The Guard

The Guard
Godaan Gadis Lain



Di kampus Grace berjalan menunju kelas nya namun langkah nya terhenti ketika seseorang memanggilnya.


"Gracelina!" Teriak seseorang dari arah belakang, sontak Grace berhenti dan menoleh.


Gracelina Janitra.



"Iya kak Mikko? Ada apa?" Sahut Grace dengan menunggu Mikko yang tengah berlari ke arah nya.


"Gimana? Jadi ikut ke puncak kan?" Tanya Miko dengan nafas yang ngos-ngosan karena berlari mengejar Grace.


"Em... Gimana ya?"


"Ayu sama Lina ikutan loh, rencana kita nginep di sana tiga hari dua malam" Sela Mikko yang berharap kalau Grace mau ikut acara menginap nya. Mereka berdua berbincang dengan berjalan perlahan menuju kelas .


"Kapan berangkat nya?" Tanya Grace yang mulai tertarik.


"Rencana sih ntar sore sepulang ngampus, ntar ngumpul di rumah gue" Jelas Mikko dengan senyum ramah nya.


Awal nya Grace masih memikirkan, apa Arthur akan mengizinkan nya, lalu ia berpikir memang seminggu ke depan tidak ada kelas dan ia akan menghabiskan hari nya dengan suami tampan nya.


"Em... maaf ya kak, kayak nya aku nggak bisa ikut deh" Ucap Grace, dan di sana terlihat raut kecewa Mikko.


"Yah ya udah deh, tapi ntar kalau lo berubah pikiran hubungi gue ya!" Ucap Mikko dengan mengedip kan salah satu mata nya.


"He'em pasti!" Sahut Grace sebelum Mikko melangkah lebih cepat dan meninggalkan Grace yang sudah sampai di depan pintu kelas nya.


Kelas Grace dimulai dan di sana ada jam mata pelajaran Arthur, sebelum dosen tampan itu masuk se isi kelas gaduh membicarakan nya.


"Eh ya ampun nanti jam nya pak ganteng ya? duuuuuuhhh harus keliahan cantik nih" Seorang mahasiswi mengeluarkan bedak dan mengenakkan nya.


"Astaga! Siap-siap mental nih, jangan sampai kena hukuman seperti kemarin-kemarin" Gumam mahasiswa yang pernah kena hukuman.


"Grace, lo kok santai-santai aja sih?" Tanya seorang laki-laki yang duduk di samping Grace.


"Hah? lah emang gue harus gimana Ji?" Grace bertanya kepada laki-laki itu yang tak lain bernama Aji.


"Itu lihat aja mereka pada heboh mempersiapkan kecantikan nya, tapi padahal mah pak Arthur nggak pernah mandang mereka" Ucap Aji.


"Hehehe... Sok tau lo Ji!" Sahut Grace dengan gelak tawa nya.


"Iya tau Grace, pak dosen itu kayak nya udah ada pawang nya orang dah kaya nggak minat gitu sama ciwi-ciwi yang centil-centil itu" Ucap Aji yang mode gosip nya sudah on.


"Haish kau ini!" Sahut Grace masih dengan tertawa.


"Ekhem-ekhem!! Pagi semua!" Suara berat itu terdengar di depan, dan ternyata saat ini Arthur tengah memandang ke arah Grace yang sedang cekikak-cekikik dengan Aji.


"Pagi Mr. " Sahut semua nya.


"Yang di belakang!" Teriak Arthur masih dengan tatapan dingin nya. "Ya pak!" Teriak Grace dan Aji bersamaan.


"Mampus gue! Lo kok nggak bilang kalau pak dosen udah dateng sih!!" Bisik Aji.


"Ya mana Gue tau!" Sahut Grace dengan berbisik juga.


"Sudah siap menerima mata pelajaran dari saya, atau mau keluar saja melanjutkan kegiatan kalian!" Arthur melipat kedua tangan nya di depan dada dengan pandangan masih tertuju pada Grace dan Aji.


"Si... siap pak!" Sahut Aji sedikit tergagap.


