The Guard

The Guard
Nyaman



Dheg-dheg... Dheg-dheg...


Debaran jantung Grace begitu besar sampai dada Grace terlihat naik turun ketika gadis itu menarik dan menghembuskan nafas nya.


"Ada apa dengan aku ini?" Batin Grace yang merasakan sesuatu yang aneh di dalam hati nya.


Terlihat Arthur sedikit mencuri pandang, dan ia pun merasakan hal yang berbeda.


"Kenapa aku merasa gerah dan panas melihat nya seperti ini" Batin Arthur yang masih berusaha mengabaikan rasa itu.


Setiba nya di kamar, Arthur menurunkan Grace dari gendongan nya tepat di atas ranjang.


Grace duduk di depan Arthur dengan menghadap ke Arthur, gadis itu meletakkan kedua siku nya di atas pundak Arthur kanan dan kiri.


"Arthur" Ucap Grace dengan posisi lutut menjadi tumpuan nya berdiri, dengan begitu wajah ke dua nya sejajar.


"Ada apa?" Sahut Arthur yang refleks memegang pinggang Grace agar gadis itu tidak jatuh.


"Apa kau selalu bisa membaca isi pikiran ku?" Tanya Grace dengan menatap lekat mata Arthur.


"Ya, itu salah satu kemampuan kami" Arthur mengakui nya.


"Jadi apa kau tau apa yang ada di pikiran ku saat ini?" Ucap Grace masih dengan posisi yang tidak berubah.


"Aku dapat membaca nya, namun aku tidak tau pasti apakah begini yang kau inginkan?" Ucap Arthur yang kemudian ia mengecup bibir ranum yang ada di hadapan nya itu.


Grace yang terkejut pun segera mendorong tubuh Arthur.


"Dasar mesum! mana mungkin aku memikirkan itu?" Malu Grace ketika keinginan gila nya tiba-tiba di turuti oleh Arthur, gadis itu langsung tengkurap dan menutup kepala nya menggunakan bantal.


Sedangkan Arthur bingung dengan dua hal, pertama, apa maksud Grace barusan kenapa dia malah marah-marah padahal Arthur hanya membaca dan menuruti apa isi pikiran gadis itu, dan yang kedua setelah menyentuh benda ranum nan kenyal itu ada debaran tersendiri yang muncul di dalam dada Arthur.


"Apa ini?" Gumam nya yang bingung dengan dua hal ini.


Grace merasa sunyi, gadis itu pun perlahan membuka bantal yang menutupi kepala nya.


"Loh kok nggak ada? kemana dia?" Celingukan kepala Grace mencari sosok yang sudah mulai melekat di hati nya tanpa ia sadari.


"Tapi..." Gumam gadis itu dengan memegang bibir nya, pikiran nya melayang membayangkan ketika dengan tiba-tiba Arthur mengecup nya.


"Aaaaaaaaaaku bisa gila!!!" Teriak gadis itu dengan berguling-guling di atas kasur, sudah mirip sekali dengan cewek yang menyaksikan adegan romantis di dalam film drakor.


Beberapa hari kemudian...


Garce sudah mulai terbiasa dengan keberadaan Arthur namun juga masih terkadang gadis itu terkejut dengan kehadiran makhluk tampan yang suka tiba-tiba muncul itu.


Sore ini Grace bersama dengan kedua teman nya tengah berada di balkon, seperti biasa cewek kalau lagi ngumpul pasti tidak lah sepi ada saja yang mereka bicarakan.


Seperti saat ini ketiga gadis itu tengah menceritakan film yang baru saja mereka tonton.


"Itu film udah berkali-kali tayang tapi pas di adegan itu nya lo ya ampuuuuunnn, kaya seolah-olah gue ikut ngerasa tegang banget" Ucap Ayu yang masih terbawa suasana adegan dalam film.


"Coba aja ya ada hantu yang ganteng gitu, aaaa mau dong di romantisin" Ucap Lina dengan menyandarkan kepala nya di pundak Grace.


"Grace? lo kenapa sih? gak biasa nya lo diem" Tanya Ayu yang melihat Grace diam sejak menonton adegan romantis yang ada di dalam film.


"Hah? nggak, gue nggak papa kok" Sahut Grace dengan menggeleng kepala nya.


