The Guard

The Guard
Kabur



Ayu menitikkan bulir bening ketika ia mendapati raut wajah Jerik yang terlihat marah kepada nya.


"Memang nya aku mengganggu mu? Apakah kehadiran ku di sini mengganggu mu? Kau bahkan belum menerima ucapan selamat dari ku, berapa hari kita tidak bertemu Je? Kenapa kau berubah? Jujur akhum emm... " Jerik mencium paksa bibir ranum itu dan menarik nya ke balik pilar besar yang ada di taman itu.


Bhuk... Bhuk... Bhuk...


Pukulan-pukulan kecil Ayu hantam kan di dada bidang kekasih nya itu.


"Sssshhhhttt... Diam lah ada yang datang!" Bisik Jerik dengan menyatukan kening kedua nya, Ayu terdiam namun tidak dengan detak jantung nya, kedekatan yang hanya berjarak 1cm antara hidung ke dua nya membuat Ayu dapat merasakan hembusan nafas segar dari Jerik, begitu juga dengan Jerik ia menghirup nafas segar yang Ayu hembuskan, dan itu membuat Jerik melirik ke arah bibir yang baru saja di kecup nya.


"Kemana pangeran kedua?" Terdengar suara seseorang. Jerik takut jika sampai calon istri yang harus di temui nya bertemu sekaligus dengan kekasih hati nya.


Jerik menempelkan jari telunjuk nya di bibir Ayu isyarat untuk kekasih nya agar tidak bersuara.


"Mungkin pangeran di taman gelembung menemui calon keponakan nya" Terdengar lagi suara seorang pelayan.


Langkah kaki terdengar mulai menjauh dari taman itu.


Setelah hening tak ada suara, "Kita pergi sekarang!" Bisik Jerik.


"Pergi kemana?" Tanya Ayu dengan raut wajah bingung nya.


"Jangan banyak bertanya, di sini sangat berbahaya untuk mu, nanti ku jelaskan, ikutlah dengan ku ya!" Jerik menarik lengan Ayu dan gadis itu menurut, dengan patuh Ayu mengikuti langkah kaki Jerik.


...🍒🍒🍒🍒...


Di dalam ruang baca Akles dan Irina tengah menikmati secangkir teh hangat, bayangan kedua nya adalah Jerik yang saat ini tengah menemui calon istri nya.


"Kira-kira apa yang akan mereka bicarakan?" Irina keluar dari lamunan nya dan bertanya kepada sang suami.


"Mungkin, gadis itu malu-malu atau cerewet atau mungkin putra kita diam seperti batu, atau mungkin... "


"Atau mungkin Jerik tidak menemui calon istri nya!" Sela Arthur yang baru saja masuk ke dalam ruang baca.


Raut wajah Arthur tidak lah main-main saat ini, calon ayah itu berjalan dengan membawa berita buruk.


"Apa maksud mu?" Tanya Irina yang tak mengerti maksud dari putra sulung nya.


"Ya seperti itu lah putra yang selalu kalian manjakan" Sahut Arthur.


"Dimana kalian merencanakan kencan buta mereka berdua?" Tanya Arthur, Irina menoleh sekilas ke arah suami nya.


"Di taman samping aula" Sahut Irina pada akhir nya.


"Mereka berdua tida ada di sana!" Tegas Arthur membuat kedua orang tua nya terbelalak terkejut.


"Tida ada? Apa mungkin Jerik berani kabur? Tapi aku menyuruh pelayan agar gadis itu menunggu di sana sebelum Jerik datang" Irina mulai dirundung kegelisahan.


"Tidak ada" Sahut Arthur. Irina segera melesat keluar dari ruang baca.


"Kumpulkan semua pengawal dan prajurit, juga dua pelayan wanita yang mengantarkan calon menantu ku ke kursi taman!" Kali ini Irina berteriak dengan rasa gelisah yang menyelimuti hati nya.


Semua sibuk dengan misi mencari pangeran kedua yang tiba-tiba hilang dari pantauan, Arthur bertemu dengan dua pelayan yang tadi nya mendampingi calon istri Jerik, "Kalian! Kemari sebentar!" Titah Arthur.


"Maaf pangeran kami hanya mengantarkan nona ke taman dan kami meninggalkan nya sebelum pangeran kedua datang menemui nona" Jelas dua pelayan itu.


"Jika sampai terjadi sesuatu dengan gadis itu dan jika sampai pangeran Alfajerik keluar dari Kerajaan, kalian tau akibat nya!" Ancam Arthur.


Kedua pelayan itu gemetar namun tak ada waktu untuk mereka merasa ketakutan, dengan segera mereka juga mencari keberadaan pangeran kedua mereka.


...🍒🍒🍒🍒...


