The Guard

The Guard
(TG2)Menikah



Hello my reader 🤭 maaf nih, kisah The Guard (Arthur dan Grace) sudah berakhir yah, toh musuh besar mereka udah move on dan melupakan dendam nya, juga Gresta berhasil kembali ke dalam keluarga nya.


Jadi Othor pengen kita intip cerita cinta nya si bocil dan om dokter nya ya toh mereka kan sama-sama udah tinggal di dunia manusia. Nggak mau kebanyakan pidato yuk lekas mulai.


...THE GUARD 2...


Cinta memang tak tau waktu tak tau tempat, dimana ia berlabuh maka tumbuhlah di sana, sama hal nya dengan Syaqila dan Ayu, jika di bilang mereka gadis bodoh ada benar nya juga sudah tau kekasih nya itu bukan manusia biasa juga bukan makhluk sembarangan tapi tetap saja mereka melabuhkan hati dan tak mau menolak kehadiran cinta ini.


Seperti yang sudah di rencana kan lamaran dan tunangan yang sudah di lakukan bertahun-tahun yang lalu baru di resmikan malam ini.


Ayu telah cantik dengan gaun pengantin nya, sedangkan Jerik sangat menawan dengan tuxedo yang melekat pada tubuh kekar nya.


Pernikahan dokter dan guru itu di langsungkan di hotel GRACINDO milik Arthur yang kini dikelola oleh Gresta, ya di dunia manusia karena Ayu mau semua orang menyaksikan pernikahan nya di usia yang terbilang tak muda lagi itu.


Terpana bak melihat bidadari tak bersayap, begitulah raut wajah Jerik yang tengah berdiri di atas pelaminan sedangkan Ayu kini dengan gaun putih nya tengah berjalan menuju ke arah nya.


Dengan senyum manis nya Jerik mengulurkan tangan, sedikit rona wajah Ayu mendapati perlakuan manis Jerik yang mengulurkan tangan kanan nya, tak mau membuat kekasih nya menunggu terlalu lama Ayu meraih tangan Jerik dan segera menapakkan kaki nya ke setiap anak tangga yang berjumlah lima lapis itu.


"Kau cantik sekali" Bisik Jerik ketika Ayu sudah berdiri tepat di depan nya, Ayu tersenyum sedikit menunduk dan sesekali ia melihat Jerik.


Uparaca pernikahan pun berlangsung, kedua mempelai tengah mengucap kan janji suci satu sama lain.


Di antara para tamu undangan ada Gresta yang tengah duduk bersanding dengan Syaqila, ada juga Aldy bersama Kinanthi, bahkan Grace dan Arthur juga tetap menyaksikan pernikahan yang sempat tertunda bertahun-tahun lama nya itu.


Tangis air mata haru tentunya menetes di pipi setiap tamu undangan yang mengerti lika-liku perjalanan cinta kedua mempelai yang kini sudah bersanding saling mengucap janji untuk sehidup semati itu.


Syaqila terlihat gelisah berbeda dengan Gresta yang santai dengan menggenggam tangan kanan Syaqila.


Ditoleh nya gadis yang ada di samping nya itu tanpa melepaskan tangan nya sedikit pun, "Ada apa baby?"


"Em... "


Krucuk-krucuk, belum sempat bibir Syaqila menjawab, perut nya sudah lebih dulu menjawab nya.


"Kau lapar?" Tanya Gresta dengan senyum manis nya yang tertampil di sana.


Dengan rona wajah malu bak buah tomat yang siap panen, Syaqila mengangguk pelan.


Tidak seperti ayah nya yang hebat dalam membaca pikiran manusia, Gresta justru tak bisa membaca pikiran gadis yang ia cintai ini, sering kali ia salah kaprah dalam menuruti keinginan gadis labil di samping nya itu.


"Jangan malu makan saja, apa kau takut gendut? Aku lebih suka kau yang berisi" Bisik Gresta nakal, dan itu membuat Syaqila membulatkan kedua mata nya kemudian mencubit paha kekasih nya dengan tangan kiri nya.


"Auh... sakit yank!" Mengaduh dengan sedikit tertawa Gresta mengusap paha nya.


"Mau di suapi?" Tanya Gresta ketika Syaqila menunjuk tangan kanan yang masih di dalam genggaman jemari kekar nya.


Gresta dengan tangan kanan nya meraih sebuah kue dan menyuapkan nya ke mulut Syaqila, gadis itu tak mau menolak karena memang rasa lapar sudah menguasai perut nya.


Kedua nya sesekali bercanda walau hanya dengan berbisik.


Terlihat beberapa tamu undangan adalah awak media yang menyamar, sebagian dari mereka memfoto mengambil gambar untuk di jadikan nya berita.


Siapa yang tidak mau membaca berita terkini cinta sejati yang bertahun-tahun lama nya terjalin dan baru menikah malam ini.


Waktu berlalu begitu cepat, bahkan kini sudah sampai pada puncak acara yaitu lempar bunga, Gresta hendak berdiri tapi Syaqila menarik tangan nya.


"Kenapa?" Tanya Gresta.


"Aku belum mau menikah" Ucap Syaqila.


