
BRUGH!!
Bella mendaratkan sebuah bogem tepat di wajah Roy yang dalam kondisi setengah sadar karena di pengaruhi minuman keras itu.
Samar-samar Roy memandang wajah orang yang baru saja menghajar nya, "Bella?" Lirih nya.
"Masih keliatan juga wajah gue?" ketus Bella menyahuti nya.
"Lo ngapain di sini?" dengan suara khas orang mabuk, Roy menunjuk wajah Bella.
"Pulang!" ketus Bella dengan mencengkeram jaket Roy dan di seretnya laki-laki itu keluar dari ruangan yang penuh suara bising juga lampu kerlap-kerlip itu.
Di pinggir jalan, Roy menepis tangan Bella, "Lepasin jaket gue!" sentak nya dengan tubuh yang sempoyongan.
Tanpa basa-basi Bella membawa Roy berteleportasi, SSSHHHHLLLLAAAAPPP!!
Kini kedua nya sudah sampai di kediaman Mirza, ya tepat nya di dalam kamar Roy.
Roy menyipitkan netra nya, melihat keseluruh ruangan yang tak asing di indera penglihatan nya.
"Oh ini rumah gue? Hemmm... ok jadi lo pulang sana, ngapain masih berdiri di situ?" Oceh Roy dengan menghempaskan tubuhnya di atas permukaan ranjang empuknya.
Bella masih terdiam, gadis itu hanya memandang Roy yang terlihat sangat kacau.
Bella mendekati Roy yang terlihat sudah memejamkan mata nya, di lepasnya sepatu Roy dari kakinya, di tata sedemikian nyaman agar laki-laki itu bisa tidur nyenyak, tak lupa Bella menarik selimut untuk menutupi tubuh Roy yang berbau alcohol itu.
Baru saja gadis itu membalikkan tubuh nya tiba-tiba Roy menahan lengan gadis itu, "Jangan pergi!" lirih Roy mengigau.
"Bella gue beneran nggak bisa buang lo dari otak gue, gue mohon jangan pergi." ucapan dengan suara khas orang mengigau itu membuat Bella sedikit mengulum senyum di bibirnya.
Perlahan Bella melepaskan tangan yang menahan lengan nya itu, kemudian ia berteleportasi.
SSSHHHLLLLAAAAPPP!!!
Kini gadis gunung es itu sudah berada di dalam kamar nya, masih dengan bayangan Roy yang mengigau barusan Bella masih tersenyum.
"Hadeh... mungkin aku mulai gila." Gumam nya dengan membaringkan tubuh nya di atas permukaan kasur empuk yang nyaman.
...❄❄❄❄...
Waktu terus berlalu, bahkan jarum jam tak mau berhenti barang sedetik saja, sudah tiba waktu nya, dimana Gresta hendak mengesahkan hubungannya dengan gadis pujaan hati nya
Tepat di hari ini juga Baby Jeryu sudah memasuki masa kanak-kanak nya, sedang comel-comel nya.
Kita beralih ke dalam ruang rias, di sana terlihat Syaqila dengan gaun putih yang indah tengah di hias dengan pernak-pernik oleh MUA yang handal.
Memang terlihat sat set tapi tetap berbau seni semua yang mereka kerjakan penuh dengan perhitungan juga pertimbangan, bagaimana tidak, ini adalah acara pernikahan yang mana ingin hanya dilakukan sekali dalma seumur hidup maka haruslah istimewa dan perfect.
Sedangkan di ruangan lain terlihat Bella dengan gaun berwarna hitam dengan paduan renda-renda gold tengah berdiri dengan mengawasi setiap pergerakkan para pelayan maupun WO ( Wedding Organizer) yang tengah menata, menyiapkan semua keperluan di hunian mewah itu.
"Bella, sayang, coba kamu lihat kakak kamu sudah siap atau belum, kalau sudah maka suruh dia untuk segera turun!" perintah Grace atau Mommy dari Gresta.
"Iya Mom." menganggukkan kepala Bella segera melesat ke lantai atas dimana kakaknya berada.
Ya... Di dalam hunian mewah itu berisi manusia pilihan juga beberapa makhluk astral, maka mereka bekerja dengan kemampuan yang diluar nalar manusia biasa, ada buket bunga terbang kesana kemari bahkan kain dekorasi berterbangan menuju tempat dimana kain itu akan terpasang.
Tok... Tok... Tok...
"Kakak?" panggil Bella setelah mengetuk pintu kamar itu.
"Iya dek, sebentar." ucap Gresta dari balik pintu yang masih tertutup.
CEKLEK!!
