
Wussss Wussss Wussss Beberapa piring terbang dan mendarat di tempat nya masing-masing dengan rapi dan tentu nya tidak menguras tenaga.
"Ok perfect" Gumam ART jadi-jadian itu tanpa menyadari kalau ada sepasang mata yang melihat nya.
"Sri? kau?" Suara itu membuat Srikantil terlonjak kaget dan menoleh ke arah sumber suara.
"Haaaahhh... Nona Grace, saya kira siapa" Ucap Srikantil lega karena hanya Grace yang ada di belakang nya.
"Kamu ngapain terbang-terbangin barang-barang? kan aku sudah pernah ngomong selama ada orang tua ku di rumah kerjaan rumah kamu kerjakan menggunakan fisik bukan sihir" Ucap Grace.
"Tapi ini bukan sihir nona, ini kekuatan saya" Ucap Srikantil.
"Mau membantah?!" Tatapan elang itu menusuk ART jadi-jadian itu.
"Hehe tidak nona tidak, maaf Sri mengaku salah" Sahut Sri dengan membungkukkan badan nya beberapa kali.
"Hieleh ntar juga kalau lupa di ulangin lagi" Ucap Grace dengan mencomot satu buah apel yang tertata di meja dan menggigit nya.
"Grace! Sini sayang!" Teriak Sani dari ruang tengah, tanpa curiga Grace dengan membawa satu buah apel yang sudah di gigit nya itu ke ruang tengah.
"Iya bunda, ada apa?" Ucap nya dengan sedikit berlari, namun langkah gadis itu terhenti ketika mendapati Arthur yang baru saja melangkahkan kaki nya melewati ambang pintu.
"A... Arthur?" Gumam nya dengan masih berdiri di tempat nya.
"Ada om Akles sama tante Irina sayang, sini salim dulu, masa yang kelihatan cuma Arthur nya aja sih?" Ucap Sani dengan nada yang sedikit menggoda anak gadis nya itu.
"Ah iya bun" Dengan nyengir kikuk, Grace segera meraih tangan kedua orang tua Arthur secara bergantian dan mencium punggung tangan nya.
"Wah Grace sudah besar ya? cantik lagi" Irina atau ibunda dari Arthur memuji kecantikan Gracelina Janitra, gadis itu tersipu malu.
Arthur melangkahkan kaki nya mendekati Digo kemudian menjabat tangan dengan sopan kemudian beralih ke Sani ia melakukan hal yang sama.
"Aaaaaa Pak dosen ini manis sekali" Ucap Sani dengan mencubit pipi Arthur.
Masih memasang tampang cool nya Arthur tersenyum sopan.
"Oh iya, silahkan duduk, silahkan duduk" Ucap Digo mempersilahkan semua nya duduk.
Grace duduk di samping Digo sedang kan Arthur duduk di depan Grace mereka terhalang oleh meja tamu namun kedua netra itu sesekali saling mencuri pandang.
Di tengah-tengah perbincangan kedua pasang orang tua yang membahas tentang perjodohan, Grace diam-diam melirik kan mata nya ke arah Arthur yang saat itu serius mendengarkan pembahasan tunangan dulu atau langsung menikah saja, kira-kira begitulah isi pokok pembicaraan para orang tua itu.
Merasa ada yang memperhatikan, ekor mata Arthur melirik ke arah Grace yang duduk di hadapan nya itu, sengaja Arthur menggoda gadis yang tidak fokus dengan pembahasan malam ini, dengan mengedipkan salah satu mata nya Arthur juga menggigit sedikit bibir bawah nya.
"Ekem hem... uhuk... ekhem" Terkejut hingga tersedak saliva yang hendak di telan nya, gadis itu mengalihkan pandangan para orang tua itu.
"Kenapa baby?" Khawatir putri nya kenapa-kenapa Digo beralih memandang Grace dengan menepuk pelan punggung anak gadis nya itu.
"Ekhem... ekhem... Nggak papa ayah" Sahut Grace yang menatap Digo sekilas namun kemudian ia menatap apel yang masih di genggam nya di atas paha nya.
