The Guard

The Guard
Cemburu



Senja hari sangat lah indah, mentari yang bersinar sepanjang hari telah lelah untuk memancarkan sinar nya dengan cetar, maka tinggallah sinar-sinar lembut yang terpancar menghiasi langit berwarna oranye, yang mampu memanjakan mata yang memandang nya.


Seharusnya pemandangan itu mampu menenangkan juga menyejukkan jiwa dengan berlalu nya aktivitas yang telah usai, namun tidak bagi makhluk tampan itu.


Ya, Arthur dengan wajah murung bin kucel nya tengah duduk di ambang jendela kamar Grace, dengan memandangi langit yang berwarna oranye itu.


Gemericik air yang terdengar dari balik pintu kamar mandi, itu menandakan bahwa sang gadis kesayangan nya sudah memulai ritual mandi nya.


CEKLEK! Pintu kamar mandi terbuka dan nampak lah gadis berbalut handuk kecil dengan rambut basah yang ia usap dengan handuk lain nya.


"Kau ini kenapa?" Tanya Grace dengan melangkahkan kaki nya menuju lemari pakaian yang ada di samping jendela.


"Entahlah" Hanya sekilas Arthur memandang gadis sexy itu.


"Kau marah? karena aku akan di jodohkan?" Tanya Grace dengan menutup pintu lemari.


Perlahan Arthur turun dari jendela dan menutup nya rapat-rapat.


"Apa kau akan menyukai nya?" Arthur berjalan maju mendekati Grace.


"Entahlah, lagi pula ayah yang memilih nya untuk ku" Cetus Grace, gadis itu membalikkan tubuh nya dan menghadap ke arah cermin untuk menyisir rambut basah nya.


"Grace!" Bisik Arthur dengan memeluk Grace dari belakang.


"Hem?" Dengan sedikit menolehkan wajah nya, Grace dapat melihat Arthur yang menundukkan wajah di pundak nya.


"Kau ini kenapa?" Grace mengulang pertanyaan nya dengan membalikkan tubuh nya menghadap Arthur yang saat itu tengah menunduk.


Gadis itu meraup kedua pipi makhluk tampan di depan nya.


"Kau marah pada ku?" Tanya Grace dengan menatap netra tajam yang meredup itu.


"Entahlah, tapi aku tidak suka kau menemui laki-laki itu" Jelas Arthur dengan memeluk pinggang ramping Grace.


"Eh? Apa ini? Kau cemburu?" Tanya Grace dengan sedikit senyum yang mengembang di sana.


"Entahlah, apa begini rasa nya cemburu? kenapa sangat tidak nyaman, aku tidak suka rasa cemburu ini, tapi bagaimana cara menghilangkan nya?" Gumam Arthur dengan memalingkan pandangan nya ke samping.


Grace meraih pipi Arthur agar kembali menatap mata nya.


Tanpa di sangka Grace berjinjit dan CUP!!! Bibir ranum itu lebih dulu mengecup bibir Arthur yang dingin.


Hanya kecupan sekilas, Grace kembali menapakkan kaki nya dengan benar.


"Suka belum tentu menyerahkan hati nya, suka belum tentu sayang, sayang pun belum tentu cinta" Dengan senyum manis nya Grace berusaha menenangkan si tampan yang selalu ada untuk nya itu.


Arthur segera memeluk tubuh Grace dengan erat.


...🍒🍒🍒🍒...


Malam hari...


Akhir nya Grace berhasil menenangkan suasana hati Arthur dan menuruti perintah ayah nya untuk dinner dengan laki-laki yang bahkan belum ia kenal.


"Dia baik Grace, tampan juga mapan, ayah yakin masa depan mu cerah bersama nya" Begitulah kira-kira Digo atau ayah Grace mempromosikan si pemuda sukses yang akan di temui nya.


"Apa dia lebih tampan dari Arthur?" Batin Grace yang duduk di dalam mobil, di sana Grace bersama Nendra si makhluk jadi-jadian yang Grace pelihara menjadi sopir pribadi nya.