"Eh udah sore aja, pulang yuk Lin ntar gue mau ada acara sama nyokap" Ucap Ayu yang segera mengemasi barang-barang nya.


"Ok, eh tapi Grace lo yakin ni aman di rumah sendirian? beneran berani?" Tanya Lina yang sangat mengkhawatirkan sahabat nya itu.


"Berani kok, yakin, lagian di belakang ada rumah bi Siti nanti kalau gue takut gue tinggal telfon" Ucap Grace dengan santai.


"Ya udah kita balik dulu ya? Bay bay bestie" Ucap Ayu seraya memeluk Grace juga menempelkan pipi kanan dan kiri mereka bergantian.


Begitu juga dengan Lina, gadis itu melakukan hal yang sama sebelum kedua nya keluar dari rumah Grace, tanpa sepengetahuan kedua gadis itu ada sosok tampan yang mengawasi apa yang mereka lakukan itu.


Kedua gadis itu di antar sang tuan rumah sampai ke teras depan, setelah mobil Ayu dan Lina meninggalkan halaman rumah Grace, gadis itu kembali masuk ke dalam rumah, tak lupa Grace mengunci pintu utama rumah nya dan segera ia berjalan menuju kamar nya untuk merapikan barang-barang yang masih berserakan di balkon.


Ketika Grace selesai merapikan kamar nya ia terkejut melihat Arthur yang duduk di salah satu sofa dengan menyandarkan punggung juga kepala nya di sandaran sofa.


"Apa yang kau lakukan di sana?" Tanya Grace dengan berdiri tak jauh dari Arthur.


"Aku sedang mempelajari hal baru" Sahut Arthur, Grace mengerutkan kening nya tanda tak mengerti.


Arthur berpindah tepat di hadapan Grace dengan cepat, ia meraih pipi Grace dengan tangan nya, sedangkan Grace bingung dengan apa yang di lakukan Arthur.


"Kau ini kenapa?" Tanya Grace.


Namun bukan nya menjawab, Arthur malah menarik pinggang Grace menggunakan tangan nya yang satu, dia tatap lekat wajah gadis yang terlihat bingung di hadapan nya.


"Kenapa kau tidak memejamkan mata mu?" Tanya Arthur.


"Hah?" Sahut Grace bingung.


"Bukan kah kau menyukai adegan ini? ku lihat kau begitu antusias mengamati adegan ini di dalam film tadi" Jelas Arthur yang membuat Grace segera mendorong tubuh Arthur.


"Kau ini, itu hanya adegan di dalam film, kalau pun terjadi di dunia nyata hanya di lakukan oleh sepasang kekasih" Jelas Grace dengan berjalan ke arah pintu.


"Makan aku lapar" Ucap Grace yang dengan segera membuka pintu dan kembali menutup nya.


Setelah Grace menghilang di balik pintu, Arthur pun mulai berpikir.


"Oh jadi itu hanya dilakukan sepasang kekasih" Gumam makhluk tampan itu dengan mengangguk anggukkan kepala nya.


Di ruang makan, Grace duduk sendiri menikmati sisa-sisa makan malam nya yang hampir selesai, dan tiba-tiba ia mendengar suara perempuan tengah bersenandung.


"Malam-malam begini, siapa sih? apa bi Siti ya?" Gumam Grace dengan berdiri dari duduk nya, awal nya Grace berniat untuk menutup jendela yang ada di dekat tempat cuci piring.


Namun di sana ia melihat sehelai kain putih yang melambai-lambai di atas batang phon samping rumah nya.


"Oh ya ampun apa lagi ini" Gumam Grace dengan menepuk dahi nya. Di lihat nya lagi kain putih itu berubah menjadi sosok wanita yang sangat menyeramkan dan menatap ke arah Grace yang saat itu juga menatap nya.


"ASTAGA!" Ucap Grace yang segera memalingkan wajah nya dan makhluk itu terbang mendekati Grace.


Namun baru saja tangan nya hendak meraih pundak Grace, "Aaaaaaaaaaaa!" Tiba-tiba makhluk menyeramkan itu berteriak dengan suara nya yang sangat melengking.


Grace yang sedikit penasaran dengan apa yang terjadi pada makhluk itu pun membuka mata nya.


Ternyata Arthur lagi-lagi sudah berdiri di belakang nya.


