
Gresta yang dalam perjalanan menuju kantor sejak dari diri nya meninggalkan kampus Syaqila, merasa perasaan nya tidak tenang, ingin rasa nya ia kembali tapi lagi-lagi Celo menelfon nya kalau Grace bolak-balik menanyakan keberadaan nya.
Grace menganggap Gresta tidak serius mengurus pekerjaan nya, apalagi setelah pertemuan nya dengan gadis yang mungkin telah menempati hatinya itu.
Baru saja mobil mewah itu berhenti di basement, telinga kanan Gresta berdengung sangat nyaring sampai terasa pusing diri nya di buat nya.
"Tuan anda tidak apa-apa?" Tanya Juana yang saat itu juga baru sampai di basement.
"Tidak!" Dingin serta menepis tangan Juana yang hendak memegang nya.
Berusaha untuk mengabaikan rasa sakit itu, Gresta masuk ke dalam ruangan nya dengan berjalan biasa saja, di sana, di kursi kebesaran, diri nya memejamkan mata nya dan ketika mata nya terbuka, CEO tampan itu di kejutkan dengan kehadiran Angel Chrisa yang tiba-tiba sudah berdiri dihadapannya.
"Ada apa bibi?" Tanya nya dengan membenarkan posisi duduk nya.
"Kau ini tidak peka atau mulai bodoh pangeran?" Pertanyaan dengan tatapan menusuk itu Chrisa arahkan pada Gresta.
"Apa maksud bibi?" Gresta tak mengerti.
"Lihat kekasih mu!" Ucap Chrisa dengan menempelkan telapak tangan nya di kepala Gresta dan pemuda tampan itu memejamkan mata nya, di sana, ia melihat gadis kesayangan nya tengah di tarik paksa oleh seorang laki-laki.
Tersentak dengan bayangan yang di lihat nya Gresta segera membuka mata nya dan dengan mata yang mulai memerah ia beranjak dari duduk nya.
"Jangan... "
SSSHHHLLLLAAAAPP!!!
Belum selesai Chrisa berucap Gresta sudah lebih dulu berteleportasi, "Haish... semakin dewasa dia semakin tidak mendengarkan aku pengasuh nya," Chrisa menggelengkan kepala nya kemudian menyusul Pangeran ke tempat tujuan.
Ceklek!!
Cleo masuk ke dalam ruangan yang sudah kosong dengan membawa beberapa dokumen.
Celingak-celinguk, pandangan ia edarkan demi mencari sosok CEO tampan nya itu.
"Haaaahhh... " Menghela nafas sang manager keuangan itu, "Hilang lagi, nasib punya atasan bukan manusia, " Gumam nya kembali keluar dari ruangan kosong itu.
...🍒🍒🍒🍒...
Gresta kini sudah sampai di depan gedung Universitas ternama dimana kekasih nya menuntut ilmu di sana.
Melihat banyak nya manusia dimana-mana, dengan kekuatan turunan dari nenek nya pangeran tampan itu menjentikkan jari nya dan PICK!!
Semua berhenti sesuai keinginan nya, ia segera melesat mengikuti aroma yang sang kekasih tinggalkan.
Setiba nya di depan sebuah gudang yang tertutup pintu nya, kaki besar itu sudah berancang-ancang untuk mendobraknya namun Angel Chrisa datang tepat waktu.
"Tunggu pangeran! Jangan gegabah, apa pangeran tidak mencium ada nya aura hitam yang terkuar dari dalam sana?" Tanya Chrisa.
Sudah gelap mata Gresta tak mau memikirkan apa pun itu, persetan dengan aura hitam yang ada, kaki yang semula turun itu segera terangkat kembali dan
DHUBRAK!!
"BAJINGAN!" Dengan berteriak Gresta melesat maju dan JEBRET!! BRUGH!! GUSRAK!!
Dua bogem melesat tepat di wajah dan perut Roy yang baru saja akan menikmati tubuh gadis yang kini tangan nya di ikat ke atas.