Arthur pun memulai mata pelajaran nya dan tak ada satu pun mahasiswa atau pun mahasiswi yang bersuara ketika diri nya tengah menjelaskan, kecuali Arthur bertanya tak sedikit pun mereka bersuara.


Selesai kelas...


"Gracelina Janitra!" Teriak Arthur.


"Iya Mr. saya" Sahut Grace dengan mengangkat tangan nya, walau pun di rumah mereka suami istri tapi di kampus mereka profesional Arthur sebagai dosen dan Grace adalah mahasiswinya.


"Bisa ikut saya sekarang?" Tanya Arthur.


"Siap Mr.!" Sopan Grace menundukkan kepala nya.


"Saya tunggu di ruangan saya ya!" Arthur segera berlalu dari kelas yang baru saja di isi nya itu, sedangkan Grace dengan sedikit terburu-buru ia membereskan buku-buku nya dan kemudian beranjak dari kursi nya.


"Hati-hati Grace, Rwarrrr!!" Ucap Aji dengan tangan yang menirukan cakar macan.


"Apa an sih nggak jelas!" Ucap Grace yang segera melangkahkan kaki nya keluar dari kelas dan ruangan Arthur lah yang menjadi tujuan nya.


Tok... Tok... Tok...


Grace mengetuk pintu ruangan Arthur, "Masuk! " Terdengar suara Arthur dari dalam ruangan, perlahan Grace membuka pintu itu dan masuk kemudian menutup nya kembali.


"Ada apa?" Tanya Grace yang melihat Arthur duduk di kursi kebesaran nya.


"Kemarilah" Ucap Arthur dengan menepuk paha kanan nya.


Tanpa menunggu lama Grace mendekat dan duduk di atas paha Arthur.


Dosen tampan itu memeluk tubuh istri nya dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Grace yang selalu membuta nya nyaman dan damai.


Arthur mengusak kan wajah nya di ceruk leher Grace dengan sesekali ia menggigit manja Leher mulus itu.


"Sayang jangan begitu, apa kau mau kita main di sini?" Tanya Grace dengan meraup kedua pipi Arthur. Bukan nya menjawab fokus Arthur malah ke arah bibir yang selalu membuat nya candu, dengan cepat ia pun melu-mat dan menyesap nya sedangkan sebelah tangan nya tak akan membiarkan gundukan kembar yang menggemaskan itu menganggur.


Arthur melerai tautan nya, "Kenapa ini selalu membuat ku candu Yank?" Arthur mengusap bibir Grace yang basah karena diri nya.


Di sisi lain...


Ayu dan Lina tengah makan di kantin, mereka berdua masih setia menunggu si bestie yang belum juga nongol.


"Lo yakin tadi di kelas nya nggak ada?" Tanya Lina, sedangkan Ayu yang masih mengunyah makanan nya hanya menganggukkan kepala nya.


"Yakin, orang gue tadi masuk dan Grace nggak ada di sana" Sahut nya setelah menelan makanan nya.


"Hai bestie" Suara Grace membuat kedua sahabat nya itu menoleh ke arah nya yang baru saja tiba dan menghempaskan bokong nya di atas kursi dengan kepala yang ia telungkupkan di tengah-tengah tangan yang ia lipat di atas meja.


"Hey! Lo dari mana aja?!" Tanya Lina penasaran.


"Biasa lah" Suara nya lemas.


"Lo laper, mau gue pesen in?" Tanya Ayu yang menawarkan nya.


"Boleh" Seperti hilang semangat suara Grace terbilang lirih dan lemas dari biasa nya.


Ayu berjalan untuk memesankan makanan, sedangkan Lina masih penasaran kenapa bestie nya sangat hilang semangat hari ini.


"Lo kenapa sih? cerita dong! Suami lo masih belum nyentuh lo?" Tanya Lina yang membuat Grace dengan cepat mendongakkan kepala nya.


"Gila ide lo, gue malah nggak ada waktu buat tidur nyenyak tau nggak!" Gerutu nya.