"Oh ada mas tampan to" Gumam Grace.


"Lain kali kalau takut panggil aku jangan diam saja! bagaimana kalau tadi dia berhasil meraih tubuh mu? dia pasti akan menempati nya" Ucap Arthur memberitahu Grace.


"Nggak bakal lah, kan ada kamu yang bakal menyelamatkan ku" Ucap Grace dengan percaya diri nya.


"Em... btw, makhluk tadi kamu apa in kok langsung kabur?" Tanya Grace yang penasaran.


"Aku kasih wink, terus dia nggak kuat dengan ketampanan ku" Sahut Arthur dengan sedikit terkekeh.


"Oh jadi gitu ya? sudah berani centil-centilan sama makhluk astral lain nya ya?! Ok fine!" Ucap Grace dengan melangkahkan kaki nya kembali ke kamar.


"Kenapa sih? kan emang bener begitu" Ucap Arthur yang masih bingung.


Keesokan hari nya...


Grace tidak sempat sarapan di rumah, gadis itu sarapan di kantin kampus, terlihat ia tengah asik menikmati makanan nya.


Tiba-tiba datanglah Mikko dengan membawa satu nampan berisi makanan.


"Hai Grace?" Sapa nya dengan senyum pepsodent nya.


"Oh,,hai kak Mikko" Sahut Grace yang sekilas memandang Mikko, namun di detik berikut nya gadis itu kembali sibuk dengan makanan di hadapan nya.


"Boleh duduk di sini?" Tanya Mikko yang tak tahu menahu jika ada sepasang mata yang melempar tatapan elang pada nya.


"Oh boleh kok kak, lagian juga itu kursi masih kosong" Sahut Grace dengan melempar senyum manis nya, tak sedikit pun Grace melihat Arthur yang sudah menekuk wajah nya.


"Makasih ya" Ucap Mikko yang dengan segera menduduki kursi itu, namun belum sempat Mikko duduk dengan benar DUBRAK!!! Kursi itu bergeser ke belakang dengan sendiri nya.


"Aduuuhh" Keluh Mikko dengan memegangu pinggang nya.


"Eh kak kenapa?" Tanya Grace yang segera berdiri dan hendak menolong Mikko, namun tangan nya di tahan oleh Arthur yang saat itu menampil kan wajah kusut nya.


"Ih Arthur lepas! Dia jatuh itu lho, aku harus menolong nya!" Bisik Grace dengan memandang ke arah Arthur yang mana orang lain tak dapat melihat sosok tampan itu.


"Grace? kamu ngobrol sama siapa?" Tanya Mikko yang saat itu melihat Grace berbicara sendiri.


"Hah? ng... nggak kok" Ucap Grace dengan tergagap.


"Oh iya, maaf kak aku ke kelas dulu ya, sudah ditunggu teman-teman" Ucap Grace dengan beralasan.


Tanpa menunggu jawaban dari Mikko Grace langsung berlari meninggalkan kantin.


Gadis itu berjalan menuju toilet dan masuk kemudian ia mengunci pintu toilet itu.


"Arthur!" Ucap Grace dengan kesal.


"Arthur! keluar kau!" Teriak Grace, dan saat itu Arthur muncul, makhluk tampan itu dudu jongkok di atas wastafel.


"Apa maksud mu tadi?" Tanya Grace dengan berjalan mendekati Arthur.


"Apa?" Tanya Arthur dengan melompat turun dari wastafel dan berjalan mendekati Grace.


"Kenapa kau menarik kursi yang akan di tempati kak Mikko?" Tanya Grace dengan berhenti di tempat nya karena saat ini Arthur sudah berdiri tepat di depan nya.


"Jawab Arthur! jangan kau pikir aku tidak tau!" Geram Grace karena Arthur tidak segera menjawab pertanyaan nya.


"Aku tidak suka jika kau dekat dengan nya" Sahut Arthur.


"Mungkin ini terdengar konyol dan tidak masuk akal bagi mu, tapi entahlah aku merasa tidak nyaman di sini" Sambung Arthur dengan menyentuh dada nya.


"Apa kau cemburu?...


Arthur merasa sakit di dada nya, sakit kenapa ya guys? yuk jangan bosan untuk menunggu bab selanjut nya, see you...