Tak butuh waktu lama pintu kamar itu terbuka dan keluarlah Gresta dari dalam kamar itu.
"Ok." sahut Gresta, keduanya pun melesat menemui Mommy tercinta nya.
...🍒🍒🍒🍒...
Aldy dan Kinanthi berjalan beriringan, setelah menemui Arthur dan Grace selaku tuan rumah di dalam hunian mewah itu, Aldy dan Kinanthi segera menuju ruangan dimana putri cantik nya tengah di dandani.
"Kila? Sayang?" Panggil Aldy ketika ia sudah sampai di ambang pintu masuk, tanpa memperdulikan sang MUA yang sibuk membenahi make up dan juga hiasan yang ada, Syaqila berdiri dan berlari mendekati Aldy selaku wali nikah dan juga Ayah biologis nya.
"Papa!" lirih gadis itu dengan memeluk tubuh sang ayah.
"Hey hey hey... Jangan menangis sayang, inikan hari bahagia mu." ucap Aldy dengan memeluk putri tunggalnya itu.
"Bukan menangis Pah, Kila cuma masih nggak percaya aja hari ini sudah tiba waktu nya." jelas Syaqila kalau diri nya bukan menangis bersedih.
"Iya Papa tau, ya sudah kembalilah ke sana, biar mereka menyelesaikan tugasnya." ucap Aldy dengan mengelus pucuk kepala Syaqila.
Gadis itu hanya menganggukkan kepala nya, dan kembali duduk di meja rias.
...🍒🍒🍒🍒...
Waktu yang di tunggu-tunggu pun tlah tiba, kini Argresta Rajendra tengah berdiri di atas pelaminan, ia tampan dengan tuxedo berwarna hitam nya, berdiri menunggu kedatangan mempelai wanita yang kini tengah berjalan dengan di gandeng oleh sang ayah.
Ya... Syaqila cantik dengan gaun berwarna putih nya, gadis itu sedikit gugup walau pun ada Aldy yang mendampingi nya.
Aldy menyerahkan Syaqila, putri satu-satu nya itu kepada Gresta sang calon mantu idaman itu.
Dengan senyum tampannya Gresta mengulurkan tangan yang segera di sambut oleh jemari lentik Syaqila.
Kini terlihat keduanya tengah mengucap janji suci bersama, sehat, sakit bersama, di kala suka maupun duka tak akan ada sedikit pun lara yang akan memisahkan, biarlah maut dan takdir yang berbicara, menua bersama.
Setelah selesai, kini acara inti telah tiba, ya itu melempar buket bunga, semua muda mudi dengan keantusiasan nya tengah berdiri di depan panggung pelaminan.
Banyak sekali dari mereka yang berharap dapat menangkap bunga yang di lempar oleh sang pengantin baru itu.
1...2...3 WHUT!!!
TAP!!
Buket bunga itu terlempar melambung tinggi kemudian jatuh di tangan seorang pria dan dengan sangat kebetulan pria itu menangkao nya tepat di hadapan Bella yang tengah berjalan akan mendekati Grace.
"Will you marry me?" ucap pemuda tampan dengan tuxedo hitam menawan.
Memerah wajah Bella kala mendapati siapa yang kini berdiri menghentikan langkah nya.
Ya... Roy kini yang berhasil menangkap bunga pengantin itu dan menyerahkan nya kepada Bella, si gadis gunung es yang selalu mengusik hati dan otak nya akhir-akhir ini.
"Terima, Terima, Terima..." teriak para tamu undangan yang menyaksikan adegan sweet yang kebetulan itu.
Menyambut serta meraih buket bunga yang terulur pada nya, Bella dengan senyum langka nya, menganggukkan kepala.
Semua bersorak bahagia.
Bahagia keluarga besar Arthur dan Grace, mereka semua menikmati perjamuan di hunian mewah bak istana itu.
Hidup bahagia dengan pasangan dan keluarga mereka, menyelesaikan masalah bersama tanpa ada sedikitpun yang tersisa.
...*Begitulah keluarga yang bahagia*...
...~THE END~...
Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir juga setia membaca novel saya yang berjudul THE GUARD ini, mohon maaf jika ada adegan atau alur yang kurang berkenan di hati para reader tercinta, othor ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya sudah menyemangati serta mengiringi setiap up date nya novel yang sejujurnya penuh dengan drama ini, juga maafkan karena masih banyak typo, tak mau banyak-banyak ngetik lagi, othor hanya berharap semoga para reader di berikan kesehatan agar dapat terus menikmati novel-novel Anggi Marlinda yang lain.
See You in the next Novel, bay bay 🥰🥰🥰