"Gresta?" Bergetar suara Syaqila lirih menyebut nama kekasihnya yang terlihat sangat menyeramkan, dengan sorot mata memerah, bahkan taring nya terlihat memanjang saat ia berteriak, Terlihat juga urat-urat yang menonjol di daerah leher dan lengan yang memang sudah berotot.
"Cih, makhluk apa yang kau pelihara?" Cibir Roy dengan mengusap darah yang mengalir di sudut bibir nya.
"Stop kak! Stop! Gresta berhentilah! Aku tidak apa-apa!" Teriak Syaqila yang saat itu masih di ikat tangan nya.
Sementara itu Angel Chrisa menciptakan benteng pengaman di sekitar gudang itu takut kalau sampai Tuan Muda nya lepas kendali.
Gresta yang mendengar suara Syaqila beralih menatap gadis yang saat ini tengah bercucuran air mata itu.
BUGH!! Roy memukul pipi kiri Gresta sampai makhluk setengah manusia itu sedikit terhuyung.
"Noooo!! Gresta!! Jangan kak! Cukup! Hentikan!" Tangis Syaqila ketika melihat kekasih hati nya di pukul dan balik mencengkeram leher Roy dan di angkat nya tubuh manusia itu ke atas dengan meraum menunjukkan taring-taring tajam nya.
"AAEEERRRRRRR!!!!"
Dalam nafas yang tercekat masih sempat nya Roy meraih sesuatu dari dalam saku nya, ya belati kecil yang selalu kemana-mana di bawa nya.
SCRING!! Belati itu dikeluarkan nya dari sarang nya, dan tanpa pikir panjang ia menggoreskan benda tajam di lengan Gresta yang mencengkeram leher nya.
Darah merah kehitaman mengalir dari kulit Gresta yang tergores belati milik Roy.
BRUK!!
Gresta menjatuhkan tubuh Roy, bersamaan dengan itu pemuda licik itu segera berdiri dan berniat untuk menusuk Gresta dengan belati nya lagi.
Namun untung saja Gresta menyadari gerakan Roy, pangeran dengan lengan yang berdarah itu menahan lengan Roy yang menggenggam belati.
"Tangan hina mu ini tidak pantas menyentuh ku!" Teriak Gresta tepat di depan wajah Roy.
Lelaki itu dilempar nya hingga membentur dinding.
DHUBRAK!!
Dengan nafas yang terengah-engah Gresta yang berlumur darah dan keringat itu berbalik dan menatap gadis kesayangan nya yang kini tengah di penuhi air mata yang meluncur tak tau malu.
Gresta melepaskan ikatan yang mengikat kedua tangan Syaqila, kemudian menarik gadis itu ke dalam pelukan nya.
SSSHHHLLLLAAAAPPP!!!
Kini kedua nya sudah sampai di dalam kantor, tepat nya di ruang pribadi Gresta, kedua nya duduk di tepi ranjang Syaqila masih terlihat syok, sampai saat ini gadis cantik itu tak henti-henti nya mengucurkan air mata dengan sesenggukan.
"Maaf, aku terlambat" Ucap Gresta dengan membelai pipi kanan Syaqila yang masih menundukkan wajah nya.
"Sudah jangan menangis lagi, aku tidak akan bisa memaafkan diri ku jika sampai terjadi sesuatu pada mu" Lirih Gresta hampir setengah berbisik.
Gresta menangkup wajah ayu Syaqila dan menghadapkan pada wajah nya, mata sembab, bibir basah, nafas yang sesenggukkan, membuat Gresta merasa diri nya telah menakuti gadis di hadapan nya itu Apalagi saat tatapan kedua nya bertemu, Syaqila sengaja mengalihkan pandangan nya.
"Apa aku menakuti mu?" Tanya Gresta dengan sangat lembut, ingin nya dia memeluk gadis itu lagi, namun dengan pelan Syaqila menepis lengan Gresta.