"Sayang kita mau kemana?" Tanya Ayu yang sudah lelah berlari, "Sabar sayang" Sahut Jerik dengan terus berlari dan menggenggam tangan Ayu.


Saat menoleh ke arah Mansion, Jerik melihat ada banyak prajurit yang tengah berkeliaran, mungkin saja mereka sudah di beri tugas untuk mencari diri nya karena lari dari perjodohan malam itu.


Tak mau menunggu langkah kaki Ayu yang terlalu lama, Jerik menggendong tubuh Ayu dan di bawa nya lari memasuki kawasan hutan lebat dimana pintu menuju dunia manusia ada di seberang hutan.


"Saat ini pasti seluruh anggota kerajaan sudah mencari ku, aku harus segera mengamankan Ayu, persetan maslah jatidiri, nanti akan ku jelaskan perlahan, semoga Ayu dapat menerima ku" Batin Jerik, kali ini ia menghentikan langkah besar nya dan membawa Ayu ke dalam pelukan nya, tanpa pikir panjang segera Jerik mengepakkan sepasang sayap hitam besar nya dan perlahan ia mulai membawa Ayu terbang ke atas awan.


Dari bawah, ada banyak pasukan pemanah kerajaan yang melihat sang pangeran terbang menuju pintu keluar wilayah.


"Lihat itu pangeran Alfajerik!" Teriak seorang pemanah, Arthur yang mendengar nya pun segera melesat mendekati pemanah yang sudah mengarahkan anak panah nya.


"Tunggu jangan kau lepaskan anak panah mu!" Teriak Arthur yang masih mengkhawatirkan adik kandung nya itu, tapi terlambat anak panah itu sudah melesat jauh.


Karena takut Ayu memeluk erat tubuh kekasih nya itu. Kini otak gadis itu di penuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang ingin segera diberikan jawaban.


"Aku terbang? Jerik mempunyai sayap? Dan juga ia barusan di nobatkan sebagai Pangeran kedua, Oh ya ampun kenapa ini sangat tidak masuk akal" Batin Ayu masih dengan memeluk erat tubuh Jerik.


Tiba-tiba bayangan di vila waktu Jerik terjun bebas dan kembali tanpa sedikit pun luka merasuk kedalam pikiran Ayu.


"Apa ini? Apakah aku mengenal makhluk lain? Atau kah ini hanya mimpi?" Bergulat dengan pikiran nya sendiri membuat Ayu pusing.


JLEBB!! Anak panah yang di lepaskan oleh pemanah handal tadi mampu menancap di sayap kanan Jerik.


"AAAARRRRGGGHHH!!!" Teriak Jerik dengan tangan yang masih mempertahankan Ayu.


Ayu masih dengan debaran jantung nya yang baru saja terkejut juga dengan ketakutan nya dengan ketinggian berusaha tidak menyusahkan kekasih hati nya yang terlihat kesakitan.


Di bawah Arthur memukul pemanah yang secara ngawur melesatkan anak panah nya.


"Apa kau sudah gila?! Dia adik ku! Pangeran kedua kalian! bagaimana jika dia sampai terluka?" Amarah Arthur meledak-ledak hingga Akles dan seorang Angel mendekat ke arah mereka.


" Ada apa ini? Kenapa kau menghajar pemanah itu?" Akles bertanya.


"Dia memanah Jerik ayahanda! Bagaimana Arthur tidak marah!" Ucap Arthur


"Adik mu itu kalau tidak di serang maka dia kan terbang lebih jauh lagi!" Ucap Akles di samping itu Arthur terdiam serba salah sedangkan Angel yang bersama Akles meraih busur panah lengkap dengan anak panah nya dan sekali lagi anak panah tajam tanpa racun itu melesat menuju Jerik dan Ayu yang tengah mengudara.


Di atas awan...


Ayu yang tidak dapat lagi menahan rasa penasaran nya akhir nya ia bertanya.


"Apakah ini sakit?" Tanya Ayu akhir nya setelah sekian keheningan menguasai suasana di atas angin itu.


Ayu semakin mengeratkan pelukan nya saat ia tak mendapat jawaban dari sang kekasih hati, "Kita mendarat saja jika kau lelah"


"Kau bodoh?! Kita akan tertangkap jika mendarat sekarang!" Akhir nya Jerik membuka suara nya.


"Tapi aku tidak tega jika kau kesakitan seperti ini!" Perdebatan kecil itu terjadi dan Ayu yang berusaha meronta agar Jerik menurunkan nya membuat fokus Jerik ambyar.


"Lepaskan aku Je! Aku hanya menjadi beban mu!" Teriak Ayu.


"Tidak... "


JLEB!!...


Jangan lupa like dan komentar 🥰🥰🥰 semoga kalian sehat selalu see you...