"Tidak ada yang lebih tampan dari ku! Jika saja ada ajang laki-laki tertampan, aku yakin aku yang akan meraih juara pertama" Tiba-tiba Grace di kejutkan oleh Arthur yang sudah duduk dengan gaya cool nya di samping Grace.


"Dasar makhluk astral! Bisa nggak muncul nya pakai permisi! Bikin sport jantung aja!" Gerutu Grace yang terkejut dengan mengelus dada nya.


"Bukan nya kamu akan bertambah takut jika mendengar suara tanpa rupa?" Arthur dengan senyum miring nya menaikkan salah satu alis nya.


"Haaassaaahh... Diam lah!" Tukas Grace.


"Apa kau akan menyukai nya?" Pertanyaan itu muncul lagi dari mulut makhluk tampan yang ini tengah menunjukkan raut mleyot nya, namun Grace yang sudah terlanjur bad mood tidak sedikit pun menoleh ke arah Arthur.


"Pangeran cemburu?" Cetus Nendra yang melihat ekspresi Arthur dari kaca spion.


"Kau! Kau dulu juga pernah jadi manusia kan?" Tanya Arthur yang kini sudah pindah duduk di samping Nendra.


"Iya pangeran, dan asal pangeran tau saja ya, menebak hati wanita itu paling sulit" Jelas Nendra dengan sedikit berbisik.


"Kalian ngomongin aku ya?" Teriak Grace dengan melirik tajam.


"Ti... tidak non" Sahut Nendra yang kembali menatap lurus ke jalanan.


Arthur terdiam bukan berarti dia tidak mengindahkan info seputar wanita dari Nendra, namun kedua nya saling berbicara lewat saluran telepati.


"Pangeran tenang saja nanti kita pantau" Akhir dari perbincangan via telepati Arthur dan Nendra, sampai akhir nya Arthur menyetujui nya.


...🍒🍒🍒🍒...


Grace duduk di sebuah cafe dengan tampilan sexy elegan nya, gadis itu sudah ditemani segelas jus strawberry penghilang dahaga.


"Gracelina Janitra?" Terdengar suara berat dari pemuda yang kini tengah berdiri di hadapan Grace. Sontak gadis itu mendongakkan wajah nya dan...


"Loh? kamu?!" Dengan raut yang menyunjukan deretan gigi putih berbingkai bibir dengan warna nude yang kalem tapi elegan, Grace berdiri menyambut pemuda yang menyapa nya.


"Eh iya kita ketemu lagi" Pemuda itu mengulurkan tangan kepada Grace yang sudah antusias berdiri menyambut nya.


Sejenak mereka saling menjabat tangan, dan di sana jari manis Grace mengeluarkan sedikit kilauan dan itu tak luput dari pandangan pemuda di hadapan nya.


"Silahkan duduk tuan... " Terhenti Grace karena tidak tau nama laki-laki di hadapan nya itu.


"Dean Aciel, boleh di panggil sayang" Canda nya dengan menunjukkan gigi putih rapi.


"Ah hahaha... anda bisa saja" Tawa renyah Grace menunjukkan kecantikan yang luar biasa indah nya, terlebih lagi batu permata yang menambah kesan kilau yang membuat siapa pun yang melihat nya penasaran.


"Kenapa memang nya, saya tidak rugi kok di panggil sayang, apa lagi yang memanggil nya sejenis bidadari tak bersayap" Sahut Dean dengan menghempaskan pantat nya di kursi yang ada di depan Grace.


"Hah? mana ada bidadari tak bersayap?" Mengerutkan kening nya Grace tak paham apa maksud Dean.


"Ada, dia sedang di sini duduk di depan saya, kalau saya licik seperti jaka tarub maka akan saya bawa pulang, tapi kira-kira apa yang bisa saya curi dari anda ya?" Candaan mode modus pun tercium oleh Arthur, makhluk tampan itu pun mendekat, namun Grace menahan tangan Arthur tanpa memandang nya, sungguh makhluk tampan itu geram karena kesayangan nya sedang digombalin oleh manusia di hadapan nya itu.


