
Setelah meluruskan perkara akhir nya tak mau lagi Syaqila main sembunyi-sembuyian, dia tak sanggup jika tidak di akui Gresta sebagai kekasihnya, apa lagi di depan gadis lain, itu sama saja diri nya membuka lowongan untuk gadis-gadis lain untuk mengantri mendapatkan perhatian kecil dari Gresta nya.
Kini kedua nya tengah duduk di balkon dengan posisi Syaqila ada di atas pangkuan Gresta, gadis cantik itu bersandar di belahan dada Gresta.
"Sya?", Panggil Gresta dengan menunduk, sedangkan Syaqila mendongak untuk menanggapi panggilan Gresta.
Gresta semakin menundukkan wajah nya dan menyatukan bibir kedua nya, Syaqila yang menikmatinya pun segera mengalungkan Lengan nya di leher kekar Gresta.
Perlahan tanpa melepas tautan nya, Syaqila merubah posisi duduk nya menjadi menghadap ke arah Gresta.
Sedikit meremas rambut Gresta, Syaqila membelitkan indra perasa kedua nya.
Seolah semakin terangsang tangan Gresta yang ada di punggung Syaqila mulai merambat mencari benda kenyal favorit nya.
Ciuman Gresta lepaskan, dengan mere-mas gundukan kembar pria tampan itu sedikit menggigit bibir bawah nya menunjukkan bahwa dia sangat menikmati benda kenyal itu.
Gresta beralih pada telinga Syaqila ia membisikkan kata cinta di sana, "I Love You" Bisik nya.
"I Love You too" Sahut Syaqila dengan suara yang terengah-engah, Gresta melanjutkan aksinya, ia mengecup, bahkan memainkan indra perasa nya di telinga Syaqila.
Semakin lama kecupan dan tarian indra perasa Gresta menjalari setiap inci kulit leher Syaqila.
"Haaahhh... emmmhhh... " Lenguh des-ah itu keluar begitu saja ketika Gresta memberikan tanda merah di belakang telinga.
Semakin panas Syaqila merasa ada yang mengganjal di bawah pantat nya, dengan sengaja menggoda, gadis itu menggoyang-goyangkan pinggul nya.
"Ough... yeah... " Gresta mendongak merasakan sensasi yang luar biasa, sungguh saat ini diri nya menginginkan lebih dari itu, namun sekali lagi dia ingat, akan sangat berbahaya jika sampai kebobolan.
Ditengah-tengah keasikan yang memanas itu tiba-tiba...
"Ekhem!"
Masih tak mendengar kedua remaja itu masih asik dengan pergulatan bibir nya.
"Syaqila Aldina!" Suara itu membuat kedua nya berhenti dan melepaskan pagutan nya.
"Papi?" Lirih Syaqila yang langsung turun dari pangkuan Gresta.
"Sedang apa kalian? Kalian ini masih muda! Belum menikah! Tidak pantas melakukan hal seperti itu!" Ocehan ceramah panjang kali lebar itu kini terdengar di telinga remaja nakal itu.
"Ya sudah kalau begitu nikahkan kami!" Sergah Syaqila.
"Sya?" Gresta terbengong mendengar ucapan nekat kekasih nya itu.
"Nak Gresta, bagaimana pun putri om ini satu-satu nya penerus keluarga om, jadi tolong, tanpa mengurangi rasa hormat, om minta, beri kejelasan tentang hubungan kalian kalau perlu datanglah bersama kedua orang tua mu" Dengan tegas, dan emosi yang tertahan, namun dengan bahasa yang cukup sopan Aldy papi dari kekasih Gresta itu berucap.
"Iya om, maaf, Gresta pamit dulu, Syaqila nya jangan di marahi" Ucap Gresta dengan menunduk, setelah mendapat anggukkan dari Aldy, Gresta segera melompat melalui batang-batang pohon, mengingat diri nya tadi datang bersama dengan taksi yang di naiki Syaqila, jadi terpaksa Gresta pulang melalui jalur udara.
Syaqila masih memandangi bayangan Gresta yang mulai menghilang di kegelapan malam, "Masuk!"
Syaqila melihat Aldy dengan tatapan protes, "Apa? Mau marah sama papi?", Melipat kedua lengan nya di depan dada Aldy bertanya.
Hanya dengusan nafas kesal yang di tunjukkan oleh Syaqila sebelum akhirnya gadis itu masuk ke dalam kamar dengan menghentak-hentakkan kaki nya.
Tanpa mengucapkan selamat malam, Syaqila langsung naik ke atas ranjang dan menutupi tubuh nya dengan selimut tebal nya.
Aldy berusaha bersabar menghadapi remaja yang masih labil itu, ia hanya tersenyum tipis dengan menggelengkan kepala nya.
...🍒🍒🍒🍒...
Gresta tiba di kediaman nya, tak mau melewati pintu utama, pangeran tampan itu langsung hinggap di jendela seperti burung kakak tua.
