The Guard

The Guard
Bertemu



Jerik mengejar Arthur, setiba nya mereka berdua di dalam ruang operasi ada banyak perawat dan suster yang sedang mengemasi barang-barang nya.


"Maaf bisakah kalian semua keluar, tuan ini ingin menemui istri nya" Ucap Jerik dengan bahasa sopan nya.


"Iya dokter" Sahut semua rekan kerja Jerik, setelah semua perawat dan juga suster keluar, Arthur perlahan melangkah kan kaki nya mendekati sosok wanita yang selalu menempati rating tertinggi di hati nya setelah sang ibunda tercinta.


Wajah yang biasa ceria ketika menatap diri nya, bibir yang selalu mengomel dan juga tersenyum setiap hari nya, bahkan tubuh yang tak mengenal lelah demi orang yang di sayangi nya, kini tak ada pergerakan sedikit pun dari nya.


Sunyi sepi bahkan seolah waktu berhanti tak mau membantu untuk kembali ke beberapa jam sebelum ini.


Penyesalan seorang Arthur membuat diri nya luruh di lantai di samping ranjang operasi.


Tak mampu berkata-kata, kenapa orang yang di sayangi nya harus terluka bahkan putra satu-satu nya pun belum ketemu setelah sekian lama menghilang.


TOK TOK TOK...


Lamunan penyesalan kini terganggu oleh suara pintu yang di ketuk, Arthur dan Jerik spontan melihat ke arah pintu dan dari sana Jerik melihat ada Angel Chrisa yang menyusul nya.


"Angel Chrisa?" Gumam Jerik yang membuat Arthur juga menggunakan mata tembus pandang nya.


"Ada apa? Kenapa dia turun ke dunia manusia? Apakah sudah mulai mencari separuh jiwa nya yang hilang?" Pertanyaan beruntun itu terucap dengan kaki yang beranjak dari duduk nya.


"Entahlah, biar ku temui kau temani Grace di sini" Ucap Jerik dengan mulai melangkahkan kaki nya keluar dari ruang operasi.


Arthur kembali ke sisi ranjang Grace, ia terlihat seperti membaca mantra kemudian keluar sinar biru dari telapak tangan nya dan ia arahkan sinar itu ke kepala istri tercinta nya.


Ssssshhhhh...


Setelah cukup lama, akhir nya Grace membuka mata nya, ia merasa ada yang memegang kening nya.


"Ar... thur... " Gumam nya dengan sangat lirih bahkan hanya gerak bibir nya yang terlihat jelas, suara Grace seolah sangat lemah.


"Iya sayang aku di sini" Ucap Arthur dengan menggenggam tangan Gracelina.


Kedipan mata Grace terlihat lemah, "Gresta... "


"Ssstttt kau harus memulihkan tenaga mu terlebih dahulu, Angel Chrisa sudah di depan, aku yakin dia akan segera menemukan separuh jiwa nya juga putra kita" Sela Arthur dengan mengusap pelan kepala Grace dan mendapatkan senyum tipis dari balik bibir pucat itu.


"Aku percaya pada mu" Lirih Grace dengan senyuman nya, mendengar kepercayaan dari Grace malah membuat Arthur semakin tersakiti.


"Apakah masih pantas aku mendapatkan kepercayaan mu? Sedangkan aku saja tidak mampu menemukan dimana putra kita" Batin Arthur yang segera mengecup kening istri tercintanya.


...🍒🍒🍒🍒...


Di luar ruang operasi Jerik menatap intens Angel Chrisa yang terlihat lebih bugar dari sebelum nya.


"Kau... Sudah utuh?" Dengan memicingkan mata nya dokter tampan itu seperti mengoreksi kekurangan makhluk rupawan serba putih itu.


"Ya pangeran sa... "


"Sssstttttt don't call me pangeran! Ini dunia manusia woy!" Sela Jerik dengan mendorong tubuh Angel Chrisa sampai terpentok di dinding bahkan jari telunjuk nya ia tempelkan di bibir makhluk putih itu.


"Ekhem-ekhem... Ya ampun dokter, ini masih di tempat umum kali dok, cari tempat sepi kek atau gimana" Goda seorang perawat laki-laki yang tak sengaja melintas di samping mereka.


"Iiiihh dokter suka nya yang putih glowing ya? Duh apalah diri ku yang sudah terlanjur exotic?" Timpal seorang gadis dengan pakaian suster melekat di tubuh nya.


Jerik melepaskan Angel Chrisa dan mundur satu langkah.


"Ekhem... kembali ke pekerjaan kalian!" Sifat dingin itu membuat para perawat dan juga suster yang mengagumi Jerik segera bubar.


Kembali fokus pada Angel Chrisa, "Panggil saya dokter!" Dengan tatapan tajam nya.


"Baik pa, Dokter" Sahut Angel Chrisa masih dengan tatapan bingung, karena separuh jiwa nya baru menyadari begitu populernya pangeran kedua di rumah sakit manusia, tapi sangat bandel jika di kerajaan atas awan.