"Hahaha... Saya tidak punya selendang tuan, jadi tidak ada yang bisa anda curi dari saya, maka jangan harap anda bisa seperti Jaka Tarub, dan satu lagi, dia bukan licik, dia hanya sedang memperjuangkan cinta nya" Balasan candaan itu membuat Arthur mengerutkan kening nya menatap gadis yang masih stay menggenggam tangan nya.


"Owh baiklah baiklah, berati aku juga tidak licik jika bisa mencuri hati mu" Mendengar sahutan itu dari mulut laki-laki lain Arthur merasa semakin panas, bahkan makhluk tampan itu mengeraskan rahang nya.


"Hahaha... Hentikan candaan mu tuan Dean" Ucap Grace dengan tangan yang semakin erat menggenggam tangan Arthur.


"Kenapa kau menahan ku Grace?" Tanya Arthur nanar menatap Grace.


"Karena dia tidak mau mengecewakan ku pangeran" Sahut Dean yang ternyata mampu mengejutkan Grace.


Grace menganga dengan membulatkan kedua netra nya.


"Ka... kau... "


"Iya nona Grace, aku dapat melihat nya, bahkan sopir mu itu aku juga tau siapa dia, bukan kah kita sangat cocok?" Ucap Dean dengan santai.


"Tidak! Grace terlalu bersih untuk mu yang beraura hitam" Sahut Arthur yang tidak bisa menahan emosi nya.


"Kau itu hanya penjaga nya, bukan yang di pilih oleh orang tua nya untuk di jadi kan suami nya" Sindir Dean dengan wajah sombong nya.


"Lagi pula, jika nona Grace yang cantik ini mau dengan mu, apa kau bisa memenuhi kebutuhan nya? Heh... nampak di bawah terik matahari saja kau takut" Sungguh kata-kata tajam itu membuta Grace sangat tidak nyaman.


"Maaf tuan Dean, saya besok ada mata kuliah jadi tidak bisa pulang malam-malam" Ucap Grace yang segera berdiri dan melangkahkan kaki nya keluar dari Cafe.


"Heh... menarik" Gumam Dean dengan terus memandang punggung Grace yang semakin menjauh.


"Kau menyukai nya?" Bisik suara wanita yang tiba-tiba muncul di belakang Dean dengan pakaian yang modis nan sexy.


"Tidak, aku hanya mengincar batu permata yang tersemat di jari manis nya" Sahut Dean yang sedikit memundurkan kursi nya, dan dengan cepat makhluk cantik itu duduk di pangkuan Dean kemudian mengecup bibir pemuda tampan itu.


"Kau yakin tidak tertarik pada tubuh nya?" Tanya makhluk cantik itu setelah melepaskan bibir Dean.


"No, Only you baby, dia punya tubuh yang sexy tapi apa dia bisa menandingi kehebatan mu saat bermain bersama ku?" Dengan mengendus leher makhluk cantik itu tangan Dean meremas pinggang sintal itu.


"Come on baby!" Keluh Dean, dalam hitungan detik makhluk cantik itu segera membawa Dean menghilang dari tempat itu.


...🍒🍒🍒🍒...


Di Kamar Grace...


"Kenapa kau mendekat? dia jadi tau kan kalau aku membawa mu" Gerutu Grace.


"Dia punya aura yang sangat gelap Grace, aku takut jika sampai kau terlena, aku takut kehilangan mu Grace" Ucap Arthur.


"Lalu bagaimana jika dia ngadu sama ayah?" Tanya Grace dengan mode berapi-api.


"Baiklah aku minta maaf, aku memang tidak berguna, seharusnya aku tidak muncul tadi, maaf" Arthur melangkah menuju jendela yang otomatis terbuka karena Arthur mengendalikan nya dari jauh menggunakan tangan nya.


"Kau mau kemana?" Teriak Grace namun Arthur sudah terbang meninggalkan gadis itu di dalam kamar nya.


"Gila! Siapa yang salah sih? Kok malah aku yang ngerasa kaya orang yang ketahuan selingkuh?!"...


Jangan lupa like setiap episode yang kalian baca, beri vote dan dukungan, maaf masih banyak typo, see you... jangan bosan ya...