The Guard

The Guard
Jatuh hati



Di rumah sakit...


Kinanthi terlihat berbicara serius dengan dokter yang semalam menangani nya.


"Bagaimana dok? apakah semua nya beres?" Kinanthi bertanya.


"Beres aman nyonya" Sahut dokter itu.


"Kau yakin semua akan percaya?" Tanya nya lagi.


"Percaya apa?" Suara maskulin itu terdengar tiba-tiba dari balik pintu ruangan yang tertutup.


Sontak Kinanthi dan dokter itu menoleh ke arah pintu dan di sana nampak lah Aldi dengan buket bunga dan keranjang buah nya.


"Kok pada tegang sih? Maaf ya kalau kedatangan saya malah mengganggu" Ucap Aldi dengan melangkah maju.


"Ya sudah, itu saja, nyonya Kinan silahkan istirahat saya permisi dulu" Pamit dokter yang menangani Kinanthi.


"Hah? i... iya dok" Sahut Kinanthi dengan sedikit tergagap.


Setelah dokter pergi, "Pak Aldy nggak ngantor?" Basa-basi Kinanthi berucap.


"Iya, ini juga sekalian lewat saya mampir" Sahut Aldy.


"Mampir? Nggak masuk akal deh alasan nya, kan kantor sama rumah sakit berlawanan arah" Senyum tipis menghiasi wajah Kinanthi.


"Jadi kamu tidak lupa sama saya?" Tanya Aldy dengan memiringkan kepala nya.


"Hah? Lupa? Ti... tidak tentu saja tidak" Kinanthi tergagap ia seketika lupa jika diri nya tengah pura-pura amnesia.


Aldi tersenyum, ia meletakkan buket bunga di atas pangkuan Kinanthi dan keranjang buah di atas meja kecil.


Jari jemari kekar itu meraih salah satu buah dan mengupas nya, tak ada satupun kata yang terucap, kedua nya sibuk dengan pikiran masing-masing.


Kinanthi berpikir untuk tetap mendapatkan perhatian Gresta, masih dengan dendam yang membara di dalam hati nya.


"Tunggu, tapi aku belum memastikan bagaimana keadaan Grace setelah tabrak kan itu, harus nya dia koma selama satu bulan lebih" Batin nya, tapi tak sengaja ia menoleh ke arah jendela dimana jendela itu menghubungkan dengan taman rumah sakit.


"Apa?! Tidak mungkin! Apa aku salah lihat?" Batin Kinanthi, ternyata ia melihat Arthur tengah duduk di taman itu bersama Grace, kedua nya terlihat tengah bercanda.


Nafas Kinanthi mulai naik turun tak karuan, ia semakin di bakar oleh api amarah yang tak mau meredup sekali pun diri nya masih mendapatkan perhatian kecil dari Gresta, ingin nya dia menjauhkan putra tampan itu dari ke dua orang tua nya.


"Aaaakk!!! Ayo bukan mulut mu" Sebuah garpu lengkap dengan potongan buah apel di ujung nya tersuguh di depan bibir Kinanthi.


Sedikit tersentak Kinanthi mendapatkan perhatian sehangat itu, membuat diri nya mengalihkan pandangan nya dari dua insan yang membakar amarah nya.


Sejenak Kinanthi menatap netra legam yang ada di di samping nya itu, "Apel nya ada di depan bu CEO, jangan melihat ku seperti itu" Ucap Aldy dengan terkekeh.


Terdiam sejenak mencerna kata-kata yang di ucapkan Aldy di hadapannya namun detik berikut nya terlihat senyum yang seperti nya di tahan oleh Kinanthi, pipi wanita jadi-jadian itu mendadak bersemu merah.


"Ada apa dengan ku? Apakah aku mulai berpaling dari Dean? Lagi pula dia musnah dan entah kapan akan muncul, atau mungkin roh nya di tahan di alam sana?" Batin Kinanthi dengan perlahan membuka mulut nya dan menerima suapan dari tangan Aldy.


Entah mengapa kali ini amarah yang sempat membeludak tadi hilang begitu saja, apakah benar tumbuh sesuatu yang akan membuat Kinanthi melupakan Dean? Entahlah itu hanya Kinanthi yang tau atau bahkan dia sendiri tidak sadar dengan apa yang tengah ia rasakan.


Di sekolah...


Jam pulang hampir tiba, para anak-anak tengah diajak merapikan semua alat yang tadi di gunakan untuk belajar dan bermain.


"Terimakasih anak-anak kalian hebat!" Ucap Sarah yang waktu itu bertugas memulangkan anak-anak.


Setelah semua keluar dari gedung sekolah, terlihat para orang tua menjemput anak-anaknya masing-masing.


Tapi tidak dengan Syaqila, gadis kecil itu masih duduk di depan gerbang dengan menunggu papi nya.


Karena rumah nya dekat Gresta pulang jalan kaki, ia sudah berganti pakaian saat ini dan duduk menatap gadis kecil itu dari jendela rumah nya.


"Kenapa dia belum pulang?" Gumam nya.