"Tapi berebut bunga ini menyenangkan sayang" Ucap Gresta yang membuat Syaqila mengerucutkan bibir nya tak setuju.


"Ok ok ok, jangan marah, aku nggak jadi ikut kok" Membujuk kekasih yang merajuk Gresta menangkup kedua pipi chubby itu kemudian sekilas mengecup bibir nya.


"Gresta!" Tersentak namun hanya bersuara kecil yang tertekan Syaqila terkejut juga malu.


"Apa?", Dengan senyum manis nya Gresta mendapat cubitan di pipi nya.


Gresta berdiri dan menarik perempuan cantik dengan body yang aduhai itu, "Mau kemana?", Mengerutkan alis nya Syaqila tetap mengikuti langkah kaki Gresta.


Tiba nya di kolam renang, sepi memang karena banyak orang yang fokus dengan acara inti di dalam aula hotel itu.


Syaqila menolehkan pandang nya ke kiri dan ke kanan, kaki jenjang nya berjalan terus maju mendekati sebuah sofa yang teronggok di sebelah pilar besar.


Tangan nya terlepas dari genggaman tangan Gresta, "Gres ini sepi loh, dingin juga, kamu nggak bakal aneh-anehkan?" Curiga Syaqila dengan kekasih tampan nya itu.


Tak ada jawaban dari belakang punggung nya.


"Gresta?" Berbalik Syaqila tak mendapati siapa pun di belakang nya.


"Gresta! Jangan main-main deh!" Mulai meninggikan suara nya Syaqila hendak meninggalkan tempat itu namun sebuah kalung berlian tiba-tiba bergelayut di depan wajah nya.


"Gresta?" Lirih nya kemudian menoleh kesamping kanan, ia mendapati sosok tampan itu sudah berdiri di belakang nya.


"Yes baby" Bisik Gresta dengan memasangkan kalung berlian itu pada leher jenjang Syaqila.


"I Love you baby"


CUP!


Gresta mengecup tengkuk putih yang ada di hadapan nya setelah mengucap kata cinta, meremang sudah bulu halus yang ada di sekujur tubuh Syaqila.


Gadis cantik itu berbalik memandang Gresta, tatapan sayu dengan wajah tampan membuat Syaqila membalas ucapan nya.


"I Love you too" Dengan mengalungkan kedua tangan nya di leher kokoh Gresta, Syaqila membalas ucapan cintanya.


Pemuda tampan itu menarik pinggang yang sedikit berisi itu agar semakin mendekat, memangkas jarak antara kedua bibir nya.


Setelah semakin dekat Gresta mengecup serta melu-mat bibir yang berhiaskan lipstik pink nude, bahkan warna lipstik kini sudah berpindah pada bibir Gresta.


Penyatuan benda kenyal nan manis itu kini semakin memanas, Gresta menuntun langkah kaki kedua nya untuk menuju ke sofa yang ada di balik pilar.


Bersembunyi dari keramaian dua sejoli itu saling memberi dan menerima, dengan posisi Syaqila di atas pangkuan Gresta, jemari nakal itu tak mau berdiam diri, di rem-as nya gundukan empuk itu dengan gemas, Bahkan sesekali Gresta meremas pinggang Syaqila dengan gemas dan bergairah.


"Ahhh... " Sedikit keluar suara des-ahan ketika Gresta beralih pada leher mulusnya, di sesap nya leher putih itu hingga sang empu membusungkan dada nya.


Perlahan Gresta merebahkan tubuh gadis cantik itu di sofa tanpa melepas sesapan di leher Syaqila.


Tangan Syaqila meremas rambut Gresta yang ada di atas tengkuk nya, sedangkan kaki nya tak sengaja bergerak dan menyentuh sesuatu di sana yang terasa mengganjal juga mengeras.


"Ough... " Lenguh des-ah Gresta terdengar itu membuat Syaqila mengulangi nya.


"No Sya! haaahhh... haaahhh... " Gresta menghentikan kaki Syaqila dengan sebelah tangan nya.


"Why?" Syaqila terlihat kecewa dalam pertanyaan nya.


"Aku takut kebablasan" Ucapan Gresta yang membuat Syaqila tersenyum, kemudian kedua nya duduk dan merapikan pakaian masing-masing.


Malam semakin larut tamu undangan satu persatu berpamitan untuk kembali ke kediaman masing-masing.


"Bey, " Bisik Jerik di samping telinga Ayu.


"Apa?" Sahut Ayu dengan melirik pria tampan yang kini telah sah menjadi suami nya itu.


"Nggak tanggal merah kan?" Tanya Jerik dengan menancapkan dagu nya pada pundak polos yang tak tertutup kain.


"Ih apa sih!" Memerah pipi Ayu mendengar nya, namun sejurus kemudian Jerik menggendong tubuh istri cantik nya itu dengan mel-umat bibir Ayu, karena dikira tempat itu sudah sepi pengunjung tapi ternyata.


"Momy! Uncel mau makan Unty!!" Teriakan anak kecil yang tengah membawa botol susu itu mencuri perhatian sisa tamu undangan yang masih ada di aula itu.


Jerik dengan kikuk perlahan menurunkan Ayu dari gendongan nya.