
Lina merasa kelu pada lidah nya sampai ia tergagap hanya untuk menjawab kondisi tubuh nya yang di pertanyakan oleh Mikko.
"Badan mu panas, sebentar aku ambilkan paracetamol" Mikko segera beranjak dari tempat duduk nya dan gadis itu menganggukkan kepala nya pelan, Lina menutup wajah nya setelah Mikko meninggalkan diri nya, ingin sekali gadis itu terbang karena merasa bahagia sudah di notice sama kakak senior idaman nya.
Ditengah-tengah senyum-senyum tidak jelas nya, Ayu dan Jerik masuk ke dalam ruang tengah dan mendapati raut wajah Lina yang tidak seperti biasa nya.
"Lo kenapa bestie? Kok kaya yang bahagia banget gitu?" Ayu duduk di samping Lina dan di susul Jerik yang juga menghempaskan bokong nya di permukaan sofa di samping Ayu.
"Sini gue bisikin" Lina merangkul pundak Ayu dan membisik kan sesuatu.
Mata Ayu terbelalak, "Are you sure?"
"Iya, tadi dia tempelin tangan nya di kening gue" Sahut Lina masih dengan senyum-senyum gemas nya.
"Tapi Lin, setau gue kak Mikko itu respek nya sama Grace kan?" Kali ini ucapan Ayu meredupkan senyum yang di kembangkan Lina sejak tadi.
"Iya kan Yank?" Ayu memastikan dan menoleh ke arah Jerik yang ada di samping nya.
"Lo suka sama Mikko?" Tanya Jerik, dan tanpa sepengetahuan mereka Mikko tengah berdiri dengan membawa kotak P3K.
Lina terlihat mengulum senyum malu-malu nya, ada rasa yang mungkin selama ini ia sembunyikan.
"Tapi Yuk, nggak mungkin buat kak Mikko bersatu sama Grace kan? Kak Mikko orang baik, jadi nggak mungkin jadi pebinor kan?" Ucap Lina dengan suara lirih nya.
"Terus lo mau masuk ke dalam hati orang yang baru saja menyerah dengan cinta nya? Lo nggak takut kalau lo cuma di jadikan pelampiasan?" Tanya Ayu dengan nada serius nya.
"Yank! Mikko nggak kayak gitu kok!" Jerik menyentuh pundak Ayu.
"Tapi Je! Yang nama nya orang lagi sakit hati, belum tentu dia tulus buat menerima orang baru, apa lagi untuk dia masukkan di dalam hati nya, ya sukur-sukur bisa kaya pepatah jawa WITING TRESNO JALARAN SOKO KULINO lah kalau cuma buat nutup luka doang terus habis manis sepah dibuang, gimana nasib sahabat gue?" Cerocos Ayu yang masih dengan setia Mikko berdiri dengan mendengar ocehan Ayu juga melihat bagaimana reaksi Lina.
"Nggak kok Yuk, gue tulus sama kak Mikko, gue nggak tega aja kalau dia sampai patah hati atau pun sakit hati, gue rela kok, asal dia bisa bahagia aja" Sahut Lina dengan senyum kecut nya, kata-kata yang baru saja Ayu ucapkan mampu menembus relung hati Lina dan menciptakan kebimbangan namun lagi-lagi kekuatan cinta tulus nya mampu mendorong mulut nya untuk mengucapkan kata-kata yang di anggap Ayu bodoh.
"Bego lo Lin! Ternyata bestie gue udah di buta kan dengan cinta ya?" Sarkas Ayu dengan tatapan tak suka nya.
"Yuk! nggak boleh gitu dong! diakan sahabat kamu!" Jerik berusaha menegur Ayu yang menurut nya sudah keterlaluan.
"Tapi Je! Dia ini sahabat gue! Gue gini juga karena gue nggak mau kalau sampai sahabat gue di sakitin sama cowok! Gue nggak mau Je!" Masih dengan ngotot Ayu menjawab teguran Jerik.
"Iya sayang aku tau tapi... "
"Misi dong, gue mau kasih obat buat Lina" Sela Mikko yang langsung menyerobot tempat duduk Ayu.
"Adudududuh!!" Karena di dorong oleh Mikko tubuh Ayu ambruk ke arah Jerik.
"Mikko, jangan kasar dong!" Ucap Jerik dengan menopang tubuh Ayu.
Tapi Mikko tak menghiraukan sedikit pun ocehan Jerik, ia malah dengan santai nya duduk di samping Lina.
"Ini minum obat nya" Ucap Mikko yang membuat Lina semakin tersipu malu.
