The Guard

The Guard
Perduli



"Baiklah aku minta maaf, aku memang tidak berguna, seharusnya aku tidak muncul tadi, maaf"


Kata itu masih terngiang-ngiang di dalam otak Gracelina Janitra, bagaimana tidak? Setelah mengatakan nya makhluk tampan yang selalu mengikuti Grace ke mana pun gadis itu pergi kini sudah tiga hari tak ada kabar.


"Kemana kau Arthur? Sudah tiga hari kau tidak mengusik hari-hari ku" Gumam Grace, saat ini gadis cantik itu tengah menikmati sarapan nya.


"Pagi Grace?" Sapa Digo yang baru saja duduk di kursi yang ada di samping Grace.


Senyum manis gadis itu suguhkan untuk menyambut sang ayah, "Pagi ayah", Sahut Grace.


Gadis itu kembali menundukkan wajah nya, Digo yang mendapati kemurungan di raut wajah putri nya pun bertanya.


" Ada apa baby? Bagaimana kencan nya?" Tanya Digo yang mencari topik untuk mencairkan suasana.


"Ah ayah ini, orang kencan sudah tiga hari yang lalu, baru tanya sekarang" Sahut Grace dengan wajah tak bersemangat nya.


"Hehe... maaf-maaf, ayah terlalu sibuk mengurus pekerjaan ayah, oh iya bunda mau pulang loh, kata nya dia ada sesuatu yang spesial buat Grace" Digo memberikan bocoran kalau Sani yang tak lain adalah bunda nya Gracelina akan pulang sore nanti.


"Hah? yang bener ayah?" Tanya Grace antusias.


"Iya dong, masa ayah bohong" Sahut Digo yang langsung mendapat pelukan hangat dari putri sematawayangnya itu.


"Thank you ayah" Dengan sekilas mengecup pipi ayah nya Grace mengucapkan kalimat itu.


"He'em" Sahut Digo dengan mengelus pucuk kepala putri tersayang nya itu.


"Sory ya San, aku terpaksa membuka surprise yang akan kau berikan kepada putri kita" Batin Digo masih dengan mengelus kepala Grace, sesekali dikecup nya pucuk kepala itu.


"Oh iya baby, nanti sepulang kuliah Dean mau ngajakin baby jalan, mau di jemput kata nya" Ucap Digo menyampaikan pesan Dean yang ingin bertemu dengan Gracelina lagi.


"Nggak deh yah, Grace sibuk banget loh ini" Beralasan Grace, sebenar nya hanya tidak mau bertemu lagi dengan Dean mengingat Arthur yang tidak lagi muncul setelah pertemuan nya tempo hari.


...🍒🍒🍒🍒...


Di dalam Kelas...


Terlihat Grace duduk di kursi bagian pojok, sungguh wajah nya sangatlah murung sampai-sampai Ayu dan Lina di usir oleh gadis itu ketika main ke kelas nya.


"Mau gimana coba? kan hantu-hantu yang gangguin udah pada tunduk, nggak mungkinkan aku pura-pura takut" Otak kecil Grace mulai mencari cara bagaimana agar Arthur muncul kembali di hadapan nya.


"Apa aku harus... " Senyum devil muncul di bibir Grace, gadis itu mungkin sedang memikirkan sebuah ide gila.


"Ok pokok nya harus berhasil" Dengan tangan yang mengetuk-ngetuk kan pulpen di atas meja, seringaian licik muncul di ujung bibir gadis cantik itu.


Sore hari di rumah Grace...


Dengan segudang rencana yang ia rancang dengan matang tiba-tiba saja hancur berantakan hanya karena kedatangan tamu tak di undang yang tiba-tiba datang.


TOK TOK TOK...


Terdengar suara ketukan dari luar pintu utama, gadis itu terlihat mendengus kesal.


"Siapa Sri?" Teriak nya dari lantai dua.


"Seperti nya manusia non, tapi aura nya sangat gelap" Ujar Srikantil yang merasakan aura si tamu tak di undang.


"Hah?" Grace mengerutkan kening nya mencerna ucapan Srikantil si ART jadi-jadian nya.