"Mungkin menunggu ayah nya" Sahut Chrisa yang membawakan coklat panas untuk pangeran kecil nya itu.


Gresta beranjak dari duduk nya ia berlari menuju pintu keluar, "Tuan Muda mau kemana?" Teriak Chrisa.


Tak ada jawaban, namun Chrisa melihat bocah tampan itu berlari mendekati Syaqila.


"Dasar anak manusia!" Gumam Chrisa dengan menggeleng pelan kepala nya.


"Bibi Chrisa tolong buatkan juga coklat panas untuk Sya!" Ucap Gresta dengan sopan.


"Iya Tuan Muda" Chrisa segera beranjak ke dapur.


Di kursi dekat jendela kedua bocah kecil itu duduk, "Kau tadi melihat ku dari sini?" Tanya Syaqila yang melihat ke luar jendela dan dari sana ia melihat gerbang sekolahan.


"Iya, dan aku lihat kamu seperti orang bodoh yang menunggu ketidak pastian" Sahut Gresta kemudian menyeruput coklat panas yang mulai menghangat.


"Kok bodoh?" Syaqila tak mengerti.


"Iya karena papi mu sedang di rumah sakit bersama mama ku dan kau menunggu nya" Ucap Gresta.


"Oh jadi, papi dekat dengan mama kamu ya?" Gumam Syaqila dengan nada yang kian meredup.


"Nggak papa kan, biar mereka berteman juga seperti kita" Ucap Gresta tanpa beban.


"Tapi Gres, kata orang kalau orang dewasa laki-laki dan perempuan itu tidak bisa berteman, kecuali mereka punya hubungan khusus" Syaqila menerima secangkir coklat panas yang baru saja di berikan oleh Chrisa.


"Ya itu urusan mereka" Sahut Gresta lagi-lagi tanpa beban.


"Tapi kalau punya mama tiri aku takut, dia akan galak sama aku" Syaqila, gadis kecil yang ber pemikiran Kritis itu menunduk.


"Tenang aja, kalau memang mereka jodoh, mama aku nggak sejahat mama-mama tiri di sinetron kok" Jelas Gresta, kemudian ia mengarahkan telapak tangan nya di atas coklat panas milik Syaqila.


Tak lama kamudian coklat panas itu perlahan menghangat.


"Gresta, kau melakukan nya lagi?" Tanya Syaqila, dan bocah tampan itu hanya tersenyum kemudian menyeruput coklat panas yang ada di cangkir nya.


Di rumah sakit...


Terlihat Ayu dengan membawa kotak makan yang tentu nya berisi makanan special buatannya khusus untuk kekasih tercinta.


Dengan semangat yang menggiring langkah nya menuju ruangan Jerik, ketika ia baru saja sampai di depan pintu Ayu merasa gugup dan menarik nafas nya dalam-dalam.


CEKLEK!!


Pintu terbuka dan di sana ia melihat Jerik tengah serius dengan beberapa lembar kertas yang ada di hadapan nya, kacamata tersemat di atas hidung bangir nya yang menambah kesan cool dan manis.


"Kenapa hanya berdiri di sana saja? Tidak mau masuk? Atau mau memandangi ku dari sana saja?" Sengaja Jerik menggoda gadis nya itu dengan sekilas melirik nya.


Senyum manis dengan rona pipi yang memerah nampak jelas di wajah cantik Ayu.


"Aku ke sini mau mengajak mu makan siang, tapi seperti nya kau sibuk" Ucap Ayu dengan perlahan kaki nya melangkah mendekat.


"Tidak siapa bilang aku sibuk? aku hanya melihat beberapa data pasien masuk ini dan seperti nya kemarin ada yang baru" Ucap Jerik dengan menutup lembaran-lembaran yang berserakan itu.


"Kau masa apa? hemmmm... Bau nya saja sudah tercium dari sini" Ucap Jerik.


"Ah kau ini bisa saja" Ayu tersipu.


Mereka pun makan siang bersama, dan Ayu membuka pertanyaan yang selama ini di pendam nya.


"Je! Boleh aku tanya?" Tanya Ayu dengan menatap lekat wajah Jerik.


"Hem? Tanya aja" Sahut Jerik dengan tetap melahap makanan nya.


"Sudah sejak lama aku memendam nya, apa kau bukan manusia Je?" Tanya Ayu.


"Apa kau akan meninggalkan ku jika jawaban ku tidak sesuai dengan yang kau inginkan?" Tanya Jerik.


"Jangan balik bertanya, jawab aku, sejak mimpi pertunangan beberapa bulan yang lalu, aku selalu memikirkan bagaimana mimpi itu terasa nyata dan benar ada cincin ini di jari ku" Ayu menunjukkan jari manis nya.


"Lalu jika nyata kenapa itu terasa seperti mimpi?" Imbuh nya.


Jerik terdiam sejenak, ya memang selama ini dia belum memberitahu kan siapa dirinya sebenar nya.


Rasa takut kehilangan wanita kesayangan nya sungguh berhasil membuat Jerik menyembunyikan kan jati diri nya yang sebenar nya...


Jangan lupa like dan komentar ya see you next episode, bay bay...