"Loh? Lina sakit?" Tanya Grace yang berjalan mendekati Lina sedangkan Arthur mengekor di belakang nya.
Mikko yang menunjukkan sorot mata ketidak sukaan nya segera memalingkan wajah nya dan menatap Lina yang ada di samping nya.
"Badan Lina panas, kalian ini bagaimana? Sahabat tapi kok nggak paham kesehatan salah satu sahabatnya" Ucap Mikko dengan nada ketus nya.
"Lin! Lo sakit?" Ucap Ayu dan Grace bersamaan.
"Ng... Nggak kok gue nggak sakit" Ucap Lina tergagap, dan lagi-lagi Mikko menempelkan telapak tangan nya di dahi Lina dan itu membuat Lina semakin deg-degan tak karuan.
Jerik dan Arthur yang dapat mendengar kan nya sedikit menahan senyumnya.
PLAK!! Tangan ringan Ayu mendarat di bahu Jerik dengan sedikit bertenaga.
"Aduh Yank! Sakit!" Keluh Jerik.
"Sukurin! Makanya jangan suka buka kartu teman dong!" Cecar Ayu.
Jerik mengerucutkan bibir nya sedangkan Grace menggelengkan kepala nya, kemudian ia berjalan menuju kamar nya.
"Oi pasutri! baru juga jam segini udah mau ngamar aja!" Celetuk Jerik yang tak disadarinya kalau ucapan nya barusan menyentil hati Mikko.
Grace menoleh ke arah Jerik "Bacot!" Ketus nya.
Arthur segera meraih kepala Grace agar menoleh ke depan dan dengan cepat mengajaknya melanjutkan langkah nya menuju kamar.
Fino menggendong Fani kembaran nya dan di bawa nya ke kamar Fani dan Sarah di gendong oleh Ferdi mereka menempati kamar yang paling luas untuk mereka tidurkan para gadis-gadis yang kurang sehat itu di ranjang yang sama kemudian Ferdi dan Fino menunggu nya dengan duduk di sofa yang tersedia.
Melihat kedua teman nya yang kurang sehat sudah di pindahkan di kamar, Ayu segera berdiri dan menyusul nya, walau pun sudah ada Fino Ayu tetap ikut andil mengurus Fani dan Sarah.
Tentu saja Jerik mengekor di belakang Ayu yang sudah lebih dulu melangkahkan kaki nya menuju kamar.
Namun berbeda dengan Lina, ia baru saja beranjak dari duduk nya namun Mikko menahan lengan nya, "Mau kemana?"
"Hah? Itu... teman-teman yang lain sudah itu..."
"Duduk!" Ucap Mikko dengan halus nya.
Sontak Lina kembali menghempaskan pantat nya di permukaan sofa yang halus.
Masih menundukkan wajah nya Lina tak berani sedikit pun melihat Mikko.
"Lo suka sama Gue" Ucap Mikko kemudian, dan itu membuat jantung Lina berdebar.
"Ah it... "
"Tapi ternyata gue suka sama gadis lain"
BLEDARRRR!!!
Bagai di sambar petir di siang bolong, sejenak lutut Lina melemas, untung saja posisi nya duduk.
"Gimana tanggapan lo?" Tanya Mikko yang ternyata hanya ingin bertanya, dan Lina lah yang ia jadi kan sampel nya.
"Ya kalau menurut aku, cinta memang ingin selalu memiliki, namun cinta tak harus memiliki, ketika kita sudah mencintai dan tingkat kecintaan kita sudah diluar batas wajar, maka di situlah muncul rasa tulus" Jelas Lina yang membuat Mikko kagum dengan gadis di hadapan nya itu.
Tanpa basa basi, Mikko merengkuh tubuh Lina dan dipeluk nya tubuh gadis di hadapan nya dengan sangat erat.
Lina tertegun, terdiam ia mendapati pelukan dari seorang laki-laki yang selama ini ia kagumi.
Namun Lina mendengar isak tangis Mikko di atas pundak nya, Bukan melerai dan bertanya, Lina malah terlihat mengelus rambut Mikko yang halus dan lembut.
Kedua nya merasa nyaman di dalam pelukan, "Lin, gue boleh tanya nggak?" Tanya Mikko dengan raut wajah sendu nya.
"Tanya apa?" Jawab Lina
"Bisa nggak lo kasih gue satu aja kesempatan?"
"Apa?!...
Maaf guys telat up di karenakan signal tiba-tiba hilang sedari pagi 🙏 see you di bab selanjut nya...