"Oh udah hampir satu jam kita berbincang ya, bagaimana kalau lanjut di meja makan saja, kebetulan saya sudah merasa lapar" Ucap Digo berbasa-basi untuk mengajak makan malam keluarga Arthur.
"Baik, begitu juga boleh" Sahut Akles dengan suara elegan nya.
Para orang tua berjalan terlebih dahulu sedangkan Grace masih duduk di sofa, gadis itu masih merutuki kebodohan nya yang baru saja tersengat kelakuan Arthur.
"Nunggu apa lagi?" Ucap Arthur yang duduk jongkok di depan gadis yang masih menunduk itu.
Entah kenapa Grace selalu di buat nya tersipu setiap kali Arthur berperilaku manis pada nya.
Arthur meraih tangan Grace yang masih setia menggenggam buah berwarna merah itu.
Perlahan di angkat nya kedua tangan seolah mengajak gadis itu berdiri karena Arthur perlahan berdiri dari duduk jongkok nya.
Menurut tanpa curiga sedikit pun Grace berdiri, namun setelah ia berdiri dengan sempurna pandangan Arthur fokus kepada bibir yang terlihat lebih sexy dari biasa nya itu, Arthur mengecup buah apel pas pada bekas gigitan Grace, dan itu mampu menyengat hati gadis itu, apalagi saat ini mata Arthur setengah terpejam saat menggigit bagian itu dan setelah kembali netra tajam itu menatap bibir sexy Grace.
Seolah tercekat nafas Grace, gadis itu sampai susah payah menelan saliva nya karena kelakuan Arthur.
"Apa ini sakit?" Refleks gadis itu menggeleng kan kepala nya pelan saat Arthur menyentuh serta mengusap pelan bibir nya yang terlihat sedikit berbeda itu.
"GRACE SAYANG!" Teriak Sani dari ruang makan, dan itu membuyarkan lamunan Gracelina.
"Bu... bunda dan yang lain sudah menunggu" Tergagap gadis itu berucap, puas sekali Arthur berhasil menggoda gadis cantik di hadapan nya itu.
Kedua nya segera bergabung bersama para orang tua untuk makan malam.
Namun baru saja kedua nya duduk di kursi yang tersedia terdengar kegaduhan di luar kediaman Digo.
...🍒🍒🍒🍒...
Di tempat lain, satu jam sebelum makan pertemuan dua keluarga...
Dean terlihat geram karena mendengar kabar bahwa Grace dekat dengan makhluk tampan yang selalu melindungi nya itu.
"Bagaimana aku akan merebut permata gadis itu jika, kita semakin jauh begini" Gumam Dean dengan mengingat pesan singkat yang dikirim oleh Digo tentang pembatalan perjodohan nya.
"Tua bangka itu dengan seenak jidat nya main membatalkan saja" Geram Dean meremas seprai yang ia duduki.
"Kau mau aku merebut nya?" Bisik Kinanthi dengan menggigit kecil cuping telinga Dean.
"Kau tidak akan cemburu dan mencelakai nya bukan?" Tanya Dean dengan berbalik dan menindih makhluk Sexy itu.
"Asal kau tidak berpaling pada nya" Sahut Kinanthi dengan menjalari lekuk tubuh Dean menggunakan kuku panjang nya.
"Tentu saja tidak" Ucap Dean dengan menautkan bibir nya dengan bibir sexy di bawah nya itu. "Tapi tidak janji" Batin Dean dengan seringaian iblis nya.
Kinanthi tak dapat menolak cumbuan yang di berikan oleh pemuda kesayangan nya itu, ia melayang dan terlena di buat nya hingga tak dapat melihat kebohongan yang Dean simpan.
Setelah selesai dengan pergumulan mereka berdua menyusun rencana untuk kembali menculik Grace.
"Kali ini kau harus berhasil, jangan mentang-mentang kecantikan nya hampir setara dengan ku, kau jadi terlena" Ucap Kinanthi.
"Biar nanti ku ciptakan kegaduhan di luar rumah dan kau masih ingat dengan ajian yang waktu itu? kau bisa memakai nya" Imbuh makhluk cantik nan sexy itu.