"Kalau sampai dia, bener-bener nekat tu orang" Batin Grace geram.


"Kamu buka pintu Sri, aku ganti baju dulu" Ucap Grace yang kembali masuk ke dalam kamar nya, karena gadis itu hanya menggenakan tank top hitam di padu hotpants dengan warna senada.


ART gratis itu pun berjalan menuju pintu utama untuk membukakan pintu untuk si tamu tak di undang, namun belum sampai ia ke depan pintu diri nya di hadang oleh sosok tampan yang tiba-tiba muncul di hadapan nya.


"Loh? Pa..."


"Sssssttttt... Jangan berisik! Kau harus tau tugas mu di saat-saat begini" Sela makhluk tampan itu dengan menempelkan jari telunjuk nya di bibir Srikantil.


Bak bodyguard profesional, Srikantil dengan segera mengirim signal telepati kepada semua kawanan hantu nya yang berada di bawah naungan rumah besar Gracelina.


Sekejap semua berkumpul di ruang tengah.


"Salam Pa... "


"Sssttt cukup! Kalian tau kenapa aku mengumpulkan kalian di sini?" Lagi-lagi si tampan itu menyela ucapan para hantu.


"Aura hitam" Sahut semua yang memang sudah merasakan aura hitam yang mulai masuk ke dalam rumah Gracelina.


"Ya, dan dia juga dapat melihat keberadaan kita" Jelas nya agar semua memahami keadaan yang sesungguh nya.


"Aku mau kalian semua bersiap di posisi masing-masing, tapi jangan sampai nona kalian curiga" Imbuh nya memberikan pengarahan.


"Sri sekarang kamu buka pintu utama, biar aku yang menyambut nya" Tanpa menunggu di suruh dua kali Srikantil segera melesat ke pintu utama dan membuka pintu itu.


CEKLEK!! Pintu terbuka,


"Wah hebat juga tuan mu bisa memperkerjakan makhluk sebanyak kalian" Ucap Dean dengan senyum miring nya.


"Maaf, ada perlu apa anda kemari tuan?" Tanya Srikantil yang berusaha profesional dalam menghadapi tamu.


"Aku mau majikan mu!" Berterus terang Dean berhasil menarik makhluk tampan yang tadi nya duduk di ruang tengah kini makhluk tampan itu melesat dan berdiri tepat di depan Dean.


"Mau apa lagi anda kemari? Bukankah Grace sudah menolak untuk bertemu dengan anda lagi?" Cetus makhluk tampan itu dengan tatapan tajam nya yang menusuk jauh ke dalam netra Dean.


"Oh ternyata muncul juga si tampan ini" Dengan menyeringai Dean tak mau tinggal diam.


"KINANTHI!! Keluarlah!" Ucap Dean, kemudian muncullah asap tebal dan samar-samar bersamaan dengan asap itu menghilang nampak lah seorang wanita dengan kemolekan juga kecantikannya.


"Ada apa kau memanggil ku?" Suara halus berbisik pada Dean.


"Kau bisa urus yang tampan itu kan?" Tanya Dean dengan memandang wajah cantik di samping nya namun lirik kan ekor mata nya tertuju pada makhluk tampan yang ada di depan nya.


"Ou... Pangeran rupa nya, apa kabar pangeran?" Melangkah maju Kinanthi mendekati makhluk tampan itu, jari jemari lentik lengkap dengan kuku panjang berwarna merah menyentuh dada makhluk tampan itu.


"BERANI SEKALI KAU!" Teriak Srikantil yang hendak menjambak rambut Kinanthi namun dengan cepat Dean menahan lengan Srikantil.


"LEPAS BRENGSEK! KALIAN TIDAK BERHAK MENYENTUH NYA!" Teriak Srikantil yang seketika ia berubah ke wujud asli nya.


"Haha... sudah ku duga" Gumam Dean dengan tawa remeh nya, Srikantil hendak mencabik lengan Dean yang mencengkeram nya namun kalah cepat dengan Dean yang menghempas jauh tubuh Srikantil.