"Semenakutkan itu kah aku di mata mu? Sampai-sampai kau tak mau sedikit pun ku sentuh" Ucap Gresta panjang lebar sedari tadi, dan tak satu pun dari pertanyaan nya yang mendapatkan jawaban dari gadis cantik yang kini duduk di hadapan nya itu.
"Sya?" Lirih nya lagi dengan membelai pipi Syaqila, perlahan Syaqila menatap wajah Gresta, gadis itu masih enggan mempertemukan netra indahnya dengan netra tajam tapi terlihat sayu, yang saat ini ada di hadapan nya.
Namun Gresta kembali mencubit dagu Syaqila ketika gadis itu hendak menundukkan tatapan nya kembali.
Perlahan tapi pasti Gresta memangkas jarak di antara kedua nya dan dengan lembut mendaratkan kecupan hangat yang berlanjut lum-atan lembut yang bisa langsung diterima oleh Syaqila yang syok.
Mendapat balasan dari Syaqila, sebelah tangan Gresta menekan tengkuk gadis yang ada dalam lindungan nya itu. Sedangkan tangan yang lain meremas pinggang sintal yang menggemaskan itu.
Tangan Syaqila yang semula diam kini mulai meremas rambut yang ada di atas tengkuk Gresta.
Perlahan Gresta membaringkan tubuh seksi itu di atas ranjang empuk nya, Saat kedua tangan Gresta mengungkung tubuh sintal Syaqila, tak sengaja Syaqila meraba lengan kekar Gresta dan merasai lengan itu basah-basah lengket.
Baru tersadar gadis itu kalau kekasih nya sedang terluka dan belum sedikit pun di obati.
Terpaksa Syaqila mengurai tautan kedua nya, "Why Baby? Kau masih takut pada ku setelah kau merespon ciuman ku?" Gresta mengerutkan alis nya.
"No Sayang, kau masih terluka, dan ini luka yang cukup dalam, kita obati dulu ya?" Dengan lembut dan nada hampir berbisik Syaqila berucap, karena Gresta berada begitu dekat dengan nya bahkan kedua hidung mereka hampir menyatu.
"Kau tak perlu mengkhawatirkan luka ini, aku baik-baik saja," Gresta meyakinkan kekasih nya bahwa diri nya baik-baik saja sebelum,
"Aaawwww... Baby apa yang kau lakukan?" Teriak Gresta karena luka nya di cubit oleh jemari nakal Syaqila.
"Kau bilang baik-baik saja, tapi ini aku cubit sakit kan?!" Gerutu Syaqila dengan mendorong dada bidang itu agar menjauh dari nya.
Dengan pasrah Gresta membiarkan Kekasih nya untuk membersihkan kemudian mengobati luka nya.
...🍒🍒🍒🍒...
Di tempat lain...
Seorang ayah tengah mengobati putra nya yang penuh luka dan babak belur, "Siapa yang berani melakukan ini pada mu?"
"Aku tidak tau ayah, tapi aura nya sangat kuat sekali, bahkan tadi aku sempat menusukkan belati beracun ini ke lengan nya, tapi hebat nya dia masih tidak apa-apa ayah" Jelas laki-laki yang babak belur itu.
"Apa? Tidak mungkin! Jika manusia biasa dia akan segera kehilangan kesadaran nya"
"Dia bukan manusia Ayah, atau mungkin dia punya perewangan, saat itu aku masih mengingat nya dengan jelas, mata nya merah menyala dengan kilatan biru di dalam nya, taring nya setajam taring Vampir ayah, tapi tak mungkin bangsa vampir menyerang di siang hari" Jelas laki-laki itu pada ayah nya.
Dengan senyum semirik laki-laki yang di panggil ayah itu memiliki rencana di dalam otak nya, "Menarik, jika ayah tidak sibuk, kita pancing dia lagi...