Dean menyeringai, ia pun sudah siap dengan semua nya, ia persiapkan matang-matang, bahkan ia akan membawa Grace pergi jauh dan rencana itu ia jauhkan dari Kinanthi.
Sesampai nya di depan hunian bak istana itu Kinanthi berteriak seolah dia habis kecopetan, penampilan sexy nya akan membuat orang-orang tak sungkan untuk menolong nya.
"Aaaaaa!!! Tolong-tolong! copet!!" Teriak Kinanthi tepat di depan rumah Grace, wanita jadi-jadian itu sengaja menjatuhkan diri nya agar simpati dari orang-orang sekitar di dapat nya.
"Ada apa neng?" Tanya seseorang yang tak sengaja lewat tempat itu.
"Saya kecopetan pak" Sahut nya.
Suasana gaduh bahkan mendatangkan pak security komplek itu.
Sedangkan di dalam rumah Grace, mereka, terutama kedua orang tua Grace penasaran kenapa ramai sekali di depan rumah nya.
"Ada apa ya yah?" Sani yang penasaran beranjak dari duduk nya.
"Nggak tau coba tengok dulu" Sahut Digo, karena merasakan ada sesuatu yang tidak beres, aura yang di rasakan Iriana, Akles dan juga Arthur membuat ketiga nya turut mengikuti Sani dan Digo sedangkan Grace masih di meja makan.
Baru saja gadis itu hendak melangkahkan kaki nya sepasang tangan menahan nya dengan satu tangan menutup mata nya sedangkan tangan lain melingkar di perut nya.
"Siapa kamu?" Sedikit panik namun Grace berusaha tenang, bukan mendapat jawaban gadis itu malah hilang kesadaran.
Sesampai nya Sani di ambang pintu, "Pick!" Irina menjentikkan jari nya.
"Kenapa? kau hentikan waktu?" Tanya Akles yang tak mempan dengan kemampuan istri nya itu.
"Ada apa ibunda?" Tanya Arthur yang berdiri di belakang Akles.
"Ada yang tidak beres, bunda merasa dia bukan manusia?" Ucap Irina.
"Siapa?" Tanya Arthur dengan mengerutkan kening nya.
"Yang di luar" Memejamkan mata Irina menerawang. Arthur yang penasaran segera melihat siapa yang di luar, si tampan itu menembus dengan leluasa benda padat di hadapan nya itu.
"Kinanthi" Gumam nya yang kemudian ia mengingat Grace tidak ikut bersama nya, dengan cepat Arthur kembali ke samping ayahandanya.
"Siapa dia? kenapa membuat kegaduhan?" Dengan elegan Akles bertanya.
"Dia pernah menculik Grace" Sahut Arthur.
"ASTAGA GRACE!" Teriak ketiga nya yang kemudian langsung berlari menuju ruang makan, dan setiba nya di sana tak ada siapa pun, bahkan bekas Grace pun tidak ada.
"Oh tidak! kita terlambat!" Geram Arthur menendang udara, emosi yang berusaha di tahan nya begitu besar.
"Bagaimana sekarang?" Tanya Akles.
"Kita lacak menggunakan permata blue black yang kau berikan" Sahut Irina.
"Apa?" Terkejut Akles mendengar nya.
"Jadi simbolis keluarga kita sudah kau berikan? dan itu cocok?" Imbuh sang raja itu.
"Iya ayah, maaf" Ucap Arthur lesu.
"Kita cari menantu kita sekarang!" Ucap Akles, Irina segera menjentikkan jari nya, agar semua berjalan normal sebelum mereka menghilang dari hunian bak istana itu.
Di sebuah rumah kecil yang jauh dari kepadatan penduduk, terlihat Grace berbaring, gadis itu masih tak sadarkan diri, namun ia segera tersadar ketika merasa jari manis nya di sentuh oleh seseorang.
Grace membuka mata nya dan terkejut melihat siapa yang ada di hadapan nya kini, "KAU!!...
Jangan lupa klik favorite biar kalian gk ketinggalan jadwal up date nya, like dan komen juga jangan lupa, beri dukungan untuk novel ini, see you di bab selanjut nya...