"SRIIIIIIIIII!!!!" Teriak Nendra yang segela melesat menangkap tubuh Srikantil.


"Lepaskan tangan kotor mu dari jubah suci ku!" Pelan tapi penuh dengan tekanan, makhluk tampan itu berucap kepada wanita jadi-jadian di hadapan nya.


"Kehormatan bagi mu bisa di sentuh oleh tangan-tangan indah ku pangeran" Suara halus nan manja khas penggoda keluar dari bibir sensual berwarna merah.


Di dalam kamar Grace mendengar kegaduhan, gadis itu belum mengganti pakaian nya.


"Baru di tinggal milih baju juga udah bikin keributan, minta di usir tu setan!" Gumam Grace yang dengan segera menyambar cardigan berwarna pink, ia segera melangkah gontai menuju lantai satu.


Dengan malas kaki jenjang itu menuju anak tangga.


"SRIIIIIIIIII!!!!" Mendengar teriakan Nendra yang memanggil Sri dengan nada yang tak biasa pun Grace segera menurun anak tangga dengan sedikit berlari.


Setiba nya di depan pintu utama Grace di kejutkan dengan pemandangan yang sangat membuat nya sakit.


"Arthur?!" Grace memanggil makhluk yang tak lagi asing walau pun hanya melihat nya dari punggung nya saja.


"Grace" Lirih Arthur yang menolehkan kepala nya saat ia merasa nama nya dipanggil.


Grace beralih kepada wanita yang masih berusaha menyentuh makhluk kesayangan nya itu, dengan geram Grace melangkahkan kaki nya mendekati kedua makhluk yang berhasil membuat nya mengeraskan rahang nya.


Grace cengkeram lengan Kinanthi yang menyentuh tubuh Arthur.


"Jauh kan tangan mu dari kekasih ku!" Geram Gracelina mengucapkan kata itu dengan menusukkan tatapan tajam juga mencengkeram kuat lengan Kinanthi.


Arthur yang mendengar pengakuan itu membelalakkan mata nya, ada desiran lain yang ia rasakan jauh di dalam lubuh hati nya.


"Grace dia bukan... "


WUUUUSSSSHHHH...


BRAK!!


Belum selesai Dean berucap, sudah lebih dulu dihempas oleh kekuatan Arthur hingga pemuda itu membentur daun pintu.


"Kau! manusia biasa! berani nya menyentuh kulit indah ku!" Ucap Kinanthi yang mendorong dada Grace hingga gadis itu mundur beberapa langkah.


Kinanthi hendak melayangkan kuku-kuku tajam nya untuk mencabik kulit mulus Gracelina namun dengan cepat Dean menarik nya kembali ke dalam cincin yang di kenakan nya.


Karena Kinanthi hilang dari hadapan nya, Grace pun beralih ke pada Dean.


"Maaf tuan, bisa kah anda tidak nekat! Haruskan saya melakukan penolakan dengan cara yang kasar? saya sudah menghormati anda lo, tapi kenapa anda nekat sekali?" Ucap Grace panjang lebar.


"Maaf nona Grace, sebenar nya saya tidak bermaksud untuk membuat keributan di sini namun mereka... "


"Maaf mereka tidak akan membohongi saya! jadi tolong anda pergi dari sini, karena sebanyak apa anda menjelaskan saya tidak akan pernah mempercayai ucapan anda!" Ucap Grace.


"Baiklah saya permisi, jaga diri anda baik-baik" Ucap Dean dengan sekilas melirik ke arah Arthur berdiri.


Setelah Dean pergi, perlahan Arthur melangkahkan kaki nya mendekati Grace.


"Grace" Lirih nya dengan lengan yang akan memeluk gadis itu tadi belakang tapi, "Oh ya ampun Sri! Kau baik-baik saja?" Dengan berjalan sedikit berlari gadis itu mengalihkan perhatian nya ke arah Srikantil yang masih terkapar di pangkuan Nendra.


"Di cuekin lagi" Gumam Arthur...


Jangan lupa dukungan like, vote dan komentar kalian see you...