Pandangan Jerik beralih pada anak kecil yang sedari tadi menggenggam tangan Angel Chrisa.


"Siapa dia?" Tanya Jerik dengan melirik Gresta yang masih berdiam diri.


"Apa? Gresta?" Ucap Arthur yang baru saja keluar dari balik pintu ruang operasi.


Angel Chrisa menganggukkan kepala nya, Arthur mengernyit dengan tatapan sendu, ia melangkah kan kaki nya mendekati bocah tampan yang sedikit mirip dengan nya bahkan mata dan bulu mata nya seperti milik Gracelina.


"Gresta?" Lirih nya dengan berlutut menyamakan tinggi badan nya dengan anak kecil di hadapan nya itu.


Gresta hanya mengedipkan mata nya beberapa kali dan tangan nya masih menggenggam jari telunjuk Angel Chrisa.


"Kau Gresta Rajendra?" Satu bulir bening tak tau malu keluar dari pelupuk mata Arthur, yang segera di seka oleh tangan mungil yang ada di hadapan nya.


"Jangan menangis, bibi Chrisa bilang laki-laki harus kuat" Oceh bocah tampan itu dengan jemari mungil yang masih melekat di pipi Arthur.


"Em... " Sahut Arthur dengan menganggukkan kepala nya.


Gresta menengadahkan wajahnya memandang bibi tersayang meminta penjelasan.


Seolah mengerti yang Gresta tanyakan tanpa bersuara, Chrisa sedikit menunduk dan mengusap pipi Gresta.


"Ya... Dia Daddy mu, Daddy Arthur yang selama ini kau kagumi dalam cerita ku" Ucap Chrisa.


Kembali Gresta memandang ke arah Arthur yang ada di depan nya, "Bibi Chrisa bilang, Daddy kuat, tapi kenapa dia menangis?" Tanya Gresta dengan polos nya.


"Karena Daddy sangat merindukan mu sayang" Jelas Chrisa.


"Daddy rindu Gresta?" Tanya nya dengan mata yang cerah membulat.


"Iya sayang, bolehkah Daddy memeluk mu?" Tanya Arthur dengan derai air mata haru yang lagi-lagi menetes tak tau malu.


"Emhem... Boleh" Gresta merentangkan tangan nya dan memeluk Arthur yang ada di hadapan nya.


Sementara Arthur menanyakan keadaan putra nya, dan Gresta dengan bangga nya bercerita kalau diri nya di besarkan oleh mama Kinan yang sangat menyayangi nya dan bibi Chrisa yang hebat seperti pesulap.


Jerik dan beberapa perawat memindahkan Grace ke ruang rawat inap dengan pelayanan VIP suite room.


"Je?" Lirih Grace ketika mereka sudah sampai di kamar rawat inap itu.


"Iya Grace ada apa?" Kali ini Jerik berucap sedikit lembut kepada kakak ipar nya.


"Arthur dimana?" Tanya nya yang tak sedikit pun melihat suami tampannya itu hadir di sana.


"Kakak, dia di luar, sebentar ku panggilkan" Ucap Jerik seraya melangkahkan kaki nya menuju pintu keluar.


Tak lama kemudian Arthur terlihat muncul dari balik pintu namun dia tidak sendiri, ada Angel Chrisa di belakang nya serta menggandeng bocah tampan yang kemarin bertemu dengan nya di depan yayasan.


"Hay, kamu datang lagi ke sekolah hari ini?" Tanya Grace basa basi kepada anak kecil itu.


"Kau tidak datang ke sekolah ternyata kau sakit?" Oceh bocah tampan itu dengan berjalan mendekati Grace yang masih menggunakan selang infus juga selang oksigen.


"Oh sayang, ganteng nya Miss, nggak boleh nangis dong, Miss cuma kecapekan sayang nanti juga sembuh" Ucap Grace ketika melihat bulir bening yang cukup memenuhi kelopak mata Gresta.


"Cepatlah sembuh" Ucap Gresta yang tak mampu lagi menahan air mata yang meluncur di pipi nya.


"Hey hey hey, don't cry baby, anak tampan jangan menangis" Lirih Grace dengan nada yang sangat lemah, karena baru saja ia sadar.


Beralih Grace menatap Arthur dan Angel Chrisa yang hanya berdiri diam di belakang bocah tampan itu.


"Kalian ini kenapa? Kok pada diam?" Tanya Grace dengan wajah pucat nya.


Kebungkaman keduanya menarik rasa ingin tau Grace, pasal nya Arthur selalu berusaha membangkitkan semangat nya kenapa kali ini terdiam.


Dan juga Angel Chrisa yang pasti akan menyampaikan bagaimana ia akan mencari belahan jiwa nya, dan segera menemukan putra nya malah terlihat menampilkan ekspresi haru.


Sungguh itu membuat Grace bingung...