saja Nendra hendak melompat untuk menangkap tubuh sexy itu sudah lebih dulu Arthur dengan sayang indah nya mengepak dan menyambar tubuh sexy itu dan di bawa nya terbang langsung pulang.


"Kenapa nekat?" Tanya Arthur yang mengira Grace melakukan aksi loncat indah lagi seperti beberapa minggu yang lalu.


"Apa nya yang nekat?" Tanya Grace yang masih berpegang pada leher kokoh Arthur.


"Lalu tadi itu apa?" Tanya Arthur dengan melirik gadis yang menempel di dada nya itu.


"Kau tidak melihat nya? Aku di dorong!" Ketus Grace namun masih dengan memeluk Arthur, jujur wangi yang sangat di rindukan, rasa nyaman yang selalu meluluh lantahkan hati nya tak mampu mengalahkan keketusan suara yang keluar.


Dengan terus melangkahkan kaki panjang nya menaiki setiap anak tangga menuju kamar Grace, Arthur tak sedikit pun menunjukkan senyum manis yang semalam Grace dapati.


"Hah... aku yakin itu hanya mimpi" Mendengar gadis nya mendengus kesal Arthur melesat dan dengan cepat mereka sudah tiba di depan ranjang gadis yang tengah asik bergelayut manja di leher Arthur itu.


"Mau sampai kapan?" Tanya Arthur karena Grace masih memeluk erat leher nya bahkan kepala gadis itu masih asik mengusak di dada bidang yang keras namun menyebabkan rasa nyaman yang berlebihan.


"I... iya ini juga ma... mau turun kok!" Karena tercyduk nyaman di belahan dada Arthur Grace dengan raut wajah yang menahan malu segera melepaskan tangan nya dari leher kokoh yang setiap kali melihat nya ingin sekali memeluk.


Arthur merasa ada aura lain yang menempati hunian itu.


Makhluk tampan itu menghilang dari pandangan Grace.


"Hais... Hilang lagi, tanpa pamit pula" Gumam gadis itu, tak mau ambil pusing Grace pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan memulai ritual mandi nya.


Di ruang tengah Arthur muncul dengan tiba-tiba dan di sana ia mendapati seorang wanita tengah sibuk dengan perkakas dapur dan ketika ia melihat di luar ada seorang laki-laki yang sedang mengelap mobil pribadi milik Gracelina.


"Siapa mereka? Apa Grace menghubungi ART? Lalu? Apa kah dia sopir?" Pertanyaan itu membuat Arthur mengernyitkan dahi nya.


Dan betapa terkejut nya ia ketika ada beberapa hantu menunduk dan menyapa nya.


"Selamat datang pangeran" Ucap salam dengan hormat itu membuat Arthur bertambah bingung.


"Mau apa kalian?" Tanya Arthur dengan tatapan tak bersahabat nya.


"Maaf pangeran kita di sini, bekerja untuk nona Grace, kasihan dia jika harus mengurus rumah sebesar ini sendirian" Gumam salah satu makhluk astral itu.


"Sekarang aku sudah ada di sini! Pergilah!" Ucap Arthur dengan ketus.


"Ampun pangeran, di luar sana tidak senyaman di sini" Sahut makhluk itu.


"Kami berjanji tidak akan mengganggu nona Grace" Imbuh nya. Tak mau mendengar penjelasan mereka Arthur kembali melesat dan sasaran nya adalah kamar Grace.


Hanya handuk kecil yang menutupi dada sampai bawah aset berharga nya.


"Dy-na-na-na, na-na, na-na, ayy


Dy-na-na-na, na-na, na-na, ayy


Dy-na-na-na, na-na, na-na, ayy


Light it up like dynamite"


Terdengar bibir sexy itu tengah bersenandung dengan menggeyol-geyolkan pantat nya yang tertutup handuk separuh, dengan rambut basah yang terurai.


Sedikit berjinjit gadis itu mengulurkan tangan nya berusaha meraih bra yang ada di tumpukan paling atas.


Geram melihat tangan gadis di hadapan nya tak sampai-sampai, Arthur memegang pinggang Grace kanan dan kiri berniat akan mengangkat gadis itu namun karena Grace terkejut, gadis itu sontak membalikkan tubuh nya menghadap kebelakang dimana Arthur berdiri dengan memegang pinggang ramping itu.


"Aaaaaaaaa!!! mesum!!" Teriak Grace dengan kembali berbalik dan hendak melangkahkan kaki nya ke dalam kamar mandi, berniat menahan dan meraih lengan Grace, Arthur malah salah menarik handuk Grace sampai terlepas bahkan gadis itu terjatuh.