"Tapi lo suka kan?" Lina menaik turunkan alis nya.


"Berati emang bener dia tu bukan nya selingkuh tapi asli nya nggak tega sama lo" Imbuh nya dengan mengaduk-aduk minuman nya.


"Oh iya ntar sore kalian mau ke puncak sama kak Mikko?" Tanya Grace.


"Iya, emang lo nggak ikut?" Sahut Lina setelah menyedot minuman nya.


"Gue nggak ada nyali buat minta ijin sama suami" Grace mengerucutkan bibir nya.


"Makan dulu makam dulu biar tambah stamina buat baby nya biar segera launcing" Sela Ayu dengan meletakkan satu porsi gado-gado di depan Grace.


"Makasih say" Grace senyum dengan mendongakkan kepala nya menatap Ayu.


"Ok sama-sama, yang penting lo happy aja deh" Sahut nya.


Di ruangan Arthur, terlihat makhluk tampan itu tersenyum-senyum setelah berhasil mendapatkan jatah nya.


Ia masih mengingat bagaimana Grace yang awal nya menolak sampai akhir nya meminta, bahkan istri cantik nya itu yang memaksa memasukkan pusaka nya kedalam sarang nikmat nya.


Masih jelas terbayang Grace yang naik turun di atas pangkuan nya, juga gundukan kenyal yang terguncang ke sana- kemari.


"Sial, hanya membayangkan nya saja membuat celana ku sesak!" Gerutu nya yang merasakan sang junior merespon bayangan nya barusan.


Arthur hendak berjalan menuju toilet yang ada di dalam ruangan nya, niat hati ingin menidurkan kembali di junior yang mengeras namun niat nya itu gagal karena tiba-tiba ada yang mengetuk pintu nya.


TOK TOK TOK...


"Oh astaga! kenapa di saat seperti ini!" Geram nya dengan berusaha setenang mungkin.


"Masuk!" Teriak Arthur yang kembali ke posisi duduk nya. Tak lama kemudian CEKLEK!! Pintu terbuka dan masuklah seorang mahasiswi dengan pakaian sexy ia membawa setumpuk kertas.


"Siap Mr. " Sapa nya dengan melangkahkan kaki mendekati meja Arthur.


"Mona? Apa saya memberikan tugas ke kelas mu?" Arthur bertanya dengan mengernyit.


Namun gadis itu bukan nya menjawab, ia malah meletakkan tumpukkan kertas itu dan menarik kemeja nya sampai kancing nya terlepas dan nampak lah keindahan dibalik nya.


"Apa yang kau lakukan?!" Gertak Arthur dengan berdiri dari duduk nya, Mona tersenyum melihat ada tonjolan di balik celana Arthur.


"Mr. Arthur, jangan jual mahal dong, memang nya sehebat apa sih Grace? Saya juga bisa melayani anda, bahkan anda tidak perlu bergerak, cukup saya saja" Mona perlahan melangkahkan kaki nya mendekati Arthur.


"Berhenti di sana!" Arthur berniat menghentikan Mona agar tidak semakin mendekat namun Mona malah dengan sengaja menabrakkan buah kenyal nya itu pada tangan kekar Arthur.


"Ahh... Mr. Kau menyentuh ku" Tangan Mona menahan tangan Arthur dan semakin menekan nya.


Hampir di kuasai oleh nafsu Arthur segera menepis kasar tangan Mona.


"Hentikan Mona! keluar dari ruangan saya!" Geram nya dengan menunjuk ke arah pintu.


"Dengan penampilan saya yang begini?" Mona mengacak-acak rambut nya, seolah mereka baru saja melakukan hal gila.


Arthur terdiam, ia pun berpikir bagaimana cara nya agar gadis itu keluar dari ruangan nya.


"Ayolah Mr. aku tau kau menahan nya di sana" Mona sengaja menempel pada Arthur dan mengelus bagian inti nya yang terlihat mengeras.


BRAK!!


"Apa-apa an ini?!...


Jangan lupa like dan komentar...


see you di bab selanjut nya...