Ups!! Maaf yok balik ke cerita.
Gresta segera masuk kamar nya melalui jendela, mungkin ia tak mau mendarat di depan rumah demi menghindari omelan Daddy nya yang sering mengingatkan untuk tidak mengumbar kekuatan nya.
Namun sial nya ketika baru saja ia menutup jendela kamar nya di depan pintu kamar nya berdiri Momy tercinta nya dengan melipat kedua tangan nya di depan dada.
"Dari mana saja kamu?" Tatapan tajam Grace layangkan hingga membuat Gresta tergagu.
"Eeee... itu Mom, emmm... "
"Stop mencari alasan! Momy tidak mau punya anak tukang bohong!" Penuh penekanan nada yang digunakan Grace.
"Celo bilang, kamu pergi sama cewek saat jam istirahat iya?" Interogasi pun dimulai.
"Oooo putra Momy mau jadi CEO yang suka mainin wanita ya? Yang punya simpanan sana sini? Hem? Benar bagitu?!" Sergah Grace dengan tudingan nya.
"Tidak Mom, bukan begitu, tadi ada sedikit ke salah pahaman antara Gresta dan Syaqila" Gresta berusaha menjelaskan.
"Syaqila?" Tanya Grace dengan mengerutkan alis nya.
"Iya Mom, barusan Aldy telfon kata nya hampir saja Syaqila mau di prawanin sama anak kita" Arthur yang tiba-tiba sudah ada di samping Grace membawa berita baru.
"APA?!", Serasa lutut nya kehilangan kekuatan tulang ibu dua anak itu terhuyung dan hampir jatuh ke lantai, namun dengan cekatan Arthur segera menopang tubuh Grace.
" Kamu terlalu lelah hari ini sayang, aku antar ke kamar ya!" Ucap Arthur yang segera menggendong Grace dan di bawa nya istri tercinta nya itu ke kamar.
Gresta sebenar nya khawatir dengan kondisi Momy nya, namun ia masih tak punya nyali untuk menemui Momy nya, niat hati ingin menyembuhkan tapi kalau nanti malah membuat Momy nya semakin drop dengan berita-berita yang tidak benar bagaimana?
Dilema pangeran tampan itu, kini lebih memilih untuk mengistirahatkan otak nya sejenak, dan bertamasya ke alam mimpi sebentar saja.
...🍒🍒🍒🍒...
TING TONG!
TING TONG!
"PAKEEEEETTT!!"
Terdengar tukang paket berteriak di depan hunian bak istana itu.
Terlihat ART jadi-jadian atau Srikantil tengah berlari dari dapur menuju pintu utama.
"Siapa Sri?", Tanya Grace yang tengah menuruni anak tangga dengan menggendong Bella.
"Paket non kata nya" Ucap Srikantil yang berhenti sejenak lalu melanjutkan langkah nya.
"Paket? pagi-pagi begini?" Mengerutkan alis nya Grace mengikuti langkah kaki ART gratisan nya.
Setelah menerima barang kiriman kurir itu segera pergi tanpa meminta bayaran.
"Sudah di bayar Sri?" Tanya Grace.
"Kata nya sudah non", Sahut Srikantil.
"Kok kata nya sih?" Tanya Grace semakin curiga.
"Iya kata mas-mas kurirnya begitu non" Ucap Srikantil memberikan kotak paket kecil itu kepada Grace.
Karena dihantui rasa penasaran Grace pun segera membuka bungkusan paket itu dan mengeluarkan isi di dalam nya.
"Apa ini?" Grace menenteng benda pipih, panjang dengan garis mereh yang berjumlah dua.
Tak lama ia memperhatikan alat tes kehamilan itu, ia mendengar suara Arthur yang tengah berbicara dengan seseorang di telfon.
"Bagaimana? Apa masih mual-mual?"
"Apa? Morning sickness? hamil muda, kau bilang hampir?"
"Oh, iya juga sih"
"Ya sudah nanti biar aku ke rumah mu bersama Jerik"
"Ok siap"
Begitulah percakapan yang cukup mencuri perhatian juga membakar rasa penasaran, Grace berjalan mendekati Arthur.
"Siapa Dad yang telfon?" Tanya Grace dengan nafas yang memburu.
"Aldy, dia bilang Kila putri nya muntah-muntah pagi ini, dia sih curiga kalau itu morning sickness, kamu dulu juga gitu kan Mom?" Masih dengan tampang santai nya Arthur memberitahukan berita itu.
"Apa?! Jangan-jangan ini milik Syaqila?" Grace menunjukkan alat tes kehamilan yang sudah ada tanda garis merah nya berjumlah dua.
"Hah? Kamu dapat dari mana itu?" Tanya Arthur tak percaya istri nya memegang alat itu.
"Dari Kurir, baru saja" Jelas Grace, tanpa pikir panjang Arthur segera memanggil putra sulung nya dengan suara menggelegar nya.
"GRESTA RAJENDRA!!!...