"Arthuuuuuuurrr!!!" Teriak gadis itu dengan menyilang kan kedua tangan nya di depan dada, kini tubuh mulus nya polos tanpa sehelai benang pun.


"Maaf" Ucap Arthur yang dengan segera menutupkan handuk kecil itu ke tubuh Grace.


"Keluar!" Lirih Grace dengan menundukkan wajah nya, gadis mana yang tak malu jika ada pemuda yang melihat diri nya polos tak berbusana.


Arthur segera membalikkan tubuh nya membelakangi Grace.


"Pakailah baju mu! Bukan kah aku sudah pernah berkata jika setiap lekuk tubuh mu aku sudah menghafal nya" Ucap Arthur dengan tubuh yang membelakangi gadis yang ternyata diam-diam meraih pakaian secara acak, dan dengan cepat mengenakan nya.


"Benarkah? kau yakin tidak akan tergoda untuk menyentuh nya bahkan melakukan yang lebih?" Tanya Grace dengan berkacak pinggang di belakang Arthur, makhluk tampan itu menolehkan kepala nya ke arah di mana Grace berdiri.


"Oh ya Tuhan kenapa dia bisa setampan ini?!" Batin Grace yang terpana melihat wajah Arthur yang baru saja kembali menatap nya.


"Berhenti mengagumi ketampanan ku Grace, jelaskan kepada ku kenapa mereka semua ada di dalam rumah mu?" Tanya Arthur dengan melangkahkan kaki nya mendekati gadis yang kini sudah cantik dengan kemeja panjang dan hotpants nya, ah ralat mungkin lebih tepat nya bukan cantik tapi sexy menggoda.


Kemeja putih tipis di padukan dengan hotpants berwarna hitam, dan tanpa bra soal nya nggak nyampe tangan nya untuk meraih ke lemari paling atas.


Sesaat setelah memandang Grace Arthur merasakan debaran yang aneh di dalam dada nya telinga nya terasa panas seakan memerah rasa nya.


"Maaf aku memanfaatkan batu permata mu untuk mengendalikan mereka" Sahut Grace dengan tertunduk, ada sedikit rasa takut ketika menggunakan barang milik orang lain tanpa ijin.


"Tapi, semua ku lakukan karena aku takut jika mereka melakukan sesuatu yang membahayakan nyawaku" Imbuh nya ketika tak mendapati sahutan dari makhluk tampan di depan nya.


"Kau marah? Ini aku kembalikan, aku sudah tidak membutuhkan nya lagi" Gadis itu mengulurkan tangan kanan nya, Arthur melihat nya kemudian meraih tangan yang terulur pada nya itu.


Ada rasa sakit di hati Grace ketika mendapati makhluk tampan itu meraih tangan nya, ia pikir Arthur akan mengambil kembali batu permata itu.


CUP!!


Mata Grace membulat sempurna ketika mendapati Arthur mengecup punggung tanganan nya.


"A... Arthur apa yang kau lakukan?" Tanya Grace tanpa sedikit pun ia menarik tangan nya dari bibir yang tengah mengecup.


"Dia sudah menemukan tempat yang cocok" Ucap Arthur dengan melirik ke arah Grace, mendapati perlakuan manis dari makhluk setampan Arthur pipi gadis mu memerah seperti buah tomat yang siap panen.


Dengan melangkahkan kaki nya Arthur perlahan memangkas jarak antara diri nya dan gadis di hadapan nya itu.


"Mereka tunduk pada mu karena mereka sudah mengakui mu, bukan salah mu jika kau menggunakan barang yang memang seharusnya jadi milik mu" Deep voice itu terasa menggetarkan hati Grace, entah kenapa rasa nya seperi mendapat kejutan yang membahagiakan.


"Permata ini tidak akan sembarangan melekat, ia memilih siapa yang akan menjadi pemilik nya" Imbuh nya dengan tangan yang menarik pinggang gadis yang masih terpaku memandang nya.


Netra indah Grace seakan terhipnotis oleh ketampanan Arthur sehingga mulut nya kelu tak dapat sepatah kata pun keluar dari sana.


Sebelah tangan Arthur membelai wajah Ayu yang masih terdiam memandangi nya, dengan lembut Arthur mengusap bibir berwarna pink nude itu dengan ibu jari nya kemudian perlahan ia menundukkan wajah nya berniat untuk menyatukan kedua benda manis nan kenyal itu.


"PLAK!!!...


Jangan lupa dukung karya ini ya dengan memberi vote, like, komentar dan dukungan yang lain nya, sehat-sehat para reader ku, see you...